CerbungSastra

Sewaktu Kecil Aku Buta (Bab 10)

Sewaktu Kecil Aku Buta (Bab 10)

Oleh : Dyah Diputri

Aku membuka mata dan refleks bangun untuk duduk. Di sekelilingku bukan rumah joglo berkayu jati seperti malam kemarin. Yang tampak adalah sebuah kamar luas dengan beberapa perabotan dan fasilitas. Ranjang tempatku tidur adalah ranjang besar lengkap dengan selimut yang besar.

Ini bukan mimpi. Aku benar-benar berada di tempat yang nyata. Bahkan semalam ada seorang wanita yang memelukku dengan penuh kasih sayang seakan-akan aku adalah putri kandungnya. Akan tetapi, kenapa sekarang aku sendirian?

“Sudah bangun, Nak?” Wanita berparas ayu itu masuk ke dalam kamar. Senyumnya yang lembut membuatku membalas dengan senyuman pula.

“Maaf, harusnya aku tidak tidur di sini,” ucapku malu-malu. Segera aku beringsut turun dari kasur empuk itu dan melipat selimut. Kutata sampai tidak terlihat berantakan.

“Sudah, biarkan! Nanti ada yang beresin. Segera mandi, Ibu tunggu di meja makan. Ya?” Wanita itu menepuk pipiku pelan, lalu melangkah keluar.

“Tunggu, Bu! Bu … Bu Asiyah … terima kasih.” Kusembunyikan genangan air mata sebisa mungkin, dan baru kutumpahkan saat beliau sudah berlalu pergi.

Kata orang, keberuntungan dan kesialan itu seperti dua sisi koin. Ada kalanya akan menemui kesialan, tetapi tidak termungkiri juga akan datang sebuah keberuntungan. Seperti aku yang kemarin siang luntang-lantung di emperan warung dekat stasiun, di sebuah kota besar dan maju, mendadak pagi ini bangun dalam keadaan sehat di sebuah rumah besar dengan sambutan hangat seseorang yang baik hati.

Bu Asiyah menemukanku yang sedang kebingungan tak tahu arah dan tujuan. Sisa uang di sakuku tinggal lima ribu rupiah setelah aku memesan sepiring makanan di sebuah warung. Saat itu aku merutuki diri sendiri yang sok-sokan kabur dari rumah Mbah Uti. Hanya karena tidak lulus ujian nasional sekolah menengah pertama, aku menghindarkan diri dari serangan teman-teman dan orang-orang lainnya.

Pikiranku kacau, tidak bisa berpikir dengan jelas. Saat tersadar, kereta api kedua yang kutumpangi dari Semarang sudah membawaku pergi jauh ke kota yang asing, teramat asing. Begitu turun dari kereta api, kecemasanku semakin menjadi. Bagaimana jika ada penculik yang memasukkanku ke dalam karung goni besar lalu menjual organ dalamku? Bagaimana jika ada orang jahat yang melirik dengan pikiran nakal seperti tersangka di berita kriminal di televisi? Ah, pulang pun sudah tidak uang. Aku harus bagaimana?

Bu Asiyah yang menemukan sekaligus membawakan dunia baru untukku. Baginya, aku serupa koin emas yang menggelinding tak tentu arah, lalu beliau temukan dan genggam erat-erat.

“Mau ikut Ibu ke rumah?” Hanya itu yang beliau katakan begitu menepikan mobil dan membuka kacanya.

Wajah Bu Asiyah tidak seperti sedang menghipnotis. Dari mobilnya yang bagus kusimpulkan beliau bukan penjahat yang akan menjual organ tubuhku demi uang. Tuturnya yang lembut di antara teriakan bernada kencang orang-orang di sekitaran stasiun tadi, membuatku percaya bahwa beliau orang yang baik.

Aku mengangguk, bertepatan dengan tangannya menggapai satu pintu mobil yang lain dan menyilakanku masuk. Mobil berjalan pelan meninggalkan stasiun.

“Sudah makan, Nak?” tanyanya.

“Sudah,” jawabku malu-malu.

“Nama kamu siapa? Tinggal di mana?”

“A–Arum, Bu. A–aku ti–tidak punya rumah.” Gugup, aku menjawab.

“Mau merantau? Sepertinya Nak Arum baru turun dari kereta.”

Aku mengangguk, berharap beliau tidak bertanya lebih jauh.

“Ya sudah, tinggal saja di rumah Ibu. Oh, ya. Nama saya Asiyah. Kamu boleh panggil ibu kalau mau.”

