CerpenPilihan EditorTantangan Lokit 15

Karantina (Juara 2 TL15)

Karantina

Oleh : Halimah Banani

Juara 2 Tantangan Lokit 15 (tema: Karantina)

 

Aku memejamkan mata. Entah sudah berapa lama aku terkurung di tempat ini. Aku hanya tahu, rasanya sudah seperti ribuan tahun. Di sini tak ada Ibu, tak ada Ayah, tak ada Kak Ariel, terlebih tak ada Laila yang setiap malam akan datang ke kamarku, minta dibacakan buku dongeng sambil disugar rambut pendeknya agar tertidur, karena jika tidak demikian, dia tak akan bisa tidur.

Memikirkan Laila, adik manisku itu mungkin kesulitan tidur. Mungkin juga dia sempat jatuh sakit karena janjiku untuk mengajaknya membeli sepatu tidak tertepati. Dapat kubayangkan bagaimana setiap pulang sekolah dia akan berjongkok di depan toko sepatu, memandang sepatu merah jambu yang ditaksirnya itu sambil menunggu kedatanganku. Dan begitu sore tiba, dia akan pulang dengan wajah tertekuk dan muka memerah. Dia tak akan membeli sepatu itu meski sudah kukatakan kalau uangnya kusimpan di saku jaket kremku yang ada di lemari, kotak kedua dari atas. Aku mengenalnya. Dia akan mengingat kalimat “kita akan membeli sepatu bersama”. Dan tanpaku, dia tak akan membelinya.

Sebetulnya, sore itu, sepulang dari sekolah, aku berencana mengajak Laila membeli sepatu kesukaannya. Namun begitu sampai rumah, aku malah mendapati orang-orang ber-APD hendak membawaku setelah menyerahkan amplop berisi selembar kertas kepada Ayah yang menyatakan bahwa aku menderita penyakit berbahaya. Aku tidak ingat apa nama penyakit itu, yang aku ingat, salah satu dari mereka mengatakan jika aku harus segera diisolasi, agar tidak menularkan penyakit itu kepada yang lain.

Aku menolak. Ini tidak masuk akal! Bagaimana bisa? Selama ini aku baik-baik saja, dan tak sekali pun melakukan pemeriksaan ke klinik atau rumah sakit.

Ayah masuk ke kamarnya tanpa mengucapkan sepatah kata selagi Kak Ariel menyampaikan kepadaku kalau pengobatan itu lebih baik untukku, untuk kesehatanku. Sementara Ibu meremas rok hitamnya, mundur dua langkah. Ibu tampak seperti hendak dihampiri seekor harimau sekarat saat aku melangkah ke arahnya. Bisa saja harimau itu belum makan berhari-hari sehingga terlihat lemah tak berdaya, dan membiarkan harimau itu menghampirimu sama saja memberi hidupmu kepadanya, barangkali begitu yang terlintas di otak Ibu.

“Mengakhiri hidup tak pernah menjadi jalan yang akan mempertemukanmu dengan Tuhan.” Aku ingat kalimat itu, kalimat yang Ibu ucapkan ketika kami sedang mencuci pakaian di sungai pada satu pagi saat dia selesai menceritakan kisah Kakek yang mati dipatuk ular demi menjaga salatnya.

Aku ingin tetap tinggal, setidaknya sebentar lagi, menunggu Laila pulang dari surau dan mengajaknya membeli sepatu. Tetapi orang-orang ber-APD itu memaksaku untuk segera pergi.

Maka di sinilah aku berada. Di gedung 30 lantai ini. Di dalam gedung ini segalanya telah tersedia, seperti sekolah, kantor, klinik, minimarket, perpustakaan, bar, salon, bioskop, layaknya sebuah kota mini. Entah tempat penyembuhan macam apa ini. Mungkin tempat ini lebih cocok disebut penjara, karena semua jendela diberi terali besi, dengan kaca-kaca gelap yang membuatmu tak bisa memandang dunia luar.

