Cerpen

Seseorang yang Datang dari Dumay

Seseorang yang Datang dari Dumay

Oleh: Rainy Venesia

Hatiku berdebar setelah menulis satu kalimat pendek di beranda FB. Debaran itu makin kencang, nyaris membuat sesak menunggu sebuah akun hidup. Beberapa kali aku menarik napas dan mengembuskannya sedikit demi sedikit sambil menghitung bilangan sepuluh. Konyol sekali. Demi apa aku melakukan hal yang sering kusebut absurd ketika teman-temanku men-stalking sebuah akun.

Pertanyaan demi pertanyaan sudah seminggu memenuhi pikiran dan tak ingin kubiarkan menghantui lebih lama. Harus segera kupastikan agar pertanyaan-pertanyaan itu terjawab lalu tidur nyenyak. Bisa kalian bayangkan bagaimana sosok mencurigakan itu bukan saja mengganggu pikiranku, tetapi juga mempengaruhi kinerjaku di kantor. Dua kali aku dipanggil supervisor gara-gara salah menginput data. Untunglah atasanku itu seseorang yang perfeksionis dan selalu mengecek hasil kerja seluruh anak buahnya secara detail hingga setiap kesalahan tak sampai lolos ke atas. Andai sekali lagi aku melakukan kesalahan, mungkin SP 1 wajar diterima. Aku tak ingin itu terjadi, maka libur hari ini kuhabiskan untuk mengintainya.

Aku berteriak girang ketika umpanku dimakan. Balon hijaunya menyala dan jejaknya terbaca. Sama girangnya dengan ketika lampu merah di perempatan Soekarno Hatta berubah jadi kuning lalu hijau. Aku menahan mata agar tak berkedip, takut terlambat mengawasi pergerakan akun yang kutunggu sejak bangun tidur. Aku yakin dia pasti membacanya dan sebentar lagi membalasku berupa satu kalimat di berandanya.

Satu kalimat status yang baru saja dia tulis membuatku ternganga dan sedikit pongah menyembul dari ubun-ubun. Tebakanku benar. Kemudian di dalam hatiku bunga-bunga bermekaran, lalu berdatangan pula kumbang-kumbang. Dua sayap seolah-olah tumbuh begitu saja, mengepak membawaku terbang ketika mengartikan kata-katanya sebagai pernyataan cinta. Ya, aku yakin dia cemburu melihatku berbalas komentar dengan lelaki lain. Apalagi, sering kali aku bercanda seolah-olah aku dengan beberapa teman FB laki-laki adalah sepasang manusia yang sedang kasmaran.

Aku tersenyum membaca namanya. Genta. Tiga bulan lalu dia melayangkan permintaan pertemanan dan langsung kukonfirmasi setelah memastikan akunnya aman. Selama tiga bulan ini, dia selalu meninggalkan jejak pada setiap postinganku, entah di wall pribadi atau grup yang ternyata sama-sama kami ikuti.

Rasa penasaran tentangnya hadir ketika menyadari kalau dia tak pernah sekali pun singgah di kolom komentar, menyapa dan berbasa-basi soal status yang kutulis. Hanya jempolnya saja yang setia, lalu membuat status yang isinya seakan-akan menjawab statusku. Hingga minggu lalu, entah angin apa yang membawanya menyapaku lewat messenger, bertanya tentang keadaanku setelah pertunangan yang kandas. Tentu saja, pertanyaan itu membuatku berpikir bahwa dia adalah teman lama. Akan tetapi, dia menyangkal terkaanku dan membuatku memikirkannya terus sepanjang malam, seharian, dan genap tujuh hari saat ini. Dari mana dia tahu soal pertunanganku?

Sebuah pesan kembali datang. Pesan berisi kata-kata manis penuh pujian membuatku muak dan malas untuk menanggapinya. Namun, ada yang aneh. Hatiku tiba-tiba menjadi terasa kosong. Ingatanku diikat padanya, sebuah akun yang memakai foto bakung merah sebagai foto profil. Tak ada apa pun selain kalimat manis di bawahnya, Sesederhana bunga liar yang dipetik tukang kayu bakar untuk istrinya yang menanti di rumah seharian.

