Film dan BukuMotivasiRubrik Umum

Leo Tolstoy dan Luas Tanah yang Dibutuhkan Seorang Manusia

Leo Tolstoy dan Luas Tanah yang Dibutuhkan Seorang Manusia

Seberapa luas tanah yang dibutuhkan seorang manusia? Seratus meter persegi? Seribu meter persegi? Satu hektar? Sepuluh hektar? Seratus hektar? Seribu hektar?

Tunggu dulu, sebelum menjawab, ada baiknya kita mengubah pertanyaan itu menjadi: Buat apa seorang manusia membutuhkan tanah?

Dalam bukunya yang berjudul Berapa Luas Tanah yang Dibutuhkan Seorang Manusia, Leo Tolstoy yang merupakan seorang sastrawan Rusia menuntun kita untuk melihat seberapa luas tanah yang sebenarnya kita butuhkan.

Cerita ini dibuka dengan seorang perempuan yang mengunjungi adik perempuannya di sebuah desa. Si kakak perempuan ini menikah dengan pedagang di kota, sedang adiknya menikah dengan seorang petani di desa. Sambil minum teh, mereka berbincang-bincang, sampai si kakak mulai menyombongkan pencapaiannya dan si adik yang terusik pun berkata:

Aku tidak akan mengubah cara hidupku demi kehidupan yang seperti milikmu, katanya. Kami mungkin menjalani hidup dengan keras, tetapi setidaknya kami terbebas dari rasa cemas. Kau hidup dengan gaya hidup yang lebih baik daripada kami, tetapi meskipun kau sering mendapatkan lebih dari yang kau butuhkan, kau sangat mungkin kehilangan semua yang kau miliki. Kau tahu ada pepatah mengatakan, Kehilangan dan pencapaian adalah saudara kembar. Sering terjadi bahwa orang-orang yang kaya pada suatu hari akhirnya akan mengemis roti. Cara yang kami tempuh lebih aman. Meskipun kehidupan seorang petani bukanlah kehidupan yang berlimpah, tapi itu merupakan kehidupan yang panjang. Kami tidak akan pernah menjadi kaya, tetapi kami akan selalu memiliki cukup makanan.

(Halaman 6-7)

Pahom, si petani atau suami si adik yang sedang berbaring di depan perapian sejak tadi mendengarkan percakapan para wanita itu, lantas dia menyetujuinya: bahwa para petani tak punya cukup waktu untuk memikirkan omong kosong tentang kehidupan mewah, karena sudah disibukkan dengan urusan ladang.

Akan tetapi, Pahom sadar bahwa ia memiliki satu masalah: Tanah.

Ya, tanah! Pahom tak punya cukup tanah, sehingga ia menggantungkan hidupnya dan hewan ternaknya pada seorang wanita pemilik tanah dan terbebani oleh denda. Pikirnya, jika ia memiliki tanah yang banyak, tentulah ia tak harus takut pada iblis yang jahat. Sayangnya, iblis yang bersembunyi di belakang perapian mendengar semua yang mereka katakan—ucapan Pahom dan perbincangan para wanita yang sedang minum teh.

Kemudian, pada musim dingin ada berita bahwa wanita pemilik tanah akan menjual tanahnya, dan penjaga penginapan di jalan raya sedang menawar untuk membeli tanah itu. Hal ini cukup meresahkan Pahom dan kelompok petani. Karena jika tanah itu dijual, maka ada dua kemungkinan. Mereka akan sulit meladang atau terkena denda yang lebih tinggi dari sebelumnya. Maka dari itu para petani pun berunding dengan wanita pemilik tanah, lantas berakhir dengan kesepakatan bahwa wanita itu akan menjual tanahnya kepada tiap-tiap petani yang hendak membeli tanah sesuai kemampuannya. Pahom pun mengumpulkan uang untuk membeli beberapa meter persegi tanah dari wanita itu, dan dari situlah Pahom memiliki tanah.

Namun sayang, ucapan Pahom di awal cerita—bahwa memiliki tanah akan membuatnya tidak takut pada iblis jahat—menjadi sesuatu yang salah dan benar di waktu bersamaan.

Pahom mungkin tidak takut pada iblis jahat karena telah berhasil memiliki berbidang-bidang tanah, tetapi di saat yang bersamaan, dengan tanah-tanah yang berhasil didapatkannya, Pahom tidak sadar kalau ia tengah menjadi bahan olok-olokan iblis. Karena nyatanya, kerja keras dan perjuangan Pahom untuk mendapatkan tanah yang lebih bagus, lebih luas, lebih murah, dan lebih-lebih lagi malah mengantarkannya untuk mendapatkan tanah yang paling ia butuhkan.

Kembali ke pertanyaan di atas. Buat apa seorang manusia membutuhkan tanah?

Dalam buku Berapa Luas Tanah yang Dibutuhkan Seorang Manusia, Tolstoy menjawab pertanyaan tersebut dengan sangat lugas, seperti yang tertulis pada blurb:

Ironisnya, dia akhirnya hanya mendapatkan tanah yang cukup untuk membuat kuburnya sendiri.

Ya, sungguh ironis memang, setelah merangkak dari bawah dan berhasil mendapatkan sesuatu yang sangat ingin dicapainya, Pahom berakhir dengan kehilangan segalanya, di mana ia seharusnya mendapatkan harga yang pantas atas kerja kerasnya.

Sayangnya, Pahom lupa pada potongan kalimat istrinya.

Meskipun kau sering mendapatkan lebih dari yang kau butuhkan, kau sangat mungkin kehilangan semua yang kau miliki.

Saya setuju dengan Tolstoy, sebagian manusia mungkin beruntung mendapatkan lebih dari yang ia butuhkan. Akan tetapi, pada dasarnya, sama seperti Pahom, pada akhirnya manusia akan kehilangan semua yang ia miliki, menyisakan sesuatu yang paling ia butuhkan. Dan tanah yang dibutuhkan seorang manusia bukanlah beratus-ratus meter persegi atau berhektar-hektar luasnya, melainkan hanya cukup untuk kuburannya sendiri. Bahkan mungkin seorang manusia tak membutuhkan sepetak tanah pun, karena tak semua manusia dikuburkan di dalam tanah.

Dan melihat ke dalam cerita, selain memberi pesan moral yang baik, Tolstoy juga menyajikan cerita ini dengan sangat ringan, dan saya rasa buku ini tidak hanya cocok dijadikan teman membaca di tengah padatnya rutinitas, tetapi juga sebagai dongeng sebelum tidur bagi anak-anak.

 

Jakarta, 15 Juli 2020

Halimah Banani, anggota Lokit yang paling doyan rebahan dan camilin mi rebus pedas atau nasi goreng telur saat lewat tengah malam.

 

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

2+
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close