CerpenPilihan EditorTantangan Lokit 16

Anak-Anak Seribu Bangau (Juara 1 TL-16)

Anak-Anak Seribu Bangau
Oleh : Halimah Banani
Juara 1 TL-16

 

Furusato wa
itoko no ooshi
momo no hana
‘Pada desaku
anak-anak gembira
bunga pun mekar’
–Masaoka Shiki

***

Saat aku berusia lima tahun, Kakek pernah bercerita tentang legenda seribu bangau kertas. Kakek memang bukan pencerita yang baik, namun bagi seorang anak lima tahun, siapa peduli tentang bagaimana sebuah legenda diceritakan, apa itu nyata atau hanya karangan orang dewasa. Bagiku, dulu, semua cerita terasa menarik asalkan pertanyaan-pertanyaanku dapat terjawab dengan cepat, dan jika aku mengulang pertanyaan-pertanyaan itu, jawabannya tidak akan berubah. Aku sangat tidak suka mendengar cerita yang berubah-ubah saat diulang, karena rasanya seluruh adegan yang sudah kususun dengan baik dalam kepala hancur seketika, mirip kimbap yang Ibu buat setelah menonton acara masak makanan Korea di YouTube—itu merupakan kimbap pertama dan terakhir yang dibuat Ibu.

Sebelum bercerita, Kakek menyuruhku berdiri tegap lalu berputar sebanyak lima kali. Begitu cara kami melakukan janji. Kakek memintaku berjanji untuk merahasiakan legenda ini, dan aku menyetujuinya tanpa pikir panjang. Legenda rahasia, itu terdengar sepuluh kali lebih menarik dari kotak rahasia yang disembunyikan Yuji di halaman belakang rumahnya.

Jadi, begini ceritanya:

Di sebuah desa kecil hidup seorang petani bernama Kazuki Harada. Ia memiliki lima orang anak dan semuanya terserang penyakit aneh. Aku tahu Kakek mengatakan “penyakit aneh” agar saat kutanya, ia mudah menjawabnya. “Suatu penyakit yang tidak biasa,” begitu. Selain melakukan berbagai macam pengobatan untuk kesembuhan anak-anaknya, Harada juga membuat origami bangau. Bangau dikenal sebagai hewan berumur panjang, dan Harada berharap anak-anaknya juga bisa berumur panjang.

“Berapa banyak Harada-san membuatnya?” selaku.

“Seribu.”

“Kenapa seribu?”

“Karena bangau dipercaya sudah hidup selama ribuan tahun.”

Harada terus membuat origami bangau di waktu senggang. Namun, pada lipatan ke-300, anaknya yang ke-3 meninggal. Pada lipatan ke-562, anaknya yang ke-2 meninggal. Pada lipatan ke-940, anaknya yang ke-4 meninggal. Sebulan setelah bangau kertas genap seribu, anaknya yang ke-1 meninggal, sementara anak yang ke-5 masih terbaring tak berdaya.

Tak menyerah, Harada terus membuat origami bangau sambil mengurus putri bungsunya.

“Putri bungsu? Apa semua anak Harada-san perempuan?” potongku.

“Tidak. Tiga laki-laki dan dua perempuan.”

“Berapa usia semuanya?”

“13, 12, 10, 8, 6.”

Aku mengangguk, lalu kembali bertanya, “Kenapa seribu bangau kertas?”

“Karena bangau dipercaya sudah hidup selama ribuan tahun.”

“Lalu berapa usia semua anak Harada-san?”

“13, 12, 10, 8, 6.”

Baiklah, kurasa kali ini aku harus menikmati cerita Kakek dengan baik.

Aku mengubah posisi dari duduk menjadi berbaring di engawa1. Cuaca sedang bagus. Hanya ada sedikit awan di langit, dan angin berembus membelai lembut wajahku dan memainkan rambutku. Dengan antusias aku melempar pertanyaan, “Lalu, bagaimana selanjutnya?”

