Film dan Buku

Mas Samudra

Mas Samudra
Oleh : Zalfa Jaudah Jahro

Percakapan singkat sore ini membuat hatiku tenang.
Ditambah pelukan hangat yang sebelumnya Mas Samudra berikan. Aku merasa bahwa diriku memiliki sesuatu yang amat besar, dan tidak akan satu orang pun yang boleh merebutnya.

Sambungan telepon kuputus setelah percakapan kami selesai. Malam harinya, Mas Samudra menyiapkan sesuatu yang sangat membuatku terkesan. Di atas air kolam renang vila, terdapat banyak sekali bunga-bunga. Mas Samudra juga mendekor sebuah meja di dekat kolam dengan sangat cantik.

Lampu-lampu indah terpasang rapi, membuat suasana menjadi sangat romantis.

“Sayang ….”

Mas Samudra tersenyum. Ia menatapku sangat lekat.

“Mas,” sahutku gugup. Aku tidak sanggup jika harus menatap kembali kedua bola mata Mas Samudra.

“Maaf, Mas belum bisa menyiapkan sesuatu yang membuatmu sangat terkesan selama ini.”

Aku menggeleng cepat.

“Selama ini, semua tentang kita selalu berkesan, Mas. Memiliki kamu, melahirkan Kanth, Ethan, dan Zahara, kemudian membesarkan mereka, semua selalu menjadi hal yang sangat berkesan.”

Mas Samudra memelukku dari belakang. Dagunya menempel tepat pada bahu, membuat diri ini semakin membeku. Hela napas Mas Samudra terdengar dengan jelas. Jemarinya menangkup dengan jemariku. Nyaman sekali rasanya. Ingin kukunci waktu, jika waktu itu dihabiskan hanya untuk berdua bersama Mas Samudra—suamiku.

“Sekarang, kita makan ya, Sayang,” ujar Mas Samudra seraya duduk di atas kursinya.

“Iya, Mas.”

Suapan pertamaku rasanya sangat berat, kuingat ketika pertama kali aku dan Mas Samudra makan malam berdua, tubuhku seakan membeku, jantungku berdegup hebat, sama seperti malam ini. Padahal, saat ini Mas Samudra sudah menjadi milikku, Mas Samudra sudah menemaniku bertahun-tahun. Tetapi, aku tetap merasa sangat gugup.

“Sayang, kamu kok diem aja?”
Aku menggeleng cepat.

“Sini, Mas Suapin.” Mas Samudra menyendokkan sedikit makanan, kemudian mengarahkan sendok tersebut ke arah mulutku.

“Mas ….” Aku tersenyum malu.

“Ayo, makan, Sayang.” Tatapan Mas Samudra kembali membuatku terpana.

“Mas …,” ulangku lagi.

Mas Samudra menyimpan kembali sendok tersebut, ada apa?

Tangan Mas Samudra menggapai pipiku, kemudian sedikit menggoyangkannnya. Tawa Mas Samudra juga sangat renyah, ia terus menggoyangkan pipiku.

“Mwas, swakwit,” ujarku mengatakan sakit, padahal tidak. Aku menyukainya, apalagi posisi wajah Mas Samudra denganku hanya terhalang sedikit jarak.

“Kamu, gemes banget, Sayang. Makanya Mas cubit.”
Aku sedikit tertawa, meskipun tertahan oleh tangan suamiku.

“Mas akan lepas, tapi kamu harus makan ya, jangan Mas-Mas melulu, gemes banget tahu!”

Aku mengangguk cepat.

Mas Samudra akhirnya melepaskan.  Aku memajukan bibirku sebal. Suamiku kembali mengambil sesendok makanan, kemudian mengarahkannya kepadaku. Tentunya aku masih sangat gugup, tetapi dengan perlahan, aku membuka mulut. Suapan pertama dari Mas Samudra pada makan malam yang sangat manis.

“Nah, gitu dong, Sayang.”

“Mas juga makan.”

“Iya, ini Mas makan, kok.”

Saat Suamiku menyendokkan makanan, segera aku menahannya. Jemariku segera mengambil makanan milikku, kemudian menyodorkannya ke arah Mas Samudra.

“Sayang ….”

“Mas, ih. Ayo buka mulutnya.”

“Sayang …,” ulangnya. Aku tahu ia sengaja meledek.

“Kalo nggak mau, ya udah,” jawabku pura-pura tak mengacuhkannya.

“Ih, kok gitu, sih? bujuk kek suaminya.”
Aku tersenyum meledek. “Oh, suaminya Hira mau dibujuk, nih, ceritanya?”

“Kalau kamu nggak mau juga nggak usah.”

“Hahaha …,” tawaku pecah, “Mas, ih! Mukanya lucu banget.”

“Mas lagi ngambek, nih.”

“Idih, mana ada orang ngambek itu ngomong, dulu.”

