CerpenSastra

Rumah Baru

RUMAH BARU

Oleh : Ardhya Rahma

 

Sinar matahari mulai bergeser ke batas garis paling barat cakrawala, warna biru yang biasanya mendominasi langit di siang hari pun mulai berubah. Gradasi warna muncul dengan cantik mewarnai langit, dari terang hingga ke warna lebih tua di bagian terdekat dengan matahari.

 

Sayangnya kecantikan senja itu tidak mampu dinikmati oleh sepasang lelaki dan perempuan yang berada di dalam mobil. Bahkan, saat mobil tersebut belum terparkir sempurna di halaman rumah, perempuan tersebut bergegas turun dengan menggerutu dan setengah membanting pintu mobil. Sementara sang lelaki hanya bisa menggelengkan kepala melihatnya.

 

Setelah memastikan pintu mobil terkunci, dan menutup pagar, selanjutnya lelaki tersebut menyusul perempuan yang tadi lebih dulu masuk rumah. Baru saja dia sampai di ruang tamu, perempuan tadi muncul dan bersuara dengan nada yang naik beberapa oktaf.

 

“Kamu tuh, Pa, jadi orang yang agresif dikit gitu, loh. Masa tenang aja dikalahin orang!”

 

“Maksudmu apa, Ma?”

 

“Tuh! Tetangga sebelah. Dia kan pernah jadi anak buahmu. Pindah ke perusahaan baru juga bukan jadi pejabat, tapi coba lihat berapa mobilnya sekarang! Harusnya kamu bisa melebihi dia, ‘kan kamu manajer,” desak perempuan bernama Wulan itu.

 

Andi hanya terdiam dan membiarkan istrinya terus bersungut-sungut. Sebenarnya dia sudah bosan, telinganya pun panas karena sepanjang perjalanan tadi Wulan selalu menggerutu, entah apa yang membuatnya tidak puas. Mulut perempuan yang sudah dinikahinya sepuluh tahun itu mencong sana-sini serta menggerutu sepanjang rel kereta api.

 

Omelannya semakin menjadi-jadi saat mobil memasuki kompleks dan melewati rumah tetangga sebelah yang sedang mencoba mobil barunya. Jadi, daripada ditanggapi dan mengakibatkan perang dunia ketiga, lebih baik dia membiarkan istrinya terus menggerundel hingga lelah dan berhenti sendiri. Sayang, bukan Wulan namanya kalau cepat berhenti merengut. Terbukti baru saja masuk ruang tamu babak kedua rutukannya dimulai.

 

Bukan sekali ini saja Wulan merasa iri dengan apa yang dimiliki orang lain. Setiap tetangga mempunyai barang baru, dia pasti akan ribut. Mulai dari televisi tipe terbaru sampai mesin cuci canggih yang bisa sekaligus menyetrika baju–yang dilihatnya di rumah tetangga–saat itu juga dia akan meminta sang suami membelikan barang yang sama.

 

Tentu saja perempuan berambut bob sebahu itu tidak peduli apa pun alasan suaminya. Selama barang yang diinginkannya belum terpenuhi, dia akan tetap menuntut suaminya untuk meluluskan permintaannya. Hal itu membuat Andi yang tak tahan dengan rengekan istrinya selalu mengabulkannya.

 

Seiring waktu, tuntutan Wulan semakin meningkat bersamaan dengan bertambah tingginya jabatan Andi. Setelah bulan lalu menuntut dibelikan mobil baru seperti punya tetangga sebelah, padahal mobilnya juga baru setahun dibeli dan dituruti. Sore ini dia mendesak Andi untuk segera membeli rumah baru, hanya karena mendengar Bu Rahma membeli rumah pojok yang dijual. Lagi-lagi Andi tak kuasa menolak tuntutan istrinya dan berjanji memenuhi keinginan perempuan itu.

 

Sudah tujuh bulan ini Andi selalu pulang terlambat. Awalnya dua minggu sekali kemudian makin sering hingga menjadi dua sampai tiga kali dalam seminggu.

 

“Pekerjaan bertambah banyak, Ma. Terpaksa aku harus lembur.” Selalu begitu alasan yang diberikan Andi. Wulan pun tidak pernah mempermasalahkan hal itu, selama keinginannya menikmati makanan enak dari restoran tempat meeting suaminya terpenuhi.

 

Bahkan, ketika Andi sering dinas ke luar kota Wulan masih merasa tidak ada masalah. Dia percaya ketika suaminya berkata harus  bekerja keras untuk rumah baru yang dia minta, apalagi setiap dari luar kota Andi selalu membawa oleh-oleh tas baru atau baju baru untuk istrinya.

