CerpenSastra

Lis dan Sepotong Kisah Klappertaart

Lis dan Sepotong Kisah Klappertaart

Oleh: Sekar Rahayu

 

Lis tersenyum tatkala melihat dua gadis kecil berlarian ke arahnya. Perempuan berusia enam puluhan itu segera menyisihkan rajutan di meja terdekat. Ia kemudian merentangkan kedua tangan, bersiap menyambut cucu-cucunya tersebut.

“Yeee! Aku menang!” Salah seorang cucu Lis yang berambut ikal tergerai menyeru.

“Siapa bilang? Aku pegang jarit Eyang lebih dulu.” Cucu Lis yang lain membalas, tak mau kalah.

“Tapi aku pegang tangan Eyang sebelum kamu pegang jarit.”

“Enggak. Aku pegang jarit lebih dulu, baru kamu pegang jarinya Eyang.”

“Sudah, sudah.” Lis menyela sebelum ada sahutan lagi. Ia merangkul cucu kembarnya tersebut. “Kalian sama-sama menang karena berhasil memegang Eyang.”

Lis mengangkat tangan kedua cucunya untuk menunjukkan kemenangan. Akan tetapi, sepertinya mereka belum puas. Itu terlihat dari bibir mungil si kembar yang mengerucut. Mereka pun tak mau saling memandang. Masing-masing hanya melirik dengan enggan.

Melihat hal itu, Lis menurunkan tangan cucu-cucunya. Ia tersenyum geli. Diusapnya rambut ikal bocah-bocah berumur enam tahun tersebut dengan penuh kasih.

“Udah, jangan marahan gitu. Kalau masih marah, Eyang enggak mau ngasih klappertaart. Biar Eyang makan sendiri.”

Mendengar itu, si kembar segera menatap Lis. Wajah mereka seperti terancam.

“Jangan, Eyang!” seru mereka bersamaan.

Lis tergelak hingga harus menutupi mulutnya. Sementara itu, si kembar saling pandang lalu tersipu.

“Aduh, gini, lho, cucu-cucunya Eyang yang pintar dan lucu. Kalau akur kayak gitu, Eyang makin semangat bikin klappertaart tiap hari. Nah, sekarang, ayo, kita ke dapur. Kita makan kue sama-sama.”

Lis bangkit dari kursi rotannya diiringi yel-yel si kembar yang kegirangan. Sesampainya di dapur, ia mengambil satu kotak kecil berisi klappertaart dari mesin pendingin.

Mata si kembar membulat ketika melihat satu kue bertabur keju dan kismis dipotong oleh sang nenek. Mereka bahkan bisa mencium aroma gurih bercampur manis dari kue tersebut. Hampir bersamaan bocah kembar itu menjilati bibir mungil mereka. Sepertinya mereka sudah tak sabar mencicipi si kue penggugah selera.

“Ini untuk Karina.” Lis meletakkan potongan pertama kepada satu bocah berambut ikal tanpa ikatan.

“Dan, ini untuk Kamila.” Kali ini, Lis memberikan satu potongan kue lainnya pada si bocah berambut ikal dengan ikat rambut kupu-kupu.

Lis tersenyum lebar ketika si kembar menerima klappertaart buatannya dengan antusias. Ia kemudian ikut duduk di kursi kayu, menemani cucu kembarnya menyantap hidangan istimewa.

“Eyang, kata Tante Erni, klappertaart buatan Eyang itu beda dari yang lain.” Karina memulai pembicaraan.

“Oh, ya?”

Karina mengangguk. “Kata Tante Erni, klappertaart buatan Eyang enggak ada yang nandingin. Rasanya beda dari yang pernah dibeli Tante Erni di toko kue lainnya.”

“Ho oh, Eyang.” Karmila menyahut. Ia telan sisa kue yang sedang dikunyahnya kemudian kembali berkata, “Tante Erni malah minta resep rahasianya sama Bunda. Terus Bunda bilang, ‘Rahasianya adalah cinta’, begitu.”

Alis Lis meninggi mendengar pernyataan Karmila. Bibir keriputnya menahan senyum geli.

“Emang, cinta itu apa, sih, Eyang?”