Setahun berlalu, Harada sudah membuat hampir empat ribu bangau kertas, namun putri bungsunya tak juga menunjukkan tanda-tanda akan sembuh, malah sakitnya bertambah parah dari hari ke hari. Merasa putus asa dan yakin bahwa anaknya akan kembali mati, Harada memilih meninggalkan istri dan putri bungsunya di desa, kembali ke kampung halamannya di pegunungan.

Pada malam pertama di kampung halamannya, saat baru saja memejamkan mata, Harada mendengar suara tangis. Ia kemudian menyibak selimut, beranjak menggeser fusuma2, dan mendapati seorang gadis kecil tengah duduk bersimpuh di atas tatami3, menghadap ke arahnya. Harada langsung teringat pada putri bungsunya. Jika putrinya menangis, ia akan mendongeng dan putrinya langsung berhenti menangis.

Harada pun mendongeng. Ia menceritakan tentang seekor kura-kura yang berusaha terbang. Benar duganya, gadis kecil itu berhenti menangis, lalu tersenyum. Tak lama muncul satu per satu arwah anak-anak, ikut menyimak cerita. Entah berapa banyak, Harada tidak sempat menghitung. Ia hanya mengira bahwa dirinya sudah mati sebelum sampai di kampung halamannya, mungkin saja dalam perjalanan ia bertemu seorang penjahat atau hantu yang membuatnya kehilangan nyawa, sehingga kini ia bisa berkomunikasi dengan para hantu.

“Apa hantu yang mendengarkan cerita itu mencekik Harada-san dan membuat Harada-san sadar kalau dia juga hantu?”

Kakek terbahak sebelum melanjutkan cerita.

Ketika Harada menyelesaikan dongengnya, hantu-hantu itu berubah menjadi bangau lalu terbang ke langit. Dan keesokan pagi Harada mendapati dirinya terjaga di futonnya dan fusuma-nya tertutup rapat. Lantas ia menyimpulkan bahwa apa yang dialaminya semalam hanyalah mimpi.

Hal aneh itu terus berlanjut selama Harada menempati rumah masa kecilnya. Setiap malam Harada akan mendongeng untuk para hantu anak-anak, dan paginya ia akan terbangun seolah-olah tak ada yang terjadi semalam. Sampai pada satu malam ia bermimpi melihat bangau-bangau itu terbang memenuhi langit di atas rumahnya di desa, serupa senbazuru4. Ia pun memutuskan untuk pulang ke desa pada pagi buta. Dan begitu sampai, betapa terkejutnya ia mendapati putri bungsunya sudah sembuh dan sehat seperti sedia kala.

***

Salju turun satu per satu. Salju pertama. Membuat pekarangan menjadi putih secara pelahan, seputih bangau yang pernah kulihat bersama Aiko dan Ryota di Taman Nasional Kushiro Shitsugen. Kemudian di kepalaku muncul batu bata kecemasan, bertumpuk-tumpuk dengan sendirinya dan membangun istana yang amat megah.

Aku beranjak meninggalkan jendela, mengambil obat sakit kepala di meja lalu menelannya, kemudian mengecek ponsel, berharap ada sebuah pesan atau sejenisnya yang menginformasikan bahwa Aiko telah ditemukan. Namun, aku hanya mendapati satu panggilan tak terjawab dan sebuah pesan dari Mitsuki yang menanyakan bagaimana kabarku dan apa aku akan kembali bekerja hari ini. Sudah tiga hari aku cuti dalam minggu ini. Kemarin Nenek meninggal sehingga aku mengambil cuti, sebelumnya aku juga cuti dua hari karena diserang migrain saat Aiko menghilang lima hari lalu.

Hari itu, aku mengatakan bahwa ada beberapa urusan yang harus kuselesaikan sehingga akan pulang larut malam, dan meminta Aiko jangan keluar atau membukakan pintu untuk orang asing. Namun di luar dugaan, urusanku baru selesai satu jam dari waktu yang kujanjikan, dan ketika pulang, Aiko sudah tidak ada.