Aku bergeming, tak terlalu menanggapi. Dibolehkan menumpang di rumahnya saja beruntung rasanya. Apalagi kalau dibolehkan memanggil ibu.

“Apa setiap hari Bu Asiyah menemukan anak yang kebingungan seperti aku dan diajak ke rumahmu?” tanyaku polos.

Dia tertawa kecil. “Tidak. Ibu hanya kebetulan melihat kamu dari jauh, tadi. Ibu punya toko oleh-oleh dan minimarket di seberang stasiun. Beberapa hari sekali ke sana mengecek persediaan. Kelihatannya kamu bukan orang sini.”

Sesampainya di rumah Bu Asiyah, beliau segera menjamuku dengan baik. Rumahnya bertingkat dua. Namun, hanya dihuni olehnya dan dua orang pembantu.

“Suamiku sudah meninggal. Ibu juga tidak punya anak, karena memang tidak bisa punya anak.”

“Kenapa Bu Asiyah tidak menikah lagi?”

“Kamu masih remaja, Arum. Pikiranmu masih sekecil ini.” Dia menunjukkan buah anggur yang hendak dimakannya. “Ini Jakarta. Lebih banyak orang jahat yang memanfaatkan kekayaan orang demi kepentingannya sendiri. Ibu punya amanat rumah dan usaha dari almarhum suami. Lagi pula, menikah itu bukan perkara mudah. Ada hati yang harus dimintai persetujuan.”

Malam harinya kami masih mengobrol panjang, lebih banyak tentang Bu Asiyah, karena aku memang tak banyak bercerita. Aku hanya bilang punya nenek yang jahat dan membenciku, makanya rela merantau ke kota demi membuktikan aku akan berhasil. Sungguh, karangan yang tak seindah kejujuran Bu Asiyah.

Bu Asiyah menujukkan sebuah kamar untuk kutempati. Dia memintaku tinggal bukan untuk dijadikan pembantu atau diberikan pekerjaan lain. Katanya, “Ibu suka sama kamu. Jadilah anakku, temani aku sampai tua nanti.”

Entah keberuntungan apa yang sedang kudapatkan. Memiliki seseorang yang bisa kupanggil ibu itu … rasanya aneh. Menakjubkan.

Aku masuk ke sebuah kamar berdinding putih yang rapi dan bersih. Ada sebuah nakas di sisi kiri, tempat lampu tidur berdiri dengan indahnya. Ada pula meja rias kecil dengan beberapa laci, juga lemari baju di sudut ruangan dekat jendela.

Perlahan aku merebah di tempat tidur, ingin menggenapi hari aneh dengan senyum dan mata terpejam. Kurasakan sejuk udara dari AC membuat pandangan semakin berat untuk dibuka. Aku tertidur lelap, sampai tiba-tiba terdengar suara berisik yang berkelindan di kepala.

“Haa, satu sekolah ini hanya kamu yang tidak lulus ujian, Arum! Dasar bodoh, memang!”

“Kamu betah sekali di sekolah ini, ya! Saking cintanya sampai tidak mau lulus!”

“Arum bego! Arum bego! Otak udang!”

Suara-suara itu menggema kuat dan bersahut-sahutan, disusul suara Mbah Uti yang menggedor-gedor pintu kamarku.
“Buka pintunya! Mau mogok sampai kapan? Apa kuat tidak makan seharian?”

“Kalau tidak lulus, ya sudah! Meski kamu mengurung diri selama setahun, tidak akan ada kenyataan yang berubah!”

“Itulah hasilnya kamu tidak rajin belajar! Mau ditaruh mana muka Mbah Uti kalau kamu seperti ini terus?”

Aku terkesiap, terbangun dari tidur sambil berteriak-teriak seperti kesetanan. Tak peduli tetes keringat yang membanjiri tubuh, segera aku berlari ke kamar Bu Asiyah dan mengetuk pintunya.

Sambil menangis, aku berucap, “Bu … Bu Asiyah … bolehkah aku tidur di sini denganmu? Aku takut tidur sendiri ….”

“Kamu mimpi buruk, Rum?”

Aku mengangguk seraya mengusap pipi dengan kasar. Mimpi menakutkan itu bahkan adalah sebuah kenyataan yang terukir di benak, lalu timbul tenggelam sesukanya. Aku lemah bukan karena terlalu takut, tetapi kalah oleh rasa trauma.

Bersambung ….

 

Dyah Diputri. Pecinta diksi yang tak sempurna.

Editor : Lily

 

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

0
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close