Pertanyaan Karina membuat Lis tak bisa lagi menahan tawa. Mata perempuan itu bahkan sampai berair. Sementara itu, si kembar bertatapan. Mereka mengedik sambil tetap mengunyah klappertaart dari piring masing-masing.

“Cinta itu seperti Ayah sama Bunda yang sayang sama kalian. Yang akan merawat dan melindungi kalian sampai besar nanti,” jawab Lis usai tawanya mereda. “Sama seperti ketika Eyang membuat klappertaart. Eyang membuatnya dengan kasih sayang agar hasilnya enak sampai akhir. Karena, yang dibuat dari hati, pasti akan membekas kepada penikmatnya.”

Sejenak saja, si kembar menghentikan kegiatan mengunyah mereka. Kening bocah-bocah itu mengerut, tetapi kemudian mereka manggut-manggut saja lalu meneruskan acara bersantap.

Lis tersenyum simpul. Ia amati si kembar yang masih asik dengan hidangan kesukaan keluarga.

Yang dibuat dari hati, pasti akan membekas kepada penikmatnya.

Pandangan Lis menerawang ketika kalimat itu terngiang-ngiang. Senyumnya memudar, berganti lengkungan getir. Pernyataan tadi bukanlah miliknya. Ia hanya menjiplak. Tentu saja, Lis masih ingat betul siapa yang menanamkan pernyataan itu untuk dijadikannya pedoman.

Adalah seorang pemuda yang dulu pernah singgah di kehidupan Lis. Pertemuan mereka merupakan hal yang tak mudah dilupakan.

Kala itu, Lis yang berusia dua belas tahun segera keluar dari rumah ketika mendengar seruan sang bapak. Memang merupakan hal yang biasa ketika bapaknya berteriak-teriak. Sunyoto—sang bapak—terkenal galak. Lelaki itu tak bisa berkata maupun bertindak halus.

Tetapi, hari itu Lis mendengar sumpah serapah yang lain dari biasanya. Sang bapak mengucapkan kata-kata dalam bahasa yang jarang Lis dengar.

“Gaweh! Gaweh!¹”

Lis mendekati sang bapak lalu berhenti sepuluh kaki dari beliau. Ia menyembunyikan diri pada satu pohon kelapa. Hati gadis itu sebenarnya menciut mendengar bentakan sang bapak, tetapi ia penasaran dengan apa yang terjadi. Terlebih, sang bapak menggunakan kata-kata asing.

Mata bening Lis menangkap sosok sang bapak yang berkacak pinggang. Badannya tegak seolah-olah menantang. Sunyoto memang terkenal pantang takut pada siapa pun, termasuk satu orang Belanda yang kini dihadapinya. Itulah yang membuatnya menjadi sosok paling disegani di seluruh kampung, bahkan oleh kepala desa lain sekalipun.

Lis mengamati orang Belanda itu. Seorang laki-laki, masih sangat muda. Postur tubuh yang tinggi dan berisi membuat Lis menduga jika pemuda itu berselisih usia enam atau tujuh tahun lebih tua darinya. Pemuda itu sesekali mengangguk-angguk, sesekali tersenyum sembari sedikit membungkuk. Pemuda itu juga tak lelah menangkupkan tangan di depan wajah.

Dasar penakut, batin Lis sembari tersenyum geli.

“Pergi kowe²! Kowe sudah masuk kebun saya tanpa izin! Kowe lancang! Gaweh!

“Maaf, maaf. Maafkan saya, Meneer³. Saya tidak tahu.” Si pemuda Belanda membalas dengan logat yang terdengar unik.

“Menar-menir, saya bukan menir! Saya Sunyoto!” Sunyoto menepuk-nepuk dadanya yang telanjang sampai terdengar bunyi darinya.

Lis membungkam mulutnya sendiri. Ia sungguh terhibur dengan pemandangan itu. Seorang Belanda yang kini ketakutan karena gertakan sang bapak membuatnya tak bisa menghentikan rasa menggelitik di perut. Dilihatnya sang bapak yang masih memaki sembari menunjuk-nunjuk si pemuda Belanda.

Tak berapa lama, seorang laki-laki lain datang. Langkahnya tampak tergesa. Ia segera menyebut nama sang bapak dan satu nama asing.

