CerpenPilihan EditorTantangan Lokit 16

Zikir (Terbaik ke-8 TL16)

Zikir 
Oleh : Mulia Ahmad Elkazama
Terbaik ke-8 TL16

 

Pukul 02.00 dini hari, aku menyeret kaki ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh. Seperti malam-malam sebelumnya, Ustaz Adib dan Pak Eko sudah duduk manis di atas sajadah masing-masing. Aku sempat memperhatikan mereka sebelum beranjak ke kamar mandi.

“Mereka berdua sangat hebat sekali. Istikamah.”

Kamar tahanan narapidana berukuran 4 x 7 meter ini dapat menampung 21 orang. Masing-masing orang memiliki peralatan tidur sendiri. Sejak sebulan lalu, aku resmi menghuni “kamar santri” ini—begitu napi lain menyebutnya.

Kamar santri adalah kamar yang dihuni beberapa napi yang bertanggung jawab meramaikan masjid di dalam lapas. Beruntung sekali aku berada di sini. Paling tidak, aku bisa menata hati kembali setelah beberapa saat lalu kacau tak keruan. Bagaimana tidak? Kecelakaan maut itu mengakibatkan aku menjalani kehidupan baru di balik jeruji besi.

Selesai mandi, aku segera menggelar sajadah di atas kasur, bermunajat kepada-Nya. Dilanjut zikir-zikir panjang yang diajarkan Ustaz Adib tempo hari supaya aku bisa wusul atau sampai kepada Zat Mahatinggi.

“Sampean jauh lebih bisa daripada saya, Mas.” Ustaz Adib meyakinkan hatiku—beberapa hari yang lalu.

“Saya sudah mencoba berkali-kali, tapi belum bisa, Taz.” Aku mengeluh padanya.

“Bismillah … istikamah …,” ujarnya, seraya tersenyum ramah.

Malam ini, aku kembali berkonsentrasi—mencoba menghadirkan Zat Mahabesar dalam hati seperti yang diajarkan Ustaz Adib. Ah, lagi-lagi kantuk menyerang, membuatku benar-benar hilang kendali. Aku menoleh ke arah Ustaz Adib dan Pak Eko yang masih memejamkan mata—khusyuk.

“Mas Rama, sampean sepertinya tidak ada bakat. Makanya, susah menembus batas-batas itu,” ucap Pak Eko beberapa waktu lalu—setelah tahu apa yang aku lakukan.

“Memangnya hanya bisa dilakukan oleh yang punya bakat, ya, Pak?”

“Tidak. Ada juga yang dengan usaha. Contohnya aku. Dulu, sebelum masuk ke sini, aku enggak bisa gitu-gituan. Salat saja masih sering bolong, Mas. Empat tahun di sini dan ada yang membimbing, akhirnya aku bisa menembus batas-batas yang jarang bisa dilakukan manusia normal,” terangnya panjang lebar. Ia juga bercerita tentang seseorang yang pertama kali mengajarkan ilmu ini.

“Aku melihat, sampean masih dasar sekali. Aku dan Ustaz Adib sekarang setara tingkatannya. Padahal, aku yang mengajari Ustaz Adib.” Pak Eko melanjutkan. Sepertinya ia bangga pada dirinya.

“Saya kurang paham, Pak.” Aku benar-benar tak mengerti maksud pembicaraan Pak Eko. Kadang aku berpikir, bagaimana aku mampu menembus batas-batas itu sedangkan untuk memahami seluk-beluk dan tata cara ilmu itu saja aku tak mampu.

Sesaat kemudian, Pak Eko mengambil kertas dan pulpen. Ia menggambar sebuah anak tangga. Masing-masing tingkat, ia beri gambar sejenis orang.

“Ibarat ini adalah sebuah gunung,” terang Pak Eko. Oh, ternyata bukan anak tangga, tapi gunung.