Sejujurnya, aku tertarik pada kalimat itu. Kata-kata tersebut rasanya pernah kudengar dari teman dekat atau pernah kubaca di salah satu buku perpustakaan. Aku yakin kalimat itu pernah singgah dan bermukim beberapa waktu dalam memori otak, dan menjadi salah satu alasan semakin ingin mengetahui siapa dia sebenarnya.

Aku membaca pesan messenger yang kembali masuk. Dia ingin ke rumahku. Gila. Aku merenungi dari mana dia tahu rumahku kalau dia bukan teman lama? Apa benar kami tidak saling kenal sebelumnya atau cuma aku yang belum mengenalnya, sedangkan dia? Dia orang sinting yang mengira semua status tentang cinta yang selalu kubuat adalah untuknya! Kalimat di otakku barusan mengakhiri rasa penasaran.

Aku melempar HP sambil mendengkus kesal, merasa dipermainkan. Kemudian bangkit menghampiri ibuku yang memanggil.

“Siapa, Bu?” tanyaku ketika Ibu bilang bahwa ada tamu untukku.

“Zen.”

Aku melongo mendengar nama tersebut. Bagaimana mungkin makhluk abstrak itu muncul setelah tenggelam di danau misteri?

“Sudah, tuh, orangnya udah duduk di depan. Memaafkan itu perlu, Vi.” Ibu mengangguk dan tersenyum, sedangkan tangannya mengusap kepalaku lembut. Selalu penuh pengertian.

Aku tertegun. Musim kering tiba-tiba melanda tenggorokan. Ludah yang kutelan tak mampu membuat basah, mulutku telanjur asam oleh kata-kata yang ingin kumuntahkan. Aku segera ke ruang tamu dan terpaku menatap sosok yang sempat membuat gila karena kehilangannya. Berbulan-bulan aku menangisinya, meratap mempertanyakan keberadaannya. Membuatku tak ingin lagi mempercayai cinta, apalagi menitipkannya pada seseorang. Lantas, sekarang tiba-tiba duduk di kursi dan dengan penuh percaya diri dia tersenyum menyambutku, berdiri lalu menganggukan kepala, dan menanyakan kabarku.

Aku tak kuasa menahan debaran yang terus memukul-mukul dadaku. Aku menghampirinya dan melampiaskan rinduku dengan sebuah tepukan keras di pipi kanannya, saking kerasnya hingga jejak kemerahan tampak jelas membentuk jari-jari tangan.

Dia tersenyum. “Lagi, Vi. Aku memang layak mendapatkannya.”

Aku menamparnya lagi lalu memukul dadanya sampai bosan. Sampai air mataku keluar dan tangisku terdengar mungkin sampai ke pekarangan rumah tetangga. Aku menjerit dan terduduk di lantai. Dia ikut duduk dan kulihat air matanya menetes.

“Maafkan, aku,” katanya sambil menunduk. Tangannya terkepal lalu terbuka bergerak seperti hendak meraih tanganku. Namun, urung. “Apa aku punya kesempatan untuk menjelaskan?”

Aku menggeleng. Memang begitu keinginanku sejak memutuskan untuk tak lagi menunggu, tak ingin mencarinya. Aku tak ingin menganggapnya pernah ada dan membuat hidupku punya tujuan. Aku telah membunuhnya empat tahun lalu, sejak dia menghilang dua minggu usai pertunangan.

Aku masih duduk dan tergugu saat dia berdiri lalu terdengar suaranya berpamitan pada Ibu. Dia juga meminta maaf pada wanita yang berjalan mendekat itu, kemudian berkata bahwa dia akan kembali datang sampai kata maafnya aku terima. Kata iya dari ibuku dan kuyakin disertai anggukan kepala sambil memberi isyarat agar segera pergi, membuat Zen berjalan keluar. Suara motor menjauh membuatku lega dan langsung menghambur ke pelukan ibuku.

