CerbungSastra

Cerita Lalu (Part 1)

Cerita Lalu (Part 1)

Oleh : Nur Khotimah

“Heran, ya, anak kecil kok mainannya kucing, pantas kulitnya gudikan, kena kutu kucing itu ….” Lik[1] Mur membuka percakapan sambil terus memilih sayur-mayur dagangan Kang Parmin. Di sebelahnya, Yu Darmi yang juga sedang sibuk memilih tomat hanya menatapnya sebentar kemudian kembali memilih sayuran. Kang Parmin, si pemilik gerobak sayur pun diam tidak menimpali barang sekata pun.

“Biarpun cantik, putih, kalau gudikan juga mana ada, ya, laki-laki yang mau?” Masih tidak ada yang menyahut, baik Yu Darmi maupun Kang Parmin. Mereka sudah paham siapa yang dimaksud oleh Lik Mur. Bahkan mungkin orang sekampung pun tahu. Lik Mur sedang membicarakan siapa. Siapa lagi kalau bukan aku dan adikku, Tias.

Saat itu aku hanya bocah kampung polos yang tak mengerti apa-apa. Namun, tidak terlalu bodoh untuk tahu kalau Lik Mur tak menyukaiku, bukan hanya aku tapi juga keluargaku. Seingatku, belum pernah ia bersikap baik pada kami. Aku selalu berpikir apa salah kami sampai Lik Mur sebegitu bencinya.

Lik Mur usianya sepantaran ibuku. Kakak kelas Ibu katanya, berarti paling selisih usia setahun-dua tahun. Cantik, tinggi, berkulit kuning langsat, dan memiliki rambut yang indah. Sayang, kecantikannya tertutup oleh sikap judesnya.

Rumah kami bersebelahan, hanya terpisahkan pekarangan seluas 9 x 3 meter milik Lik Mur. Kami bersebelahan, tetapi seperti jauh. Jangankan bertukar lauk yang kami masak, bertegur sapa pun tak pernah. Bukan kami tak mau, pernah aku menyapanya, saat itu Lik Mur sedang menjemur pakaian dan aku berbasa-basi menyapanya. Tapi apa yang kudapat? Lik Mur melotot, kedua biji matanya seperti mau lompat keluar. Aku takut, berlari mengadu kepada Ibu.

“Sudah, ndak papa … lupain aja ya Enduk, mungkin Lik Mur terganggu sama kamu, jangan lagi-lagi ya, Enduk!” Ibu menghiburku. Sejak saat itu Aku tak pernah lagi berani menyapa Lik Mur.

***

Pagi itu, seperti pagi biasanya, Ibu memasak di dapur dibantu Tias. Aku sibuk dengan cucian di sumur belakang rumah. Bapak sudah pergi meladang sedari subuh tadi, sedangkan si bungsu Taufan asyik bermain bersama teman-temannya di pekarangan samping.

Semua sibuk, asyik masyuk dengan kegiatan masing-masing. Ketika tiba-tiba terdengar jeritan tangis Taufan, semua beranjak. Betapa kagetnya kami, bocah tiga tahun itu berlari pulang diiringi tangis kesakitan sembari memegang kepalanya. Darah mengalir dari pelipis kirinya, turun melalui ujung mata hingga ke pipi dan berceceran di sepanjang jalan yang dilaluinya. Ibu menjerit, berlari memeluknya.

“Taufan, kepalanya kenapa? Diapain sama siapa?” tanya Ibu dengan suara bergetar.

“Sama Danang, Bu … aku dilempar pakai batu … aku ndak boleh main di kebonnya.”

“Ya sudah, sekarang kita ke Mantri Sugeng, yuk! Biar lukanya diobati, ndak papa, nanti sembuh, Le.”

Ibu bergegas ke dalam mengambil kain jarik, disekanya darah yang membasahi pipi Taufan, dan dengan kain jarik yang penuh darah itu juga Ibu menggendong Taufan.

Aku ikut Ibu, sedangkan Tias tetap di rumah, jaga-jaga kalau Bapak pulang dan tidak menemukan kami, agar beliau tak khawatir.

Aku sudah dua belas tahun saat itu, sudah mulai bisa memahami perasaan ibuku. Aku tahu, dalam diamnya tersimpan kemarahan, tapi tak mau ia tunjukkan kepada anak-anaknya. Sepanjang jalan Ibu diam, tapi wajah Ibu merah dan aku melihat genangan di matanya.

Kata Mantri Sugeng adikku tidak apa-apa, mungkin agar Kaisah—ibuku—tidak khawatir, karena pada kenyataannya Taufan mendapat delapan jahitan. Bagaimana bisa dibilang tidak apa-apa? Setelah Mantri Sugeng memberikan obat, kami segera bergegas.

“Bu, apa Ibu masih tetap diam aja, Bu? Danang sudah keterlaluan Bu … perlu dikasih pelajaran,” tanyaku di dalam perjalanan pulang. “Mau sampai kapan kita diam dengan perlakuan Lik Mur dan anak-anaknya?”

“Sudahlah, Enduk, biar gusti Allah saja yang balas,” jawab Ibu sedih. Aku tahu ia marah, tapi kenapa seperti nrimo[2] aja. Aku semakin kesal pada Lik Mur dan anaknya, juga pada Ibu.

“Selama ini aku nurut sama Ibu, tetap diam mau seperti apa pun perlakuan Lik Mur kepada kita, tapi sekarang sudah keterlaluan, Bu …. Sebenarnya Ibu punya salah apa sih sama Lik Mur? Sampai Ibu tetap diam disindir-sindir ndak jelas, keluarga kita dibedakan, saat Lik Mur punya acara semua tetangga diundang ke rumahnya kecuali kita, ada apa sebenarnya Bu?”

Bersambung ✍✍

Cikarang, 6 Juli 2020

[1] Lik = tante / bibi

[2] Nrimo = pasrah

Nur Khotimah, seorang ibu rumah tangga biasa yang ingin menjadi luar biasa. Pencinta biru dongker, senang mencoba hal baru dan suka tantangan. Humoris dan apa adanya. Untuk lebih mengenalnya bisa add FB Nur Khotimah.

Editor : Fitri Fatimah

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata.

1+
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close