Aku mencari Aiko ke mana-mana, meneriaki namanya, tapi aku tak juga menemukannya. Pikiranku tiba-tiba dipenuhi dengan Ryota, suamiku. Dua tahun lalu Ryota juga menghilang, dan kembali dalam keadaan meninggal.

Ryota mirip Kitaru, seorang pemuda yang berbicara dengan dialek Kansai dalam cerpen “Yesterday” karya Haruki Murakami. Memang, Ryota tidak bisa dialek Kansai, selain ia berasal dari Asahikawa, ia juga tidak tertarik dengan bisbol. Namun, tubuh kurus, gaya rambut dan pakaian yang sederhana, wajah yang sedikit lebih tirus dan mulus, serta kebiasaan Kitaru bernyanyi di kamar mandi sambil mengecipak-cipakkan air, semua mirip Ryota. Aku membaca cerpen itu beberapa minggu lalu, kemudian membayangkan kalau Kitaru adalah Ryota dan Erika Kuritani adalah aku. Di akhir cerpen itu, meski menghilang bertahun-tahun lamanya, Kitaru sekali-kali masih mengirimi Erika surat. Artinya Kitaru masih hidup. Atau, jangan-jangan Tanimura yang menulis surat dan mengirimnya atas nama Kitaru? Kalau begitu, Kitaru sudah meninggal, seperti Ryota.

Aku memejamkan mata, memijat-mijat pelipis. Salju masih turun satu per satu. Dan batu bata kecemasan dalam kepalaku juga sepertinya sedang membangun istana yang baru.

Tak lama terdengar bunyi “bip” dari ponsel. Aku membuka mata, mengambil benda itu dan mengeceknya. Ada sebuah pesan dari Tuan Watanabe. Ia memberitahukan kalau Aiko sudah ditemukan di bukit tak jauh dari taman kanak-kanaknya.

***

Sebelum meninggal, Kakek sempat bercerita sering bermimpi melihat Nenek menangis di engawa, lalu memintaku pergi 25 kilometer ke arah barat dari tempat Aiko ditemukan. Katanya, di sana terdapat sebuah gubuk yang dipenuhi arwah anak-anak. Aku menduga itu gubuk milik Kazuki Harada.

Setelah Nenek meninggal, Kakek memang sering jatuh sakit. Sudah delapan tahun Nenek terkena dimensia, dan selama itu Kakeklah yang merawatnya seorang diri; menyeka tubuhnya, membersihkan kotorannya, mengganti dan mencuci pakaiannya, memasak dan menyuapinya, sampai mengajak Nenek berjalan-jalan tiap pagi dan petang dengan kursi rodanya. Semua dilakukan dengan sabar dan telaten.

Akan tetapi, ada hal tak biasa yang dilakukan Kakek satu tahun sebelum kematian Nenek: membuat origami bangau.

Sesuai kepercayaannya, Kakek tidak pernah membuat origami bangau untuk mendoakan kesembuhan atau meminta umur panjang bagi seseorang, tidak juga saat ayah dan ibuku koma setelah mengalami kecelakaan pesawat—dan meninggal tujuh belas hari kemudian. Ia hanya membuatnya saat ada keluarga kami yang akan menikah atau melahirkan. Ketika kutanya, “Kenapa Ojiichan5 membuat origami bangau?” Ia menjawab, “Karena saya tak pernah bisa melihat arwah.” Jadilah aku tahu kalau kertas-kertas itu tak hanya membentuk origami harapan yang teramat besar akan kesembuhan Nenek, tetapi juga origami ketakutan, kesepian, dan kerinduan yang mendalam. Sayangnya, Nenek meninggal ketika origami bangau itu baru selesai sebanyak 999 buah.

Sebetulanya, aku berani bertaruh, Kakek bisa menyelesaikan senbazuru kurang dari satu bulan, tidak, seminggu. Tetapi, entah kenapa Kakek membuatnya secara perlahan, dan mungkin ia sengaja tidak menyelesaikannya karena tahu senbazuru tidak dapat menyembuhkan Nenek.