“Tuan Sunyoto, oh, maafkan Meneer saya,” kata laki-laki berkumis tipis tersebut. “Meneer Theodore pasti tidak sengaja memasuki kebun Tuan Sunyoto. Beliau baru tiba di sini kemarin pagi dan berniat jalan-jalan. Jadi, harap Tuan Sunyoto maklum.”

Selanjutnya, Lis tak begitu memperhatikan percakapan sang bapak dengan si laki-laki yang baru tiba. Pandangannya terpaku pada pemuda Belanda yang memergokinya. Mata Lis seakan ditarik untuk hanya menatap iris biru terang milik pemuda tersebut. Bahkan, tubuh gadis itu mendadak kaku ketika si pemuda menyunggingkan senyum.

Lis bukannya tak pernah melihat orang Belanda sebelumnya. Di desanya sendiri, ada satu keluarga Belanda yang menetap. Di sekolahnya pun, terdapat beberapa anak murid berdarah Belanda. Hanya saja, Lis merasa pemuda itu berbeda. Seperti ada sesuatu yang sangat menarik walau ia tak tahu apa. Mungkin karena mata pemuda itu terlalu indah. Mungkin juga senyumnya terlampau menawan. Atau ….

“Lis!”

Bentakan itu menyadarkan Lis dari lamunan. Gadis itu memegang batang kelapa semakin erat saat melihat sang bapak melotot ke arahnya.

“Masuk!”

Perintah itu segera dipatuhi oleh Lis. Buru-buru ia meninggalkan tempatnya. Tepat sebelum melewati pintu masuk, Lis memberanikan diri untuk menoleh. Tampak di matanya, si pemuda Belanda yang mencuri pandang sementara Sunyoto masih mengomel. Senyum samar ditorehkan Lis untuk pemuda tersebut.

Beberapa hari kemudian, pemuda Belanda itu datang lagi. Kali ini, ia membawa serta seorang Belanda lainnya, laki-laki paruh baya. Dengan menguping, Lis mendapat informasi bahwa laki-laki paruh baya itu adalah ayah si pemuda Belanda. Lis mengira mereka akan menuntut sang bapak karena telah memarahi si putra semata wayang. Tetapi, dugaan Lis meleset. Mereka datang untuk meminta maaf sekaligus menawarkan kesepakatan.

Rupanya, ayah si pemuda Belanda adalah pedagang dari Manado. Mereka pendatang yang tinggal di kampung tetangga. Memproduksi kue adalah usaha yang sedang digeluti. Mereka tertarik dengan kelapa-kelapa yang tumbuh subur di kebun Sunyoto. Itu adalah salah satu bahan dasar dari kue mereka.

Tetapi, Lis sudah mampu mengira jika sang bapak akan menolak kesepakatan itu. Sunyoto tidak menyukai orang-orang Belanda.

“Dua belas tahun berlalu sejak proklamasi dikumandangkan dan mereka tetap ingin menjajah kita? Setelah gagal melakukan agresi militer, mereka ingin menjajah dengan cara lain. Cuih!”

Lis yang saat itu sedang di kamar akhirnya terusik dengan percakapan sang orang tua. Malam itu, ia kembali menjalankan aksi mengupingnya.

“Tapi, Pak, tawaran mereka itu besar, lho. Itu kesempatan emas. Jarang ada pembeli yang menawar kelapa kita dengan harga segitu.”

Sunyoto berdecak. “Halah! Yang kamu pikirkan cuma uang saja. Apa kamu sudah lupa, berapa kawan Bapak yang gugur memerangi mereka? Berapa teman-teman bermain kita yang tak kembali dan tak jelas nasibnya hingga kini? Kamu lupa itu ulah siapa? Belum puas aku tadi mengusirnya pakai bahasa asalnya itu!”

“Pak, mbok, ya, ndak usah menanam benci. Untuk apa? Cuma menyakiti diri sendiri. Itu sudah menjadi masa lalu. Sejarah bukan untuk dikenang dendamnya, tapi untuk diambil nilai-nilai kemanusiaannya. Untuk mengoreksi diri kita juga. Lagi pula, bukan mereka yang harus kita musuhi sekarang, tapi ini.”

