CerpenSastra

Menunggu Kepulangan

Menunggu Kepulangan

Oleh : Jeevita Ginting

 

Senyap. Sekali lagi tak ada yang menemani Mak Sari menyantap sahur selain detak jam yang bahkan terasa begitu lambat. Wanita baya itu mendesah kala kata-kata tetangganya selepas sholat tarawih kemarin terngiang. Selama ini ia sengaja menutup telinga ketika mereka membicarakan putrinya yang memang untuk kesekian kalinya tak kunjung pulang ke kampung halaman. Karena mau bagaimana lagi, putrinya dan suaminya merupakan tenaga medis di kota. Tak mudah bagi mereka untuk sekadar mengambil cuti lebaran.

Namun kali ini tidak. Mak Sari merasa tak bisa lagi menahan keinginannya untuk bertemu putri semata wayangnya itu. Lagi pula sebentar lagi lebaran, mau sampai kapan putrinya itu akan membiarkannya sendiri terus seperti ini. Mak Sari lantas pergi ke kamar untuk mengambil ponselnya.

Tak butuh waktu lama, akhirnya sambungan panggilan videonya terhubung pada sang putri. Mak Sari melambai-lambaikan tangan sambil tersenyum semringah, begitu pun dengan putrinya.

“Wit, kapan mau pulang? Emak ini lo, udah nggak sabar pingin ketemu kamu ….”

Sekali lagi, putri Mak Sari hanya bisa meminta maaf dan memberikan janji bahwa ia pasti akan datang, meski entah kapan belum pasti. Mak Sari hanya mendesah mendengarnya. Putrinya itu selalu saja memiliki alasan untuk menolak permintaanya. Ia mungkin tak lagi memedulikan perasaan Mak Sari yang selalu kesepian seperti ini. Jika orang lain berbahagia dengan keluarganya, bisa berbuka dan menyantap sahur bersama, Mak Sari hanya bisa seperti sekarang. Ya … hanya sendirian sambil berangan sang putri tiba-tiba berdiri di ambang pintu, lantas menghamburkan pelukan, dan mengatakan bahwa ia begitu merindukan Mak Sari.

“Kamu ini jawabannya selalu aja begitu. Ya sudah, terserah kamu aja lah, Wit … Emak nggak maksa. Tapi jangan menyesal saat kamu pulang nanti kamu cuma melihat nisan Emak ya ….” 

Mak Sari yang terlanjur kesal akhrinya langsung memutuskan sambungan. Kebersamaan yang ia rindukan saat sahur dan berbuka puasa sudah luruh, pudar termakan kenyataan yang tak sesuai harapan.

***

Mak Sari mendesah, menatap kosong halaman penuh dedaunan basah yang berserakan. Hawa dingin bekas hujan Subuh tadi masih membekas, membuat kulit keriputnya terasa menggigil. Ia lantas merapatkan kembali kain jarik yang tersampir, menutupi punggungnya, lantas memijit-mijit kaki yang sedari tadi terasa kebas.

Ah, sungguh rutinitas pagi hari yang begitu membosankan. Mak Sari ingin sekali melakukan atau mengalami hal lain di pagi berikutnya, tidak seperti sekarang, kemarin, maupun kemarin lusa: hanya duduk di teras memandangi halaman juga sesekali memijat kaki yang kebas. Andai … andai Wita, putri semata wayangnya itu tidak menolak permintaan Mak Sari untuk mengunjunginya, pasti saat ini ia tengah duduk di teras ini sambil memangku cucu kesayangannya dan menceritakan banyak hal padanya.

Jujur saja, tak jarang Mak Sari menganggap bahwa Wita benar-benar sudah tak memedulikannya. Bagaimanapun ia adalah ibu Wita, tapi mengapa putrinya itu hanya menghabiskan Ramadan bersama suami dan anaknya, lantas mengabaikannya seorang diri seperti ini. 

