Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/lokerkata/public_html/wp-content/plugins/jaw-customposts/jawcustomposts_templater.php on line 249
Of New Year Eve and Tales about Bond, Shooting Star, and Fireworks - Loker Kata
CerpenSastra

Of New Year Eve and Tales about Bond, Shooting Star, and Fireworks

Of New Year Eve and Tales about Bond, Shooting Star, and Fireworks

Oleh: Devin Elysia Dhywinanda

 

Jim paling suka dengan akhir Desember. Lampu-lampu perayaan di Jalan Oxford menyala hingga tanggal 6 Januari, begitu juga dengan Jalan Regent di mana terdapat toko mainan tertua di dunia, Hamley. Sehari sebelum Natal, biasanya Dad mengajak Jim ke sana, menanyakan mainan apa yang Jim inginkan dengan dalih akan disampaikan pada Sinterklas. Di rumah, Mom akan memasak roast turkey—ayam kalkun panggang—dan brussle sprouts—kentang rebus, wortel, serta kol kecil-kecil yang menjadi pelengkap roast turkey—untuk dihidangkan lantas dimakan pada malam Natal, bersama Sean dan keluarganya. Seminggu setelah itu adalah hari-hari yang sangat menyenangkan, sebab Jim dan Sean akan dibebaskan dari tugas apa pun; diajak ke tempat-menghibur di London; membeli berbagai perlengkapan untuk Tahun Baru. Lalu, datanglah Tahun Baru, dan mereka biasanya janjian untuk melihat kembang api di Jembatan Westminster: melihat London Eye dari kejauhan seraya menunggu dua belas dentang Big Ben.

Wajah setiap orang memerah dengan lembut, persis seperti bunga mekar di musim semi, dan tawa mereka seolah mencairkan es yang menutupi bangunan-bangunan putih. Ah, akhir Desember memang rangkaian hari penuh suka cita. Sungguh!

Akan tetapi, Jim dilanda kebingungan, sebab Mom serta Dad terlihat tidak bersemangat menyambut akhir Desember. Dad masih mengajaknya ke Hamley, begitu pula Mom yang memasak untuk keluarga mereka dengan keluarga Sean. Namun, wajah mereka mirip dengan langit musim dingin waktu itu. Wajah yang sedih. Wajah berduka cita, kata Mom saat menjelaskan ekspresi orang-orang dalam pemakaman Grandpa tiga bulan lalu.

Padahal, sebentar lagi perayaan tahun baru, tapi suasana masih saja muram. Jim jadi, berkeliling ke sana ke mari seperti bola pingpong, berpikir apakah ia telah membuat kesalahan hingga membuat suasana jadi sejelek itu. Wajah Mom dan Dad selalu jadi semerah daun maple di musim gugur ketika ia berbuat nakal. Tapi, ini bukan merah maple. Lebih ke … keadaan sebelum badai? Iya, seperti itu.

Aduh, mengerikan sekali membayangkannya.

Jadi, sehari sebelum Tahun Baru, Jim melompat ke sisi Mom, kemudian bertanya dengan nada pelan, “Seminggu ini, Mom dan Dad selalu saja kelihatan sedih. Ada apa? Jim berbuat nakal, ya? Kalau iya, maafkan Jim, ya … Jim berjanji akan jadi anak baik dan tidak melukai hati Mom atau Dad.”

Mom tersenyum sendu, lalu membelai rambut pirang Jim. “Tidak. Jim tidak salah. Mom dan Dad memang sedih, tapi bukan karena Jim.”

“Lalu, ada apa? Mungkin, Jim bisa membantu.”

Mom tersenyum lembut. Ia menerawang. “Ada bencana terjadi … di luar kota kita. Di luar pulau kita. Di luar benua kita. Bencana itu menewaskan banyak sekali orang. Anak-anak seumuran Jim. Mom dan Dad sedih karena membayangkan mereka sebagai Jim. Jim harusnya sekolah dan bahagia, dan bersenang-senang saat Tahun Baru, tapi tidak. Mereka menangis dan kedinginan semalaman.”

Mom terlihat semakin sedih, sedangkan Jim menjadi sedih karena melihat ekspresi Mom serta cerita tentang anak-anak seusianya yang menangis dan kedinginan di akhir Desember. Itu buruk. Buruk sekali! Sangat buruk, sampai-sampai Jim ingin membagikan roast turkey, brussle sprouts, dan hadiah yang ia dapatkan saat Natal.

Padahal, ia tidak mengenal anak-anak itu. Dan, anak-anak itu tentu juga tidak mengenal Jim. Akan tetapi, Jim merasa sedih dan ingin mereka juga merasakan keceriaan Natal, juga Tahun Baru. Ingin sekali.

