Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/lokerkata/public_html/wp-content/plugins/jaw-customposts/jawcustomposts_templater.php on line 249
Dua Jam Sebelum Matahari Tenggelam - Loker Kata - Top 22 T. Lokit 14
CerpenPilihan EditorTantangan Lokit 14

Dua Jam Sebelum Matahari Tenggelam

Dua Jam Sebelum Matahari Tenggelam 

Oleb: Uzwah Anna

Tantangan Lokit 14, Top 22

Perahu terombang-ambing hebat. Seorang pria tua sedang bergulat dengan sesuatu yang berada di dalam laut, mengerahkan kekuatan untuk mempertahankan calon tangkapannya. Dia menggulung secarik kain, dari baju kumal yang sengaja dirobek, pada telapak tangan kanan akibat berdarah tersayat seutas tambang saat mempertahankan tali agar tak semuanya tercebur ke dalam laut dan calon tangkapannya kembali lolos.

Sebelumnya, dia telah menyemburkan sederet umpatan, layaknya pemuja Tuhan merapal doa, karena ikan-ikan yang sempat menyambar kailnya selalu mampu melepaskan diri. Gulungan tambang di atas perahu terus bergerak hingga tersisa sedikit saja, mungkin hanya tinggal beberapa meter. Tak pikir panjang, pria beruban rata tersebut langsung menginjak sisa tambang dan melilitkan ke tubuhnya.

“Apa kau pikir aku akan menyerah begitu saja, Bocah Nakal?” Panalang tersenyum seraya menatap ujung tambang yang terus ditarik oleh ikan. Dadanya naik-turun seperti seorang pelari yang baru saja menyelesaikan tantangannya. Tiba-tiba dia merasa gairahnya kembali mencuat seperti masih muda dulu.

Ikan tersebut membuat gerakan tak terprediksi. Setelah cukup tenang beberapa detik, dia langsung bergerak lebih agresif daripada sebelum-sebelumnya. Tubuh Panalang tertarik ke depan hingga jatuh dan dahinya sedikit berdarah akibat terbentur papan perahu. Pria bercambang putih tersebut mengusap darah yang mengaliri alis menggunakan punggung tangan. Bukannya kesal, dia justru tertawa seperti sedang menonton komedi.

“Hahaha … kau benar-benar ingin bermain denganku rupanya. Aku rasa kau telah berhasil memicu adrenalinku lagi, Bocah Nakal. Baiklah. Lagi pula aku memang sudah lama tak sebergairah sekarang. Mari kita selesaikan tantangan ini secara jantan!”

***

Hampir setiap hari Panalang berangkat ke laut sebelum matahari menyembul dan pulang ketika pijar alam itu telah kembali ke barat. Dia merupakan seorang pria tua yang hidup sebatang kara. Kedua putrinya telah menikah dan hidup bersama suami masing-masing. Sejatinya, menantu dan kedua putrinya telah silih berganti datang ke rumahnya, yang hanya berpapan kayu dan berukuran sangat kecil, untuk sekadar berkunjung atau membawa makanan. Tak hanya sekali, bahkan bisa dikatakan hampir berbusa-busa mulut mereka, membujuk Panalang tinggal di kota dan hidup berdampingan dengan cucu-cucunya.

“Aku sudah nyaman berada di sini. Jika kau hanya ingin memaksaku meninggalkan makam ibumu, maka sebaiknya kau segera pulang. Percuma. Kau tak akan pernah bisa membujukku,” ucap Panalang sebagai usiran halus pada putri-putri atau pun kedua menantunya. Dia memang pria tua yang keras kepala. Dari dulu sampai sekarang tak ada seorang pun yang mampu memecahkan batu dalam dirinya, kecuali mendiang sang istri.

