CerpenPilihan EditorSastra

The Shadow

The Shadow
Oleh : Karna Jaya Tarigan

Adalah Jumat tengah malam kemarin, ketika aku menyadari bayangan tubuhku telah menghilang saat aku hendak berkemih dan berjalan menuju kamar mandi. Di bawah siraman sinar lampu fluorense yang menyilaukan, ia tidak ada lagi.

Aku mengucek-ngucek mata untuk memastikan, apakah penglihatanku salah? Ya, benar ia menghilang dan kini aku serupa hantu yang–kata orang–tidak memiliki bayangan tubuhnya sendiri. Dengan rasa takjub, juga sekaligus rasa bingung, aku bertanya kepada diriku sendiri, mengapa bayanganku bisa menghilang? Apa kata orang jika kebetulan menemukan aku yang sedang berdiri atau berjalan namun tidak ada bayangan tubuh yang mengiringi? Mungkin fenomena ini akan segera mengubahku, dari seorang mahasiswa pemalas yang lebih banyak bersantai dan tiba-tiba menjelma menjadi seorang artis YouTube dadakan yang sibuk dan memiliki jutaan pengikut. Ah, menyenangkan juga, aku tidak perlu bekerja keras mengeluarkan banyak pikiran dan tenaga, dan uang akan datang sendiri. Namun aku berpikir lagi, jika aku sedang sial, ilmuwan-ilmuwan terpandai sejagat akan mengurungku seperti kelinci percobaan di dalam sebuah ruang kaca yang tebal dan tembus pandang di satu laboratorium canggih untuk mempelajari fenomena ini. Dan kemudian aku berimajinasi, barangkali setelah berbagai macam percobaan-percobaan ilmiah yang gagal untuk menuntaskan misteri ini, akan terjadi sebuah ledakan hebat di dalam laboratorium dan kemudian menciptakan sebuah keajaiban: tiba-tiba aku menjadi seorang tokoh superhero yang biasanya ada di komik-komik Marvel.

Wow!

***

Lalu di keesokan paginya, sesosok bayangan sedang duduk sambil membuka laptop milikku. Jari-jemarinya yang bergerak lamban terlihat seperti jari-jemariku yang sedang memencet-mencet tombol-tombol papan ketik dengan kaku. Ia berhenti sebentar untuk membakar sebatang rokok, mengisapnya, lalu mengembuskan asapnya dengan santai. Bayangan itu terlihat sedang berpikir keras untuk menuangkan isi kepalanya.

“Duduk dan santai aja, Bro. Biar aku yang mengerjakan semuanya. Biasanya di jam segini kamu kan belum bangun dari tidurmu yang nyenyak.” Tiba-tiba ia menoleh ke arahku. Lho, ia bahkan mampu berbicara meski tidak memiliki mulut.

“Siapa kau?” aku bertanya dengan rasa takut sebab mengira ia adalah sesosok hantu.

“Hahahaha …,” ia tertawa geli hingga tubuhnya yang ringan tanpa berat terguncang-guncang hebat.

“Aku adalah bayanganmu. Aku adalah kamu,” ia menjawab pertanyaanku dengan serius.

“Semalam kamu bingung kan, melihat aku menghilang?” Kali ini ia yang balik bertanya.

Aku hanya terbengong-bengong melihat keajaiban tersebut, bagaimana tidak aneh jika seorang mahluk hidup seperti aku, berbincang-bincang dengan sesosok bayangan, apalagi ia mampu berbicara tanpa memperlihatkan mimik wajah dan ekspresi? Dan yang lebih menyebalkan lagi, tanpa mimik wajah tentu saja akan sangat sulit menebak-nebak dan mengira-ngira bagaimana jalan pikirannya. Pun aku masih takut kepadanya.

Kemudian obrolan yang canggung itu berubah menjadi lebih cair. Ia adalah aku dan tentu saja ia pasti mengetahui semuanya tentang aku dan pikiran-pikiranku yang seutuhnya. Ia mengetahui apa saja topik yang aku anggap menarik dan menyenangkan untuk dibahas, dan topik lain yang menyebalkan buatku. Tapi tidak mengherankan bila ia mengetahui semuanya, bagaimanapun juga ia berasal dari satu asal muasal yang sama, yaitu aku.

