Cerpen

Jumat Kliwon Ke-13

Jumat Kliwon Ke-13

Oleh: R Herlina Sari

Membahas tentang malam Jumat, tidak akan pernah ada habisnya. Apalagi, hari Jumat Kliwon di tanggal tiga belas. Ah, konon katanya itu merupakan hari yang paling mistis dan merupakan sebuah hari yang sial. Namun, tidak berguna padaku. Karena pada tanggal tiga belas di hari Jumat Kliwon ini, aku bertemu denganmu.

Bagaimana aku bisa melupakan hari sakral pertemuan kita? Bahkan di saat itulah aku merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama. Saat aku bertemu denganmu di jembatan pembatas desa. Pertemuan yang tidak sengaja tapi menimbulkan debar rasa yang tak biasa.

Saat itu, aku sedang berjalan sendirian pulang. Sengaja memang tidak menyuruh Adik atau Mama untuk menjemput. Sekalian uji nyali, kali aja bisa bertemu dengan pujaan hati. Tolong pemirsa bacanya hantu. Maklum, indigo seperti aku di malam Jumat selalu bertemu dengan hal aneh yang membuat degup jantung bertalu-talu.

Saat di tengah jembatan, aku dihadang oleh sesosok makhluk lelaki yang wajahnya cukup rupawan. Rambutnya hitam legam, sorot matanya tajam, dan senyumnya yang memang menawan seolah-olah sengaja untuk menungguku datang.

“Malam-malam gadis cantik, kok, berjalan sendirian? Ndak takut ada setan?” katamu saat itu.

“Sudah biasa, Mas. Sepertinya aku baru melihat Mas hari ini. Orang baru, ya? Kenalkan namaku, Dina,” kataku sambil mengulurkan tangan untuk mengajak berjabat tangan.

Memang, aku seorang yang supel dan welcome pada semuanya. Aku senang berteman dengan mereka, entah lelaki atau pun perempuan.

“Namaku, Alex,” sahutnya. Dia menolak jabat tanganku. Ah, sudahlah itu tidak penting untuk dipertanyakan.

Oh … jadi sosok ganteng mirip Lee Min Ho KW ke-13 ini bernama Alex. Entah kenapa melihatnya saja hatiku berdesir hebat. Yups, aku jatuh cinta pada pandangan pertama.

“Mas, mau ke mana?” tanyaku sekadar berbasa-basi berharap pertemuan ini bukan hanya sebuah perjumpaan singkat yang akan berlalu saat mata terpejam.

“Menunggu, Mbak Dina datang dan mengantar pulang, kasihan perempuan malam-malam berjalan sendirian,” kata Alex.

Apakah aku bermimpi? Bagaimana mungkin laki-laki yang baru aku kenal mendadak mengantarkanku pulang? Aku memutuskan untuk menerima tawarannya.

“Baiklah, Mas. Mari,” ajakku.

Sambil berjalan menuju ke rumah, kami berbincang-bincang banyak hal. Ada yang aneh, sekian lama berjalan, kami tak kunjung sampai ke rumah impian. Perjalanan dari tempat kerja ke rumah jika berjalan kaki hanya memerlukan lima belas menit. Namun, sepertinya ini sudah berjalan berjam-jam. Napasku pun mulai tersengal-sengal dan berat.

“Mas, sadar ndak kalau kita sudah berjalan cukup lama. Dina capek.” Aku berkata kepada Alex.

“Sebentar lagi sampai, kan? Bertahanlah, Mbak. Ndak akan lama lagi sampai, kok.” Alex menenangkan.

Akhirnya kami terus menerus berjalan, hingga menemukan sebuah ujung yang tak kukenali daerahnya. Ada sebuah pintu di sana.

“Kita di mana? Katanya Mas Alex mau mengantarkan pulang?” tanyaku keheranan.

“Masuklah ke pintu itu, Mbak. Mbak Dina akan sampai ke rumah,” sahutnya.

Ragu aku melangkahkan kaki. Dan Alex menganggukkan kepalanya meyakinkan. Aku pun membuka pintu, melangkah ke dalamnya dan tubuhku tersedot seperti dibawa oleh sebuah pusaran angin puting beliung. Aku pun terbangun.

“Alhamdulillah, kamu sudah sadar, Nak.” Suara Mama mengucap syukur.

“Mama … aku di mana?” tanyaku.

Kuedarkan pandangan, tampak tirai biru khas rumah sakit. Bau disinfektan menguar memasuki indera penciumanku. Tanganku merasakan tusukan jarum dan melihat ada sebuah selang infus tertancap di sana.

“Kamu di rumah sakit, Sayang. Maafkan Mama malam itu tidak menjemputmu. Hingga … hingga ….” Mama menangis dan tidak meneruskan ceritanya.

“Hingga apa, Ma?” tanyaku penasaran.

“Hingga kamu ditabrak mobil di jembatan pembatas desa. Mobilnya masuk ke sungai. Pengemudinya tewas dan kamu koma selama tiga bulan.” Mama menjelaskan masih dengan isak tangisnya.

“Alex.” Tanpa sengaja aku menyebut nama lelaki itu.

“Kamu mengenal lelaki itu?” tanya Mama.

“Tidak … Dina baru saja bertemu dengannya . Dialah yang mengantarkan aku pulang,” sahutku sambil tersipu malu.

“Alex yang menabrakmu, Sayang. Dia meninggal di tempat.”

Mendengar itu air mataku jatuh menetes di pipi. Ternyata penyelamatku, pengisi kekosongan hati ini adalah seseorang yang menyebabkan raga ini koma.

Baru kusadari malam itu adalah malam Jumat Kliwon di tanggal tiga belas.

RHS, perempuan pecinta lumba-lumba yang penuh rahasia.

Editor: Evamuzy
Sumber Gambar: pinterest.com

0
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close