CerpenSastra

Terlalu Aku

Judul : Terlalu Aku
Oleh : Dyah Diputri

Tidak ada yang bisa menggangguku. Tidak kamu, tidak juga mereka. Tidak orang-orang yang punya belasan rencana jahat menjelang usia beliaku, tidak pula orang-orang berwajah dusta yang membawa pisau tikaman tak kasat mata di balik punggung mereka.

Usiaku ibarat kuncup bunga mawar yang memekar. Indahku tersembunyi di balik daun-daun bergerigi juga tangkai berduri—yang keduanya ialah aku sendiri. Harum menyerbak, hanya saja tak terlalu kusemerbakkan. Aku tahu … dunia ini terlalu kejam untuk sekuntum mawar.

Satu contoh adalah Ibu, mungkin juga seribu kelopak mawar koyak di belahan bumi lainnya. Makhluk bernama pria itu awalnya mengendus, menempelkan lubang hidungnya tepat di mahkota merah rekah—menggusur titik-titik embun pada pagi hari. Kemudian, mereka menyentuh dengan kasar, memetik sambil terus menciuminya, kemudian menginjak satu per satu kelopak yang gugur ke tanah, kala rona cantik menguap seiring senja. Dia tak ubah dedaunan gugur yang menyebar dan tersapu dengan nama “sampah”.

“Kenapa orang itu bisa dengan teganya meninggalkanmu saat aku baru diberi jemari di dalam perutmu, Bu?” tanyaku suatu kali.

“Sebut ia Ayah, jangan orang itu,” sergah Ibu.

“Tidak, tidak! Aku seorang putri cantik yang terlalu sempurna untuk memiliki ayah sepertinya. Tidak, sampai kapan pun!”

Aku berlalu seolah-olah aku tidak membutuhkannya. Ah, iya, memang aku tak butuh! Jika anak perempuan lain butuh ayahnya sebagai wali nikah, kukatakan aku tidak! Aku bahkan tidak akan menikah.

Tidak ada yang bisa menggangguku. Tidak kamu, tidak juga mereka. Tidak pria-pria keras kepala yang menyodorkan seikat bunga, cokelat, boneka, dress, maupun perhiasan, apalagi kata cinta. Tidak … tidak! Bagi Namia, mereka bukannya kuno, tetapi terlalu konyol mengagungkan wanita.

Usiaku beranjak 23 tahun. Semakin aku berjalan, semakin aku sempurna. Sendirian saja, itulah dunia yang sebenarnya. Kulit putih licinku terbalut berlapis-lapis baju. Aku memakai masker ke mana-mana, bahkan sebelum sebuah virus penyakit mengguncangkan dunia baru-baru ini. Kujaga pandangan lurus ke depan, kupastikan hati terkunci dan tak pernah merasakan debaran di dada. Bekerja sebagai guru les privat, kupikir mengecilkan risiko untuk berkenalan dengan pria. Namia menjaga dirinya … Namia menjaga dirinya ….

“Ada anak teman Ibu yang sudah mapan. Dia anak yang ramah, Ibu sudah pernah berkenalan dengannya. Kamu mau mencoba?”

Aku mengernyit, berhenti sebentar sebelum masuk ke kamar. Hari ini aku hanya ingin di kamar, mendengarkan musik jazz dan membersihkan daki sekaligus berendam.

Ibu tahu jawabanku, jadi tak perlulah aku repot-repot menjawab. Hanya butuh menyunggingkan sesudut senyum, lalu melambaikan satu tangan, Ibu akan menghela napas.

“Nami, bukalah hatimu. Coba berpandangan luas, tidak semua pria itu sejahat ayahmu.”

“Ayolah, Ibu … aku juga tidak pernah bilang aku benci pria, aku benci Ayah, atau aku tidak mau menikah, melainkan aku tidak punya ayah, aku tidak berminat terhadap pria maupun orang lain, tidak butuh juga hidup dengan orang lain. Aku adalah aku, dan hidupku hanya berisi aku.”

Aku berdesis sebal, merasa rencana me time hakikiku terganggu dengan basa-basi Ibu. Seharusnya, sejak tiga menit yang lalu aku sudah menceburkan diri di bath up. Cuaca sedang panas, tidak mungkin kubiarkan keringat muncul berlebih dari ketiakku. Big no!

Kupejamkan mata, bersenandung, dan merasakan betapa sejuk air memanjakan epidermis. Busa-busa lembut kumainkan ke seluruh tubuh. Wangi aromaterapi membuat syaraf rileks. Aku bahagia … aku bahagia …. Bahagia dengan diriku sendiri.

Sepuluh tahun berlalu. Orang bilang aku sudah semakin matang. Pekerjaan lama kutinggalkan. Kugunakan tabungan untuk membuka bisnis kecantikan. Meski awalnya kecil, tetapi lambat-laun berkembang juga. Orang-orangku tepercaya, mereka bertanggungjawab atas gaji yang mereka terima. Sementara aku cukup berdiam di rumah, menikmati pencapaian luar biasa dengan senyum setiap detiknya.