Sebenarnya, pria senja tersebut sadar bahwa dirinya sangat kesepian. Dia juga paham betul bahwa putri dan menantunya sangat mengkhawatirkan dirinya yang semakin renta. Namun, Panalang juga tak mau jika kehadirannya hanya akan menjadi beban untuk mereka. Meski tahu bahwa kekuatan fisiknya telah banyak berkurang, tetapi dia merasa masih mampu membiayai hidupnya sendiri.Kakek bercucu tiga itu tak akan membiarkan dirinya hidup nyaman hanya dengan menumpang hidup di rumah putri dan sang menantu. Dia tak sudi menjadi benalu meski mereka tak pernah berpikir sepicik itu.

Sejak dulu, bahkan ketika dirinya baru saja melamar sang gadis pujaan, Panalang mendambakan akan hadirnya seorang putra. Dia ingin mengajari putranya melaut, duduk di pantai menghadap laut, menghangatkan diri di depan api unggun seraya membakar ikan hasil tangkapan tadi sore, menghabiskan malam di bawah taburan bintang seraya bercerita tentang kegagahan para pendahulunya sebagai seorang pelaut, dan melakukan semua hal yang biasa dilakukan oleh ayah bersama putranya. Namun, hal tersebut tak akan pernah terjadi sebab istrinya meninggal tiga tahun setelah melahirkan putri keduanya.

Oleh sebab itu, ketika dia menemukan seorang bocah laki-laki yang tak sadarkan diri terdampar di pantai, tanpa pikir panjang, pria tua tersebut bersedia mengadopsi dan menganggapnya sebagai putra bungsu. Sejatinya, bocah itu lebih pantas memanggilnya kakek, namun Panalang lebih suka dipanggil sebagai ayah. Hidupnya yang senyap pelan-pelan kembali berwarna. Dia berpikir beberapa tahun lagi bisa mengajak putra bungsunya menikmati debur ombak di atas perahu dan memacu adrenalin ketika melaut di tengah badai. Ya, tinggal beberapa tahun lagi, anak itu akan segera besar.

Namun, tiba-tiba harapannya pupus ketika sang putra bungsu mengembuskan napas terakhirnya setelah seminggu sakit keras. Dia terkena virus yang sama seperti virus yang telah merenggut nyawa istrinya beberapa tahun silam.

Virus sialan!

Berbulan-bulan Panalang tak melaut karena berkabung. Hari-harinya dihabiskan sekadar duduk-duduk di bawah naungan pohon bakau seraya melihat birunya langit dan laut. Sesekali tangannya merobek-robek guguran daun yang mendarat di sekitar, lantas bahunya menggigil bersamaan tangis yang gagal diredam. Dia hanya akan pulang ketika hari telah menggelap. Saking depresinya, orang-orang bahkan telah menganggapnya gila. Meski bukan darah dagingnya sendiri, namun kesedihan akibat kematian bocah tersebut sama halnya seperti kematian istrinya, atau mungkin lebih parah. Tak ayal hal ini justru semakin menambah khawatir putri dan menantunya. Namun seperti sebelumnya, mereka harus menelan kecewa karena sang ayah tak mau diajak tinggal di kota.

***

Sesekali Panalang mencelupkan topi jeraminya ke air laut, agar benda tersebut bisa sedikit meredam terik yang sedari tadi menyengat kepala. Persediaan air masih lima botol. Entah mengapa pagi tadi dia merasa harus membawa lebih banyak. Padahal, biasanya cukup dua botol saja. Namun, kali ini pria tua itu membawa empat kali lipat. Perasaannya mengatakan bahwa hari ini akan menguras banyak tenaga sehingga tubuhnya membutuhkan banyak air. Instingnya sebagai seorang nelayan memang tak perlu diragukan lagi. Terbukti, bahkan setelah matahari tergelincir jauh ke barat, belum ada tanda-tanda bahwa ikan tersebut akan menyerah, bahkan sekadar menampakkan dirinya pun di permukaan laut, tidak!