Aku tinggal di kamar nomor 4012 bersama empat orang lainnya. Setiap kamar diisi oleh 5 orang. Bangun pukul 04.00, sarapan pukul 05.30, memulai aktivitas seperti sekolah, bekerja, dan lainnya pada pukul 06.00, makan siang pukul 12.00, memiliki waktu bebas mulai pukul 16.00 atau 15.30 pada hari Sabtu dan Minggu, makan malam pukul 20.00, dan istirahat mulai pukul 21.00. Semua dikerjakan secara sistematis, termasuk dalam berhubungan intim. Orang-orang yang sudah cukup umur akan dinikahkan dan tidur di kamar khusus pada waktu-waktu tertentu. Yang terakhir ini aku tahu dari Angelica, teman sekamarku.

Katanya, 48 hari 15 jam 32 menit sebelum kedatanganku, dia dipaksa menikah dengan seorang pria berkulit gelap. Angelica menolaknya dengan keras.

“Aku bukan membedakan RAS, hanya saja … kamu tahu sendiri, aku sudah bersuami,” jelasnya.

Aku mengangguk. Angelica memang ibu dari dua orang anak. Di nakas samping ranjangnya terdapat foto keluarganya. Foto liburan mereka di sebuah perkebunan anggur. Suaminya seorang pria berkulit gelap. Kedua anak mereka lebih mirip Angelica, berkulit putih, hidung sedang, mata sipit, hanya rambut keriting dan bibir tebalnya saja yang menurun dari ayahnya.

“Apa kamu menyukainya jika kamu seorang lajang?” tanyaku.

Angelica menatap foto keluarganya. “Pada saat bulan sabit dan lima hari sebelum purnama, pada saat itulah aku akan dibawa ke kamar khusus untuk tidur dengan pria itu, meski pernikahan tak pernah dilangsungkan. Kuakui, dia pria yang baik. Dia menolak untuk menyentuhku. Hanya saja, di setiap kamar khusus terdapat petugas yang mengawasi, memastikan kami menyelesaikan tugas dengan baik. Jika menolak atau tidak mematuhi aturan …,” Angelica menghela napas, “kamu tentu tahu sendiri risikonya.”

Aku kembali mengangguk. Di gedung ini tak banyak yang beruntung bisa hidup dengan satu-dua dari keluarga mereka. Meski begitu, sedikitnya aku bersyukur karena masih di bawah umur sehingga tidak harus mengalami hal seperti Angelica, terlebih seperti Lania—yang pasangannya memiliki penyimpangan seksual, seorang sadistis.

Aku masih belum memikirkan tentang pernikahan, bahkan tidak juga dengan berkencan. Meski di setiap sore, ketika aku duduk di bangku taman yang berada di lantai 23, menatap beberapa angsa yang berenang di danau buatan. Ya, danau buatan terdengar lebih baik untukku dibanding kolom renang. Di saat itu juga, setengah jam lebih lambat dari kedatanganku, seorang pemuda yang memperkenalkan dirinya dengan nama Zein akan datang, duduk di sampingku sambil memakan roti lapis dan menceritakan banyak hal. Misalnya bagaimana dia tumbuh tanpa orangtua, sudah pernah pergi ke negara mana saja dia, budaya-budaya di daerah atau negara lain, apa pekerjaannya, dan masih banyak lagi. Dia terus bercerita meski aku tak pernah meresponsnya sekali pun. Lantas, dia akan menutup ceritanya dengan berkata, “Mari kita menikah suatu hari nanti, Rum.”

Aku muak dengan kehidupan di gedung ini. Berkali-kali aku meminta izin untuk pulang, tetapi jawabannya selalu sama. Tak ada yang boleh meninggalkan gedung ini sebelum waktu yang ditentukan.

Terakhir yang dapat kuingat, mungkin lima atau enam pekan lalu, ketika Stephen berusaha kabur untuk ketiga kalinya dari tempat ini, pria berusia 54 tahun itu harus menyaksikan istrinya mati tertembak. Penembakan itu disiarkan langsung dan ditayangkan di seluruh televisi yang ada di setiap kamar di gedung ini.

