CerpenSastra

Ketulusan

Ketulusan
Oleh : Ardhya Rahma

Dia indah, peretas gundah
Dia yang selama ini kunanti
Pembawa sejuk, pemanja rasa
Dia yang selalu ada untukku

Lagu itu terdengar lagi. Setiap aku memasuki kelas jurusan Akuntansi semester dua ini, selalu saja ada yang menyanyikan lagu itu.

Awalnya aku tidak tahu siapa yang bersenandung dan tidak ingin mencari tahu. Aku hanya menganggapnya iseng. Mungkin dia suka menyanyikan lagu yang sedang hits. Entahlah, aku bukan penggemar lagu, jadi tidak mengerti hal itu. 

Namun, semakin sering aku mendengar lagu tersebut disenandungkan, rasa penasaran pun timbul. Terlebih ketika mendengarkan secara lengkap lagu yang dibawakan penyanyi bernama Tulus itu.

“Mbak Mia, pernah ndengarin lagu Tulus yang berjudul ‘Teman Hidup’?” Aku bertanya pada salah satu staf admin di kantor jurusan akuntansi.

“Pernah, Mbak. Lagu bagus itu. Romantis banget. Salah satu lagu favorit saya,” jawabnya sambil tersenyum.

“Menurut saya lagu itu juga romantis. Cocok, ya, kalau lagu itu digunakan untuk merayu seorang wanita.” Aku memancing Mbak Mia.

“Cocok banget, Mbak. Kalau ada cowok yang nyanyikan lagu itu di depan saya dan ngajak nikah sekarang, pasti saya langsung mau,” jawab Mbak Mia sambil terkekeh.

Dugaanku benar. Aneh kalau ada mahasiswa yang menyanyikan lagu itu setiap aku masuk ke ruang kelas. Tidak mungkin iseng karena hanya dia yang bernyanyi dan dengan lagu yang sama. Maksudnya apa?

Aku mulai memperhatikan mahasiswa yang sering bersenandung lagu itu. Gayanya cuek tapi penampilannya rapi. Mungkin pengaruh dari usia yang lebih tua daripada mahasiswa seangkatannya. Dengan tinggi sekitar 170 cm, badan tegap, wajah yang dibingkai sepasang alis melengkung bak burung camar, dan senyum manis, aku yakin banyak gadis yang tertarik padanya.

Namun, kenapa dia justru terlihat seperti menggodaku? Apakah mungkin, dia tertarik kepada wanita yang umurnya jauh lebih tua daripada dirinya? Aku penasaran.

Sudah delapan pertemuan di kelas Akuntansi semester dua. Delapan kali pula aku mendengar petikan lagu Tulus terdengar sebelum aku mulai mengajar. Bahkan di tiga pertemuan terakhir, terdengar pula ketika aku meninggalkan ruang kelas. Makin menambah rasa penasaran pada sosok mahasiswa itu.

***

Aku tergesa-gesa memasuki gedung kampus. Gara-gara mobil mogok, aku jadi terlambat mengajar. Hari ini jadwalku mengajar Cost Accounting di semester empat. Begitu terburu-burunya aku turun dari taksi, hingga tak sadar tumpukan buku tertinggal di jok belakang.

Saat menyadarinya mobil itu sudah mulai berputar balik menuju gerbang, aku pun segera berlari mengejar dibantu sekelompok mahasiswa yang mendengar teriakanku. Hingga taksi itu berhenti dan bukuku bisa kembali.

“Terima kasih, ya, sudah membantu saya,” ucapku pada sekelompok mahasiswa tersebut.

“Sama-sama, Bu. Lain kali diperiksa dulu, jangan sampai ada barang ketinggalan. Apalagi hati yang tertinggal. Nanti, ada yang kehilangan,” jawab salah satu dari mahasiswa itu yang disambut teriakan huuu dari mahasiswa lainnya. Aku merasakan mukaku panas mendengar jawabannya. Terlebih ketika melihat siapa mahasiswa yang menjawab itu.

Dia yang selama ini selalu menyenandungkan lagu, saat ini menatap dengan pandangan mata yang sulit diartikan. Aku tersenyum singkat, mengalihkan pandangan, kemudian berlalu. Dari kejauhan masih terdengar suara-suara yang menggoda mahasiswa itu.

