CerpenSastra

Kucing Hitam di Kegelapan

Kucing Hitam di Kegelapan
Oleh: Erien

Semua orang di lingkungan stasiun ini memanggilnya Doreng, kepanjangan dari dodo ireng alias dada hitam. Lelaki itu memang tak pernah terlihat mengenakan baju. Hanya celana selutut yang menutupi auratnya sehari-hari. Tubuh atas dibiarkannya terbakar matahari hingga menghitam. Itulah alasan ia dipanggil Doreng.

Pak Kepala Stasiun pernah bercerita padaku. Doreng muncul pertama kali di stasiun ini kira-kira dua puluh tahun lalu. Tak ada yang tahu umurnya sekarang. Pun, tempat ia tinggal dan tidur. Yang jelas, tiap pagi buta ia menyapu seluruh halaman stasiun. Suara sapunya terkadang membangunkanku, jika kebetulan aku menginap di sini. Setelah selesai, Doreng duduk di trotoar tepat di samping pos ojek sebelah gerbang stasiun. Beberapa kucing menemaninya. Pernah kulihat ia diusir karena dianggap menakuti pelanggan ojek. Doreng menurut. Ia pergi meski tak pernah jauh dari daerah itu.

Kata sebagian orang, Doreng gila. Tapi, tidak sekali pun kulihat ia meracau, marah, atau bertingkah layaknya orang gila. Ia lebih banyak diam. Jika diajak mengobrol, Doreng mau menjawab. Hanya saja ia tak pernah menjawab pertanyaan tentang tempat tinggalnya.

Suatu hari, warung makan tepat di sebelah gerbang stasiun, kemalingan. Kabar beredar, dua ponsel dan uang yang entah berapa jumlahnya, raib. Pintu masih terkunci, jendela pun berteralis besi. Warung yang biasanya buka 24 jam itu, kemarin malam tutup selama sekitar tujuh jam. Dari kasak-kusuk tukang becak motor, pemiliknya sengaja menutup warung karena hendak pulang, tidur di rumah bersama suami yang sakit dan dua anak yang masih kecil.

Dengan mudah tertebak, panah curiga mengarah ke mana.

Doreng.

Lelaki tinggi besar itu digelandang ke pos polisi stasiun. Tubuh gempalnya didorong dan kakinya ditendang agar berjalan lebih cepat. Beruntung, rambut gondrong Doreng baru saja dipotong habis, hingga orang-orang itu tak bisa menjambaknya. Mereka hanya bisa menoyornya berulang kali.

Doreng menurut. Tak ada balas darinya pada umpatan bertubi-tubi itu. Pun perlawanan atas sentakan berulang pada tubuhnya. Ia diam, meski tuduhan dan makian dijejalkan di telinganya.

Polisi menutup pintu pos jaga ketika Doreng sudah masuk. Pemilik warung dan bos preman yang disegani di daerah itu, ikut masuk.

Aku tak tahu apa yang terjadi di ruangan itu, karena teman-teman mengajakku mencuci gerbong kereta yang baru datang. Aku tak melihatnya keluar dari pos jaga. Sejak saat itu, Doreng tak pernah terlihat lagi. Semua orang yang kutanyai tak menjawab. Mereka hanya bilang Doreng pergi dikawal dua polisi. Seketika, aku kehilangan nafsu makan.

Minggu pagi, aku dikejutkan teriakan bos preman. “Doreng kembali!”

Aku bangun dari kursi panjang tempatku tidur karena semalam tak sempat pulang. Doreng terlihat berjalan di trotoar, menuju pos ojek tempat ia dulu biasa duduk. Namun, ada yang beda.

Ia berpakaian lengkap. Kaus berkerah lengan pendek warna hijau muda, dan celana jin membalut tubuhnya, meski tak bisa menyembunyikan hitamnya lengan yang terbakar matahari. Wajahnya cerah dengan senyum lebar. Doreng mengangguk pada tiap orang yang menyapanya.

“Kalau kata mamakku, dia kucing hitam dalam gelap, burung merak dalam terang,” kata bos preman pada pasangan pemilik warung yang dahulu kemalingan. Pasangan itu mengangguk mengiyakan.

Aku tak tahu apa artinya.

Selama ia menghilang, aku mendengar banyak cerita. Dulu, Doreng ternyata menjual seluruh pakaian hingga tersisa celana selutut, untuk membantu pengemudi becak yang tertabrak. Uangnya digunakan memperbaiki becak dan mengobati luka pak tua itu.

Doreng pernah menimba puluhan ember dan mengangkutnya ke stasiun hanya untuk menyirami tanaman-tanaman yang kering. Ia juga mengisi bak-bak toilet umum dan bak tempat berwudu di musala. Lelaki itu  juga yang menyelamatkan kepala stasiun dari serangan jantung di malam hari dengan menggendongnya dan berlari ke klinik terdekat.

Rambut gondrong yang ia potong, ternyata dijual. Ditambah uang hasil mencuci gerbong dan gajinya mengaduk adonan semen, uangnya untuk menyelamatkan anak tukang parkir dari putus sekolah. Terakhir, ia mengikhlaskan satu ginjal untuk suami pemilik warung yang murka karena uang yang hilang itu adalah tabungan untuk cuci darah.

Bagiku, Doreng adalah malaikat. Ia hanya menggeleng ketika menatapku menyelipkan tubuh kurusku di teralis besi yang menutupi jendela warung, malam itu. Namun, kepalanya mengangguk ketika dengan gagap kujelaskan bahwa dua ponsel dan uang itu untuk melunasi biaya pemakaman Ibu. (*)

Kotabaru, 09012021

Erien. Masih belajar untuk bersyukur.

Sumber gambar: https://pin.it/2kzl2jR

+1
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close