Cerpen Anak

Jimmy, dan Bumi yang Puluhan Purnama Tak Diturunkan Hujan

Jimmy, dan Bumi yang Puluhan Purnama Tak Diturunkan Hujan

Oleh : Evamuzy

 

Kamu kebingungan, teman-temanmu juga. Air sungai yang selalu menenggelamkan rumput-rumput liar yang tumbuh di dalamnya, sekarang tinggal kenangan. Surut, hampir habis, hingga kamu dan teman-temanmu lupa kapan terakhir kali bersenang-senang, berenang bebas dan makan. Di sungai, hanya tersisa aliran air selebar diameter slang penyemprot tanaman. Tanaman-tanaman pun riwayatnya tinggal sejarah.

Dasar sungai lapisan atas telah mengering, mirip bakal tembikar yang siap dibakar. Sementara dua sampai tiga sentimeter di bawahnya adalah lumpur hangat dengan sedikit sekali kandungan air. Di situlah tempat kamu dan teman-temanmu hidup. Bersembunyi dari tangan-tangan pemancing iseng atau yang sedang lapar asupan protein di tengah panasnya bumi. Ya, memang seharusnya kamu dan teman-temanmu juga sudah mati seperti yang lain–karena menelan umpan di kail pancing atau menjadi ikan kering yang terpanggang suhu hangat lumpur setiap hari. Namun, rupanya Sang Pemilik Semesta masih mempunyai belas kasihan. Kalian masih diberi napas, masih diberi roh, masih diberi kehidupan meski tempat hidup sudah tak layak lagi.

Kamu dan teman-temanmu tak lagi bisa bergerak bebas dan mudah. Seperti saat habitat kalian masih berupa genangan air tinggi–jernih maupun keruh–berisi gulma yang tumbuh subur, eceng gondok, mata lele, juga lumut-lumut hijau pekat yang merupakan makanan favoritmu. Sungguh memprihatinkan.

“Apa yang akan kita lakukan sekarang, Jimmy? Tempat tinggal kita sudah bukan lagi air, pun jarang sekali ada makanan di sini. Lama-lama kita bisa mati,” kata satu temanmu. Jumlah kalian lima ekor. Kamu dan empat temanmu, yang sekarang sibuk mengepak-ngepakan ekor, sirip dan insang untuk menemukan sedikit saja oksigen yang masuk–yang mungkin akan habis dua hari ke depan.

Kamu termenung, cukup lama, sampai akhirnya mengingat sesuatu. “Aku ingat, Teman-Teman. Sebelum Paman Muno terbawa kail pancing manusia, dia pernah bercerita kepadaku tentang sebuah tempat berisi air yang luasnya tiada batas. Di sana banyak sekali makhluk serupa kita, juga makanan yang sangat melimpah.” Untuk satu kelompok kecil yang tersisa ini, kamu adalah pemimpinnya, dan kamu jugalah yang teman-temanmu percayai sebagai penemu ide atau jalan keluar paling akurat.

“Benarkah itu, Jimmy? Artinya kita masih punya harapan hidup lebih lama dibanding orang tua kita yang telah mati?” tanya yang lainnya lagi. Kamu hanya mengangguk pasti, seperti ingin mentransfer kepada mereka harapan dan motivasi. Kamu dan teman-temanmu sudah tak lagi peduli dengan warna indah tubuh kalian yang kini berubah sewarna lumpur. Hitam dan tak cantik lagi. Sekarang yang terpenting bagi kalian dibandingkan keindahan tubuh, adalah air, kehidupan, dan makanan.

“Besok kita akan memulai perjalanan menuju tempat itu. Kita akan berenang di sepanjang aliran air yang tersisa di sungai ini. Tapi ingat, selama perjalanan, kita harus selalu hati-hati. Jangan pernah memakan sesuatu yang mencurigakan atau nasib kita akan berakhir di kail pancing seperti orang tua kita juga paman Muno. Kalian paham?”

“Siap, Jimmy!” jawab teman-temanmu serempak.

Esok pun tiba. Sesuai rencana, kamu dan teman-temanmu berangkat menuju tempat tujuan dengan berenang di sepanjang aliran sungai yang tersisa.

“Apakah perjalanan masih lama, Jimmy? Kami lelah, kami sudah sangat lemas.”

“Bertahanlah, Teman-Teman. Sebentar lagi kita sampai. Bertahanlah.” Kamu optimis, hidup lebih layak akan segera kalian temukan. Kamu ingin teman-temanmu juga meyakini itu.

Satu hari satu malam adalah waktu yang ditempuh. Kini, kamu dan teman-temanmu telah berada di tempat yang digadang-gadang ibaratkan surga. Jernih dan luas tanpa batas airnya, serta melimpah makanan di mana-mana. Namun ….

“Kamu pembual, Jimmy! Kamu penipu! Kamu telah membohongi kami. Menyesal aku ikut denganmu,” hardik satu temanmu saat kalian berjejer di depan tempat tujuan, yang kini nyatanya telah berubah menjadi gunung dan lautan sampah. Botol-botol besar berserakan, menumpuk di sepanjang pandangan kalian. Bungkus-bungkus apa yang entah tak kalian tahu, meninggi meluas di semua permukaan lautan. Dan entah, kamu pun tak sampai mengerti, tangan siapa yang melakukan ini? Atau apakah benar, paman Muno hanyalah seorang penipu? Seperti dirimu kini di mata teman-temanmu. (*)

 

Evamuzy. Penyuka warna cokelat muda, es krim rasa cokelat dan radio.

 

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

1+

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close