Hari ini benar-benar padat jadwalku mengajar. Setelah itu masih harus mengambil mobil yang kumasukkan bengkel tadi pagi. Kampus sudah sepi sore ini. Aku menuruni tangga fakultas dengan langkah gontai. Belum sampai lantai terbawah, aku mendengar obrolan beberapa mahasiswa.

“Kamu beneran suka sama dosen itu? Emangnya gak ada cewek lain? Bukannya banyak yang suka sama kamu, Ray?”

“Memang banyak, tapi aku tidak suka mereka.” Sebuah suara yang aku kenal membuatku merapat ke dinding tangga dan mendengarkan obrolan mereka.

“Kenapa? Apa yang kamu suka dari dia? Ingat, dia sudah tua!” tanya mahasiswa lainnya.

“Kita nanti juga akan tua. Bagiku dia bukan tua, tapi matang pengalaman hidup. Aku suka karena dia berbeda. Dia punya prinsip yang tidak dimiliki gadis lainnya.” Suara mahasiswa bernama Rayyan itu kembali terdengar.

Jawaban Rayyan itu membuatku penasaran. Siapakah dosen yang dia maksud? Apakah itu aku? Begitu penasaran mendengar kelanjutannya. Aku bukan saja menempel di dinding, tapi sampai melongok ke bawah hingga tak sadar salah satu buku di genggaman terjatuh. Terdengar salah satu dari mahasiswa itu menjerit.

Aduh! Bagaimana ini. Pasti ketahuan sudah mencuri dengar obrolan mereka. Aku segera menuruni tangga satu lantai lagi dan menghampiri mereka. Entah ekspresi wajahku seperti apa ketika meminta maaf dan mengambil buku.

“Maaf, tadi ada lebah. Buku yang saya gunakan untuk mengusirnya ternyata jatuh.” Aku memberikan alasan.

Aku tak tahu mereka percaya atau tidak. Namun, ada sepasang mata yang menatapku dalam, seolah menyelidiki kebenarannya. Aku tak sanggup menatap mata itu lebih lama lagi dan segera berlalu. Sebelum terlalu jauh, aku sempat mendengar salah satu mahasiswa itu berkata, “Ray, sepertinya Bu Dita dengar obrolan kita.”

“Iya, gak masalah. Aku malah senang kalau dia dengar,” Rayyan menjawab.

***

Dua bulan berlalu sejak kejadian sore itu. Rayyan Narendra semakin terang-terangan menunjukkan ketertarikannya padaku. Dia tidak peduli dicemooh sahabatnya atau di-bully para gadis yang pernah menyukainya.

Posisiku pun menjadi sulit. Tidak mungkin aku membalas perasaannya, karena tidak etis seorang dosen wanita mencintai mahasiswanya. Di sisi lain aku juga tidak bisa melarangnya menunjukkan perhatian padaku.

Seharian ini cuaca tidak bersahabat, hujan deras disertai petir. Jadwal mengajar yang padat membuatku tetap harus berangkat ke kampus, meski mobil sedang rusak.

Sudah hampir satu jam aku mencari taksi juga mobil online, sayang tak satu pun bisa menjemput. Aku semakin gelisah mengingat kampus makin sepi kalau sudah malam seperti ini. Tiba-tiba saja terlihat sesosok yang menghampiriku.

“Lho, Bu Bella, kok belum pulang?” tanya sosok yang ternyata adalah Rayyan.

Hanya dia yang memanggilku Bella, bukan Dita seperti yang lain. Tidak salah, karena nama lengkapku Arabella Kinandita.

“Dari tadi saya cari taksi atau taksi online, tapi tak ada satu pun yang bisa menjemput,” jelasku dengan nada pasrah.

“Mau saya antar, Bu? Kebetulan hari ini saya membawa mobil. Kalau Ibu khawatir berduaan dengan lelaki bukan mahram. Anggap saja saya sopir taksi, dan Ibu bisa duduk di belakang,” tawar Rayyan padaku.

Aku tidak melihat jalan lain di saat hujan masih sangat deras. Kalau memaksa bertahan tidak mau diantar, bisa dipastikan aku harus menginap di kampus. Jelas itu tidak mungkin. Akhirnya aku menerima ajakannya.

Sepuluh menit pertama suasana di dalam mobil sangat sepi. Rayyan yang biasanya pandai bicara, kali ini pun hanya terdiam. Dia selalu terlihat fokus menatap jalanan di depan, meski beberapa kali dia tertangkap mencuri pandangan lewat kaca depan.

