CerpenSastra

Bougenville Pink Milik Ariga

Bougenville Pink Milik Ariga
Oleh : Musyrifatun Darwanto

Pagi pukul tujuh adalah waktu favoritku, setelah menyesap beberapa teguk kopi arabika gayo, dari balkon lantai dua, memandangi seorang wanita tua di seberang jalan, menyiram tanaman bunga bougenville pink kesayangannya. Setiap hari, wanita tua itu membersihkan daun bougenville yang telah kering, membelai bunganya yang cantik sambil berceloteh riang, seakan sedang mengajak seseorang berbicara.

Pernah suatu kali aku bertanya perihal kebiasaan uniknya tersebut, dan jawabannya benar-benar membuatku terharu.

“Ini bougenville pink milik Ariga. Putra kesayanganku.”

“Ibu memang begitu, Kak. Semenjak Bang Ariga pergi dari rumah dan nggak pernah kembali,” ujar Maisarah, putri wanita tua yang kupanggil Bu Na.

Hampir saja air mataku jatuh mendengar kata-kata Maisarah, cepat-cepat kudongakkan kepala.

Terlihat Bu Na sedang menatap bougenville di hadapannya dengan tatapan kosong. Kutepuk lengannya sampai ia sedikit kaget.

“Jangan melamun, Bu. Nanti cepat tua,” selorohku seraya merangkul bahu kurus perempuan tua itu, “Bu Na sama Mai sarapan di rumahku, yuk. Aku masak nila bakar kesukaan Ibu.”

“Dari mana kamu tahu Ibu suka nila bakar?”

“Ra-ha-si-a,” ujarku seraya mengedipkan sebelah mata.

Kugenggam tangan kurusnya lalu mengajak ke rumahku di seberang jalan. Sementara Mai enggan ikut bersama kami. Sudah sarapan, katanya.

***

Bu Na makan dengan lahap, aku suka memperhatikan pipinya yang bergerak-gerak karena mengunyah makanan. Bekas kecantikan masih tampak pada wajahnya yang mengendur termakan usia.

Yang paling aku suka dari wanita tua ini adalah … tatapan matanya. Mata yang selalu mampu menenangkan hatiku, ditambah dengan sentuhan lembutnya yang khas seorang ibu. Dua hal itulah yang selalu aku rindukan dalam hidup, hal yang menjadi alasanku kembali.

Bu Na tiba-tiba berhenti mengunyah, ternyata ia sadar jika sedari tadi sedang aku perhatikan.

“Kamu kenapa, Wina?” tanyanya.

“Eh … gak papa.” Aku meraih segelas air putih lalu meminumnya seteguk, sekadar mengalihkan rasa grogi.

“Setahun belakangan Ibu senang, Wina. Ibu senang kamu tinggal di sini, karena setiap melihatmu, rasanya seperti sedang melihat Ariga.”

Hampir saja air minum yang baru masuk ke tenggorokan keluar lagi demi mendengar kalimat itu.

“Ba-bagaimana bisa begitu? Wina kan perempuan, sedangkan Ariga laki-laki.”

“Tatapan matamu,” ujar Bu Na pelan

“Maksud Ibu?”

“Iya. Kalian mungkin orang yang berbeda. Tapi memiliki tatapan mata yang sama. Entahlah, mungkin ini karena Ibu terlalu rindu pada Ariga.” Bu Na meletakkan sendok di atas piringnya yang belum kosong.

“Eh, masakan Wina enak nggak, Bu?”

Cepat-cepat kualihkan pembicaraan, agar wanita tua itu tak larut dalam kesedihan.

***

Jika pagi adalah waktu favoritku, maka malam adalah waktu yang paling menyebalkan. Setiap malam menjelang tidur, bayangan kelam masa lalu berkelebat dalam benak. Teriakan, makian, dan cemoohan, terngiang jelas dalam benak. Seperti ada yang memutar kaset di dalam kepalaku. Menyajikan potongan-potongan gambar yang membuat muak.

“Anak laki-laki tak ada guna! Mati saja kau!”

“Aku tidak butuh anak laki-laki! Pergi sana!”

“Jika bukan karena ibumu, sudah kubunuh kamu semenjak baru lahir!”

Aku meremas sperai sambil berteriak keras. Sepuluh tahun sudah aku pergi meninggalkan kehidupan suram itu, tapi suara teriakan yang mencabik-cabik hati serta harga diriku sebagai seorang laki-laki itu masih terekam jelas.

