CerpenSastra

The Power of Love

The Power of Love

Oleh : Nuke Soeprijono

 

Tak ada satu pun di antara kita yang mau diabaikan dan tersisih di dunia ini. Semua ingin diperhatikan, dimiliki, dan disayang. Tak terkecuali aku.

***

Ketika sinar matahari mulai meredup dan sore berganti malam, itu artinya pengunjung akan mulai berdatangan. Bisa dipastikan, mereka akan masuk ke tempat di mana aku bersama teman-teman dipajang. Tempat kami berkumpul memang hanya buka malam hari. Dalam ruangan kaca berukuran empat kali lima meter, kami diharuskan tampil menggemaskan dan semenarik mungkin. Tentu saja agar orang-orang yang lalu-lalang di luar terpikat kemudian mampir masuk dan membayar.

Satu per satu dari mereka memperhatikan. Beberapa hanya menunjuk, tapi ada juga yang berani membelai bahkan menyentuh, seolah-olah ingin sekalian memeluk salah satu dari kami. Posisi kami sendiri menentukan yang mendapat perhatian paling banyak. Jadi bisa dikatakan, dia yang duduk di tengah, dialah primadonanya, meskipun seminggu sekali, kami selalu bertukar posisi.

 “Biar adil dan semua laku,” kata Tante Pricilla, pemilik tempat ini.

Namun, hingga malam kian larut, tak ada satu pun pengunjung berhasil membawaku, atau teman-teman keluar dari sini. Entah soal harga yang belum cocok atau mungkin saja hari ini penampilan kami kurang memikat.

“Hei, Teddy, gimana yang tadi? Kayaknya dia udah megang-megang kamu ‘kan? Gak jadi, ya?” tanya Maria padaku.

Nadanya terdengar mengejek … ah, tapi tidak! Sepertinya dia hanya bertanya sekadar ingin tahu saja.

“Apaan? Orang tadi cuma lewat di depanku saja. Datang mendekat, aku pikir akan membelaiku, nyatanya malah pergi berlalu. Huh, menyebalkan!” Aku tampakkan wajah kesal untuk melegakan Maria. Agar ia tahu bahwa aku berempati padanya, sebab aku pun sama sepertinya. Malam ini kami semua tidak ada yang berhasil dibayar. Sedikit beruntung dariku, Maria sempat diajak berbincang oleh beberapa orang. Sedangkan aku, jangankan diajak bicara, dilirik pun tidak.

“Haha … kalau begitu besok harus lebih maksimal make up-nya. Rambut harus kubuat lebih mengembang bergelombang, pake pita-pita, dan bibir harus lebih merah basah menggoda,” ujar Maria sambil terkekeh. Aku hanya tersenyum menanggapinya sambil membetulkan letak dasi kupu-kupu yang kupakai.

Duduk di deretanku adalah Maria, Sofia, Pauline, dan Miranti. Sedangkan di bangku belakang ada Heidy, Jenny, dan dua perempuan lagi yang belum aku kenal dengan baik. Mereka baru datang dan bergabung di sini tiga hari yang lalu. Hanya aku satu-satunya lelaki di ruang ini. Menurut teman-teman, seharusnya aku yang jadi primadonanya. Selain bentuk wajahku berbeda dengan mereka, fisikku juga paling menggemaskan, gagah, dan pelukable.

Namun, nyatanya orang-orang lebih tertarik dengan wajah-wajah cantik yang ditunjang dengan bentuk badan ideal. Terbukti, sudah banyak sebelum mereka yang berhasil dibayar orang. Ah, ternyata sebutan primadona itu sebenarnya hanya untuk menghiburku. Apalah arti sebutan itu, jika hanya untuk mengaburkan arti kata “lain daripada yang lain”. Ya, aku memang berbeda sendiri jika dibandingkan teman-teman.

***

“Maria, Sofia, dan Pauline, kalian siap-siap ya! Sore nanti akan ada yang menjemput kalian,” ujar Tante Pricilla pagi ini. Mereka bertiga tampak bahagia. Rona bahagia terpancar dari wajah-wajah cantik itu. Maria yang paling antusias menanggapinya.

