Cerpen

Aluna dan Askara

Aluna dan Askara
Oleh
: Dinni Alia

“ALUNA, BANGUN! SETENGAH TUJUH, LO ENGGAK SEKOLAH?”

Aku menggeliat di atas kasur. Suara menggelegar itu sungguh mengusikku dari alam mimpi. Aku mendongakkan kepala. Huh, ternyata si kakak menyebalkan, Askara. Meskipun lelaki dan umurnya terpaut enam tahun denganku, ia begitu bawel jika aku belum beranjak dari kasur kala matahari telah menampakkan sinarnya. Padahal, hari ini sekolah diliburkan.

Askara, kakak lelaki paling cerewet dan terajin yang kutahu. Wajahnya yang sangat mulus seperti tugas skripsinya itu, sudah sangat jelas menggambarkan dirinya yang apik. Berbeda dengan diriku ini. Kedua pipi yang dipenuhi bopeng serta jerawat, kulit gelap, ditambah pula rambut yang terbalut kerudung ini sering kusut sebab jarang disisir.

Aku bukan pemalas. Siang hari, aku menyapu rumah. Lalu petang tiba, aku mengupas dan mengiris bawang kala Ibu meninggalkan masakannya untuk menyambut Ayah yang baru pulang dari kantor. Setelah itu, semua penghuni rumah dilarang mengganggu ketenanganku. Sebab, aku akan rebahan dengan membaca novel fiksi.

“Aluna, kalau libur sekolah, cepat mengepel lantai kamar lo! Bau telur busuk, tahu, sebulan kagak dipel sama lo!” pekik Askara dari luar kamar.

“IYA, BERISIK!”

Aku beranjak dari kasur. Askara tidak akan membiarkan aku tenang sebelum aku bangun. Huh, menyebalkan sekali!

***

“ALUNA, BA—”

“LIBUR, BANG! BIARIN GUE TIDUR SIANGAN, SAMA IBU BOLEH. LO ENGGAK USAH NGATUR, SIANG NANTI GUE SAPU RUMAH!” teriakku kesal.

Hari Sabtu ini waktunya hibernasi, tetapi Askara kembali membuatku emosi.

“Aluna!” Askara menarik selimut yang membaluti tubuhku. Aku melotot marah. Segera saja aku berdiri, lalu menarik Askara keluar dari kamar kesayanganku.

Dengan berkacak pinggang, aku berseru, “Jangan ganggu gue! Pergi sana, enek gue punya abang macam lo!”

Aku berbalik. Setelahnya, terdengar bunyi pintu dibanting. Masa bodoh dengan sopan santun, aku tak peduli!

***

“Gue udah bangun. Tolong, jangan berisik ya, Abangku Sayang.”

Aku memasang wajah datar menatap sosok menyebalkan yang telah berdiri di depan pintu kamar. Sosok yang setiap pagi selalu siaga mengganggu kenyamananku bersama bantal serta selimut.

Ia menaikkan alisnya. “Tumben, Dik. Tapi bagus, deh. Tolong temani gue beli camilan di toko depan kompleks. Lo mandi dulu sana!” Askara melenggang begitu saja tanpa menunggu persetujuan dariku. Ah, dia memang semena-mena.

Aku memilih langsung menuju kamar Askara tanpa mandi ataupun mengganti baju tidur yang melekat di tubuhku. Biar saja, agar nanti Askara malu dengan penampilanku yang kusut, kemudian tak jadi minta antar ke toko. Ide bagus, bukan?

Aku menggedor-gedor pintu kamarnya. “WOI, AYO CEPAT!”

Wajah Askara muncul. Tangan kanannya sudah menggenggam sebuah dompet. Tak lupa, kaos hitam dan celana jeans selutut yang ia pakai. Matanya tampak menelisik penampilanku dari ujung kaki hingga ujung rambut.

“Kenapa? Jadi enggak?” tanyaku sewot.

Sialnya, ia malah tertawa lalu menjawab, “Ayo, Tuan Putri!” Kalau begini, sudah dipastikan aku akan malu.

***

Wajahku memerah, kesal bukan main. Tadi, di toko itu banyak sekali orang-orang yang menatapku heran sembari menahan tawa. Itu sangat memalukan! Huh, mana setan di sebelahku justru masih tertawa terbahak-bahak. Kejam!

“Berhenti ketawa, Askara! Sumpah, dongkol gue sama lo, Bang!”