Teriakan yang diucapkan oleh orang yang sama, berulang-ulang, setiap hari.

Sisi dalam diriku memberontak ingin melepaskan diri, tapi sentuhan jemari lembut Ibu selalu hadir menyejukkan hati.

Pernah suatu hari kutanyakan perihal sikap Ayah yang tak biasa itu kepada Ibu.

“Ayahmu itu trauma karena kejadian yang dia alami sewaktu kecil. Ia dilecehkan oleh paman dan abangnya sendiri. Ibu tahu cerita pilu itu juga setelah mengandung kamu. Ayahmu bilang tak ingin punya anak laki-laki, sebab dia tak mau anaknya menjadi bajingan seperti paman dan abangnya. Kalau saja Ibu tak mengancam akan meninggalkan dia jika sampai berbuat nekat kepadamu, mungkin kamu tak akan pernah melihat dunia ini, Ariga.”

Laki-laki macam apa itu? Dia menolak kehadiranku di hidupnya, apakah tidak sama saja dia lari dari tanggung jawab sebagai seorang ayah? Aku muak jika mengingatnya.

“Makanya Ayah membawa Ibu pergi setelah kami menikah, ia ingin tinggal jauh dari keluarganya. Tak ada satu pun di antara mereka yang tahu keberadaan kita saat ini,” lanjut Ibu lagi.

“Tapi aku ini anaknya, Bu. Tanggung jawabnya. Jika dia tidak mau aku tumbuh seperti orang-orang yang telah melecehkannya, kenapa dia tidak mendidikku dengan baik, sehingga aku tumbuh menjadi anak baik-baik?”

“Sudah lelah Ibu mengatakan hal itu kepada ayahmu, Ariga. Sudahlah. Tak usah dihiraukan ucapan ayahmu itu.”

Ibu dengan entengnya mengatakan kalimat itu. Dia mungkin tahu aku tersiksa dengan situasi ini, tapi dia tidak pernah benar-benar merasakan sakitnya hatiku setiap kali laki-laki yang kusebut ayah itu melontarkan kata-kata sadis.

Hingga suatu hari, batas kesabaranku sudah habis. Umpatan dan makian itu tak lagi dapat kutoleransi. Aku benar-benar muak. Bermodal tekad, kutinggalkan sekumpulan manusia yang menyebut diri mereka adalah keluarga. Bulshit!

Pekat malam menjadi saksi bagaimana aku berjalan mengendap keluar lewat jendela kamar, membawa tas lusuh berisi beberapa lembar pakaian, juga sedikit uang dalam celengan yang kubuka dengan paksa sore harinya.

Tujuanku saat itu adalah sebuah salon kecantikan tempatku selama ini belajar tata rias. Tante Merry, nama pemilik salon itu, adalah orang yang berpikiran terbuka. Dia setia mendengarkan ceritaku yang tertekan oleh sikap ayahku sendiri. Wanita cantik itu bahkan tak menampakkan wajah terkejut saat tengah malam buta aku menggedor pintu rumahnya, dengan membawa sebuah tas kumal.

“Ayo, silakan masuk. Kamu pasti kedinginan, ya? Biar Tante bikinkan teh hangat dulu,” ujar wanita itu seraya berjalan ke arah dapur.

“Tante nggak keberatan aku datang malam-malam begini?” tanyaku ragu-ragu.

“Kamu itu udah seperti adik buatku. Jadi santai saja.”

Aku tersenyum lega mendengarnya. Setidaknya malam ini aku punya tempat bernaung. Untuk malam selanjutnya, akan kupikirkan nanti, sambil meminta pendapat Tante Merry tentunya.

“Wajar kalau kamu akhirnya menyerah untuk tetap tinggal di rumah itu. Kalau aku jadi kamu, aku juga akan melakukan hal yang sama. Ayah macam apa, yang setiap hari merendahkan harga diri anaknya sendiri hanya karena jenis kelamin.” Tante Merry menyeruput teh manis hangat miliknya, “Kurasa ayahmu itu udah geser otaknya. Apa yang dia pikirkan sampai sebegitu benci dengan darah dagingnya sendiri? Benci hanya karena kamu terlahir sebagai laki-laki. Padahal dirinya sendiri juga laki-laki. Dasar gila!”

Kuraih cangkir teh hangat di meja, menangkupnya dengan kedua telapak tangan untuk mengusir dingin.