“Teddy, kau dengar itu? Hari ini aku akan dibayar orang! Aku akan segera dipinang dan disayang selamanya!” teriak Maria girang. “Aku harus berdandan dulu. Menurutmu, apakah rambut bergelombangku ini harus dikepang? Atau dibiarkan tergerai?” Maria bertanya lagi sambil mengerjapkan mata sebening kristal miliknya.

Aku hanya tertawa sekilas tanpa menjawab. Mungkinkah aku iri pada Maria? Entahlah, bisa saja iya. Akan tetapi, bagaimana mungkin, bukankah kata mereka aku primadona yang paling diinginkan di sini? Meskipun kenyataannya, kata-kata itu hanya menghiburku. Sekian waktu berlalu, aku masih terpuruk dalam ruangan kaca ini.

Segagah apa pun penampilanku, tak ada artinya jika tak diinginkan. Tapi aku percaya, suatu saat aku pun akan dibawa pemilikku dan disayang selamanya, sama seperti Maria, Sofia, dan Pauline yang beruntung hari ini.

Kubiarkan mereka sibuk mempersiapkan diri. Riuh sekali memilih warna dan bentuk aksesoris apa yang harus diaplikasikan pada rambut dan pakaian mereka.

Hingga kemudian saat sang penjemput datang, Maria yang paling dulu mengucapkan kata perpisahan padaku. “Teddy, kami pergi dulu ya. Jika kamu masih di sini sekarang, bukan berarti selamanya akan tetap di sini. Suatu hari, saat bahagia itu akan tiba. Tapi ada satu yang harus kamu ketahui, Teddy, selamanya aku akan mengingatmu sebagai sahabat terbaikku.” Maria kemudian memelukku haru, disusul Sofia dan Pauline yang sedikit menitikkan air mata.

“Hei, Pauline, apa yang kamu lakukan? Gadis cantik dilarang menangis!” kelakarku disambut tawa yang dipaksakan darinya.

Sambil mengusap air mata, Pauline memelukku seraya berbisik, baik-baik di sini ya, Teddy,  kemudian disusul pelukan dari Sofia.

***

Sore hari yang lain, ketika Tante Pricilla baru saja membuka kembali tempat ini, di depan pintu kaca, sudah ada berdiri dua orang, lelaki dan perempuan. Kemudian mereka buru-buru masuk ketika pintu sudah bisa terbuka sempurna. Sepertinya mereka sepasang kekasih—terlihat ketika si perempuan menatap penuh cinta kepada si lelaki.

“Silakan dipilih,” kata Tante Pricilla sambil tersenyum. Sepertinya aura kasmaran lelaki dan perempuan itu menular pada wanita yang biasanya jutek dan hanya bisa berteriak-teriak padaku dan teman-teman lainnya.

“Sayang, aku mau yang tampan warna cokelat itu,” ujar si perempuan sambil menunjuk ke arahku. Hatiku berdegup kencang, berdetak tak karuan. Benarkah aku yang akan dipilih kali ini? Sesaat kemudian si lelaki menggapaiku dan memberikanku kepada kekasihnya.

“Yang ini?” tanyanya mesra lalu disambut anggukan manja dari si perempuan.

Kemudian aku dipeluk dan dibawa menuju Tante Pricilla yang berdiri di belakang meja kasir. Ada rasa haru dalam hati, akhirnya aku “dibayar” oleh sepasang kekasih. Mereka memilihku sebagai tanda cinta. Akhirnya bukan hanya dimiliki dan disayang. Namun lebih dari itu, aku dijadikan sebagai simbol cinta mereka.

“Terima kasih ya, Sayang, boneka Teddy-nya.” kata si perempuan sambil memelukku erat. (*)

 

Nuke Soeprijono, si alter ego.

Editor : Devin Elysia Dhywinanda

 

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

2+
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close