Film dan BukuRubrik Umum

PASUNG JIWA : Apa Itu Kebebasan?

PASUNG JIWA : Apa Itu Kebebasan?

Spoiler Alert!

 

Judul : Pasung Jiwa

Penulis : Okky Madasari

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Kota dan Waktu Terbit : Jakarta, 2003

Halaman : 328

Okky Madasari adalah seorang novelis yang dikenal dengan karya-karya yang menyuarakan kritik sosial. Pasung Jiwa (2013), bercerita tentang perjuangan manusia mendapatkan kebebasan dalam periode sebelum dan sesudah reformasi. Edisi bahasa Inggris-nya terbit dengan judul Bound dan dalam bahasa Jerman terbit tahun 2015 dengan judul Gebunden. Okky juga meraih Khatulistiwa Literary Award 2012 untuk novelnya Maryam (2012) yang bercerita tentang orang-orang yang terusir karena keyakinannya. Maryam telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan judul The Outcast. Novel pertama Okky, Entrok (2010), berkisah tentang dominasi militer dan ketidakadilan pada masa Order Baru. Entrok telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan judul The Years of the Voiceless. Novel ketiganya, 86 (2011), bercerita tentang korupsi di Indonesia pada masa sekarang, diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan judul sama. Lulusan Hubungan Internasional UGM ini menyelesaikan master di bidang sosiologi sastra dari Departemen Sosiologi Universitas Indonesia dengan tesis Genealogi Sastra Indonesia Kapitalisme, Islam, dan Sastra Perlawanan.

Apakah kehendak bebas benar-benar ada? Apakah menusia bebas benar-benar ada?

Okky Madasari mengemukakan pertanyaan-pertanyaan besar dari manusia dan kemanusiaan dalam novel ini. Melalui tokoh utama, Sasana dan Jaka Wani, dihadirkan pergulatan manusia dalam mencari kebebasan dalam melepaskan diri dari segala kungkungan. Mulai dari kungkungan tubuh dan pikiran, lingkungan tradisi, dan keluarga, kungkungan norma dan agama, hingga dominasi ekonomi dan belenggu kekuasaan.

Untuk setiap nyala keberanian yang tersembunyi di balik ketakutan. 

Kalimat pembuka dalam novel ini membuat kita penasaran. Keberanian seperti apa yang tersembunyi dan ketakutan seperti apa pula? Semua terjawab ketika menyelesaikan membaca novel ini.

Cerita yang disajikan di tulis dengan kata yang mudah dimengerti, serta penalaran yang mudah dipahami. Bahkan kita dapat membayangkan setiap kejadian yang menimpa tiap tokoh yang ada dalam novel ini.  Terutama ketika ketidakberdayaan Sasana sejak mulai menyukai musik dangdut kemudian saat duduk di bangku SMA, diperas dan dianiaya oleh seniornya. Sementara kedua orangtuanya menyalahkan tanpa mendengarkan penjelasannya. Sampai akhirnya Sasana menderita patah tulang dan harus pindah sekolah sementara para seniornya tetap berperilaku bak preman karena kedudukan orang tua mereka yang sangat berpengaruh. Sejak itu, Sasana tidak menyukai pria, karena mereka kasar, bahkan dia tidak menyukai dirinya sendiri.

Saat kuliah, Sasana mulai merasakan kebebasan karena jauh dari orang tua yang sejak kecil menuntutnya menjadi anak yang sempurna. Sasana mulai menemukan dirinya yang lain ketika bertemu dengan Jaka Wani di sebuah warung makan milik Cak Man, yang tak jauh dari kosan Sasana. Jaka Wani adalah seorang mahasiswa semester akhir, calon guru, yang memutuskan berhenti kuliah karena merasa jiwanya hanya untuk seni. Hanya pada Jaka, Sasana menjadi dirinya sendiri. Mereka berdua memutuskan hidup serumah, mengamen ke berbagai tempat hanya demi kesenangan dan menyambung hidup. Di sinilah diri Sasana yang lain muncul menjadi Sasa, Sang Biduan. Mulai dari warung ke warung  dan jalanan, Sasana manggung dari pentas ke pentas. Dengan suara dan goyangannya yang khas, Sasana mulai dikenal banyak orang. 

Suatu hari, kemalangan demi kemalangan menimpa Sasana dan Jaka Wani. Ketika Cak Man bercerita tentang anaknya Marsini yang menghilang karena menuntut kenaikan upah di pabrik tempatnya bekerja, keberanian Sasana dan Jaka Wani muncul, menuntut keadilan, mencari keberadaan Warsini dengan berdemo di depan pabrik bersama empat teman mereka sesama pengamenMarjinal. Sasa bernyanyi dan berjoget dengan hanya menggunakan BH dan celana dalam sehingga memancing kerumunan massa. Sejak saat itu Sasana dan Jaka Wani terpisah. Mereka dipenjara dan disiksa para tentara.

Jaka Wani diancam sehingga harus merantau, bekerja ke Batam, sedangkan Sasana berakhir di rumah sakit jiwa akibat trauma yang dideritanya. Kemalangan demi kemalangan menimpa mereka. Tertindas oleh kekuasaan sehingga harus lari dan bersembunyi. Sampai mereka bertemu kembali dengan situasi yang tidak bersahabat. Namun, pada akhir cerita mereka menemukan kebebasan dalam cara mereka. 

Banyak pesan moral dalam novel ini. Khususnya peran penting orang tua bagi anak-anak mereka. Orang tua harus lebih terbuka mendengar keinginan anak dan mendukung mereka dalam situasi apa pun. Serta sikap berani dalam menyuarakan keadilan. (*)

 

Cici Ramadhani menyukai literasi sejak SMP. Namun, sempat terhenti hingga beberapa waktu. Kini, setelah menjadi IRT dan bergabung dalam grup literasi, mencoba kembali mengasah hobi lama dan mulai menyampaikan pesan melalui kata. Suatu saat berharap bisa bercerita tentang alam karena sangat menyukai warna birunya laut, suara air terjun, dan dinginnya pegunungan. Semoga dalam tiap cerita dapat tersampaikan hikmah dan bermanfaat bagi pembaca.

Editor : Devin Elysia Dhywinanda

 

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

+1
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close