Ya, buat apa aku harus bersedih sepeninggal Ibu beberapa bulan yang lalu. Toh, duniaku tidak akan berubah. Hal terpenting di dunia ini adalah jiwaku sendiri. Selama jiwaku hidup, maka Namia tidak butuh siapa-siapa. Orang-orang asing itu terlalu riskan untuk dijadikan teman atau pendamping.

Lihat saja beberapa pria berjas yang berani datang mengetuk pintu rumahku. Ada sabit tersembunyi di punggung mereka. Ada pula serbuk racun di saku kemeja mereka. Ada bedil di tas mereka. Terkadang, ada beberapa yang dalam kategori aman, tidak membawa apa-apa, tetapi mereka menunjukkan pigura foto keluarga dengan samar-samar. Dikiranya, aku akan berpikir kalau itu keluarga kembaran mereka. Hei, siapa yang bodoh sebenarnya?

“Nami, sudah lama aku menjadi rekan bisnismu, bukan? Kenapa tidak bisa percaya padaku?”

Itu Beni. Ya, rekan bisnis terbaik, seperti yang dia bilang. Dia tidak pernah berkhianat sepanjang empat tahun terakhir. Dia bujang, mapan, tampan. Perhatiannya tidak berlebihan, dan tidak murahan. Dia sudah melamarku untuk ketujuh kalinya dalam dua bulan terakhir. Janjinya pun tidak biasa: dia menunggu selama aku memintanya menunggu, dan tidak akan lelah menunggu.

Apa aku sengaja mengetes keseriusannya? Tidak. Itu tidak perlu, dan sama sekali bukan kegiatanku. Segala waktu dan pikiran, selain mengurusi pekerjaan, ialah sepenuhnya milik jiwaku.

Tidak ada yang bisa menggangguku. Tidak kamu, tidak mereka, tidak juga Beni. Seluruh cinta telah termakamkan bersama pesonaku sendiri. Segala rasa hanya untuk diriku. Seluruh kasih hanya untuk Namia. Tidak ada yang bisa mengalihkan semua ini, termasuk kesungguhan Beni.

Beni bersungguh-sungguh? Ha-ha! Sudah kubilang, pria itu punya senjata rahasia sekalipun tidak membawa pisau, belati, bedil, sabit, maupun serbuk racun. Nyatanya, di masing-masing mata Beni ada dua kornea yang bisa melirik ke perempuan lain, setelah dia meluncurkan kalimat gila kepadaku.

“Maaf, Namia. Orangtuaku butuh jawabanmu sekarang.”

Kala itu, Beni meletakkan cincin dengan model terbaru di telapak tanganku. Kalau tak salah hitung, itu cincin kedelapan belas selama kurun waktu dua tahun. Dia hanya menunggu selama itu … hanya selama itu. Menggelikan!

“Aku tidak harus menjawabnya, ‘kan?” kataku santai.

“Kumohon, Nami. Berpikirlah positif, orang-orang sudah menganggapmu—”

“Gila? Lesbi? Aneh? Bodoh? Apa lagi?” hardikku.

Beni terdiam. Dia menarik napas berat. Kemudian, alasannya tentang hormon pria, kesuburan, kantung rahim, reproduksi, juga keturunan dan … usia. Di akhir kalimat, dia akhirnya berkata, “Kurasa aku yang gila jika terus menunggumu.”

“Ya, pergilah, Ben! Kamu tak harus menjadi gila. Cintai dirimu sendiri sehingga orang lain tak harus menyakitimu.” Kupersilakan Beni keluar dari rumahku.

Tak ada yang bisa menggangguku. Tidak kamu, tidak mereka, tidak juga Beni. Seluruh waktu dan hidup, hanya untuk jiwaku sendiri.

Aku duduk selonjoran di ruang tengah, menonton salah satu siaran televisi. Kumasukkan sepotong cokelat sambil tersenyum. Nikmat cokelat terakhir terasa manis di mulut.

Kuambil majalah bisnis dan membuka-buka asal. Tepat di halaman 98, jemariku terhenti. Ada wajah Beni dan istrinya yang tampak bahagia. Di sisi halaman yang lain fotonya berempat dengan dua buah hatinya pula, kembar cantik yang sudah berusia delapan belas tahun. Melihat kecantikan dua perempuan itu, aku jadi teringat aku …. sekitar tiga puluh tahun yang lalu.(*)

Malang, 3 Oktober 2020

Dyah Diputri. Pecinta diksi yang tak sempurna.

Editor : Uzwah Anna

Grub FB KCLK
Halaman FB kami
Pengurus dan Kontributor
Mengirim/menjadi pemulis tetap di Loker Kata

0
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close