“Ada, Sayang.”

“Mana ada orang ngambek manggil Sayang, Mas,” ledekku lagi. Mas Samudra kembali melontarkan senyumnya. Dengan segera, aku mengambil kembali sesendok makanan, kemudian menyodorkannya ke arah Mas Samudra, suamiku.

“Kamu, cantik,” ujar Mas Samudra tiba-tiba.

“Mas udah sering ngomong begitu.”

“Karena Mas serius, Sayang. Setiap hati, kamu selalu cantik di mata Mas.”
Aku tersipu malu. Entah berapa ribu kali Mas Samudra memujiku, ia selalu bisa membuat pipiku bersemu merah.

“Oh, ya, Mas. Besok kita mau jalan-jalan, atau di sini aja?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Di sini aja, Mas Mau berduaan sama kamu,” jawab Mas Samudra mantap.

“Sekarang juga lagi berdua, Mas.”

“Ya, Mas maunya yang lama. Kita abisin dua hari bersama, Sayang.”
Aku mengangguk.

Setelah makanan dilahap habis, aku dan Mas Samudra duduk di gazebo vila. Aku menyenderkan kepala di atas bahu Mas samudra. Kami bedua terhanyut dalam lamunan menatap bintang.

Malam itu terasa sangat panjang.

Kulihat, bintang di atas sepertinya sedang menatap kami bahagia. Bagaimana tidak? Aku sangat bersyukur memiliki Mas Samudra. Seorang suami yang hebat, dia selalu memperlakukanku dengan lembut. Mas Samudra juga seorang ayah yang hebat, sangat. Ia tidak pernah sekali pun memarahi putra dan putrinya, jika si kecil marah atau melakukan suatu hal, maka Mas Samudra akan memeluknya. Menenangkan, memberinya energi, serta membuat si kecil tumbuh menjadi anak yang juga hebat.

“Sayang, Kanth, Ethan, sama Ahla, kan, udah besar, gimana kalo Kit—”

“Setuju,” balasku antusias.

“Mas belum selesai ngomong.”

“Hehehe, emangnya Mas mau punya anak banyak, ya? Kalo gitu, sama dong.”

“Mungkin satu kali lagi, Sayang. Kita kasih Ahla temen cewe.”

“Iya, Mas.”

“Yuk …,” ajak Mas Samudra menggandeng tanganku.

“Enggak sekarang juga, Mas.” Mas Samudra tersenyum jail.

Tubuh tingginya berbaring di atas pahaku. Jemari panjang Mas Samudra mengelus perlahan jemari kiri. Sesekali pandangannya menatap wajahku.

Aku mengelus pucuk rambut Mas Samudra menggunakan jari kanan. Tatapanku pun terus memandang paras indah Mas Samudra. Tatapan yang mengartikan bahwa aku sangat mencintainya. Sejak dulu, sebelum dia mengetahui, sebelum semesta mengizinkan kita untuk bersama.

***

“Mau, nggak?” tanya suamiku seraya memberikan stoples camilan ringan.

“Suapin,” rengekku manja. Mas Samudra terkekeh geli.

“Sayang, Mas nggak salah denger, kan?”

“Hehehe, mau disuapin, Mas.” Aku duduk tepat di samping Mas Samudra. Menyenderkan kepala di bahu kukuh lelakiku.

“Iya, ini Mas suapin nin, buat bayi besar.”

“Aku bukan bayi, Mas,” balasku tidak terima. “Emang bukan, kamu kan istri Mas.”

“Hehehe, Mas inget nggak, sih, waktu pertama kita ketemu?”

“Inget, di kantin, ‘kan?”
Aku melotot tidak suka. “Mas lupa?” tanyaku seraya menjauhkan kepala dari bahunya.

“Emm, emang di mana?” Mas Samudra seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Nggak tahu, ah. Mas nggak asik.”

“Mas becanda, Sayang.” Senyum manis suamiku merekah dengan sempurna.

“Bilang aja, Mas udah lupa,” ucapku sebal.

“Mas selalu inget semua tentang kamu, Sayang.” Mas Samudra membenarkan posisi duduknya seraya menatapku dengan sangat lekat.

“Di koridor sekolah. Waktu kamu kebingungan nyari ruangan. Terus kamu ngeliatin Mas kayak yang takut, gitu. Padahal yang dulu kamu nggak tahu, Mas senyum ngeliat tingkah lalu kamu. Mas juga liat, loh, pas kamu hampir nabrak pintu gara-gara balik badan ngeliatin Mas.”

Jawaban Mas Samudra membuat kedua pipiku bersemu merah. “Aku kira, Mas udah lupa.”

“Enggak. Mas nggak akan lupa. Apalagi bagian kamu disuruh nyanyi balonku di depan ruangan,” ujar Mas Samudra meledekku.