Sebelum pergi ke tempat yang dimaksud—selesai menghadiri upacara pemakaman Kakek—aku mampir ke rumah sakit tempat Aiko dirawat. Lima bulan berlalu sejak Aiko ditemukan di bukit dekat taman kanak-kanak dalam kondisi penuh luka bakar. Setelah melewati masa kritisnya, kondisi Aiko tak pernah mengalami kemajuan, ia bahkan harus bertahan hidup ditopang alat bantu.

Aku menggenggam tangan Aiko, tersenyum lebar, lalu mengajaknya bicara. Aku bilang, jika ia bangun, aku akan mengajaknya ke Tokyo. Aiko sering mengatakan bahwa ia ingin naik Menara Tokyo. Setelah itu kami bisa mampir ke Kuil Meiji sebelum pergi ke Chiba. Tentu aku tahu Aiko juga ingin ke Disneyland Tokyo. Namun, Aiko masih tidur nyenyak, layaknya Putri Tidur, atau para perempuan dalam novel Yasunari Kawabata, “Nemureru Bijo”6. Ia tidak terjaga sekalipun ada badai atau gempa di luar sana.

Aku bangkit, mengecup kening Aiko sebelum meninggalkan ruang rawatnya. Jika dongeng yang dulu Kakek ceritakan adalah benar, tentu aku bisa menyelamatkan Aiko. Aiko-chan yang malang.

***

“Di Bukit Matahari terdapat gerbang yang menghubungkan antara langit dan bumi. Malaikat yang bertugas menjemput orang-orang ke langit melewati pintu itu dan lupa menutupnya. Pada suatu siang, saat ibu kucing sedang mencari ikan di pasar, anak kucing yang bosan mengabaikan perintah ibunya untuk menunggu di rumah. Ia pergi berjalan-jalan ke Bukit Matahari dan tersesat. Saat sedang mencari jalan pulang, anak kucing melihat sebuah cahaya dari tengah-tengah dua pohon apel lalu menghampirinya. Di dalam sana anak kucing melihat kolam yang dipenuhi ikan dan ayah kucing yang sedang tidur siang. Anak kucing senang bukan main. Sudah lama ia menyimpan kerinduan kepada ayah kucing.

“Selagi anak kucing bermain dan menikmati ikan hasil tangkapan ayah kucing, ibu kucing berkeliling mencari anak kucing. Ia berteriak-teriak menyebut nama anak kucing. Berhari-hari ibu kucing mencari, akhirnya ia melihat anak kucing berdiri di dekat gerbang cahaya. Ibu kucing segera menghampiri dan mengajak anak kucing pulang. Namun sayang, malaikat muncul dan mengatakan kalau anak kucing harus ke langit. Ibu kucing menangis, tak ingin berpisah dengan anak kucing, begitu juga sebaliknya. Merasa iba, akhirnya malaikat mengizinkan anak kucing ikut pulang bersama ibu kucing, tapi hanya sampai matahari terbenam besok.

“Ibu kucing mengucapkan banyak terima kasih, kemudian mengajak anak kucing pulang. Di rumah, mereka menghabiskan malam dengan melakukan banyak hal menyenangkan, lalu keesokan harinya ibu kucing mengajak anak kucing berjalan-jalan sampai menangkap ikan-ikan di sungai.

“Sore pun tiba, ibu kucing dan anak kucing kembali ke Bukit Matahari, memenuhi janji mereka kepada malaikat. Sebelum berpisah, ibu kucing berjanji akan segera datang dan ikut tinggal di langit. Anak kucing tersenyum, memeluk ibu kucing. Dan sesuai janji, beberapa hari kemudian ibu kucing datang dan tinggal di langit bersama anak kucing dan ayah kucing. Mereka pun hidup bahagia selamanya.”