Sebagai seorang pria yang  telah menghabiskan sebagian besar hidupnya sebagai nelayan, tentu Panalang tahu bahwa calon tangkapannya kali ini bukanlah makhluk air biasa. Sebab, sesuai pengalamannya selama ini, dia tak pernah menghabiskan waktu hampir seharian demi hanya seekor ikan. Jika ukuran hewan itu memang jumbo, kemungkinan terbesar ikan tersebut mampu melakukan perlawanan sekitar lima sampai tujuh jam saja. Tetapi kali ini hampir seharian penuh. Luar biasa! Dia tak bisa memprediksi seberapa besar ukuran binatang laut tersebut. Namun yang pasti, hewan itu bertenaga besar.

Pria tua itu kembali mengencangkan lilitan tambang di tubuhnya.

“Hei, Bocah Nakal, kau ingin bertaruh denganku tentang siapa yang paling kuat di antara kita, heh?”

Tatapan Panalang berada di ujung tambang yang masih tampak di atas permukaan laut. Sesekali ujung tambang tersebut mengencang akibat pergerakan makhluk air yang bagian tubuhnya terkait oleh kail pria tua tersebut. Tangannya membuka tutup botol lalu meneguk isinya. Kini dia tak lagi berdiri, melainkan duduk sembari melihat ke kanan-kiri yang keseluruhannya rata dengan permukaan air. Hanya ada beberapa burung predator yang terbang riuh rendah seraya menajamkan mata mengincar ikan-ikan kecil sebagai mangsanya.

“Bocah Nakal, berapa lama lagi aku harus menunggumu? Dua jam lagi matahari akan tenggelam. Menyerahlah! Aku ingin segera pulang.”

Tentu saja tak akan ada jawaban dari dalam laut.

***

Tujuh bulan setelah “sang putra bungsu” meninggal, Panalang berniat melamar seorang janda yang berumur sekitar tiga puluhan tahun. Selain menginginkan seorang putra, pria tua itu merasa bahwa hidupnya kini lebih senyap dibandingkan sebelum mengadopsi bocah yang terdampar di pantai tiga tahun silam.Panalang ingin memiliki teman hidup. Juga, sudah sekian lama, sejak istrinya meninggal, pria tersebut tak pernah menyalurkan berahi. Meski umurnya terbilang senja, namun sebagai pria seutuhnya dia pun ingin menyalurkan hasrat biologisnya. Namun sial, tanpa ba-bi-bu, wanita yang berusia lebih muda dari putri keduanya itu, menolak! 

Tak menyerah, Panalang lantas mengalihkan tawaran tersebut pada beberapa wanita lajang lainnya, yang tergolong masih usia produktif, karena tujuan utamanya memiliki putra. Namun, untuk sekian kalinya harus menelan pil pahit: dia ditolak!

Banyak orang bersimpati, namun mereka juga memaklumi penolakan wanita-wanita tersebut. Hal ini cukup masuk akal, sebab …  mana ada wanita muda yang rela segera menjanda atau putra-putrinya menjadi yatim karena sang ayah yang sudah sangat renta, meninggal. Selain itu, Panalang merupakan lansia yang kalau diukur dari segi ekonomi, berada di jenjang menengah ke bawah. Jika tutup usia, dia tak akan meninggalkan apa pun kecuali gubuk reyot yang bisa kapan saja roboh. Bukannya mereka tak tahu bahwa kedua menantu pria tersebut merupakan keturunan ningrat, yang tentu saja bisa menghadiahkan sejumlah uang atau barang-barang berharga demi mengangkat status sosial pria tua tersebut. Namun, mereka juga tak memungkiri, bahwa Panalang merupakan pria tua keras kepala yang tak akan menerima hadiah cuma-cuma meski sudah terikat dalam jalinan keluarga.

Panalang idealis!

***

Panalang terjaga ketika tambang kail yang dia lilitkan di tubuhnya kembali menegang. Matahari sudah lumayan tinggi. Dia menyibakkan selembar kain di bahu yang semalam digunakan sebagai penghalau dinginnya udara laut. Sudah dua hari semalam pria tua tersebut terapung di tengah laut demi mempertahankan calon tangkapannya. Dia berdiri menarik tali, mengumpulkan tenaga “bergulat” dengan makhluk air tersebut. Perahu terombang-ambing karena besarnya kekuatan binatang air tersebut, sehingga menimbulkan gelombang yang cukup besar.