Lis tak tahu apa maksud sang ibu. Ia yang bersembunyi di balik lemari pemisah ruang tamu dengan ruang keluarga tak bisa melihat langsung. Ketika terdengar entakan kaki, Lis tahu bahwa sang bapak bangkit dari tempatnya. Gadis itu kembali ke kamar dengan hati-hati lalu menutup pintu. Samar-samar, ia mendengar sang bapak memberikan perintah untuk membuang tanda mata pemberian orang Belanda tadi. Lis menghela napas panjang.

***

“Theodore van Haart, panggil aku Theo.”

Lis spontan tersenyum saat si pemuda Belanda memperkenalkan diri. Ia bisa merasakan jantungnya berdegup kencang ketika menyambut tangan pucat si pemuda. “Lis,” jawabnya dengan nada halus.

“Aku baru tiba sekitar seminggu lalu dari Manado. Papa yang suruh. Papa bilang, toko kue di sini nanti buat aku jaga jika sudah maju.”

“Kamu lahir di Manado?”

Theodore menggeleng. “Nee,⁴” jawabnya. “Papa baru bawa aku sama Mama ke Manado waktu aku umur lima tahun. Usaha Papa diterima di sana. Papa ingin coba juga di Jawa.”

Lis mengangguk paham. Sekarang, ia tahu mengapa logat pemuda Belanda itu berbeda dari orang Belanda kebanyakan.

“Kue buatan papamu enak,” puji Lis kemudian.

“Kau sudah coba? Bagaimana?”

Lis mengangguk. Ia tak berbohong. Kala itu, sang ibu sengaja menyimpan sebagian kue pemberian ayah Theodore. Mereka penasaran atas makanan yang baru sekali itu dilihat. Terlebih, setelah ayah Theodore menjelaskan jika kue tersebut hanya dijual di kalangan tertentu saja.

“Ya. Gurih kelapanya terasa sekali. Tapi manisnya pun menonjol. Itu makanan yang membuatku ingin makan lagi dan lagi. Lalu, ada sesuatu di atasnya yang aku tidak tahu namanya, rasanya sedikit asin.”

Theodore tertawa bangga. Sejenak saja tawa itu mampu membuat Lis terpana. Beruntung sapaan dari seorang penggembala kambing menyadarkannya. Lis membalas sapaan penggembala tersebut dengan malu-malu.

Ja5, yang asin itu keju. Kue yang Papa kasih dulu namanya klappertaart, kue paling enak. Resepnya turun-temurun dari keluarga Opa di Nederland sana. Di Manado, klappertaart buatan Papa sudah terkenal di kalangan orang-orang pemerintahan.”

Lis mengangguk-angguk. Ada kagum yang menyelimuti benak. Lis berpikir jika keluarga Theodore pastilah bukan pedagang biasa.

“Kapan-kapan, aku akan mengajak Lis ke rumah. Di sana, kau bisa lihat bagaimana proses membuat kue, khususnya klappertaart.”

Mata bening Lis membulat setelah mendengar tawaran Theodore. Mulutnya sedikit menganga.

“Sungguh?” tanyanya tak percaya.

Ja, tentu. Aku janji. Papa tidak pernah marah tiap aku bawa teman ke rumah. Dia malah senang.”

Lis mengulas senyum lebar. Hatinya senang bukan main. Sore itu, pada perjumpaan tak sengajanya dengan Theodore di persimpangan kampung, Lis telah membuat satu ikatan baru dengan pemuda tersebut.

***

“Kau ingin tahu apa rahasia dari kue ini, Lis?”

Lis mengangguk malu untuk membalas pertanyaan Jansen, ayah Theodore. Siang itu adalah kunjungannya yang ke sekian di kediaman keluarga van Haart. Awalnya, Lis sangsi jika ia akan diterima dengan tangan terbuka, mengingat tetangga Belanda di desanya bahkan enggan menyapa kala berjumpa. Nyatanya, keluarga Theodore menyambutnya hangat. Bahkan, Jansen tak segan mengajari Lis untuk membuat kue.

Lis sendiri tak mengerti mengapa ia seperti ketagihan untuk bertandang. Ia memang tertarik dengan segala proses pembuatan kue di sana. Tetapi, gadis itu juga tak bisa memungkiri pesona Theodore sebagai alasan utamanya. Terlebih, hubungan mereka semakin dekat.