Malam ini, usai mendongeng untuk sembilan arwah anak-anak—harusnya ada sepuluh anak-anak jika dihitung seribu arwah—delapan dari mereka berubah menjadi bangau, sedang satunya tetap duduk tenang di tempat. Ketika aku menggeser dudukku untuk lebih dekat dengannya, ia langsung menggenggam tanganku. Kemudian aku mendapati api merambat di mana-mana, sedang di depanku, gadis kecil itu sedang menggelepar-gelepar, menjerit kesakitan. Tak lama—aku tak mungkin salah lihat—Aiko masuk ke dalam gubuk ini, berusaha menggendong gadis itu, disusul Kakek yang langsung menyeretnya keluar. Sayangnya, sebelum berhasil meninggalkan gubuk ini, shoji7 menghantam tubuh Aiko. Kemudian aku mendapati diriku sudah berada di ruang rawat Aiko, sementara gadis tadi tersenyum, melambaikan tangan, lalu berubah menjadi bangau dan terbang ke langit.

Aku mengeratkan genggamanku pada tangan Aiko, tersenyum selebar-lebarnya saat menceritakan kisah keluarga kucing.

Harusnya aku bisa menyadari saat Kakek mengatakan bahwa ia membuat origami bangau sebab tak pernah bisa melihat arwah, dan alasan origami bangau itu hanya selesai sebanyak 999 buah. Namun tak ada yang bisa aku perbuat sekarang. Aku hanya bisa menjaga senyumku agar tak pudar saat melihat arwah Aiko lepas dari tubuhnya, berbarengan dengan bunyi melengking dari elektrokardiograf8.

Aiko menghampiriku, memeluk tubuhku, mengatakan bahwa ia sangat menyayangiku.

“Aiko-chan, jaga diri baik-baik,” hanya itu yang mampu kuucapkan ketika ia melepas pelukannya.

Aiko mengangguk, tersenyum lebar, setelah itu berubah menjadi bangau dan terbang ke langit, terbang sangat tinggi.

***

Aku menengadahkan wajah ke langit. Hari ini cuaca sangat bagus. Bunga-bunga bermekaran, angin berembus, membelai lembut wajahku dan memainkan rambutku, persis seperti saat aku mendengar cerita Kakek di engawa.

Saat ini aku berada di depan makam Aiko. Aku baru selesai menceritakan bahwa semalam aku bermimpi melihat bangau-bangau terbang di atas rumah kami, serupa senbazuru. Paginya, sebelum pergi ke makam Aiko, aku mampir ke rumah sakit, melakukan pemeriksaan rutin. Kemarin dokter mengatakan kemungkinan besar usiaku hanya tersisa tiga bulan lagi, tapi tadi ia mengatakan bahwa kanker otakku sudah sembuh. Lantas, seperti bunga-bunga musim semi, pertanyaan-pertanyaan di kepalaku bermekaran.(*)

Catatan:

1Engawa: Beranda atau teras; bagian tepi eksterior rumah yang menjulur keluar.

2Fusuma: Pintu dorong atau pembatas ruangan. Fusuma biasanya terbuat dari kayu, tripleks, dan kertas khusus yang dihiasi lukisan indah, ada pula yang terbuat dari kerangka kayu dan kaca tubu.

3Tatami: Tikar tradisional Jepang.

4Senbazuru: Seribu bangau kertas/seribu burung bangau.

5Ojiichan: Kakek.

6Nemureru Bijo: Novel Yasunari Kawabata yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Rumah Perawan”.

7Shoji: Panel dari rangka kayu berlapis kertas transparan, pintu dorong ini biasanya berfungsi memisahkan ruangan dalam dan teras, juga digunakan sebagai jendela.

8Elektrokardiograf: Mesin pendeteksi impuls listrik yang berfungsi mengukur dan merekam aktivitas listrik jantung.

Jakarta, 21 Agustus 2020.

Halimah Banani, penulis asal Jakarta.

Tantangan Lokit adalah perlombaan menulis cerpen yang diselenggarakn di grup KCLK.

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

1+
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close