 

Sudah satu minggu Andi tidak pulang dan ponselnya sulit dihubungi. Wulan mulai gelisah, apalagi ketika sudah hari ke sepuluh suaminya tersebut belum juga pulang, dia mulai merasakan ada keanehan. Wanita cantik berusia awal empat puluhan itu tidak lagi memikirkan tas branded yang dia pesan sebagai oleh-oleh. Perasaannya bercampur aduk antara cemas dan marah karena ponsel suaminya itu sering mati ketika dihubungi.

 

Hari ini Wulan bertemu seorang tetangga di supermarket dekat rumah. Dari obrolan basa-basi itu, tetangganya tiba-tiba berkomentar,” Wah … Bu Wulan beli rumah baru di pinggiran kota, ya?”

 

“Iya, saya ada rencana beli rumah baru, tapi belum memutuskan mau beli di mana. Menunggu suami pulang dari luar kota,” jawab Wulan dengan nada sedikit sombong.

 

“Lho, bukannya sudah beli, Bu? Saya dua kali melihat Pak Andi dan Bu Wulan mengawasi orang mengirim perabotan masuk ke rumah tersebut.”

 

Wulan syok mendengar perkataan tetangganya itu. Dia merasa tidak pernah diajak membeli rumah oleh suaminya. Sementara, tetangganya yang melihat Wulan terdiam dengan wajah terpukul mulai meraba ada masalah dalam ucapannya.

 

“Maaf, Bu. Saya melihatnya dari kejauhan. Pak Andi saya bisa melihat wajahnya dengan jelas saat mengantarkan sopir pengantar barang ke jalanan. Sementara perempuan itu saya kira Bu Wulan karena perawakannya dari belakang mirip saat Pak Andi terlihat menggandeng tangannya masuk ke dalam rumah.”

 

Bagian terakhir ucapan itu disampaikan dengan lirih oleh tetangganya, tapi Wulan mendengarnya bagaikan dipukul palu godam. Karena dia sendiri lupa sudah berapa lama tidak digandeng oleh Andi, suaminya.

 

Tanpa banyak bicara, Wulan meminta petunjuk alamat rumah itu dari tetangganya dan segera berlalu dari supermarket tersebut. Tujuannya jelas. Dia akan membuktikan omongan tetangganya.

 

Tidak ada kesulitan mencari rumah yang dimaksud oleh tetangganya, karena dia pernah melihat kompleks perumahan itu saat melewati jalan tol menuju kota sebelah.

 

Dia mendatangi rumah dengan ciri-ciri yang disebut tetangganya, lantas memencet bel. Sambil menunggu penghuni rumah keluar, Wulan mengedarkan pandangan. Rumahnya bukan tipe rumah besar bertingkat, tetapi cukup bagus. Taman yang indah dengan jajaran tanaman yang dibentuk indah berjajar di halaman luar, menggantikan fungsi pagar.

 

Terdengar suara sandal diseret dari dalam rumah dan pintu rumah pun segera terbuka. Wulan mengamati perempuan yang berdiri di hadapannya. Perawakannya memang mirip dengannya, tapi kulit dan wajahnya berbeda jauh. Kalau dirinya berkulit putih dan berwajah cantik aristokrat–wajah fotogenik khas majalah mode–maka perempuan di depannya ini berwajah sederhana dengan kulit sawo matang. Namun, senyum manis dan sepasang mata lembut yang menatapnya membuat penampilan perempuan ini menyenangkan.

 

“Mencari siapa, Mbak?” tanya perempuan itu dengan suaranya yang lembut.

 

“Apakah betul ini rumah Pak Andi?” tanya Wulan.

 

“Iya betul, tapi suami saya baru saja berangkat.”

 

Jawaban perempuan itu seketika membuat dunia Wulan runtuh. Matanya pun menggelap. Dia luruh di depan pintu rumah baru Andi.

 

Surabaya, 31 Desember 2020

 

Bionarasi :

 

Ardhya Rahma, Penulis Novel Matahari untuk Aditya. Berdarah campuran Jawa dan Kalimantan. Mempunyai hobi membaca dan traveling. Baginya, menulis adalah proses mengikat ilmu dan pengalaman hidup. Berharap mampu menuangkannya dalam buku yang sarat makna bagi pembaca. Penulis bisa dihubungi di akun FB @Ardhya Rahma dan IG @ardhya_penulis

 

 

 

Editor: Erlyna

0
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close