“Bersabarlah, tidak lama lagi kau akan keluar dari tempat ini. Virus sudah dilepaskan sejak bulan lalu, hanya tinggal menunggu semuanya bersih dan menata ulang semua dari awal, kita akan kembali menghirup udara segar,” ucap Zein setelah menghabiskan sepotong roti isi dan meneguk air mineral.

Untuk pertama kali, setelah menghabiskan banyak sore bersama di tempat yang sama, aku menoleh ke arahnya. Pria berhidung mancung dan berkulit sawo matang itu tersenyum kepadaku.

“Anggap saja kita sedang berada di atas kapal Nuh, dan di luar sedang ada air bah. Setelah air bah surut, kapal akan berlabuh dengan sendirinya.” Zein berucap dengan tangan yang kadang merentang, kadang meliuk, kadang mengatup.

“Sejak delapan tahun terakhir pemerintah sudah menerapkan sistem seleksi untuk menentukan orang-orang terpilih yang akan meneruskan garis kehidupan. Begitu juga di beberapa negara lain. Perang memang dapat memangkas cukup banyak kehidupan, hanya … sayangnya tidak terseleksi, dan itu membutuhkan banyak tenaga dan waktu yang cukup lama. Lagi pula, untuk apa berperang jika bisa menciptakan dunia yang lebih tertata dengan cara yang lebih mudah, dan tentu telah disepakati bersama?” lanjutnya.

Pria ini sudah gila! Dia benar-benar tidak waras!

“Ayolah, jangan menatapku begitu! Anggap saja keluargamu mati syahid karena telah berkorban demi membantu menciptakan sebuah peradaban yang lebih baik. Bukankah kematian memang demikian, menghampiri siapa pun tanpa pandang bulu? Muda, tua, kaya, miskin, cantik, jelek, semua orang akan mati. Lagi pula, aku akan merawatmu. Kau tidak akan hidup seorang diri setelah keluar dari tempat ini.”

“Kalau begitu, untuk apa ada sistem seleksi?”

“Kau ada di sini, itu artinya kau tidak terlalu bodoh untuk memahami semua ucapanku, Rum.”

Percakapan sore di hari Selasa itu masih terngiang jelas. Dengan mata yang masih terpejam, aku membayangkan semuanya telah dibersihkan dan dibangun ulang dengan tatanan baru seperti yang diceritakan oleh Zein. Lalu sekelebat bayangan memenuhi otakku. Saat virus itu dilepas dan perlahan memakan korban, satu, dua, belasan, puluhan, ribuan, jutaan, memangkas hampir seluruh penduduk negeri ini, Ibu hanya bisa terbaring lemah setelah kehabisan tenaga mengurusi Ayah dan kedua saudaraku yang kemudian mati lebih dulu. Ibu akan berbaring sembari berharap Tuhan memberikan keajaiban. Namun, sampai malaikat maut menjemputnya, keajaiban tak juga datang, untuk siapa pun.

Kali ini aku tertawa memikirkan ketika virus itu menyerang keluargaku, bisa jadi mereka semua mengutukku. Membakar pakaian dan barang-barangku hingga tak lagi ada yang tersisa, bersumpah serapah karena aku telah menularkan penyakit mematikan itu kepada mereka. Dan itulah yang harus kutanggung di tempat ini. Menerima kebencian dan hidup dalam penyesalan karena menjadi satu-satunya—di keluargaku—yang selamat.

Akan tetapi, tak ada rencana yang benar-benar berjalan sempurna. Lima jam lalu alarm tanda bahaya berbunyi. Salah satu di antara penghuni gedung ini, katanya, telah menunjukkan tanda-tanda yang sama dengan orang-orang di luar sana. Semua orang panik, tenaga medis yang ada dikerahkan semaksimal mungkin. Kami semua diminta untuk tetap di kamar masing-masing sampai kondisi kembali stabil. Namun, hanya dalam waktu satu jam, sudah ada lebih dari dua puluh orang yang juga menunjukkan gejala serupa, dari penghuni kamar yang berbeda. Dan angka itu terus bertambah setiap jamnya.