“Apa rahasianya?”

“Liefde6, Lis.

Jawaban Jansen membuat kening Lis mengerut.

“Cinta, Lis. Cinta. Yang dibuat dari hati, akan sampai kepada penikmatnya. Itu kata Papa dulu.” Theodore menerangkan ketika melihat wajah bingung si gadis.

Jawaban itu sepertinya tak memuaskan Lis. Ia belum paham. Melihat itu, Theodore mengajak Lis ke ruang produksi. Di sana hanya ada dua pegawai yang terlihat sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Dengan sabar, Theodore mengajari Lis membuat klappertaart, bagaimana menakar bahan-bahannya, bagaimana memperlakukan adonan yang benar hingga dipanggang. Bahkan, cara Theodore menaburkan keju membuat Lis tak bisa berkedip.

***

Lis tersentak ketika meja di depannya digebrak begitu keras. Sementara, ia sendiri seperti terpaku di tempat. Kepalanya ditundukkan dalam. Hatinya bergetar saat Sunyoto murka. Sang bapak akhirnya mencium kebohongan yang ia buat selama ini. Lis benar-benar ketakutan sekarang.

“Sejak kapan kamu menjadi pembohong seperti ini?”

Suara sang bapak yang dalam dan menekan seolah-olah mencengkeram tubuh kecil Lis. Di pikiran gadis itu, sang bapak semakin membesar, serupa butakala, sedangkan dirinya semakin menciut. Tubuh Lis bergetar.

“Sore itu, Wagiman bercerita di warung. Katanya dia sering melihat kamu bersama anak Belanda itu, bahkan main ke rumahnya. Edan!”

Kata terakhir sang bapak diiringi gebrakan lagi.

“Sekarang, orang-orang sekampung menganggap bapakmu ini sudah dikalahkan orang Belanda. Sungguh malu aku punya anak kayak kowe!”

“Sudahlah, Pak, sudah. Mbok, ya, jangan begitu sama anak sendiri. Lis juga sudah menjelaskan semuanya. Dia hanya belajar buat kue di sana. Apa salahnya?”

“Kamu juga, Bu. Pembelaanmu itu yang bikin Lis jadi begini. Kamu tak bisa menjaga anakmu sendiri. Dibilang mau main ke rumah Sari, manut. Alasan ke rumah Enggar buat belajar, manut. Padahal dia ke tempatnya orang Belanda itu.”

“Pak, orang-orang Belanda itu ndak ada salah sama kita. Sudahlah, Pak. Kenapa Bapak ndak bisa berdamai sama diri sendiri?”

Ndak bisa! Sampai kapan pun, Bapak tetap akan membenci mereka. Mereka mungkin tak lagi mengangkat senjata untuk membunuh kita, tetapi mereka melemahkan pikiran kita.”

Hening. Tak adanya sahutan dari sang ibu membuat jantung Lis berdebar keras. Telinganya bahkan ikut berdenyut-denyut. Ia remas rok wiru putih kesayangannya.

“Mulai hari ini, kamu harus tetap di rumah, Lis. Bapak yang akan mengawasi kamu. Kamu harus nurut apa kata Bapak jika masih ingin kuanggap anak.”

Lis menggigit bibir. Matanya dipejamkan untuk menahan panas yang tiba-tiba menyengat, tetapi akhirnya ia menyerah. Gadis itu tergugu-gugu di pangkuan sang ibu. Ia tak menyangka jika sang bapak akan memutuskan hal tersebut.  

Usai kejadian malam itu, Lis terpaksa mematuhi perintah sang bapak. Selama beberapa bulan ia tak pernah keluar rumah. Bahkan, untuk sekadar ke kebun belakang, ia harus dikawal Sunyoto sendiri. Selama itu pula, Lis menahan rasa penasaran akan Theodore. Sempat ia dengar kabar dari sang ibu jika pemuda itu mencarinya. Tetapi, tentu saja sang bapak tak mau menerima. Entah apa yang dikatakan Sunyoto hingga pemuda itu tak lagi datang.

Lis gelisah semenjak mengetahui hal tersebut. Ia mengira-ngira apa yang dipikirkan Theodore tentang dirinya, tentang bapaknya, dan tentang ikatan yang mereka sebut pertemanan. Lis merasa semuanya berlalu begitu cepat. Ia merindukan kebebasannya. Ia juga merindukan kebersamaannya dengan Theodore.

