CerpenSastra

Menanam Kenangan

Menanam Kenangan 
Oleh : Syifa Aimbine

Tahun 2050. Dunia ternyata belum berakhir. Kehidupan masih terus berjalan di atas permukaan planet yang dulu dikenal sebagai planet biru ini. Tuhan sepertinya memang enggan menghancurkan tempat hidup makhluk bernama manusia. Mungkin Ia lebih menyukai sifatnya sebagai Maha Pencipta. Meski kini, manusia merasa sebagai Tuhan, mencipta tak seberapa dan menghancurkan sesuai kemauannya.

Warna bumi tidak lagi biru, daratan meluas. Jumlah manusia mencapai ambang batas, sehingga laut dikebiri. Apa yang tidak mungkin jika ada uang dan teknologi? Kota kini terbagi menjadi dua bagian yang saling bertolak belakang. Kesenjangan hidup dulu saling berbaur, kini sudah memilih memisahkan diri. Orang kaya akhirnya memutus interaksi dengan kaum papa. Sebuah tembok tinggi mereka bangun sebagai bukti pembatasan sosial antara kaum berada dan kaum miskin. Semua serba baru dan modern di kota ini. Kota yang diberi nama Ankara.

Bangunan pencakar langit bergaya futuristis menghiasi kota yang ditata sedemikian rupa. Jalan raya membingkai berlapis-lapis, lalu lintas teratur dan dipenuhi kendaraan berbahan bakar listrik yang super canggih. Listrik berlimpah ruah, setelah cahaya matahari dan angin mampu diolah menjadi sumber energi terbarukan di kota ini. Semua berkat uang mereka yang juga berlimpah. Kota tertata rapi, sebutir debu pun bahkan tidak dibiarkan ada. Sangat bersih. Semua adalah kehidupan impian yang benar-benar terjadi dengan bantuan teknologi. Kota ini seperti menjawab keinginan untuk hidup tenang dan bahagia.

Namun, sangat bertolak belakang dengan sisi satunya. Sisi yang tak dianggap keberadaannya. Bahkan mungkin sengaja dihilangkan dalam peta sehingga daerah marginal ini juga tak memiliki nama. Udara penuh debu dan asap sisa pembuangan dari teknologi Kota Ankara. Kota sebelah yang serba modern itu membuang semua limbah dan sisa racun toksik mereka ke pinggiran. Daerah yang keadaannya sangat memprihatinkan. Bangunan tua yang sudah lusuh, jalanan berlubang, tidak ada pepohonan, udara kotor, bahkan air yang menjadi sumber kehidupan keruh dan berbau. Tumbuhan pun enggan hidup di tempat ini, tidak ada hewan yang bertahan hidup lama. Setiap apa yang ditanam akan mati, tanahnya sudah teracuni. Manusia yang hidup di sini seakan hanya menunggu panggilan Tuhan. Mengharap keajaiban yang tidak akan pernah datang.

Tidak ada kesempatan bagi mereka untuk marah dan berontak pada penduduk Kota Ankara. Sistem keamanan super canggih siap membakar tubuh para ‘pemberontak’ dari daerah sebelah. Kota sebelah memproduksi makanan untuk bertahan hidup saja sudah syukur rasanya.

Anak-anak kini tak perduli huruf atau angka lagi. Untuk apa belajar, kalau hidup mereka tidak bisa berubah? Dari pada sibuk memikirkan masa depan, lebih baik menikmati hidup hari ini. Bermain bersama teman-teman, berlari, dan berkejaran, meski terkadang sesak karena oksigen yang memang makin terbatas jumlahnya. Orangtua mereka pun enggan melarang. Buat apa? Setidaknya mereka sudah bersedia melahirkan anak-anak itu dalam keterbatasan fasilitas. Selebihnya, biar menjadi urusan anak-anak itu sendiri. Tuhan seharusnya berpikir dua kali menciptakan anak-anak itu di lingkungan ini.