Wanita baya itu pun terisak. Ia memaksa ingatannya yang sudah mulai kabur untuk kembali pada masa-masa kecil Wita. Kaki kecilnya begitu lincah saat berlarian di halaman ini sepulang sholat Subuh dari surau. Mak Sari khawatir putrinya akan tersandung karena langit masih belum terlalu terang, tapi gadis kecil itu tak menghiraukan ucapan Mak Sari yang berusaha melarangnya berlari-larian. 

Ya … ia sebegitu khawatirnya pada Wita, tapi lihatlah sekarang … bahkan anak itu tak sudi menengoknya walau hanya setahun sekali saat Ramadan tiba. Katanya mereka bisa berhubungan bahkan bertatap muka melalui sambungan telepon, tapi tetap saja rasanya tak sama seperti saat Wita benar-benar berada di dekatnya. Sungguh, Mak Sari tak menyangka akan melalui masa tua sambil menanggung beban karena merindukan putri satu-satunya itu.

Tak lama, ponsel di pangkuan mak Sari berdering. Tak ada orang lain yang akan menelpon Mak Sari selain Wita. Jadi, mungkinkah Wita berubah pikiran sekarang?

‘”Halo, Nak ….” Senyum Mak Sari mengembang memandangi wajah ayu Wita di layar ponsel. Padahal baru semalam mereka berkabar, tapi aneh rasanya kini ia sudah sangat merindukannya.

Benar saja, Wita memberikan kabar baik. Ia memohon pada suaminya untuk minta izin cuti di rumah sakit tempatnya bekerja. Ia merasa sangat tak enak pada Mak Sari jika lagi-lagi tak pulang seperti tahun-tahun sebelumnya. Kedua anak Wita juga pasti sudah sangat merindukan neneknya.

Insya Allah, lusa Wita sudah sampai di rumah ya, Buk.”

Mak Sari semakin semringah. Ia lantas bergegas ke dapur, memeriksa bahan apa saja yang dimiliki. Pokoknya saat Wita dan keluarganya tiba, ia harus menyiapkan makanan yang banyak.

***

Pukul empat … Mak Sari berulang kali melirik jam dinding di dapur, juga ponselnya bergantian. Entah jam berapa anak itu akan sampai di rumah, yang jelas semalam Wita telah memberi tahu kemungkinan ia akan sampai di rumah sebelum waktu berbuka puasa. Namun setelahnya sampai sekarang tak ada kabar apapun lagi darinya. Tadi Mak Sari menonton berita, jalanan memang sedang macet parah. Jika terjebak macet pun, seharusnya ia memberi tahu.

“Ah… mungkin Wita nggak sempet buat ngabarin,” pikirnya, berusaha meredam kegelisahan. 

Opor daging dan gado-gado telah siap. Mak Sari memutuskan untuk kembali mengelap piring-piring daripada hanya menunggu sambil bengong. Piring-piring porselen itu sebenarnya bersih sebab baru saja kemarin ia cuci.

Terdengar deru mobil, senyum Mak Sari mengembang. Akhirnya penantiannya berakhir. Mak Sari membayangkan rona bahagia wajah sang putri ketika Mak Sari menyajikan makanan kesukaannya nanti. Gegas ia pun menuju ke luar.

Mak Sari terpaku di ambang pintu dengan kedua kaki yang terasa lemas. Senyum yang sedari tadi ia lengkungkan semanis mungkin kini lenyap seiring dengan kedatangan sosok sang putri beserta keluarganya yang diantarkan oleh petugas ambulans. (*)

Selasa, 27 April 2021.

 

Jeevita. Perempuan berdarah jawa, lahir di bulan februari. Bertempat tinggal di Batang Jawa tengah, sudah sejak kecil gemar membaca. Mimpinya memiliki buku solo yang terpajang di toko-toko buku besar di seluruh Indonesia. Penulis biasa aktif di sosial media Facebook bernama Jeje, dan Instagram Jeevita_21.

Editor : Devin Elysia Dhywinanda

 

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

0
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close