“Aku berada di sini.” Pak Eko menunjuk tingkat paling atas. “Ini Ustaz Adib.” Ia menunjuk ke tingkat di bawahnya. “Dan ini sampean, Mas.” Aku langsung mengerti ketika Pak Eko menunjuk gambar seseorang di tingkat paling bawah sendiri. Lereng gunung.

“Saya mulai mengerti, Pak.”

Gambar yang disebut gunung oleh Pak Eko merupakan ilustrasi tingkat pencapaian manusia untuk sampai kepada Sang Pencipta. Seberapa dekat manusia itu kepada Tuhan. Tentu tingkatanku paling rendah dibandingkan mereka berdua. Namun, dorongan Ustaz Adib membuatku semangat mengejar ketertinggalan itu, dan mencoba menembus batas-batas yang menghalangi hatiku sampai kepada-Nya.

“Mula-mula, sampean akan melihat warna gelap. Semakin lama semakin legam sekali. Setelah itu, berbagai warna tampak begitu memesona seperti pelangi saat hujan reda. Pada fase ini, konsentrasi harus dijaga bahkan ditingkatkan, sebelum melihat cahaya putih terang benderang. Kemudian, akan tampak segala yang ingin sampean lihat seperti tak ada batas di dalamnya.” Penjelasan Ustaz Adib begitu menyihir alam bawah sadar untuk mengikuti ritual wusulnya.

***

“Bagaimana tadi malam? Sudah bisa?” tanya Ustaz Adib, saat kami berada di masjid At-Taubah—tempat para napi dan tahanan mencurahkan segala keluh kesah atas segala hal buruk yang menimpa.

“Belum, Ustaz,” jawabku sedikit malu.

Mendengar jawabanku, spontan Ustaz Adib mendaratkan cubitan kecil di bahu.

“Aku, kok, jengkel sama sampean. Seharusnya sampean itu jauh lebih bisa.” Kemudian ia menyebutkan nama-nama teman yang telah berhasil mencapai tahap pertama hanya dalam beberapa hari.

“Sampean lihat dia!” Ustaz Adib menunjuk seseorang yang sedang duduk bersila di pojok masjid—berzikir. “Dia seorang pembunuh, tapi hanya semalam dia mengamalkan, langsung berhasil. Ia sempat terjengkal saat melihat tangannya bercahaya, saking kagetnya.”

Hebat sekali. Seorang pembunuh bisa sangat cepat menguasai ilmu langka ini. Entah mengapa aku merasa begitu kecil, tidak mampu seperti mereka—orang-orang jahat yang mulai menemukan jalan cahaya. Apa yang salah pada diriku? Selama delapan belas tahun ini, apa yang kulakukan baik-baik saja, tidak ada yang melanggar perintah agama maupun norma masyarakat. Namun, melihat orang-orang ini, batas-batas gaib antara manusia dan Tuhan seolah mudah sekali untuk ditembus. Ataukah aku harus menjadi penjahat dulu baru bisa mencapai itu semua? Konyol sekali!

Saat malam menjelang, harapan untuk segera menyempurnakan ilmu langka ini semakin membuncah. Setiap malam adalah kesempatan untuk mencoba dan mencoba. Bahkan, beberapa teman sekamar banyak yang melakukan ritual ini. Anehnya, sebagian berhasil menembus batas-batas yang sulit dicapai oleh orang lain, termasuk aku. Aku menyebutnya, Ilmu Menembus Batas.

Untuk melihat keberhasilan ilmu ini, pertama, tubuh memancarkan cahaya saat ritual zikir berlangsung. Kedua, ia akan menembus dimensi lain dan melihat warna-warni cahaya yang membentang di depan mata. Ketiga, ia akan merasakan melayang dan melesat ke langit tertinggi di atas awan-awan, lalu meluncur ke bawah—ke tempat yang ia inginkan. Aku harus berhasil. Aku ingin menjenguk keluarga di rumah. Aku kangen mereka.