Bukannya berhenti, ia malah melebarkan mulutnya seperti orang gila. Ingin rasanya mencekik orang ini, Tuhan! Aku jadi menyesali untuk tidak mandi terlebih dulu. Akhirnya, dengan segala rasa dongkol, kusenggol pelan bahunya ke arah jalan raya.

“EH, LUNA!”

Aku tertawa. Tubuhnya limbung meskipun aku menyenggolnya pelan. Mungkin itu dikarenakan ia menertawaiku. Rasakan itu! Aku tak berniat menolong Askara yang masih berusaha menegapkan tubuhnya yang telah sedikit melebihi bahu jalan. Bahkan camilan yang belum lama dibeli itu telah mendarat dan mencium bibir aspal. Dengan sikap masa bodoh, aku teruskan saja langkahku sembari bernyanyi pelan.

“ALUNAAA!”

Tidak diduga, mendadak ada mobil berjalan kencang dari arah belakang Askara dengan terus menekan klaksonnya. Tanpa bisa dihindari, Askara terpental hingga satu meter kala mobil itu terus melaju kencang dan menabraknya. Tampak banyak cairan berwarna merah di atas aspal, tepat di mana tubuh Askara mendarat. Tak lama, mendadak banyak orang mengerubunginya.

Tubuhku kaku, lidah ini kelu. Tadi itu … pemandangan apa? Keringat membajiri wajahku. Ini mimpi atau bukan?!

“ABANG!!”

Aku berlari menghampirinya dengan air mata yang tak dapat dibendung. Askara dalam bahaya. Askara sedang sakit. Askara tak lagi tertawa. Askara, mengapa begini?!

Aku berjongkok di hadapannya. Tubuhnya sangat tak berdaya dengan darah di mana-mana. Wajahnya terlihat menahan sakit, bukan menampakkan wajah yang tengil seperti biasanya. Dengan tangan yang bergemetar hebat, diangkat kepalanya menuju pahaku. Ya Tuhan, kepalanya terasa dingin.

Sejenak, aku menyesali telah melakukan perbuatan bodoh barusan. Kejadian yang berawal dari bercanda, tapi mengapa menjadi menyeramkan? Tuhan, tolong aku!

“Bang, lo enggak apa-apa?” lirihku dengan air mata yang tumpah dengan sendirinya.

Askara mengusap-usap pipiku, berusaha menghapus air mata yang terus merembas. “Gue baik-baik saja.” Ia menghela napas. “Gue mohon, lo juga harus baik-baik. Jangan sedih dan jangan lagi bangun siang. Lo harus lebih rajin supaya Ibu sama Ayah bangga. Oh iya, titip salam buat Ibu dan Ayah juga. Abang sayang sama Aluna, selalu.”

Aku histeris. “Ngomong apa sih, lo?! Jangan begini, Bang, lo kuat. Aluna janji akan menjadi lebih baik, bakal nurut. Tolong, Bang, jangan tinggalin Aluna sendiri.”

Askara hanya tersenyum kecil. “Janji, ya. Abang akan selalu ada, di hati kamu. Semangat, Aluna, cantiknya Abang.”

Askara menutup matanya perlahan-lahan. Aku tersedu-sedu. Aku kalap, mengguncangkan bahunya kencang. Namun apa daya, jantungnya tak lagi berdegup, hidungnya sudah tak lagi bekerja menghirup dan mengeluarkan udara, tubuhnya sangat kaku. Tersisa darah saja yang terus menampakkan diri.

“ASKARAAA!!!”

Aku sudah tak punya lagi teman berbagi keluh kesah, tak punya lagi pengingat, dan tak lagi ada seorang pemimpin. Hidupku hancur. Ibu dan Ayah di rumah? Mereka hanya mementingkan urusannya masing-masing.

Aku berusaha menarik sudut bibirku kuat-kuat. Aku harus menepati janji dan membahagiakan Askara dengan lebih rajin dan semangat menjalani hidup. Aku harus menjadi lebih baik. Demi Askara! Aku tidak akan membiarkan ia kecewa untuk kedua kalinya. Cukup semasa hidupnya, aku telah menyusahkan dia. Semangat, Aluna!

 

Dinni Dwi Alia Rahma, pelajar 14 tahun yang menetap di antara Karawang-Bekasi. Penyuka matematika, juga hobi membaca novel fiksi. Sapa ia lewat email: dinnidar@gmail.com.

 

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

2+
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close