Cerpen

Ada Kamu dan Cerita

Ada Kamu dan Cerita
Oleh: Aisyahir
Berulang kali kamu selalu menceritakan hal-hal yang konyol padaku. Dan entah kenapa, aku selalu tertarik untuk mendengarnya. Setiap hari seperti itu. Kamu menjadi pencerita, dan aku yang akan menjadi pendengarmu. Bahkan telah menjadi pengemar dari cerita-cerita konyolmu. Tapi kadang juga, kamu selipkan kata-kata gombal yang selalu sukses membuatku tersipu. Ah, kamu memang ahlinya dalam hal bercerita.
Perkenalan yang tak disengaja, entah kenapa justru menjadi sedekat ini. Terus mendekat, hingga menjadi hubungan tanpa status. Rasanya menyakitkan memang. Jadi serba salah rasanya. Dan setiap aku tanya mengapa. Kamu hanya akan menjawab: karena aku ingin lebih dari seorang teman biasa, tapi aku juga tak ingin menjadi kekasihmu. Anggap saja, kita masih terjerat hubungan tanpa status. Karena aku tak ingin menjalin hubungan tanpa ikatan suci. Inginnya langsung dihalalin saja. Dan jawaban itu selalu sukses membuatku tersipu. Entah itu sebuah kejujuran atau hanya main-main saja. Aku tetap tak mampu mengendalikan perasaannku sendiri.
***
Kini, kita kembali duduk bersama di tepi pantai. Menikmati pemandangan senja yang begitu menawan. Hanya berdua, ya, bagiku. Walaupun banyak pengunjung, namun tetap saja serasa hanya berdua. Dan selalu seperti ini. Tanpa sadar, ada kesan romantis yang tercipta.
“Apa yang paling kamu sukai, Alisah?” tanyamu membuka pembicaraan.
“Aisyah!” protesku. Ah, kamu memang suka menyebut namaku dengan panggilan yang sedikit berbeda.
“Ya, itulah. Aku lebih suka panggilan itu. Tapi lebih suka lagi dengan panggilan sayang sih, tapi sayangnya belum saatnya.” Aku hanya memutar bola mataku dengan jengah. Sudah kebiasaanmu seperti ini, pikirku.
“Jadi, kamu suka apa?” ulangmu.
“Aku? Aku suka Bang D.O. Kamu tau kan personil boyband EXO dari korea itu? Aku sangat mengidolakannya,” jawabku antusias. Entah kenapa, aku sangat mengidolakan oppa Korea yang satu ini, wajahnya mengemaskan menurutku. Kulihat kamu hanya ber-oh ria saja. Adakah yang salah?
“Kalau kamu sendiri? Suka apa?” tanyaku memecah kecanggungan di antara kita.
“Aku? Bukankah sudah jelas aku suka sama kamu!? Apa masih butuh kejelasan? Karena sibuk mengidolakam yang jauh, yang dekat jadi terlupakan. Maafkanlah Aisyah, Ya Allah,” jawabmu sembari menggeleng-gelengkan kepala. Antara malu, tersipu, dan terhibur. Ketiganya bercampur jadi satu. Aku hanya menutup wajahku, bukan karena pancaran sinar senja yang menyinari, tapi karena tak ingin menunjukkan pipiku yang merona. Lihatlah sekarang. Jantungku sedang maraton.
Pembicaraan masih berlanjut. Di mana kamu menceritakan kisah hidupmu lagi. Dan aku pun banyak tau tentangmu sekarang. Termasuk kehidupan pribadimu. Kadang aku berpikir. Kenapa dengan mudahnya kamu menceritakan semua itu padaku. Entah itu memang nyata, atau hanya sebuah karangan semata. Namun, aku tetap percaya.
Dari ceritamu aku bisa mengenalmu lebih dekat. Kamu tak lebih dari seorang badboy namun sangat patuh pada perintah Ibunya. Kamu bahkan tak berani menatap wajah wanita paruh baya itu—yang menurutmu sangat garang–dalam kurung waktu semenit. Di hadapan teman-temanmu, kamu selalu bertingkah konyol dan sok berani. Tapi di depan ibumu, Kamu langsung menjelma menjadi anak yang sangat patuh pada ibunya. Dan, bila bersamaku. Kamu selalu bertingkah romantis dan dewasa. Aneh memang.
Kita baru saling mengenal selama beberapa bulan. Tapi rasanya sudah sangat dekat. Usia yang terpaut dua tahun membuatku harus siap apabila sewaktu-waktu kita harus berpisah atas dasar alasan mengejar mimpi masing-masing. Ah, rasanya aku tak ingin mengalaminya. Aku sudah telanjur nyaman bersamamu.
Tapi tak kusangka. Ternyata momen kita hari ini, adalah momen terakhir di antara kita. Tak pernah terpikir olehku jika kita akan berpisah secepat ini. Ah, rasanya sangat tak sanggup.
“Aku pamit. Jaga dirimu baik-baik. Kita akan bertemu lagi di lain waktu. Tenang saja, kita pasti akan bertemu kembali. Jika kita memang jodoh, sejauh apapun aku melangkah, pada akhirnya aku akan kembali juga menemuimu. Jika bukan aku yang mendatangiku, maka kamulah yang akan mendatangiku, Aisyah,” pamitmu sembari mengusap puncak kepalaku yang tertutupi jilbab berwarna coklat. Aku masih menunduk. Diam tak bergeming. Rasa sesak mulai menghampiri, rasanya susah sekali melepas kepergianmu.