“Kayaknya, Mas salah orang, deh. Aku nggak pernah disuruh nyanyi,” jawabku mengelak.

“Mana mungkin Mas salah orang kalau di hati Mas saat itu cuman ada kamu.” Jawaban Mas Samudra sangat mampu membuat mulutku bungkam.

Ingin rasanya aku mendengar kalimat itu sekali lagi.

Kuingat jika dulu Mas Samudra selalu menatapku tak acuh. Sikapnya tidak sedikit pun memberi isyarat bahwa ada aku di dalam hatinya.

“Kalau yang ini, Mas nggak becanda,” lanjutnya ketika melihat raut wajahku yang sangat kebingungan.

“Maksud, Mas?”

“Ya, Mas nggak becanda kalau emang dari dulu, cuman kamu yang ada di hati Mas. Kalau kamu nggak percaya, nggak papa. Karena Mas nggak sedikit pun memberi sikap yang sedikit manis. Mas selalu memalingkan tatapan Mas kalau ketemu sama kamu, tapi yang harus kamu tahu, itu artinya, dulu Mas nggak kuat ngeliat bola mata kamu yang sangat indah.”

“Tapi sekarang, Mas berani natap aku?”

“Karena sekarang kamu udah menjadi milik Mas. Setiap Mas natap kamu, Mas sangat yakin kalau kamu memiliki jutaan cinta yang hanya akan diberikan untuk Mas, sejak lama.” Aku mengangguk cepat.

“Aku hanya bisa berdoa, Mas. Rasa yang aku miliki untuk kamu, setiap harinya selalu bertambah. Aku, mengunci hati dari setiap lelaki yang mendekat. Aku berharap, Mas sekedar tahu tentang rasa yang semakin membelenggu. Apalagi, saat kita berada di satu tempat yang sama, tatapi semesta seperti tidak mengizinkan untuk kita bertemu. Aku, perih, Mas.”

“Maaf, Sayang, Maaf. Dulu Mas memang sangat pengecut. Tetapi, itu karena Mas merasa kalau Mas harus memantaskan diri untuk memilikimu.”

“Emangnya, sekarang Mas udah merasa pantas memiliki aku?” tanyaku tertawa meledek.

“Ih, dasar nyebelin,” gerutunya kesal seraya menggelitiki pinggangku.

“Hahaha, Mas, udah … geli, Mas.” Aku menggeliat kegelian.

“Lagian, tadi itu Mas lagi serius ngomong, malah dibecandain.”

“Iya udah, Mas, geli … hahaha ….” Aku terus tertawa lepas.

Mas Samudra terus menggelitikiku hingga aku hampir saja terjatuh dari sofa bed, Mas Samudra menahan tubuhku. Wajah Mas Samudra berhadapan jelas denganku hingga aku dapat merasakan deru napasnya.

Detik demi detik berlalu. Keheningan dalam ruangan seketika terjadi. Rasanya, televisi yang sedang menonton kami. Melihat setiap kejadian yang aku dan Mas Samudra lakukan. Kutatap wajah lelaki yang sudah lama menjadi suamiku. Kedua bola matanya terlihat sangat teduh. Rahangnya kini terlihat lebih tegas.

Dia, Samudra. Milikku!

“Mas,” ujarku memecah keheningan.

Mas Samudra langsung tersadar. Aku tahu jika ia pun merasakan indahnya hening yang baru saja terjadi. Tetapi, sangat tidak baik bagi kesehatan jantungku.

“Emm, kenapa?” tanyanya seraya menaikkan sebelah alisnya.

“Enggak.”

“Pipi kamu merah, Sayang.”
Dengan spontan, aku meraih kedua pipiku dengan sangat malu.

“Mas becanda,” cibir Mas Samudra seraya berlari meninggalkanku.

Aku terbelalak kaget. Segera kukejar suamiku yang berjalan menuju kolam vila. Kulihat, Mas Samudra terus tertawa seraya menjulurkan lidah.

“Mas, nakal, ih,” ujarku memajukan bibir sebal.

***

Zalfa Jaudah Jahro, lahir di Karawang pada hari jumat, 03 Oktober 2003. Zalfa sangat menyukai awan, mendung, dan dia. Jika ingin mengetahui tentangnya, bisa melalui email zalfajaudah03@gmail.com atau Facebook @Zalfa Jaudah J.

Nah, Mas Samudra nakal kenapa, nih?
Penasaran?

Untuk lebih lanjut, yuk pinang novel “Mas Samudra” karya Zalfa Jaudah Jahro.

Rasakan setiap manis sikap Mas Samudra yang selalu membuat Zahira terpesona.

Untuk harga PO 73.000

Pembelian hubungi: 089625573320 (Zalfa Jaudah Jahro)

PO sampai tanggal 25 Juli 2020. Yuk dipinang, Mas-nya.

 

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata.

0
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close