“Kau tahu, dulu aku adalah jagoan panco,” teriak Panalang, menyombongkan diri pada makhluk air yang masih enggan menampakkan diri tersebut. “Jadi, ototku sudah terbiasa menghadapi hal-hal semacam ini. Aku tinggal menunggu waktu hingga kau menyerah, Bocah Nakal!”

Sejak awal, Panalang telah memasang dua pancing di sisi kanan-kiri perahu. Sisi kanan, sedari kemarin telah berhasil memerangkap makhluk laut yang hingga kini belum diketahui wujudnya tersebut. Sementara sisi kiri, baru saja disambar calon tangkapan lain.Kini, ujung tali yang dipasang kail dan dililitkan pada sebatang kayu tersebut bergerak-gerak sebab ditarik oleh makhluk laut. Namun, pria tua tersebut ingin fokus pada calon tangkapan pertamanya yang saat ini hampir membuatnya kewalahan, bahkan beberapa kali dia terjatuh karena tarikan makhluk tersebut terhadap tali pancing sangat kuat.

Panalang menyambar pisau di geladak.

“Aku tak punya waktu untuk mengurus dua pancing.”

Tangan kiri menahan calon tangkapan pertamanya, sementara tangan kanan mengiris tali pancing yang terikat pada kait-kait di perahunya. Dia juga sekalian melempar kayu pancingnya. Membiarkan benda tersebut mengambang di laut.

Kini, dia hanya fokus pada satu objek: si Bocah Nakal!

Sekian lama “bersitegang” di hari kedua ini, akhirnya ikan itu kembali tenang. Mungkin dia juga merasakan hal yang sama seperti pria tua itu, lelah. Mumpung “gencatan senjata”, Panalang memulihkan tenaganya dengan meneguk air dan mengiris tuna mentah yang—mungkin tak sengaja—dijatuhkan burung predator ke atas perahunya. Dia memakan irisan daging ikan mentah tersebut sebab persediaan makanannya habis. Lantas, mencelupkan irisan daging ikan itu ke air laut agar tak hambar.

Tiba-tiba pikirannya terlempar pada saat putra bungsunya masih hidup. Dulu, bocah tersebut suka sekali makan tuna bakar dengan perasan lemon.

“Jika saja kau masih ada, pasti saat ini kita bisa menikmati irisan tuna mentah ini dengan perasan lemon.”

Dada pria tua itu tiba-tiba sesak. Dia menyantap irisan tuna dengan rasa asin–bukan karena dicelupkan pada air laut–yang berasal dari tetesan air matanya. Ternyata hingga sekian lama, dia belum bisa menangani rasa perih akibat kehilangan putranya.

Calon tangkapannya tenang; air laut tenang; angin berembus dengan tenang; awan-awan tipis di atas kepalanya pun bergerak juga sangat tenang. Tiba-tiba, ketenangan tersebut membuatnya terpicu untuk menumpahkan semua perasaan pada semesta. Dia menceritakan pertemuannya dengan seorang gadis yang kini telah memberinya dua orang putri, kesepiannya setelah di tinggal oleh sang istri, kebahagiaannya ketika bersama putra bungsu, dan betapa dia merasa kehilangan saat bocah tersebut mendadak meninggal sehingga dia berpikir ingin melamar beberapa perempuan demi bisa mendapatkan putra. Pria tersebut tak kuasa menahan duka ketika mengingat istri dan putra bungsunya. Dia sesegukan sendirian di tengah lautan lepas.

Ikan itu kembali bergerak, bahkan lebih agresif dari sebelum-sebelumnya. Perahu kembali bergoyang mengikuti gerakan gelombang. Dilihat dari masing-masing kubu, sepertinya “pertarungan” kali ini akan menjadi babak penentu siapa yang akan menjadi pemenangnya. Panalang maupun makhluk laut tersebut sama-sama mengerahkan kekuatan terbesarnya. Sepertinya pria tersebut cukup beruntung karena saat muda sering kali menjadi joki panco. Sebab sampai sekarang lengannya masih kuat menarik tambang yang ujungnya mengait makhluk laut tersebut.