Suatu hari, Lis mendapat kabar mengejutkan. Sang bapak menjodohkannya dengan seorang lelaki. Bapak bilang, Ramlan—nama lelaki itu—akan mampu menjamin kehidupan Lis di masa mendatang. Sunyoto menganggap, pekerjaan Ramlan sebagai pegawai pemerintah lebih baik dari apa pun. Tentu saja, yang laki-laki itu maksud adalah soal tunjangan hari tua.

Lis tak bisa menerima, namun ia juga tak mampu menolak. Ketika itu, Lis baru menyadari tentang kehadiran Theodore dalam hidupnya.

“Menurut saja, ya, Lis. Menurut saja apa kata Bapak.”

Itulah satu-satunya jalan keluar yang diberikan sang ibu. Lis hanya bisa menangis. Ia bahkan baru tahu bagaimana perasaannya pada Theodore setelah sebuah surat diserahkan. Sekalipun dalam hati bergolak, Lis akhirnya pasrah. Gadis itu memilih melanjutkan kehidupannya sesuai arahan Sunyoto.

“Eyang!”

Lis terperanjat mendengar panggilan itu. Di hadapannya, si kembar mengikik geli. Mulut keduanya penuh dengan remahan kue.

“Eyang melamun!” seru si kembar.

Lis hanya tersenyum.

“Eh, pada kotor itu. Ayo, cuci tangan dan mulutnya.”

Sebelum Lis beranjak, si kembar segera menghambur dari meja. Mereka berlomba-lomba untuk mencuci tangan. Setelahnya, bocah-bocah itu berlarian ke depan, saling mendahului dan melempar candaan untuk menggoda. Lis menggeleng-geleng. Ia pun bangkit untuk membersihkan meja. Lis kemudian berniat melanjutkan rajutannya yang tertunda, tetapi ia teringat akan sesuatu. Ia pun berbelok menuju kamar. Dibukanya satu laci di dalam lemari pakaian. Ketika mendapati satu album berwarna cokelat tua di sana, Lis mengambilnya. Ia segera membuka halaman terakhir. Ada selembar kertas yang sangat usang. Tulisannya bahkan hampir tak terbaca, namun Lis sudah sangat hapal akan isinya. Lis tersenyum getir ketika kembali membaca surat tersebut.

Voor jou7, Lis,

Lis, ketika kau baca ini, mungkin aku sudah pergi dari Jawa. Papa bilang, ada kerusuhan di Manado. Aku belum tahu apa yang terjadi sebenarnya, tapi aku dengar Papa minta aku balik ke Nederland.

Lis, terima kasih sudah menjadi teman selama ini. Maaf jika aku pergi tanpa pamit. Tuan Sunyoto tidak memberiku izin jumpa. Sebagai tanda permintaan maaf, aku tinggalkan resep klappertaart keluargaku di sini. Jangan khawatir, Papa sudah kasih izin. Ingat, Lis, yang dibuat dari hati, akan sampai kepada penikmatnya. Jangan kau lupa resep rahasia itu.

Lis, aku harap kita bisa jadi teman selamanya.

Nee, Lis, sebenarnya, aku suka Lis lebih dari teman.

Aku menyukai Lis sejak kita pertama jumpa dulu.

Ik hou van je8

 Theodore

Lis membawa surat itu ke dadanya, memeluknya penuh cinta. Senyumnya merekah bersama air mata yang jatuh berderai.

Ik hou van je, Theo. Ik hou van je. (*)

 

Catatan:

1 Gaweh; maksudnya di sini adalah pelafalan Sunyoto dari Ga Weg (Belanda): pergi

2 Kowe (Jawa): kamu

3 Meneer (Belanda): Tuan

4 Nee (Belanda): tidak

5 Ja (Belanda): iya

6 Liefde (Belanda): Cinta

7 Voor jou (Belanda): teruntuk kamu

8 ik hou van je (Belanda): aku cinta kamu

 

Sekar Rahayu adalah nama pena penulis yang menyukai bunga. Saat ini sedang bersemangat belajar untuk membuat cerpen.

 

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

1+
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close