Entahlah. Barangkali ini yang dimaksud Kakek dengan “sebuah mimpi dapat mengkhianati tuannya, sama seperti manusia yang mengkhianati tuhannya”.

Kakek pernah berkata, apa pun yang terjadi di dunia ini tak lepas dari kehendak Tuhan. Mungkin demikian juga dengan kematian Kakek. Tuhan telah menetapkannya untuk mati, terlepas dipatuk atau tidaknya oleh seekor ular. Kakek akan tetap mati. Di hari dan waktu yang sama. Dan dengan keyakinan sebesar itu, lantas Kakek memilih mati dalam keadaan menghadap Tuhan.

“Malaikat maut bisa menjelma menjadi apa saja saat menjemput orang-orang yang sudah waktunya mati.”

Sambil memikirkan semua ini, masih dengan mata terpejam, kalimat Ibu kembali terdengar di telingaku. “Mengakhiri hidup tak pernah menjadi jalan yang akan mempertemukanmu dengan Tuhan.”

Aku ingin bertahan hidup. Hanya … untuk siapa? Tidak ada Ibu, tidak ada Ayah, tidak ada Kak Ariel, terlebih tak ada Laila yang setiap malam akan datang ke kamarku, minta dibacakan buku dongeng sambil disugar rambut pendeknya agar tertidur. Aku tak ingin menghabiskan sisa umurku seperti ini, berpikir kalau mereka semua sudah mati. Dan bisa jadi, perasaan semacam ini juga yang muncul di benak Kakek sebelum mati. Bahwa kehilangan jauh lebih menyakitkan dibanding kematian itu sendiri.

Jadi, kupikir, hanya dengan cara mengurung diri di ruangan ini, menolak mendapat pengobatan, aku bisa menebus rasa bersalahku. Mungkin dalam wujud inilah malaikat maut datang menjemputku, itu pun jika Tuhan menetapkanku untuk mati di sini.(*)

 

Jakarta, 24 April 2020


Halimah Banani
, penulis asal Jakarta.

 

Komentar juri:

Kebaruan cerita (ide yang tidak pasaran) sudah menjadi ciri khas penulis satu ini. Dari karya-karyanya yang pernah saya baca, saya selalu dibuat kagum dengan kebaruan yang ia hadirkan. Begitu juga di cerpennya yang sekarang. Dengan mengusung ide yang mengacu kuat ke tema itu sendiri, makna “karantina” yang sesungguhnya, penulis memelintir balik apa yang saya pahami di awal. Bahwa tokoh yang menjalani proses karantina di cerita ini adalah orang-orang pilihan—mereka yang diselamatkan, bukan mereka yang sakit. Ia membalik klise secara 180 derajat. Justru, mereka yang tidak dikarantina, adalah mereka yang akan dimusnahkan oleh pemerintah mengingat jumlah manusia yang terus meningkat.

Mereka yang dikarantina ini pun diisolasi, dipantau, kemudian diarahkan untuk menuruti sistem yang pemerintah buat untuk menciptakan “dunia baru”.

Meski akhirnya perhitungan itu meleset, satu per satu dari orang-orang pilihan itu pun ikut terinfeksi dan mengalami sakit. Lalu di ending, penulis kembali mengentak pembaca dengan pergolakan batin yang tokoh rasakan. Kalaupun bisa, untuk siapa ia hidup?

Terakhir. Dengan gaya bercerita yang ringan dan luwes, cerpen ini begitu memikat. Setiap kalimat di cerita ini tak ubahnya benang yang saling mengait, saling melengkapi, dan menguatkan apa yang ingin penulis sampaikan kepada para pembaca. Keren.

-Triandira

 

Tantangan Lokit adalah perlombaan menulis cerpen yang diselenggarakn di grup KCLK.

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

0
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close