CerpenPilihan EditorTantangan Lokit 16

Di Balik Bilik Kayu (Terbaik ke-2 TL16)

Di Balik Bilik Kayu
Devin Elysia Dhywinanda
Terbaik ke-2 TL16

 

Bilik kayu itu adalah batas: mereka yang mengakui dosanya akan ada di sisi seberang—berdiri, duduk, atau berlutut—sedangkan mereka di sisi ini—para klerus: pastor, uskup, paus, atau kardinal—akan menerima, mengampuni dosa tersebut sebagai perpanjangan tangan Tuhan.

Ia, sang pastor tunggal di gereja kota bagian utara, ada di sisi klerus, sedangkan seorang perempuan dengan jemari menyerupai ulat gemuk duduk di sisi umat. Perempuan itu membentuk salib, mengucapkan kali terakhir melakukan pengakuan, mengeluarkan daftar dosa, sebagaimana yang biasa orang-orang lakukan di tempat itu. Ia sendiri saksama mendengarkan, sampai ketika perempuan itu mengaku telah mengabaikan anaknya, seorang anak penakut yang ada dalam diri sang pastor tunggal tiba-tiba kembali berulah.

Anak itu sama sekali tidak berubah: berambut gondrong, bertelanjang kaki, dengan pinggang hingga paha lebam. Anak itu bisu juga ringkih, dan memiliki kebiasaan bergelung seumpama luwing atau landak ketika ketakutan, yang membuat ia kesulitan sebab ia seketika akan membatu, menjadi gagu, atau mengalami tremor ringan sampai parah ketika bertemu orang-orang yang membuat anak itu takut, atau ketika ia pergi berkencan.

Saat itu pun, lidahnya tiba-tiba kelu, dan baru kembali seperti semula begitu perempuan itu beralih pada daftar dosa lainnya. Meski begitu ia dapat merasakan, sikap diamnya adalah ketenangan sebuah gunung berapi.

*

Bilik kayu itu adalah batas. Ketika berumur enam atau tujuh tahun, sebelum kehadiran si anak penakut, ia ada di sisi pertama, ruangan para umat, dan terkurung di sebuah kotak kedap suara seraya membentuk tanda salib, mengucapkan kapan terakhir kali datang ke sana, sebelum mengakui dosa. Ia tidak tahu benar apakah ia berdosa, tetapi ia selalu diajari untuk menghormati orangtua, untuk berprasangka baik pada semua orang, juga untuk bahagia. Ia menjalani hari-harinya sebagai anak ceria—ia striker andal untuk ukuran anak kecil, dan selalu digadang-gadang oleh ibu teman-temannya akan menjadi populer sepuluh tahun lagi. Sedangkan untuk dua ajaran pertama … ia tidak tahu apakah benar-benar sudah menjalankannya.

“Mama dan Papa melupakan ulang tahunku. Padahal aku mau mengundang Ben dan Lio kalena meleka mengundangku ke ulang tahun meleka. Aku menangis. Mama dan Papa malah, dan aku tambah nangis. Aku bukan anak yang baik. Tapi meleka memang pelupa!” Ia menutup mulut, kembali mengucap doa pertobatan. “Aku bukan anak baik.”

Tangan keriput Romo, pastor gereja itu, terulur, menggenggamnya hangat lewat celah di tengah bilik kayu, dan dengan suara serak, sedikit mirip dahan-dahan yang patah dan terinjak-injak, berucap, “Orang-orang melakukan kesalahan setiap waktu, dan orang-orang berhak mendapatkan kesempatan kedua, ketiga, keempat … kamu hanya perlu memberikan kesempatan itu pada orangtuamu, juga dirimu sendiri.”

