CerpenPilihan EditorSastra

Udang Saus Tauco Mertua

Udang Saus Tauco Mertua
Oleh : Freky Mudjiono

“Begini caranya. Kak Entin ikutin, ya?” Adik iparku menyalakan api kompor dan mulai memasak.

Melalui video call dengan adik iparku yang berada jauh di seberang pulau aku menyimak dengan seksama. Di layar yang ukurannya tidak terlalu lebar, gerakan yang tengah kuperhatikan tidak terlihat terlalu terang, mungkin masalah sinyal atau resolusi ponselku yang tidak memadai.

Namun, hal itu bukan masalah sama sekali, sebelumnya, ia telah memberikan catatan resep rahasia mamanya–ibu mertuaku. Jadi, aku tinggal mengira-ngira, bahan apa saja yang dimasukkan ke wajan. Ditambah lagi dengan kesabaran saudara bungsu suamiku itu menjelaskan tiap tahapan.

Aku tidak peduli berapa jumlah kuota internet yang biasa kuhemat telah tersedot. Yang jelas, tidak lebih mahal dari harga udang berukuran besar yang harganya menyamai sekilo daging. Toh, ini hanya sesekali. Yang terpenting, aku harus berusaha sebaik mungkin, menyiapkan masakan kesukaan suami tercinta.

Ah, seharusnya hal ini kulakukan sejak dulu. Aku memang bodoh, bagaimana bisa tidak peka dengan seleranya, padahal selama ini ia seringkali memberi pertanda.

“Tidak ada anak-anak di rumah ini. Jangan selalu masak makanan manis dan hambar lah.” Beberapa kali ia mengucapkan hal itu, tidak persis sama, tapi paling tidak memiliki maksud yang sama. Saat itu aku selalu menyanggah dalam hati. Memang kenapa, bila enam tahun menikah tidak kunjung ada anak yang harus kujaga makanannya? Apa hanya anak-anak yang tidak suka pedas? Aku sendiri merasa makanan yang kumasak sangat enak.

Beberapa jam aku berkutat di dapur, ragam hidangan berhasil tersaji di meja makan. Jenis makanan yang bercita rasa gurih dan pedas seperti yang sering kami cicipi tatkala pulang ke kampung halaman suamiku. Makanan yang dengan mencicipi kuahnya sedikit saja telah membuat lidahku terbakar.

Kini tinggal menunggu ia pulang dari kantor. Jantungku berdebar kencang, di hari ulang tahunnya ini, aku ingin sekali memberikan kejutan. Udang saus tauco bertabur irisan cabe hijau khas Medan, menjadi bintang makan malam kali ini. Suamiku pasti akan menyukainya. Benar, bukan?

Ia pasti tidak akan lagi mengeluh menyesal telah memperistri diriku. Aku bahkan bisa membayangkan senyum lebar yang akhir-akhir ini menghilang dari wajahnya, kembali hadir. Ia akan merengkuhku, lalu ….

Ketukan dan ucapan salam di pintu depan membuyarkan khayalan mesra yang kurangkai. Itu pasti dia! Dalam balutan daster terbaik, aku bergegas menjawab salam dan membuka pintu.

Seperti biasa, wajah lelah suamiku tersuguh saat pintu kubuka. Ia melangkah masuk melewatiku yang masih berdiri dengan senyuman.

“Mas, mau makan dulu?” tawarku sambil mengekor dibelakangnya.

Suamiku hanya melirik sekilas. “Nanti,” jawabnya singkat.

Hmm … apa setelah mandi saja?” Aku mencoba bernegoisasi. Bagaimanapun, kejutanku akan terasa romantis bila kami duduk di meja makan. Tidak sabar rasanya membuka tudung saji dan berkata, Taraaa … selamat ulang tahun, Sayang!

Aku capek, Dek!”

Bentakannya membuat senyumku menghilang seketika. Suamiku berlalu ke kamar, tidak lama kemudian keluar setelah berganti pakaian. Tanpa berkata apapun, ia melangkah melewatiku yang masih berdiri di tempat yang sama.

Sejenak kemudian, barulah aku tersadar. Tidak ingin kehilangan kesempatan, aku mendekat dan duduk di sampingnya yang telah merebahkan diri di karpet tipis yang terbentang di depan televisi.

“Mas, nanti perutnya sakit. Makan dulu, yuk,” bujukku.

Ia hanya mendehem dengan tatapan sama sekali tidak beranjak dari acara yang tengah disiarkan stasiun televisi swasta.

Aku sedikit bingung menafsirkan deheman-nya. Apakah itu artinya ia setuju atau menyanggah?

“Mas … makan?” Kucoba memastikan.

“Cerewet! Makan saja duluan. Nanti kalo lapar kan aku bisa ambil sendiri. Biasanya juga begitu,” ujarnya sinis, kemudian membesarkan volume suara televisi.

Aku hanya bisa terdiam, menahan sesak di dada. Dari samping, kutatap dalam-dalam wajah suamiku yang datar tanpa dihiasi senyuman yang kudambakan sedari tadi. Debar di dadaku memudar dan menghilang dalam rutinitas yang kembali berlangsung, seperti yang sudah-sudah.

Dalam kebisuan, kata-kata Adik Iparku kembali terngiang.

“Kak, kata Mama, yang terpenting dalam memasak itu, rasa asin, manis dan gurihnya harus seimbang. Jadi ada variasi, gak hambar.”

Aku menghela napas. Haruskah kutanyakan pada adik Suamiku itu, bagaimana membumbui hubungan yang terlanjur hambar?

Udang saus tauco yang kumasak, masih tertutup rapi oleh tudung saji.(*)

 

Medan, Juni 2020

Freky Mudjiono. Penulis bernama sedikit maskulin ini adalah seorang wanita kelahiran tahun 1980. Ia mulai serius menekuni hobinya di literasi pada pertengahan tahun 2019. Memiliki keinginan untuk tampil keren dengan meninggalkan jejak kehidupan melalui dunia literasi.
Facebook: Freky Mudjiono

 

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

1+
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close