CerpenSastra

Patah Tumbuh Hilang Berganti

Patah Tumbuh Hilang Berganti
Oleh: Dhilaziya

Beberapa waktu lalu saya pernah bercerita tentang kios fotokopi baru yang dikelola mas-mas muda dan ganteng. Beliau juga cekatan dan sigap memberi solusi jika mesin fotokopi di tempat saya bekerja ngadat. Cukup telepon atau kirim pesan, berkas yang hendak kami gandakan akan diambil kemudian hasil kopiannya diantar oleh beliau.

Fakta paling menarik bagi saya tentu saja karena pemilik kios fotokopi itu masih bujangan. Belum menikah dan ketika dulu digoda oleh kawan kerja saya, menjawab jika belum punya calon istri. Diam-diam saya menimbun harapan. Tidak berani menyatakan perasaan, hanya kerap memberi kode yang saya harap beliau akan paham. Sengaja datang ke kiosnya untuk sekadar membeli pensil, padahal kelengkapan alat tulis disediakan secara percuma di tempat kerja. Sesekali dengan alasan malas mengantre dengan kawan kerja, saya memilih mendatangi kiosnya dan duduk persis seperti orang kurang kerjaan menunggui berkas selesai digarap. Tentu saja selama menunggu saya akan sedikit ceriwis mengajak berbincang. Orangnya ramah, menyenangkan diajak ngobrol karena pengetahuannya luas. Makin memesona karena suara dan senyumnya segar, seperti buah jambu air yang matang di pohon dan baru dipetik.

Intensitas berinteraksi dengan beliau memunculkan riak-riak kecil yang membahagiakan dalam kolam hati saya. Kalau tidak ada urusan pekerjaan, maka saya akan bertingkah seperti abege, meminta beliau mencetak foto, atau memperbaiki buku yang koyak agar dibundel ulang. Intinya cari perhatian dan cari perkara.

Hal semacam itu tentu menerbitkan rindu. Kebiasaan akan menagih pengulangan, situasi nan asyik juga mendebarkan. Ketika tiba-tiba kiosnya tutup selama lebih dari seminggu tanpa kabar, jelas saya bertanya-tanya. Apakah pria pengisi mimpi-mimpi saya sedang sakit? Padahal tatkala pandemi merasuk dalam tiap sendi kehidupan sejak tahun kemarin, kiosnya tetap buka dan malah kebanjiran orderan terkait sistem belajar online. Saya berinisiatif bertanya melalui aplikasi WhatsApp, dan hanya dijawab sedang ada keperluan keluarga di luar kota. Saya memilih bersabar dan mendoakan semoga urusannya dipermudah dan lekas selesai.

Saya tersenyum dengan perasaan girang sewaktu mendapati Mas Anggoro sedang menyapu halaman kiosnya tatkala saya melintas hendak bekerja. Segera saya mampir untuk membeli double tape, kali ini dengan sangat ramah seorang wanita muda melayani saya. Wanita yang memiliki tahi lalat kecil di bawah bibirnya itu tampak sudah terbiasa dengan kios langganan saya. Karyawan baru yang menyenangkan, saya ikut berbahagia atas kemajuan usaha pujaan hati.

“Wah akhirnya, pas banget fotokopian banyak. Ntar ke kantor, ya.”

“Siap, Mbak. Kenalin, istri saya. Nailah. Asli Gunungkidul.”

Seperti ada balon yang meletus tiba-tiba di dalam sana. Seolah tertusuk dan saya yang merasakan sakitnya. Untuk sesaat saya berhenti bernapas. Saya patah hati tapi tidak membenci.

Untunglah saya memiliki pekerjaan dan kesenangan yang memudahkan saya untuk beralih fokus. Tidak akan saya mencoba menggoda suami orang, seberapa pun menariknya pria itu. Ini perkara prinsip dan harga diri. Meskipun memang menggelikan nasib saya, jatuh cinta sendiri lalu patah hati tanpa konfirmasi.

Saya memendam rahasia derita hati dari kawan kerja. Jika mereka meledek terkait status baru Anggoro, saya hanya tertawa dan mengatakan bahwa memang tak pernah ada apa-apa di antara kami. Saya juga menyebut jika pria muda kawan abang saya, pemilik bengkel sepeda motor langganan saya, jauh lebih menawan. Sedang diam-diam saya tahu kondisi sebenarnya, bos bengkel itu juga sudah bertunangan. Saya mengibul saja demi gengsi.

Untuk urusan motor, meskipun saya adalah perempuan tangguh yang lumayan serbabisa, saya memang hanya bisa memakai. Sama sekali tidak tahu bagaimana merawat selain mencucinya sesekali. Jika saya lihai memasang gas dan membongkar penanak nasi yang menjadi lokasi bunuh diri seekor cecak, bukan berarti saya mampu memahami bagaimana menangani lampu sein yang mati. Yang sudah pasti saya lakukan adalah menelepon bengkel, kemudian motor saya diambil lalu kembali kepada saya dalam keadaan sempurna.

Hari ini adalah jadwal motor saya menjalani perawatan. Ganti oli dan entah diapakan lagi. Pagi-pagi sekitar pukul sembilan, setelah bengkel mereka buka, motor saya akan dijemput. Saya tidak perlu menjelaskan apa-apa. Mereka yang akan mengurus, mengencangkan apa yang kendor, juga mengganti apa yang aus atau rusak. Tidak lupa motor akan dicuci superbersih, dan diantar kembali ke kantor saya menjelang jam pulang kerja. Begitu ritualnya.

Namun ada yang berbeda tadi pagi. Pegawai yang mengambil motor saya bukan karyawan bengkel yang sudah saya kenal. Melainkan seorang pria muda yang asing. Dia menyebut diri bernama Dirga, baru tiga minggu bekerja, sedikit gondrong, tapi rapi. Cakep uraian rambutnya, selaras dengan wajahnya. Tampan. Keraguan saya akan identitas Dirga terpatahkan ketika kawan abang saya menelepon memberi tahu perubahan yang sedang saya hadapi. Informasi tambahan jika Dirga masih singgel dan merupakan mekanik yang andal, seketika membuat saya merasa tidak akan hanya memercayakan motor saja. (*)

#DZ. 12012021

Dhilaziya, perempuan penyuka sunyi, bunga, buku, dan lagu.


Editor: Fitri Fatimah


Sumber gambar: https://pin.it/1IvWGR5

+1
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close