“Tante tahu apa yang selama ini membuatku bisa bertahan di rumah itu?” tanyaku

“Pasti karena Kak Yumna, kan? Ibumu itu memang orang baik.”

Aku mengangguk.

Kami menghabiskan malam itu dengan berdiskusi tentang jalan yang akan kutempuh selanjutnya. Pukul empat pagi barulah aku dan Tante Merry tertidur, lalu kembali terbangun satu jam kemudian, saat azan Subuh berkumandang.

Tante Merry banyak memberiku masukan, dia bahkan bersedia merahasiakan keberadaanku dari keluarga yang mungkin akan mencariku.

Wanita berhati baik itu memberikan pinjaman uang dalam jumlah yang cukup banyak. Awalnya, ia berniat memberikan uang itu secara cuma-cuma, tapi kutolak. Aku tak ingin dianggap memanfaatkan kebaikannya. Diberi perhatian dan perlakuan baik saja sudah membuatku senang bukan kepalang. Aku berjanji akan melunasinya setelah kembali, nanti.

“Pergilah, Ariga, dan kembalilah dengan dirimu yang baru.”

Tujuanku selanjutnya adalah Negeri Gajah Putih. Di sana aku bertemu dengan Carla, seorang perempuan sahabat Tante Merry yang sama baik dengan dirinya. Perempuan itu memberiku pekerjaan dengan gaji yang lumayan. Benar-benar sebuah keberuntungan besar.

“Merry sudah bercerita banyak tentang kamu, Ariga. Aku turut prihatin.” Carla memandangku dengan tatapan iba. “Di sini, asalkan kamu bekerja dengan sungguh-sungguh, cita-citamu tak akan sulit untuk diraih.”

Aku mengembuskan napas pelan. Memantapkan hati jika pilihanku kali ini sudah tepat.

Sembilan tahun berlalu. Semua yang kuinginkan sudah terpenuhi. Kini saatnya kembali, dengan nominal angka yang berderet panjang dalam buku tabungan, aku yakin tak akan sulit mengatur segala sesuatu dalam hidupku selanjutnya.

***

Selesai sarapan, aku mengajak Bu Na berjalan-jalan di taman belakang rumah. Wanita tua itu terpesona dengan keindahan bunga bougenville aneka warna yang tumbuh subur di hampir setiap sudut.

“Bunga-bunga cantik ini mengingatkan Ibu pada Ariga,” ucap Bu Na, matanya mulai berkaca-kaca. “Kamu tahu kenapa dia pergi dari rumah?”

Aku menggeleng, ada sesuatu yang terasa ingin meledak di sini. Di dalam dadaku.

“Dia pergi karena tak tahan dengan perlakuan ayahnya.” Wanita tua itu mulai terisak.

Kurengkuh bahunya, mencoba menenangkan. Padahal aku juga tengah bersusah payah menahan kaca-kaca di mataku agar tak pecah dan tumpah ruah.

“Dari mana Ibu tahu?” Aku bertanya dengan suara tercekat.

“Karena saya ibunya. Ibu jelas tahu bahwa sejak kecil Ariga menderita hidup bersama dengan kami. Anak lelakiku itu tumbuh dalam tekanan batin yang teramat berat. Hingga saat dia mulai tumbuh semakin besar, beban mentalnya juga semakin bertambah-tambah. Dia pergi karena ingin menyelamatkan dirinya sendiri. Dia pergi membawa kebencian kepada ayahnya” Bu Na menyusut air matanya menggunakan punggung tangannya yang kurus.

“Lalu, bougenville itu ….”

Bougenville adalah bunga kesukaan Ariga. Saat sedang bersedih, Ariga akan betah berlama-lama duduk memandangi bunga cantik itu di halaman rumah kami. Kamu tahu? Bougenville pink yang setiap pagi Ibu siram, itu adalah satu-satunya bunga kesayangan Ariga yang masih tersisa. Bunga itu dia tanam sendiri. Ibu bertengkar hebat dengan ayah Ariga agar tidak membuang bunga itu.”

“Bu Na ….” Kali ini aku tak tahan untuk tidak memeluk wanita tua ini. Kupeluk erat hingga dada serta wajah silikonku menempel erat di tubuhnya.

 

Indragiri hilir, 19 Agustus 2020

Musyrifatun, perempuan penyuka hujan, bunga, benang dan pena.

Editor : Lily

 

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

0
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close