*

Misa mingguan pagi itu bergulir cepat. Dua puluh dua orang berlomba meraih pintu keluar. Mereka adalah para pengusaha, pemilik rumah makan, pemilik toko emas, pemilik toko kelontong besar di tengah kota, pegawai pemerintahan, juga teller bank, bersama keluarga mereka, yang bekerja dan berlibur pun selalu diburu waktu. Lima sisanya adalah keluarga pengelola tempat fotokopi yang nyaris gulung tikar, juga si perempuan dengan tangan segemuk ulat yang sesekali mencuri pandang remaja bertudung biru-merah di sampingnya, yang tujuh minggu belakangan memang menyempatkan diri berdoa mandiri di sana.

Kedua puluh tujuh jemaat itu adalah orang-orang baik.

Ia kembali mengulang ucapan tersebut pada si anak penakut, tetapi yang dimaksud masih lelap. Seolah tidak mau mendengar.

Lima orang terakhir pergi, menyisa kesunyian kudus yang meniup langit-langit melengkung, pilar-pilar tambun, serta kursi yang membuat pantat kram bila terlalu lama diduduki.

Ia berjalan menuju kamar. Langkahnya bergema merupa lagu pengiring yang terperangkap jendela-jendela mozaik tinggi. Ia memasuki sebuah pintu dengan gantungan salib, lantas menyibak korden sutra dan melihat para bocah laki-laki menguasai lapangan sebelah timur; pasangan suami-istri yang telah uzur duduk di bangku taman karatan di sebelah utara, seperti yang ia lakukan setiap misa mingguan.

Saya suka duduk di sini dan memperhatikan anak-anak juga pasangan di luar sana. Mereka tampak bebas dan bahagia. Dan kadang melakukan dosa. Saya kenal beberapa orang yang hilir-mudik ruang penebusan: anak yang ujung rambutnya dicat merah itu telah berulang kali mengakui telah berbohong soal jadwal les, uang jajan, juga nilai matematika pada orangtuanya. Tapi ia anak baik karena selalu datang pukul enam-sepuluhan untuk mengakui dosa-dosanya. Mereka yang jujur akan kesalahannya adalah orang-orang baik dan berhak mendapat kesempatan kedua, kan?

Tawa bocah-bocah di lapangan samping bergema di kamar tidurnya.

Saya tahu kamu bukan hanya takut, tetapi juga marah. Ada kemarahan dan trauma yang membekas di tubuhmu. Tapi orang-orang melakukan kesalahan, dan menjadi perpanjangan tangan Tuhan berarti menggantikan tugas-Nya sebagai pengampun …

Ia memperhatikan pasangan suami-istri uzur yang rambut keperakannya dipantulkan sinar matahari.

… kamu mungkin hanya perlu satu pengampunan, sebagaimana saya yang menerimamu, juga para jemaat gereja ini.

Kakinya menegang, diikuti rasa sakit yang urung hilang dari dubur dan juga dadanya.

*

Bilik kayu itu adalah batas. Batas yang entah kenapa meninggi, tidak tersentuh, tepat pada malam hujan bulan Desember, ketika duburnya diterobos di dalam rumahnya sendiri yang selalu senyap. Ingatannya tidak jelas, hanya guruh, si pelaku kurus dengan bola mata nyaris keluar yang pergi setelah mengancam serta membereskan bekas kejahatannya, juga tubuh bagian bawahnya yang terasa memar. Seorang anak penakut muncul esok paginya: sekujur tubuhnya bilur lebam, dan yang paling parah adalah bagian pinggang hingga pahanya. Saat itu si anak penakut masih bisa melenguh dan menangis, membuat ia merinding, merasa kecil dan jauh.

Anak itu mengganggu, tetapi ia tidak membenci anak itu.

Kedua orangtuanya masih melupakan acara perayaan ulang tahun, dan satu-satunya tempat ia pulang adalah Romo serta pilar-pilar tinggi yang menopang langit-langit melengkung. Ia ingin mendengar ucapan Romo tentang memaklumi dan melepaskan, tetapi ia teringat bahwa tidak boleh ada kebohongan di ruang penebusan, dan lagi, apa yang terjadi malam itu bukanlah dosanya—sampai remaja ia bertanya-tanya, apa menjadi kesepian dan lemah adalah sebuah dosa.

