CerpenSastra

Melukis Nestapa

Melukis Nestapa

Oleh : Nur Khotimah

 

Kenyataan menamparku. Meninggalkan jejak sesal dalam kalbu. Pilu.

***

Deru mobil membangunkanku saat jam dinding menunjukkan satu setengah jam menuju subuh. Semula aku mengabaikannya, tak mungkin itu tamuku. Namun, keyakinanku berubah seketika manakala terdengar suara kecipak langkah kaki mendekat. Seperti orang yang sedang berlari kecil menghindari rintik hujan. Memang, langit mengguyur desa kami sejak magrib dan kini menyisakan gerimis.

Siapa gerangan yang datang sepagi ini? Aku menyibak kain jarik yang menyelimuti tubuh dan bangkit perlahan, meninggalkan tiga anak yang masih pulas berjejer bak ikan asin dijemur. Langkahku tertatih. Kondisi perut yang membesar, juga kantuk yang masih menggayuti mata menghambat ruang gerakku.

Sesampainya di ruang tamu—yang juga berfungsi sebagai ruang makan dan ruang keluarga—aku membuka sedikit gorden untuk melihat keadaan di luar sana. Samar-samar terlihat sosok lelaki bertubuh jangkung mendekat. Di belakangnya, tampak sebuah mobil dengan pintu yang terbuka. Ada dua orang, yang satu duduk tegak menghadap ke rumah, satunya lagi seperti sedang tertidur. Aku terperanjat manakala menyadari siapa lelaki yang terkulai tersebut.

“Kang Samin?” 

Aku buru-buru membuka pintu, berserobok dengan sosok jangkung yang hendak mengetuk pintu. Lelaki itu seperti terkejut.

“Rumah Samin?” tanya lelaki itu dengan napas megap-megap.

“I-iya.”

“Alhamdulillah. Sebentar!” ucap lelaki itu, kemudian buru-buru balik ke mobil.

Aku ternganga melihat Kang Samin—suamiku—terkulai dipapah dua lelaki itu. Namun, kesadaranku lekas kembali, kutunjukkan ke mana Kang Samin harus dibawa.

Aku bergeser memberi jalan. Mereka mendudukkan suamiku di lincak bambu yang berada di tengah ruangan. Kang Samin langsung rebah, terkulai tak berdaya. Mulutnya mengerang, menghadirkan pilu menusuk kalbu.

Innalillahi …. Kenapa, Kang?”

Kang Samin bergeming. Air mataku sudah tak terbendung lagi. Sedih rasanya melihat ia yang sewaktu pergi—sekitar lima belas hari yang lalu–baik-baik saja, kini harus kembali dalam kondisi mengenaskan. Badannya gemetar. Wajah pias, bibir membiru, juga suhu badan tinggi. Kentara sekali dari rasa panas yang menjalar ke tanganku saat memegang lengannya tadi.

Kedua lelaki itu keluar menuju mobilnya, sejenak kemudian si Jangkung sudah kembali membawa ransel Kang Samin dan meletakkannya di pojok ruangan.

“Sudah hampir sepuluh hari ia sakit. Tipes! Kata dokter kudu diopname, tapi Samin menolak terus,” ujar lelaki jangkung itu, yang kini berdiri di belakangku. “Dia terus menerus minta pulang. Jadi … Pak Mandor menyuruh saya mengantarnya.”

Seperti memahami perasaanku, lelaki jangkung yang ternyata sopir dari mandor Kang Samin itu segera berpamitan. Lelaki yang satu—yang katanya temannya–sudah menunggu di mobil.

Sebelum berlalu, ia memberikan amplop berisi lima lembar uang berwarna merah. “Ini titipan Pak Mandor. Uang gaji Samin sudah habis untuk bolak-balik berobat,” katanya.

Hal pertama yang kulakukan selepas kepergian kedua lelaki itu, adalah pergi ke dapur. Menjerang sedikit air untuk membuat teh hangat, juga untuk mengompres Kang Samin.