Ternyata tidak semua yang putus asa. Di sebuah rumah berdinding kardus, seorang ibu mengajarkan membaca ‘alif-ba-ta’ pada kedua putrinya. Ia masih percaya bahwa Tuhan mendengar doa mereka. Maka, ia tak pernah lelah meminta. Ibadah menjadi tujuan hidupnya. Ia dan suaminya tak henti memberikan pendidikan yang mereka dapat secara turun temurun. Untunglah, buku-buku tua warisan kedua orangtuanya tidak pernah mereka jual hanya untuk sekedar mendapatkan makanan.

“Lebih baik lapar hari ini dari pada menjual ilmu,” ujarnya ketika dua putrinya mengintip ayahnya yang tengah memandangi koleksi bukunya yang ia sembunyikan dalam sebuah peti di bawah tanah.

“Ini satu-satunya harta kita,” sambung sang Ibu sambil membelai rambut kusam kedua putrinya.

Masyarakat sendiri mencibir hidupnya yang selalu optimis dan mendidik anak-anaknya. Namun, ia tidak peduli. Ia tetap berupaya mendidik anak-anaknya. Seperti kebanyakan orang di sini, ia juga bekerja mengumpulkan sampah pembuangan dari kota dan memilah yang ada kandungan plastik dan besinya. Nantinya, sampah tersebut akan dijual kepada pengepul lalu dibawa ke pabrik untuk dibawa ke kota Ankara. Itulah syarat untuk mendapatkan roti yang merupakan makanan satu-satunya. Roti yang tak memiliki rasa dan aroma. Setidaknya itu lebih baik dari pada mengunyah sampah.

Belakangan lelaki itu punya pekerjaan lain. Ia mengumpulkan sampah sisa makanan dan kotoran untuk dijadikan pupuk. Ia menemukan cara membuat pupuk organik dari sebuah buku tua milik ayahnya. Ia yakin, ada harapan untuk menumbuhkan tanaman. Ia percaya, jika ia mampu menggemburkan tanah, kehidupan akan kembali normal. Mereka tak perlu menerima biskuit kering yang dikirim dari kota sebelah. Kehidupan mereka pasti akan membaik, air akan menjadi kembali bersih, udara pun akan segar kembali karena oksigen yang diproduksi tanaman tanpa henti.

Entah bagaimana cara Tuhan mengabulkan doa pria ini. Seseorang dari Kota Ankara membuang sebuah pot berisi tanaman tomat yang telah membusuk. Beruntung bagi sang pria yang biasa datang paling pagi ke tempat pembuangan sampah. Ia segera menyembunyikan pot itu, membawanya pulang, dan melanjutkan eksperimennya yang kini menunjukkan harapan baru. Ia mulai membagi-bagi tanah itu ke dalam plastik-plastik kecil. Menanam biji buah-buahan busuk yang ia kumpulkan ke dalam tanah yang sudah ia beri pupuk buatan, dan menyiraminya dengan air. Semalaman ia bahkan tidak dapat tidur, berharap biji itu menunjukkan tanda-tanda akan hidup. Sudah empat hari, tapi tanda-tanda kehidupan hijau itu tidak juga muncul. Ia merasa putus asa. Kembali ia membuka kitab bercocok tanam warisan ayahnya. Ternyata ia lupa satu hal, cahaya matahari.

Esok paginya, ia sudah membawa nampan berisi tanaman itu ke atas atap rumahnya. Menunggu cahaya matahari memberi kehidupan pada tanaman itu. Sekali lagi, Tuhan tidak menghianatinya. Kuncup daun muncul dari balik tanah. Sang Ayah yang memiliki dua putri itu sangat bahagia. Ia segera memberi tahukan keajaiban itu kepada istri dan anaknya. Mengumumkan bahwa usaha kerasnya tidak sia-sia.

Namun, suaranya terlalu keras, sehingga seorang tetangga yang iri hati mendengar itu semua. Menyebarkan informasi itu hingga meluas tidak terhingga. Kota sebelah membacanya sebagai upaya pemberontakan. Malamnya, semua tanaman itu tidak lagi bersisa. Semua lenyap, berikut rumah kardus dan penghuninya.(*)

Depok, 22 Oktober 2020

Syifa Aimbine, wanita berzodiak Taurus yang suka nonton film horor atau main game kalau lagi badmood.

Editor : Uzwah Anna

Grub FB KCLK
Halaman FB kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/menjadi penulis tetap di Loker Kata

1+
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close