***

Dalam beberapa minggu ini dengan cepat kami menjadi akrab. Ia sungguh pandai menempatkan diri, ringan tangan dan mau mengerjakan pekerjaan rumah tanpa diminta. Bukankah itu sangat menyenangkan? Apalagi aku juga tidak perlu mengeluarkan uang atau memberi sesuatu untuk membalas jasanya sebab bayangan tidak pernah makan dan minum; tidak pernah merasa lapar dan haus, dan tidak pernah buang air besar dan buang air kecil.

Satu-satunya yang ia inginkan hanyalah mengisap sebatang rokok. Itu pun jika kebetulan aku memiliki sebungkus rokok dan kami berbagi bersama. Namun jika tidak ada sebatang rokok pun untuk diisap, kami hanya diam saling menatap dan sesekali memonyongkan bibir (sayang sekali ia tidak memiliki wajah jadi kalian tidak bisa melihat jelas).

Pernah sekali aku bertanya kepadanya:

“Hei, kamu kan bayangan. Kamu pasti bisa mencuri sebungkus rokok di toko swalayan tanpa ketahuan kamera pengintai. Toh, tak ada yang dapat mengenali wajahmu ….”

Ia tertawa dengan tawanya yang aneh, sekali lagi, hanya suaranya saja yang terdengar.

“Kamu ingin melihat orang lain lari ketakutan melihat sebungkus rokok melayang-layang sendirian di pinggir jalan?” Ia malah balik bertanya.

Aku tersenyum, membayangkan apa yang akan terjadi bila ia benar-benar melakukan itu. Betapa bodohnya aku melemparkan pertanyaan yang sangat konyol, dan sangat menggampangkan akan sesuatu.

***

Si bayangan tersebut telah beberapa hari ini menghilang. Entah apa sebabnya, mungkin ia sedang “ngambek” gara-gara pertanyaanku kemarin. Dari tadi pagi ia tidak terlihat dan kemudian aku berusaha mencarinya di dalam lemari baju, kolong tempat tidur, laci nakas, dan benda apa saja yang memiliki ruang. Barangkali saja ia tengah bersembunyi dengan melipat atau menekuk tubuhnya. Bagi sesosok bayangan bukankah betapa mudahnya ia melakukan itu, namun hingga lewat tiga hari ia tidak kunjung pulang. Sebenarnya ada rasa kehilangan juga, aku memang mulai menganggapnya sebagai seorang teman. Jangan-jangan ia mengikuti saranku, menjadi pencuri betulan. Lalu tebersit juga dalam pikiranku bahwa ia akan menjadi seorang pencuri hebat dengan kemampuannya.

Astaga!

Tepat hari keempat saat waktu hampir melewati tengah malam, tiba-tiba ia datang dan langsung menaruh pantatnya di bangku tanpa suara atau sapa. Tentu saja aku yang telah menganggap ia seorang teman betulan, langsung menghujani beberapa pertanyaan kepadanya, sebagai tanda peduli: “Ke mana saja kamu? Kenapa tidak berpamitan? Aku takut nanti kamu akan menakut-nakuti orang dengan keberadaanmu yang serupa lelembut!”

Ia mengangkat bahunya dan diam tanpa suara. Lima belas menit yang hening berlari begitu cepat dan meninggalkan banyak pertanyaan dalam hati, Apa yang terjadi? Lalu aku memencet tombol pemutar musik untuk mengusir kebosanan. Lagu demi lagu berlalu namun ia tetap memilih diam, dan akhirnya aku lebih memilih bersikap masa bodoh. Toh, ia bukan seorang anak kecil lagi.