Sepertinya ikan itu sudah tak mampu menjauh. Sedikit demi sedikit tubuhnya terus mendekat ke arah perahu. Dia menggelinjang-gelinjang di permukaan laut hingga air menciprat ke sana-sini bagai guyuran hujan. Tak mau kalah, Panalang langsung menyambar tombak dan melemparnya tepat di tengah tubuh ikan tersebut. Air laut memerah akibat darah dari ikan. Setelah makhluk itu cukup tenang, dia mengulurkan sebuah pengait untuk mengangkat tangkapannya ke perahu. Ikantersebut menggelepar-gelepar di atas perahu.

Beberapa saat, Panalang tak berkedip karena terpukau. Seumur hidup dia tak pernah melihat ikan dengan bentuk seindah ini. Perahu sederhana tersebut langsung sesak oleh ukuran tangkapannya yang panjang dan besar. Sisiknya berkilat-kilat, diterpa cahaya matahari yang dua jam lagi akan tenggelam, dengan warna biru semu hijau dan kuning. Di kepalanya, terdapat semacam bermahkota dengan setitik benda putih mirip mutiara di dahinya. Kini, dia menggelepar-gelepar di atas perahu.

Setelah kekagumannya sedikit mereda, pria tua tersebut segera mengembangkan layar, pulang. Dia menghitung berapa banyak uang yang akan didapat ketika ikan itu terjual. Lantas tersenyum saat berkhayal bahwa uang tersebut bisa melamar salah satu wanita muda dan bisa menikahinya serta mendapatkan putra. Namun, dia terkejut tatkala menoleh ke belakang, ikannya raib.

Tiba-tiba muncul suara yang entah dari mana, namun jelas sekali bahwa dia sangat dekat, seperti sedang duduk berjajar di samping pria tua tersebut.

***

Meski pulang tanpa ikan, namun Panalang tak kecewa. Justru sebaliknya, dia merasa sangat bahagia sebab bisa membawa pulang seorang gadis jelita, putri bungsu raja laut yang sengaja dihadiahkan untuknya sebagai ucapan terima kasih karena pria tua tersebut telah melepaskan kutukan yang selama tiga belas tahun belakangan memerangkap sang putri dalam bentuk ikan raksasa.

“Aku sudah berjanji, siapa pun yang bisa melepaskan kutukanku, maka akan kujadikan suami dari putri bungsuku. Kelak dia akan memberimu putra seperti yang kau harapkan selama ini,” ucap raja laut itu ketika menyerahkan putri bungsunya.(*)

Sh, Tw, 15 Desember 2019

Uzwah Anna lahir, tumbuh, dan besar di sebuah pelosok kampung di Kabupaten Malang. Penyuka warna hitam, biru, dan hijau. Juga suka dengan semilir angin, kudapan pemanja lidah dan mekar bebungaan. Satu lagi, fans berat dari Werkudoro dan ketiga putranya: Ontorejo, Gatotkoco, dan Ontoseno.

Komentar juri:

Umumnya, premis tentang seseorang yang beraktivitas di laut akan menimbulkan kejenuhan bagi pembaca. Akan tetapi, dalam cerita ini, penulis berhasil membuat narasi yang asyik sehingga gambaran akan perjuangan Panalang untuk mendapatkan ikan besar dari laut tidak terasa monoton. Ditambah, penulis juga berhasil membangun karakter serta menarik simpati melalui narasi masa lalu tokoh utama: kesepian si nelayan tua setelah ditinggal istri, kedua putri, serta “putra bungsu”nya. Epik sangat!

Dan, oh, ya, jangan lupakan pula akhir cerita yang tentu saja akan sangat membekas dalam benak pembaca: hadiah dari laut untuk Panalang!

Devin Elysia Dhywinanda

Tantangan Lokit adalah perlombaan menulis cerpen yang diselenggarakn di grup KCLK.

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

0
Tags

Leave a Reply

Close