Tak tahan dengan suasana tersebut, aku pun kemudian bertanya, “Saya boleh bertanya?”

Setelah Rayyan menjawab boleh, aku melanjutkan, “Kenapa kamu memanggilku Bella?”

“Karena bagi saya Ibu cantik. Bukan cuma paras, tapi kepribadian dan keteguhan Ibu memegang prinsip. Berbeda dengan perempuan yang saya kenal selama ini. Itu sebabnya saya menyukai Ibu.” Rayyan menoleh ke belakang dan memberikan jawaban yang tidak terduga itu.

Melihat aku hanya terdiam, dia melanjutkan, “Saya menyukai Ibu layaknya seorang lelaki kepada wanita. Ibu tidak harus menjawab sekarang. Hanya saja, perlu diketahui perasaan saya ini tulus dan hanya mencari rida Allah. Kalau Ibu menjawab iya, saya akan segera datang melamar.”

Aku semakin kehilangan kata-kata mendengar perkataan Rayyan. Namun, aku memaksa untuk berbicara.

“Usia kita terpaut jauh. Umur saya 29 tahun, sementara umur kamu mungkin berkisar 22-23 tahun. Bisa menjadi masalah,” kataku.

“Masalah apa? Menurut saya umur bukan ukuran kedewasaan. Rasulullah saja lebih muda 15 tahun dibanding Siti Khadijah, tapi siapa bisa menampik keharmonisan keduanya? Saya pun sudah mandiri karena membiayai kuliah dari bisnis yang sudah berjalan,” jelasnya.

Aku kembali terdiam menyadari kebenaran perkataannya. Memang tidak selalu usia berbanding lurus dengan kedewasaan, dan itu terlihat pada sosok Rayyan yang pemikirannya lebih dewasa dibanding pemuda seumurnya. 

Mobil Rayyan baru memasuki halaman ketika pintu depan terbuka dan Ibu keluar membawa payung. Sudah kuduga Ibu pasti cemas menunggu kedatangan putri satu-satunya ini.

Aku menerima payung yang Ibu sodorkan dan memberikannya pada Rayyan yang baru turun dari mobil. Mempersilakan masuk ke ruang tamu dan menawarinya minuman, tapi dia menolak.

“Saya akan menikmati minuman di sini, ketika saya datang melamar,” tegasnya.

Jawaban Rayyan yang tegas sanggup membuat jantungku berdetak lebih kencang dan pipi memanas. Ibu yang mendengar pun terpana dengan perkataannya.

“Mohon maaf, Bu, kalau saya terkesan tidak sopan. Saya mahasiswa putri Ibu, tapi saya menyukainya sebagaimana lelaki kepada wanita. Semoga Ibu merestui kami, kalau nanti Bu Bella menerima cinta saya,” ucap Rayyan.

Kulihat Ibu syok mendengar perkataan Rayyan yang terus terang. Sepertinya beliau tidak menyangka lelaki pertama yang berani melamar putrinya adalah seorang mahasiswa.

Ketika aku mengantar Rayyan kembali ke mobil, dia berkata, “Saya tunggu hasil Istikharah Ibu.”

Setelah hari itu, Rayyan seperti sengaja menghindariku. Baru pada minggu kedua, aku melihat dia di dalam kelas, dan seperti sudah diduga, lagu Tulus kembali terdengar. Bedanya, kali ini dia tidak menyenandungkan bagian awal seperti biasa.

Bila di depan nanti
Banyak cobaan untuk kisah cinta kita
Jangan cepat menyerah
Kau punya aku, kupunya kamu, selamanya
Akan begitu

Lagu itu membuat aku teringat mimpi semalam setelah beberapa hari Istikharah. Mimpi yang membuat hatiku mantap untuk bersama dia meraih keberkahan-Nya.

 

Surabaya, 10 Oktober 2020

Ardhya Rahma, nama yang ingin ditorehkan dalam setiap buku yang ditulis. Berdarah campuran Jawa dan Kalimantan. Mempunyai hobi membaca dan traveling. Baginya, menulis adalah proses mengikat ilmu dan pengalaman hidup. Berharap mampu menuangkannya dalam buku yang sarat makna bagi pembaca. Tulisan yang lain bisa dijumpai di akun FB @Ardhya Rahma.

Editor : Lily

 

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

0
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close