Sambil menunggu air mendidih, aku mengganti baju Kang Samin yang basah oleh keringat. Begitu juga dengan celana panjangnya, kuganti dengan sarung agar leluasa bergerak. Pria itu hanya menurut. Tak terucap sepatah kata pun dari mulutnya.

Pilu menyusup kalbu manakala melihat tubuhnya yang kurus dan lemah. Dulu, ia sosok yang kuat. Profesinya sebagai tukang becak membuat badan dan betisnya berotot. Kini, bahkan untuk duduk pun ia seolah tak ada tenaga.

Mengenang profesinya dulu mengingatkanku pada becak yang kini tergembok di teras. Sudah enam bulan kendaraan roda tiga itu teronggok di sana. Si pemilik pergi merantau ke Jakarta. Memilih menjadi kuli bangunan di sana. Mungkin lebih tepat kalau dibilang aku yang memilihnya. Aku yang memaksa Kang Samin untuk mencari penghasilan yang lebih baik. Aku lelah terus hidup dalam kekurangan.

Erangan Kang Samin menyadarkanku. Air yang kujerang sudah berdesis-desis. Dengan cekatan aku menuangnya ke baskom, mencampurnya dengan air dingin, kemudian mengompres dahi Kang Samin. 

Dia tetap terpejam. Bahkan saat aku menawarinya teh hangat pun dia tetap tak bereaksi. Melihatnya seperti ini, sebuah penyesalan menyelinap. 

“Pokoknya kamu kudu berangkat lagi, Kang!” tegasku, enam belas hari yang lalu. Saat itu, sudah seminggu Kang Samin pulang kampung. Ia memutuskan untuk berhenti bekerja di Jakarta. Ingin tetap di sini, katanya.

“Kebutuhan makin banyak, anak-anak sekolah juga butuh biaya, sebentar lagi aku lahiran. Duit dari mana kalau kamu nggak kerja?”

“Aku kan bisa mbecak lagi, Wat.”

“Kang, sekarang becak nggak laku. Hampir semua punya motor. Ojol banyak. Murah, lagi! Yang ada nanti kamu cuma duduk di pangkalan, ngabis-ngabisin duit buat kopi sama rokok doang!”

“Aku bisa nyari kerjaan lain …. Aku sebenarnya nggak betah di sana, jauh dari kalian membuatku tak enak makan tak enak tidur.”

“Halah! yang ada kehidupan kita makin nggak bener. Udah, yang jelas aja, sih!” cerocosku. Tak terima dengan keputusannya. “Betah-betahin! Minimal sampe anak ini lahir.”

Lelaki itu menunduk. Hampir setengah jam ia duduk tafakur di tempatnya. Setelah membuang napas kasar, ia berkata, “Ya sudah, tapi kalau aku mau pulang, aku pulang, ya? Nggak harus nunggu sebulan sekali.”

“Maksudku nyuruh sebulan sekali, tuh, biar irit ongkos, Kang. Kalau kamu bolak- balik terus kapan ngumpulnya?”

Setelah pembicaraan itu, Kang Samin jadi lebih pendiam. Meski terlihat malas-malasan, dia tetap berangkat keesokan harinya.

Lagi-lagi Kang Samin mengerang, menyeretku kembali kepada kenyataan. Air di baskom sudah mulai dingin. Aku harus segera menggantinya. Ketika hendak beranjak, tangan Kang Samin menahan lenganku.

“Anak-anak mana?” tanyanya dengan suara lemah. Mata cekungnya menatapku intens. Ah, betapa berdosanya aku sudah memaksanya bertahan di kota. Sakitnya ini bisa jadi akibat di sana tak ada yang mengurusnya. Kerja capek, makan tidak teratur, istirahat juga kurang.

“Masih tidur … mau dibangunin?”

Kang Samin mengangguk lemah. Aku segera ke kamar membangunkan anak-anak. Mereka menggeliat malas. Akan tetapi saat kubilang bapak mereka pulang, ketiganya langsung bangkit, kemudian keluar menghampiri Kang Samin. 