“Mas Rama, ayo jalan-jalan,” ajak Pak Eko, setelah kami selesai jemaah Isya bersama teman sekamar. Aku menyapukan pandangan. Beberapa teman sedang melakukan ritual yang sama. Kangen rumah, katanya. Setelah itu, aku duduk di samping Pak Eko.

“Energi sampean besar sekali, Mas. Tanpa bersentuhan saja, aku bisa merasakan.” Pak Eko mendekatkan telapak tangannya ke tubuhku beberapa senti. “Semakin terasa,” lanjutnya.

“Lalu, saya harus bagaimana, Pak?” Aku mengingatkan Pak Eko agar segera mengajakku jalan-jalan.

Lelaki berkepala sedikit botak dan berkumis tipis ini mulai memberikan arahan padaku. Kami duduk bersila berdampingan, tanpa bersentuhan. Dengan konsentrasi penuh, aku mulai memutar tasbih dan membasahi bibir dengan zikir. Lama sekali. Mencoba menembus batas-batas tak kasatmata.

“Allah … Allah … Allah ….” Jantungku berdetak kencang melafalkan nama Tuhan. Semakin lama, semburat hitam membayang—mengelilingiku seperti angin berputar-putar. Entahlah, sepertinya hanya itu yang kulihat, tak ada yang lain—seperti yang pernah Pak Eko dan Ustaz Adib ceritakan. Aku terus berkonsentrasi, mencoba menembus batas lebih dalam lagi. Ah, tak ada perubahan. Tetap sama. Aku pun membuka mata.

Selang beberapa menit, Pak Eko membuka mata.

“Aku lelah menunggu sampean, Mas Rama,” ucap Pak Eko. Peluh membanjir di sekujur tubuhnya. “Aku tarik-tarik dirimu, tapi tak bisa. Padahal aku siap mengajakmu mengunjungi orangtuamu di rumah sana,” lanjutnya sambil mengusap keringat di wajah. Pak Eko sepertinya putus asa tak pernah berhasil mengajakku menembus batas-batas itu. Sesulit itukah?

Sejak Ustaz Adib pindah kamar, setiap malam Pak Eko yang membimbing ritual zikir ini. Sementara Ustaz Adib hanya memantau perkembanganku melalui apa yang disampaikan Pak Eko padanya.

“Mas Rama, besok setelah salat Jumat, aku temani sampean berzikir,” kata Ustaz Adib, sore ini—sebelum masuk ke dalam kamar sel.

Sebenarnya, apa yang salah pada diriku? Para penjahat itu begitu mudah melakukannya, sementara aku yang sedari kecil begitu dekat dengan ilmu agama, justru sulit menembus batas-batas itu. Tubuh bercahaya, jalan-jalan ke tempat yang diinginkan, dan membuktikan kebenaran yang mereka katakan merupakan alasanku untuk tidak menyerah. Atau jangan-jangan ini hanya ilusi mereka saja? Vonis hukuman yang sangat lama, tentu sangat memengaruhi perkembangan jiwa seseorang.

Bisa jadi! Rasa tak terima dan rasa bersalah pasti membuat mereka berhalusinasi seperti ini. Jika memang kata Pak Eko benar—bahwa semua bisa dipelajari—lalu, apa yang salah denganku? Bukankah kata Ustaz Adib, aku jauh lebih bisa. Ah, lama-lama aku bisa gila seperti mereka!

***

Selesai salat Jumat, aku masih duduk berzikir di pojok masjid paling belakang. Zikir seperti biasa, tapi bukan untuk menembus batas-batas itu. Aku sudah lelah! Zikir yang kubaca untuk menenangkan hati saja, tak lebih.

Zikirku terhenti ketika Ustaz Adib sudah berada di sampingku. Aku bersalaman dan mencium tangannya penuh takzim.

“Mas Rama, silakan mulai zikir yang saya ajarkan,” kata Ustaz Adib. Aku pun tak sanggup menolak dan menjalankan perintah ustaz yang setiap waktu menyelimutkan serban di punggungnya.

Aku mulai memejamkan mata dan memutar tasbih.