*

Mom pernah bercerita—ketika ia telah selesai membacakan serial Narnia pada Jim—bahwa setiap orang di dunia ini terhubung dengan sebuah tali. Tali itu tembus pandang, tidak dapat dilihat, dan bentuknya pun sebenarnya tidak terlalu jelas. Meski begitu, Mom tetap menyebutnya tali.

“Tali ini,” kata Mom, “diciptakan ketika seseorang berada dalam kandungan ibunya. Ketika mereka masih menjadi janin. Pertama, tali tersebut akan terhubung dengan sang ibu, di mana benih pengetahuan pertama ditanamkan. Setelah lahir, tali ini putus, lalu berubah bentuk, menyembunyikan diri agar tidak dijadikan bahan cemoohan orang-orang, menjadi tembus pandang. Lalu, pelan tapi pasti, tali ini pun terhubung ke semua orang di dunia ini, persis seperti ketika berada dalam kandungan ibu.”

Jim diam lama, kemudian memperhatikan bintang-bintang dari balik jendela. Jim mengulang kisah Mom, membayangkan tali yang menghubungkan setiap orang di dunia ini—betapa banyak dan ruwetnya!—dan akhirnya menyerah. Ia bergulung dalam selimut, berkedip-kedip seperti anak rusa, lantas bertanya, “Tali itu menghubungkan setiap orang di dunia ini. Dunia ini milik Tuhan, jadi apa artinya tali itu juga menghubungkan kita dengan Tuhan?”

Mom tersenyum. “Iya. Karena tali itu pernah menghubungkan kita dengan ibu dalam rahimnya, berarti bisa juga diartikan bahwa kita juga berada dalam rahim Tuhan. Dan, karena tali itu menghubungkan perasaan setiap orang, maka, sering, kita dapat merasakan perasaan orang-orang di luar sana. Perasaan sedih. Perasaan bahagia.” Jim menguap lebar ketika Mom melanjutkan, “Karena itu, Tuhan juga dapat merasakan apa yang kita rasakan.”

Malam itu, Jim bermimpi terbelit tali yang menghubungkan dirinya dengan orang-orang.

Itu adalah cerita yang cukup membekas dalam pikiran Jim. Bahkan, ketika Mom menceritakan tentang bencana di luar benua mereka, bahwa ada tsunami—”Gelombang air yang sangat tinggi dan kuat, yang bahkan mampu membawa sebuah kapal ke pemukiman,” jelas Mom, membuat Jim bergidik—yang memorak-porandakan kehidupan banyak orang, banyak anak kecil, di sana. Dan, karena dampaknya sangat luas, tidak hanya Mom dan Dad yang berduka, tetapi seluruh dunia bersedih dibuatnya (“Apa wajah mereka seperti langit sebelum badai?” tanya Jim, yang dijawab Mom, “Iya, bahkan bisa jadi itu adalah wajah badai itu sendiri.”).

“Jim juga sedih.” Mom mencium pipi tembamnya, membiarkan anak laki-laki berumur sembilan tahun itu melingkar, memeluknya. “Jim mau melakukan sesuatu untuk mereka. Jim mau pergi ke sana kalau bisa, tapi Jim tidak mau melewatkan pesta kembang api di tepi Sungai Thames.”

Mom tergelak begitu mendengar pernyataan jujur Jim. Kemudian, ia mencium kening Jim, berkata, “Sebelum pergantian tahun dan kembang api dinyalakan, kita akan melakukan Keheningan Dua Menit[1]. Selama dua menit itu, seluruh warga London akan berdoa untuk mereka yang terkena tsunami. Doa juga bentuk hadiah. Jadi, Jim tetap bisa memberikan mereka hadiah meski tidak ke sana.”

Jim berbinar. Ia mengangguk bersemangat seraya menjawab, “Tentu! Tentu!”

*

Jim suka kembang api. Baginya, kembang api mirip dengan bintang jatuh. Hanya bedanya, kembang api bergerak dari bawah ke atas, sedangkan bintang jatuh sebaliknya. Tapi, itu bukan masalah besar, sebab Jim menganggap keduanya sama: sama-sama mengabulkan permohonan. Ah, dan ini juga bedanya: kembang api biasanya ada setiap akhir tahun, sedangkan bintang jatuh tidak tentu datangnya. Jadi, karena kembang api juga bisa mengabulkan permohonan dan sudah pasti kedatangannya, maka Jim lebih suka kembang api.

Oleh karena itu, pesta kembang api di tepi Sungai Thames dan Alun-alun Trafalgar adalah momen favorit yang tidak boleh ia tinggalkan, sebab ia dapat sepuasnya mengajukan permohonan pada Tuhan hingga pesta itu selesai dan langit London ganti berhiaskan bintang-bintang.