“Ruang ini adalah jalan masuk tanpa pintu keluar bagi dosa-dosa umat. Para klerus tidak akan menyebarkan dosa-dosa yang bergema di sana; dosa-dosa itu akan luruh-hilang begitu umat melakukan denda dosa, karena itu tidak boleh ada kebohongan. Atau dosa mereka akan bertumpuk, bertambah, berlipat ganda … dan mungkin butuh berlembar-lembar kertas untuk mengulangnya dari awal.”

Ia mulai membenci anak itu begitu absen dari ruang penebusan dan hanya mengikuti misa. Si anak penakut meliar dan meliar begitu ia beranjak dewasa. Anak itu bergelung, menjadikan ia orang aneh yang sukar berbicara, ketika berhadapan dengan orang-orang yang anak itu takuti. Anak itu mencipta dinding yang menjauhkannya dari riuh-rendah orang-orang, menciutkannya terutama ketika ia kencan, hingga seorang temannya bertanya, “Kau takut sama perempuan, ya?”

*

Malam turun. Taman dan lapangan selengang ruang-ruang dalam gereja. Si anak penakut masih tidur, kian setenang gunung berapi, dan ia teringat bahwa setelah mendapat pertanyaan itu, ia melihat bagaimana orang-orang menggoda, lalu mengejek, lalu mencemooh, lalu menjauhinya. Ia tidak dapat menjelaskan apa-apa, dan memang tidak punya alasan untuk menyangkal pertanyaan tersebut. Anak itu membuat ia tidak dapat menjalin hubungan dengan seorang wanita, karena itu ia kian membenci si anak penakut.

Hingga pada satu waktu ia menemui Romo. Tanpa batas, tanpa sekat. Mata Romo teduh dan jernih, khidmat mendengarkan semua ceritanya, sampai tuntas, sampai ia serupa bayi telanjang di hadapan pria enam-dua tahun tersebut. Lantas begitu selesai, Romo berucap, “Ia hanya seorang anak marah dan tidak bisa memaafkan orang lain. Dan karena terbiasa memendam semua sendirian, ia hanya bisa bergelung ketakutan tiap melihat orang-orang yang melukainya.”

“Ia hanya seseorang yang terlalu banyak terluka saat anak-anak, maka maafkanlah ia sebagaimana kamu ampunkan dosa-dosamu selama ini.”

Ia memejamkan mata. Tawa anak-anak yang tengah bermain bola bergema di telinga.

Saya telah memaafkanmu. Dulu saya memang membencimu, karena kamu amat rapuh dan penakut. Dan kamu bukan anak yang pemaaf. Kamu bergelung seperti luwing atau landak setiap ketakutan, dan itu membuat saya membatu, menjadi gagu, bahkan mengalami tremor ketika bertemu orang-orang yang kamu takuti. Saya pucat pasi ketika Helda memegang tangan saya, dan saya bahkan hampir pingsan ketika Irina hendak mencium saya ketika SMA. Padahal ketika berusia tujuh tahun, setiap bermain sepak bola, ibu-ibu berkata saya akan menjadi pria populer karena saya memiliki nyaris segalanya. Tapi itu tidak mengapa.

Saya sempat menderita dan merasa takut. Ketakutanmu terhambur, hinggap dalam diri saya, lantas bertunas subur hingga akarnya menancap kuat ke tanah dan rimbun daunnya menaungi saya yang terasingkan. Dahan-dahan tumbuh panjang dan membengkok, meraih saya yang berusaha kabur menuju riuh-rendah orang-orang, juga para pasangan yang berdiskusi hendak menonton film apa dan di mana. Tapi saya tidak apa-apa, sebab dengan itu saya bisa hidup berselibat, mengikrarkan tiga kaul, dan membagikan cinta-kasih pada jemaat di gereja ini, sebagaimana saya mengasihi kamu sekarang ini.

