Film dan BukuRubrik Umum

A Review: The Chocolate Chance

 

 

A Review: The Chocolate Chance

Oleh: Ken Lazuardy 

 

Judul : The Chocolate Chance

Penulis: Yoana Dianika

Penerbit: Bentang Pustaka

Tebal buku : 350 hlm
Tahun terbit : 2013


Life is like a box of chocolate. You never know what you’re gonna get.

Sebelum mengulas isinya, terlebih saya ingin mengapresiasi cover-nya yang sungguh unik. Baru kali ini sih nemu buku yang packaging-nya menarik (apa sayanya aja yang mainnya kurang jauh) dan bener-bener merepresentasikan isinya. Dengan latar cover seperti cokelat batangan yang dilapisi aluminium foil berwarna gold, lengkap dengan pembungkus seperti box cokelat sesungguhnya. Keliatan banget effort-nya untuk menunjukkan bahwa novel ini berbeda dengan novel biasanya. Eye catching banget, sumpah! Jadi, kalau mau baca, kita mesti keluarin dulu bukunya dari box ala-alanya itu.

Penggunaan PoV 3 (sudut pandang orang ketiga) dan PoV 1 (sudut pandang orang pertama) secara bergantian sesuai porsi, menambah kenikmatan dalam menyesap setiap alurnya. Jadi, nggak bosen bacanya, malah bikin ketagihan. Saya merasakan sesuatu yang magis dalam setiap kalimat yang dibawakan oleh penulis. Sepanjang membaca novel bergenre romance ini, narasi dan dialognya sungguh manis dan menghangatkan hati seperti cokelat. Honestly, saya sebenernya kurang suka membaca novel dengan genre romance, tapi novel ini rasanya beda.

Membaca novel ini serasa bermain puzzle, kita disuguhkan dengan kepingan-kepingan adegan dengan menggunakan alur maju mundur, sehingga beberapa kali terdapat flashback yang menjadi potongan clue di kehidupan saat ini. Ini yang membuat saya kadang bingung, tapi penasaran untuk membaca part selanjutnya. 

Semua kisah bersangkut paut dengan cokelat. Fedde Velten Cafe, cafe khusus cokelat yang menjadi latar utama di balik kisah novel ini. Penulis sangat detail menggambarkan suasana cafe bergaya Eropa beserta keunikan di dalamnya dan juga karakteristik tokoh di novel ini sangat hidup. Novel ini juga lebih banyak menggunakan teknik showing daripada telling sehingga pembaca dibawa ke dalam alur ceritanya. Saya sampai kepoin, cafe ini ada beneran nggak di dunia nyata.

Berkisah tentang Orvala Theobroma, perempuan pencinta cokelat yang hidup di keluarga sederhana, impiannya yaitu bekerja dengan hal yang berhubungan dengan cokelat. Akan tetapi keadaan belum mengizinkan Orvala untuk merengkuh impiannya tersebut.

Namun, miracle happens ketika bertemu Aruna Handriani, pemilik Fedde Velten Cafe yang tak sengaja bertemu Orvala yang saat itu masih bekerja di hotel. Pertemuan secara tak sengaja ini membuat keduanya makin akrab dan semakin dekat kala Orvala menjadi salah satu pegawai cafe-nya. Kalo dibayangin, asyik juga ya bisa kerja sama pasangan, jadi kesannya nggak kayak kerja. 

Namun, di saat ia bersama Aruna, takdir mempertemukannya kembali dengan Juno Aswanda, yang merupakan kekasih Orvala di masa lalu ketika masih SMA, dan telah lama meninggalkannya tanpa berita. Cinta segitiga pun muncul di antara mereka. Ditambah kehadiran Fidela yang juga merupakan masa lalu Aruna. Hal ini semakin memperuncing permasalahan. Jadi, istilahnya mereka berdua ketemu sama mantan terindahnya masing-masing.

Penggambaran yang sesuai dengan ungkapan lama, “dunia tak selebar daun kelor”, membuat mereka masuk dalam sebuah circle masa lalu dan masa sekarang, saling berkaitan. Hayoloh, saya jadi bingung mau nge-ship siapa sama siapa. 

Bagaimana kelanjutan hubungan Orvala dan Aruna? Akankah bertahan dengan bayangan kisah cinta masa lalunya? Ataukah Aruna lebih memilih Juno karena mendapati Aruna tengah bersama Fidela yang membuat dirinya merasa insecure. Kalian akan mengetahui babak akhirnya ketika mencicipi tegukan demi tegukan babnya. Uhuy!

 

Setelah selesai baca, saya baru tahu ternyata novel ini pernah diangkat ke layar lebar. Namun, saya nggak pengen liat filmnya, karena biasanya memang sedikit berbeda, kadang kurang sesuai dengan ekspektasi pas baca novelnya. Cukup puas dengan imajinasi saya pas baca aja. Meskipun tak dapat dipungkiri, pemilihan tokohnya sesuai dengan gambaran karakter di novelnya.

Istimewanya, meskipun bergenre romance, banyak insight yang bisa diambil dalam narasi maupun dialognya. Salah satunya: 

Kalau punya hal yang kamu yakin bisa, apa salahnya memercayainya? Enggak ada salahnya mencoba bersandar pada apa yang kamu percayai— mimpimu.” – The Chocolate Chance halaman 49.

Selamat menjelajahi manisnya cinta dengan rengkuhan hangat dari kisah cinta mereka, bercampur indah dengan pahitnya perjuangan hidup masing-masing tokoh untuk menggapai impiannya. Bener-bener as sweet and bitter as chocolate.

Rate: 4,7/5

 

 

Editor: Imas Hanifah N

+1
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close