Malam itu pun, Jim, bersama (mungkin) warga London, berkumpul di setiap sisi Sungai Thames serta Alun-alun Trafalgar, menunggu datangnya Tahun Baru yang ditandai dengan dua belas dentang lonceng Big Ben. Kota gemerlapan, berkedip-kedip tanpa henti, dan orang-orang serupa semut yang mengerubungi lampu.

Jim senang, tentu saja. Begitulah Tahun Baru mestinya berjalan!

Namun, menjelang tengah malam, Keheningan Dua Menit datang. Keramaian berangsur-angsur senyap. Orang-orang menundukkan kepala, memandang kaki-kaki mereka.

Langit malam hitam. London berpendar sendu, entah kenapa.

Mom menangis. Jim berdiri tepat di sebelah Mom dan, meski Keheningan Dua Menit yang dimaksud tidak terlalu ia rasakan, Jim dapat mendengar isakannya yang mirip kicau sendu nightingale. Dad ada di sebelah kiri dan tampak lebih tenang ketika Jim meliriknya. Orang-orang berbisik dengan suara keras. Jim tidak tahu apakah itu karena jumlah mereka yang terlalu banyak, tetapi yang jelas, itu bukan Keheningan Dua Menit yang ia bayangkan. Kendati demikian, ia teringat perkataan Mom, ketika Grandma sama sekali tidak menangis dalam upacara pemakaman Grandpa di St. Mary’s Catholic Cemetery, bahwa setiap orang punya cara untuk mengekspresikan kesedihan, tidak melulu dengan menangis dan sebagainya.

Jim memejamkan mata. Ia membentuk tanda salib, kemudian menautkan jemari, berdoa. Awalnya, ia tidak tahu akan berdoa untuk siapa atau demi apa, tapi ia berpikir keras: ia bayangkan kalau suatu hari ia tidak lagi bisa bermain dengan Sean; tidak bisa makan roast turkey dan brussle sprouts Mom; tidak bisa pergi ke Jembatan Westminster untuk melihat perayaan tahun baru serta mendengarkan dentang lonceng Big Ben. Rasanya mengerikan sekali, dan Jim seketika bergidik. Udara lembap karena orang-orang berdesak-desakan, tetapi Jim dapat merasakan tangannya mendingin dan tubuhnya menggigil. Suara aliran Sungai Thames beradu dengan angin yang menyapa tiap kepala di Jembatan Westminster, dan Jim tiba-tiba membayangkan jika gelombang besar menghantam, menenggelamkan tanah London, membawa sebuah kapal ke Alun-alun Trafalgar.

Jim bergidik, dan ia seketika mendekat, menggenggam tangan Mom erat. Ia membayangkan London yang porak-poranda: Hamley yang hancur; lampu-lampu perayaan di Jalan Oxford yang padam; pohon natal yang tumbang. Ia membayangkan kisah tentang tali yang menghubungkannya dengan anak-anak di luar benua mereka, merasakan pahit cokelat asli di lidahnya, kemudian, tanpa ia sadari, ia menangis.

Dua menit berlalu, dan ia masih menangis.

Pesta kembang api terlambat beberapa detik. Jim menengadah. Melihat bintang jatuh yang jatuh (naik?) dari bawah. Keramaian di sekitarnya seketika menjadi amat sunyi. Membosankan. Seperti musim gugur yang kelabu. Dan, ia menggamit lengan Mom pelan, berkata dengan keras agar suaranya terdengar, “Mom, setelah pesta kembang apinya selesai, ayo kita pulang saja.”

Mom mengernyit. “Lho, kenapa? Bukankah Jim paling menantikan pesta kembang api ini?”

Jim bergerak tidak nyaman. Ia mengingat betapa bersemangatnya ia bila menyambut pesta kembang api, dan ia menggeleng lemah.

“Aku mau berdoa saja, seperti kata Mom. Aku ingin teman-temanku di seberang benua sana juga bisa menikmati kembang api seperti ini tahun depan. Jadi, aku akan berdoa agar mereka baik-baik saja … agar mereka selalu baik-baik saja, sehingga di mana pun tempatnya, kita bisa melihat kembang api yang sama.” (*)

 

Ponorogo, 26 Desember 2019

 

[1] Pada tahun baru 2005, warga London berkumpul bersama di tepian Sungai Thames dan di Trafalgar Square untuk melakukan kegiatan bergeming selama dua menit sebelum tengah malam, pada saat kembang api mencerahkan langit malam dan lonceng Big Ben berbunyi berulang-ulang. [voaindonesia.com]

 

Devin Elysia Dhywinanda merupakan gadis AB hasil hibridisasi dunia Wibu dan Koriya yang lahir di Ponorogo, 10 Agustus 2001.

0
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close