Ia menarik napas. Bayangan pasangan uzur di taman seberang kembali datang.

Saya mengasihimu. Luka-lukamu adalah luka saya. Saya memahami kesepianmu dan lebam di tubuhmu. Saya memahami rasa sakit dan amarahmu yang berbuah ketakutan, membuatmu bisu dan bergelung setiap melihat orang-orang itu. Dan meski saya pernah membencimu karena menjauhkan saya dari riuh-rendah orang-orang, saya memberimu kesempatan, sebagaimana yang saya berikan pada si anak laki-laki yang ujung rambutnya berwarna merah. Karena kasih-Nya meluap-luap dan tidak habis-habis, sehingga itulah yang seharusnya saya lakukan.

Saya telah memaafkanmu karena saya mengasihimu, karena saya memahamimu.

Saya mengasihimu. Karena itu jangan takut, dan berikanlah kesempatan para orang-orang itu ….

Malam larut. Si anak penakut diam, tapi tidak benar-benar lelap. Sedangkan ia tidur, membayangkan anak-anak yang bermain sepak bola di lapangan, pasangan kekasih yang bercengkerama di taman, serta apa pengakuannya pada Romo dulu sekali, “Saya membenci seorang anak penakut yang tinggal dalam diri saya, saya membenci diri saya yang pernah berusaha membunuh anak itu agar dapat hidup normal, dipandang sebagai orang normal, dan saya … saya membenci seseorang … banyak orang.”

*

Bilik kayu itu adalah batas. Seorang pria yang jemarinya menghitam datang pukul lima-dua-delapan, dua menit sebelum sesi penebusan dosa dimulai. Perawakannya seliar babi hutan, tetapi pandangannya serapuh mata rusa yang bertemu para pemburu. Laki-laki itu mengaku datang dari kota, menempuh sepuluh jam perjalanan dengan empat per limanya melewati jalan makadam, dan hendak mengakui dosa yang dua-empat tahun dipendam. Saya ingin bertobat dan memulai semuanya dari awal, ucapnya memohon, dan ia pun mempersilakan si pria rusa masuk, mengakui dosanya.

“Saya mencabuli anak kecil … tidak … banyak anak kecil ….,”

Kalimat pria itu terputus.

Ia terdiam—kegemingan sebelum badai, bukan kesunyian malam-malam sehabis perayaan Natal. Bau tanah basah tercium beriring dingin yang memerangkap telapak kaki. Ia menalikan jemari guna meredakan tremor yang sejemang datang, beriring dengan lanjutan pengakuan si suara gemuruh yang serupa liturgi saat hujan.

Seorang anak penakut yang tinggal di bagian terpisah jiwanya kembali muncul—anehnya, anak itu tidak bergelung seumpama luwing, tetapi justru mengentak-entakkan kaki, mengacak-acak setiap kenangan dan pertahanan yang telah disusun rapi. Anak itu masuk ke mata sang pastor tunggal, membuat dinding putih di hadapan mereka luruh, menyisa dinding dengan cat memudar juga mengelupas, dengan seorang anak laki-laki telanjang meringkuk ketakutan.

Setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua, ketiga, keempat ….

Setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua, ketiga, keempat ….

Si pria yang jemarinya menghitam telah menuntaskan pengakuannya. Dan ia kini menunggu penitensi yang harus dilakukan untuk membayar semua itu.(*)

Ponorogo, 21.08.20.

Devin Elysia Dhywinanda adalah seorang gadis AB hasil hibridisasi dunia Wibu dan Koriya yang lahir di Ponorogo, 10 Agustus 2001.

Tantangan Lokit adalah perlombaan menulis cerpen yang diselenggarakn di grup KCLK.

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

2+
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close