Saat sore hari menjelang Maghrib barulah ia mau bicara, itu pun pembicaraan yang lebih banyak jedanya. Ia bilang, ia ingin merasakan pacaran; ingin merasakan ciuman, dan ingin tahu bagaimana rasanya jatuh cinta. Aku mulai berpikir, mengapa keinginannya mulai aneh-aneh, seperti keinginannya yang diomongkan kemarin: ingin naik bus kota keliling kota, ikut salat Jumat, dan mengendarai becak. Kali ini aku bersikap serius dan tidak mau tertawa seperti kemarin, saat menanggapi keinginannya. Tidak mungkin juga aku membiarkan kehebohan-kehebohan yang akan terjadi bila ia melakukan itu!

Bagaimana, ya? Jelas aku bingung dan hati kecilku pun juga bertanya: Ia ingin punya kekasih, tapi apa ada seorang perempuan sungguhan yang akan jatuh hati padanya? Ia ingin jatuh cinta, tetapi ia bahkan tidak punya jantung yang membuatnya merasa berdebar-debar. Bahkan ia juga ingin merasakan ciuman, lho, aku saja yang temannya tidak pernah melihat di mana letak bibirnya berada ….

Dan akhirnya aku tidak dapat menahan ketawa lagi. Apa yang dikatakannya sangatlah lucu. Aku tertawa dan terus tertawa hingga suaranya yang berat dan serak muncul dari arah kepalanya dan menghentikan ketawaku seketika.

“Kamu bisa jatuh cinta kepada kekasihmu. Kamu juga dengan rakus menciumi dan mengulum bibir perempuan itu, bahkan kamu juga dengan tidak tahu malu membiarkan aku melihat kamu dan kekasihmu telanjang di dalam kamar. Memangnya aku pernah protes? Bukankah selama ini kamu juga menganggapku tidak pernah ada?”

“Memangnya aku pernah menghentikan kelakuanmu yang gila-gilaan?”

“Aku cuma bisa mengintip dari balik lemari. Aku juga pingin kali ….”

Mulutnya terus “menyerocos” tanpa henti seperti seorang anak kecil yang sedang bicara tentang ketidakadilan kepada ayahnya.

Aku diam. Kali ini tidak ada lagi perdebatan yang bisa diteruskan. Makin lama ucapan dia semakin tidak masuk akal. Hanya diam yang mampu menghentikan ocehannya.

***

Baru saja aku tenggelam dalam tidur dan menikmati mimpi yang indah, sedang menggumuli tubuh seorang perempuan, terdengar sebuah teriakan dari perempuan tetangga sebelah. Mbak Dira menggedor-gedor pintu kamarku. Ia terlihat ketakutan dengan napasnya yang “ngos-ngosan” dan tidak menyadari bahwa ia mengenakan baju tidur yang tipis yang memperlihatkan dengan jelas warna pakaian dalamnya.

“Tolong, Mas Nando, barusan ada seseorang yang menggerayangi tubuhku.”

Aku segera minta izin Mbak Dira untuk masuk dan memeriksa seisi ruangan tentu dengan penuh kewaspadaan, jangan sampai begundal itu lolos begitu saja. Kutelusuri seluruh ruangan, mulai ruang tamu, kamar tidur, pantry, hingga kamar mandi, dan aku memeriksanya dengan hati-hati. Aku juga memeriksa seluruh pengait jendela bahkan lubang kunci. Tak ada yang terlihat aneh dan semuanya tanpa kerusakan. Anak-anak kunci pun masih tergantung pada tempatnya dan berjumlah lengkap. Mbak Dira sendiri yang telah memastikan itu.

Aku menduga, mungkin pencuri yang sengaja masuk dan ingin mencuri benda-benda berharga itu, tak sengaja melihat tubuh mulus dan molek Mbak Dira, dan kemudian ia berubah pikiran. Pencuri itu ingin bersenang-senang sebentar dengan tubuh perempuan cantik itu atau barangkali juga ingin memerkosanya, namun sialnya ia keburu ketahuan, selain itu juga, menurut keterangan Mbak Dira bahwa tak ada barang-barang miliknya yang hilang dan laci-laci pada lemari masih terlihat rapi dan sama sekali tak ada yang menyentuhnya.

Astaga! Mungkinkah ia pelakunya?

 

Karna Jaya Tarigan, seorang penulis pemula, dapat dihubungi melalui karnajayakarta@gmail.com.

 

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

2+
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close