CerpenSastra

Hafalan Aini

Judul : Hafalan Aini
Oleh : Rinanda Tesnia

Aini membolak-balik selembar kertas bertuliskan ayat-ayat. Matanya nyalang membaca huruf demi huruf yang tertulis di sana. Sesekali dia memejamkan mata dengan mulut komat-kamit. Tak lama, Aini menghela napas kesal. Sudah seminggu lebih dia berusaha menghafal Ayat Kursi, salah satu ayat yang dipercaya bisa mengusir setan, begitu kata Salmah, sahabatnya, tetapi hingga kini separuhnya pun belum bisa dia ingat.

Aini dan Salmah, dua bocah yang tinggal bersebelahan, pergi mengaji setiap habis Magrib hingga usai Isya di surau. Suasana malam di Kampung Bungaraya sungguh sepi. Malam itu mereka melihat batang bambu yang kebetulan dilewati bergoyang kuat, padahal tidak ada angin yang bertiup. Jika Aini bersiap lari, maka Salmah lain lagi. Gadis kecil bertubuh tambun itu menengadahkan tangan ke atas dan membaca Ayat kursi hingga selesai. Langkah kecil Aini terhenti, dia memandang kagum pada Salmah.

“Tadi kamu baca apa?” tanya Aini setelah Salmah selesai membaca doa yang berhasil menghilangkan seluruh ketakutan Aini.

“Ayat kursi. Itu ayat buat ngusir setan lho.”

“Ajarin dong!” pinta Aini dengan bersemangat.

“Nanti aku suruh Mbak Nok tulis di kertas buat kamu,” janji Salmah.

Ternyata menghafal ayat kursi tak semudah yang Aini bayangkan, ditambah, Ustaz Joni malah memberi tugas menghafal ayat tersebut dan harus disetorkan nanti malam. Aini iri pada Salmah yang tidak perlu lagi susah payah menghafal.

Alloohu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati ….”

Sampai di situ, Aini terdiam, tak mampu mengingat lagi bacaan setelahnya.

Aini menghempaskan diri ke atas kasur tipis di kamarnya. Kasur kecil yang biasa dia bagi dengan Mbak Ninuk.

Tiba-tiba Aini tersenyum. Sebuah ide melintas di kepalanya. Mbak Ninuk pasti sudah hafal ayat ini, jadi Aini akan minta tolong Mbak Ninuk mengajarinya.

Rambut ikal Aini beterbangan mengiringi langkahnya ke luar rumah mencari Ninuk. Ninuk sedang sibuk bermain lompat tali di halaman. Gadis kecil berbaju merah jambu itu berlari ke arah kakaknya.

“Mbak, tolongin, dong,” rengek Aini sambil menarik tangan Ninuk.

“Apaan?” Ninuk menepis tangan adiknya dengan kasar. Keseruan bermain lompat tali jadi sedikit terganggu.

“Ini, nanti malam harus disetorkan, Mbak.”

Ninuk meraih kertas lecek tersebut dari tangan Aini. Kemudian, dia membaca sekilas.

“Halah, gampang.” Ninuk mengembalikan kertas tersebut.

Dia mendekatkan bibirnya ke telinga Aini. “Kamu bakar saja kertas ini, terus kamu minum.”

Aini mengerutkan keningnya mendengar bisikan Ninuk.

“Maksudnya gimana, Mbak?”

“Heh, susah banget, sih. Kamu bakar, terus sisa bakarannya kamu masukkan ke dalam gelas, udah direndam beberapa menit, terus airnya kamu minum.”

“Beneran bisa?”

“Bisa, aku jamin kamu selamat dari tugas setoran ayat itu.”

Ninuk kembali asyik bermain lompat tali, meninggalkan Aini yang masih termangu di tempatnya. Bocah berumur delapan tahun itu sibuk memikirkan perkataan Ninuk yang menurutnya tak bisa dipercaya.

Aini memutuskan kembali ke rumah dan berusaha menghafal ayat kursi.

Hingga pukul lima sore hafalan Aini tak kunjung bertambah. Otaknya sudah buntu. Saran dari Ninuk tadi mendadak masuk ke dalam pikirannya. Bergegas dia mengambil korek api dan segelas air.

Aini berjalan mengendap sebab takut ketahuan Ibu dan Bapak. Di kamar, Aini membakar kertas berisi ayat kursi itu dan memasukkan sisa pembakarannya ke dalam gelas yang telah dia siapkan.

Aini memandang gelas tersebut dengan ragu. Dia takut Ninuk berbohong dan hanya mengerjainya. Namun, mengingat setoran ayat sebentar lagi, dia tak memiliki banyak waktu untuk berpikir.

Setelah membaca bismillah, Aini meneguk habis air yang sudah berubah keruh itu. Sedikit aneh memang, tapi dia optimis setoran hafalan nanti malam akan berlangsung lancar.

***

Aini duduk di depan Ustaz Joni. Peluh menetes di punggungnya. Lelaki itu menunggu dengan wajah tak sabar. Aini gugup mengeja hafalan ayat kursinya.

“Cepatlah Aini, teman-temanmu mengantri di belakang.”

Aini menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sedikit bingung sebab dia sudah mengikuti saran Ninuk, tetapi tetap tak berhasil menyetorkan hafalan hingga tuntas.

“Sini tanganmu!”

Ustaz Joni tak bisa menunggu terlalu lama. Sebuah rotan yang memang disiapkan untuk anak yang tidak bisa menyelesaikan kewajiban, siap dia ayunkan ke tangan kecil Aini.

Aini pasrah menyerahkan tangannya yang bergetar. Tiba-tiba, Aini merasa ada sesuatu yang hendak keluar dari perutnya. Sebelum Ustaz Joni memukul tangannya, gadis yang sedang ketakutan itu muntah. Cipratan cairan mengenai baju putih yang Ustaz Joni kenakan. Air berwarna hitam mengotori lantai surau.

Anak-anak di belakang berteriak melihat tubuh Aini terbaring lemas di lantai. (*)

Koto Tangah, 28/10/2020

Rinanda Tesniana-Ambivert yang senang membaca.

Editor : Uzwah Anna

Grub FB KCLK
Halaman FB kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/menjadi penulis tetap di Loker Kata

0
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close