Sore hari hujan datang tanpa pemberitahuan lebih dulu. Ia datang seperti mendadak hingga matahari tak sempat bersembunyi ke pelukan awan. Aku tersenyum melihat titik air jatuh mencumbu tapak dara, membuat seluruh tubuhnya bergoyang begitu indah. Namun, bukan percintaan mereka yang kukagumi, melainkan pelangi yang kuyakini akan hadir setelah hujan reda.

Aku menatap pesan messenger masuk. Genta. Aku kira itu adalah Zen. Akan tetapi, satu persen kemungkinan perkiraanku salah, tetap saja membuatku meraih HP dan membuka pesan itu.

Sebuah pesan yang panjang. Mungkin pesan terpanjang yang kuterima selama aku menggunakan aplikasi ini. Bisa jadi prosa pendek yang menggunakan POV 1. Aku membacanya tuntas hingga dua kali. Takut ada plot hole yang terlewat yang bisa kujadikan senjata untuk menyerangnya. Alasan. Untuk sesaat itu yang terpikirkan olehku. Namun, aku tahu bahwa Zen tak pernah berbohong. Ah, empat tahun adalah waktu yang sangat cukup untuk mengubah seseorang. Sejenak aku bimbang dengan dua kemungkinan. Jika aku adalah tokoh dalam kartun, maka malaikat dan setan menempel di kuping kanan dan kiriku sedang beradu argumen.

Iya, aku sudah memaafkan.

Akhirnya aku membalasnya dengan kalimat yang mungkin membuatnya bahagia. Bahagia? Lalu aku? Aku hanya ingat pada kata-kata Ibu bahwa memaafkan adalah hal yang sangat terpuji. Akan tetapi, perlu diingat bahwa memaafkan bukan berarti menerima untuk disakiti lagi.

Aku berjalan ke jendela dan menatap bianglala yang benar-benar datang. Bukankah keyakinan akan membawa kita pada impian? Kalimat itu, seakan-akan terngiang kembali. Kalimat yang sering Zen katakan ketika aku merasa hidupku tak berguna setelah kehilangan tangan kiri. Karena dia pula semangatku meletup-letup untuk tetap berkarya menghasilkan rupiah dan membeli tangan palsu.

Aku meniup rambut yang tergerai menghalangi wajah. Entah kenapa saat membaca pesan Zen, hatiku merasakan kejujuran ceritanya tentang masa-masa dia menghilang. Akan tetapi, tetap saja aku memikirkan hal kosong yang mengiringi kisah itu. Tetap sulit percaya jika dia diculik dan dibuang ke pulau kosong di Kepulauan Seribu. Bagaimana bisa hal itu terjadi padanya? Bagaimana bisa ada kebetulan sebuah rombongan observasi menemukannya lalu menyembunyikan dirinya?

Aku memejamkan mata saat pelangi memudar. Aku tahu saat membuka mata, warna-warni bias cahaya matahari sudah pergi. Cukup lama mungkin aku terpejam di depan jendela, menghirup wangi perdu yang tak pernah kutahu namanya. Bunga-bunga kecil merah muda yang awalnya Ibu tanam hanya serumpun, butuh lebih setahun untuk berkembang beranak pinak. Sedang memangkasnya hanya butuh waktu hitungan menit. Kebalikan dari luka yang pernah kudapat, butuh waktu satu tahun lebih untuk memulihkannya.

“Masih banyak waktu untuk berpikir, Vi.”

Aku tidak menyadari kehadiran Ibu. Tiba-tiba dia berdiri di samping sambil memegang pundakku. Matanya lurus memandang tapak dara yang masih bergoyang. Dia menoleh dan tersenyum melihatku. Tangannya mengusap air mata yang mulai berjatuhan di pipiku. Seperti dulu saat aku menangis kehilangan Zen, sekarang Ibu juga membiarkanku menangis karena kehadirannya.

“Bicaralah dengannya.”

Aku menatap Ibu dan mengangguk sambil tersenyum. Tentu saja aku harus berbicara dengannya, sekaligus ingin mengembalikan tali yang dulu dia berikan untuk mengikatku. (*)

Rainy Venesia, senang menulis untuk menyampaikan pendapatnya.

Editor: Evamuzy
Sumber Gambar: pinterest.com

0
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close