“Bapak bawa apa?” tanya si kecil Dito. Usianya baru lima tahun, belum bisa memahami keadaan. Berbeda dengan kakak perempuan kembarnya yang berusia empat tahun lebih tua. Gadis-gadis kecil itu seperti mengerti, ada yang berbeda dengan kepulangan ayahnya kali ini. 

“Bapak sakit, ya? Badannya panas banget.” Mira berkomentar. Sementara Mita, saudara kembarnya hanya diam. Namun, tangan kecilnya memijit pelan kaki ayahnya. Mereka kini duduk berjejer di samping tubuh Kang Samin. Pria paruh baya itu hanya mengulas senyum menanggapi celoteh anak-anaknya.

Aku meninggalkan mereka, menyelinap ke dapur membuat bubur. Kang Samin harus sarapan sebelum minum obat. Tadi aku sudah memeriksa ranselnya, memastikan ia masih punya obat atau tidak.

***

Sudah tiga hari Kang Samin di rumah. Sakitnya belum juga membaik. Suhu tubuhnya masih tinggi, badannya juga lemas karena kurang asupan. Bagaimana tidak lemas? Untuk sekadar sesuap-dua suap bubur saja, aku harus memaksanya. Begitulah suamiku, kondisi sehat saja susah makan apalagi sakit begini.

Sebenarnya, aku ingin membawanya ke rumah sakit. Namun, aku selalu menundanya manakala teringat akan kondisi keuangan. Kepulangan Kang Samin kali ini tak membawa uang, sedangkan aku sudah terbiasa kasbon di warung dan membayarnya saat ia kembali. Uang lima ratus ribu kemarin sudah terpakai untuk membayar sebagian hutang. Lubang sudah banyak, aku enggan menggali lubang baru. 

Malam itu, langit seperti menumpahkan bah ke bumi. Udara dingin menyelusup dari lubang-lubang angin. Tubuh Kang Samin gemetar karena gigil. Ia meringkuk seraya memegangi perut. “Sakit banget,” katanya.

Aku tergagap. Tak tahu harus berbuat apa. Kang Samin terus mengerang. Keadaannya semakin mengenaskan. Hingga akhirnya, aku mendapat jawaban kenapa kemarin burung gagak di kebun jati belakang sana terus-menerus berkoak. Kang Samin muntah darah. Setelah itu ambruk di pangkuanku.

Susah payah aku merebahkan tubuh lelaki itu ke lincak. Pikiran buruk datang saat melihatnya terkulai tak berdaya. Kuletakkan dua jari di depan hidung Kang Samin, kemudian menempelkan kepala ke dadanya. Tak ada lagi hangat napas, tak ada lagi denyut jantung.

Aku limbung. Seperti tak percaya, aku terus mengguncang tubuh lemah itu. Berharap ia membuka mata dan memberiku seulas senyum, kemudian berkata “aku tidak apa-apa”. Namun, semua sia-sia. Tubuh itu tetap beku. Aku menjerit, sehingga membuat anak-anak terbangun, kemudian berhamburan ikut menangis memeluk ayahnya.

Innalillahi wa inna illaihi roji’un ….”

Aku terlambat menyadari kebodohan. Berjuta andai berkelebat di kepalaku. Seandainya aku tak memaksanya merantau ke Jakarta, mungkin dia masih sehat seperti sedia kala. Seandainya aku tak terlalu memusingkan biaya persalinan, anak ini pasti masih berbapak. Seandainya aku tak banyak menuntut, seandainya aku segera membawanya ke rumah sakit, seandainya, seandainya, seandainya …. (*)

Cikarang, 29 Januari 2020

 

Nur Khotimah, ibu rumah tangga sekaligus bakuler yang sedang belajar menulis. Bisa temui jejaknya di FB nama yang sama.

Editor : Devin Elysia Dhywinanda

 

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

 

1+
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close