“Berhenti,” perintah Ustaz Adib, padahal baru beberapa butir tasbih berhasil kuputar.

“Perhatikan tangan sampean,” ujarnya.

Aku membuka mata dan langsung menajamkan pandangan ke arah tanganku. Apa yang terjadi dengan tanganku?

“Sampean lihat enggak?” tanya Ustaz Adib. Aku menggeleng.

“Lihat apa, Ustaz?” Pertanyaanku mendapat sebuah senyuman sebagai jawaban. Ah, aku pasti terlihat begitu bodoh di hadapan ustaz keren ini.

“Tubuh sampean bercahaya.”

Aku tersentak. Bercahaya? Kembali aku memperhatikan tanganku. Biasa-biasa saja. Tak ada tanda-tanda cahaya.

“Lihat! Cahayanya semakin meredup, tapi pelan sekali.”

Jika hal ini benar, berarti aku berhasil tahap pertama. Ya, aku berhasil naik satu tingkat.

Tanpa pikir panjang, aku kembali menutup mata dan berkonsentrasi, menghadirkan nama-Nya dalam hati seraya terus-menerus memutar tasbih. Semakin lama, aku mulai melihat cahaya hitam berputar-putar mengelilingi diriku, lama sekali. Kemudian cahaya warna-warni seperti pelangi membentang, menampilkan keindahan luar biasa yang belum pernah kujumpai sebelumnya. Tiba-tiba, cahaya terang mulai menyibak warna pelangi dan seluruhnya terang benderang. Aku takjub sekali melihatnya.

“Wow!” Aku berteriak ketika tubuhku melayang dan melesat cepat ke langit. Bahkan kakiku kini berpijak pada gumpalan awan-awan. Indah sekali. Aku merasakan sensasi kedamaian yang sangat luar biasa. Sebentar lagi, aku akan mengunjungi rumah, menengok keadaan orangtuaku. Ya, sebentar lagi. Dan, aku melesat ke bawah, menghunjam seperti anak panah yang lepas dari busurnya.

Byuuurrr!

Aku tercebur ke dalam air kolam. Bukan! Sepertinya ini lautan. Seakan-akan ada yang menarikku dari dalam air, aku kelimpungan. Bukankah aku ingin pulang ke rumah? Kenapa bisa sampai di lautan? Tubuhku semakin jatuh ke dasar laut. Sempat aku memberontak hendak naik ke permukaan, tapi tubuh semakin tertarik ke bawah tak terkendalikan. Aku mulai kehabisan oksigen. Tubuhku kejang.

Penglihatanku mulai kabur. Tiba-tiba semua begitu gelap.

Aku membuka mata. Hening. Sunyi dan dingin. Sangat dingin hingga aku mulai menggigil. Sekitarku hanya gelap. Gelap sekali.

“Di mana aku?! Keluarkan aku!” Berkali-kali aku berteriak. Tak ada jawaban. Sementara, aku terduduk lesu memeluk lutut karena gigil semakin cepat menyerang. Benar-benar dingin sekali. Entahlah, aku sungguh tidak tahu, di mana aku berada sekarang.

“Ini adalah ruang hitam di dalam hatimu. Kau dapat keluar jika ria dan takabur sirna dari dalam hatimu.”

Tubuhku mulai membeku. Hanya gigi yang gemeretak tak keruan, menahan rasa takut yang tak berkesudahan.

“Aku tidak ingin terjebak di sini selamanya. Aku harus keluar.”

Dingin. Hening. Pekat. Aku semakin tak kuat. (*)

Pati, 21 Agustus 2020.

Mulia Ahmad Elkazama, lahir di Pati, Jawa tengah. Seorang penjual buku ini suka sekali dunia tulis-menulis. Sekarang masih belajar di beberapa grup kepenulisan dunia maya untuk menambah ilmu dan wawasan.

Tantangan Lokit adalah perlombaan menulis cerpen yang diselenggarakn di grup KCLK.

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

1+
Tags

Leave a Reply

Close