“Alisah,” panggilmu lembut.
“Aisyah!” protesku lagi sembari mengusap sudut mataku yang mulai berair. Entah kenapa kamu sangat sulit menyebut namaku dengan benar.
“Oke. Aisyah. Jangan sedih, ya. Aku hanya pergi selama beberapa tahun, itu pun hanya untuk mewujudkan impianku. Tidak selama-lamanya juga, kan? Andai ini bukan permintaan ibu, sudah pasti tak akan kulakukan. Aku akan segera kembali.” Beberapa tahun? Astaga! Sehari saja tanpamu sudah membuatku sangat kehilangan.
“Aku akan menunggumu,” balasku. Kini aku menatap sepasang manik matamu. Mata yang selalu memberikan tatapan meneduhkan.
“Aku pergi. Ingat, jaga mata dan hatimu hanya untukku!”
“Kenapa aku harus menjaganya untukmu?”
“Karena aku juga akan menjaga mata dan hatiku hanya untukmu, Aisyah. Akan kujaga mataku agar tak teralihkan pada kecantikan wanita lain, dan kujaga hatiku agar tak berpindah ke lain hati,” jelasmu lalu pergi. Mengendarai motor kawasaki merah milikmu. Meninggalkanku yang masih setia menatap punggungmu yang semakin hilang dari pandangan. Inilah awal dari perpisahan kita.
***
Hari itu, adalah hari di mana kita benar-benar berpisah. Setelah hari itu, aku tak lagi mendengar kabarmu. Terakhir kudengar hanyalah informasi kepergianmu, itu pun hanya sepintas yang kudengar. Sesak rasanya. Hingga tak ada hari yang kulewatkan tanpa mengingat dirimu, ceritamu, gombalan recehmu, dan senyum manismu. Dan tanpa kusadari waktu telah berputar sedemikian cepat dan saat ini baru kusadari, ternyata ini sudah lima tahun kita berpisah. Entah bagaimana kabarmu sekarang. Kurasa, pastilah kamu telah menyelesaikan studimu dan akan segera kembali. Tak sabar rasanya menunggu hari itu tiba.
Saat ini, aku kembali menyusuri tempat di mana lima tahun lalu kita menghabiskan waktu bersama. Duduk bersama menikmati indahnya mentari yang perlahan tenggelam. Menyisakan kenangan yang sangat sulit ‘tuk kulupakan.
Desiran ombak yang menambrak batu kerang memecah keheningan senja. Kulihat begitu banyak pasangan muda-mudi yang ikut menyaksikan sunset hari ini. Seperti inilah kebiasaan para anak muda. Menghabiskan waktu senja di tepi pantai
Aku mulai menyapu tempat ini dengan pandanganku. Mencari sosokmu yang kuharap dapat kutemukan. Namun sayang, tak ada. Hanya ada bayangan-banyangan kenangan kita di masa lalu.
Aku kembali berjalan. Berniat untuk pulang saja. Berlama-lama di sini membuat hatiku semakin sesak saja. Aku juga tak dapat berharap lebih padamu. Aku takut kamu mengecewakanku.
Namun, langkahku tiba-tiba terhenti. Saat tubuh atletis seseorang menghalangi jalanku. Aku hanya tertunduk, aku tak ingin siapa pun melihat linangan air mataku.
“Permisi. Aku mau lewat.” Tak kudengar sedikitpun respon darinya. Ia masih tetap setia berdiri di hadapanku. Bau parfum khas pria begitu menusuk hingga ke rongga hidung. Pakaiannya yang rapi bak orang kantoran membuatku berpikir dalam diam, ia bukan orang biasa.
“Tolong menyingkirlah!” pintaku kesal. Setiap kali aku ingin melangkah pergi, ia selalu menghalangi. Sepertinya orang ini kurang asupan kata-kata pedas, pikirku.
“Hey, pergilah! Tak bisakah kamu menyingkir? Aku ingin lewat! Tempat di pantai ini masih begitu luas, lantas kenapa kamu sangat terniat untuk menghalangi jalanku?” teriakku benar-benar kesal. Kini matahari sebentar lagi akan hilang dari pandangan. Kelap-kelip lampu kendaraan mulai terlihat. Orang itu masih tetap bungkam. Aku curiga, mungkin ia bisu.
“Hey, Tuan! Tolong jangan menghalangi jalanku! Aku mau pulang!” Lagi, aku berteriak padanya. Dengan kepala masih tertunduk. Entah kenapa aku tak sanggup mengangkat wajahku.
“Tu—”
“Alisah!” Aku terkejut setengah mati. Hanya ada satu orang yang sering memanggilku dengan nama itu. Dan suaranya, kenapa sangat mirip dengan ….
“Aku baru datang, dan kamu sudah menyuruhku pergi. Tak rindu kah?” Sentak aku mengankat wajah, dan benar saja, ia adalah orang sama. Itu adalah kamu, Al.
“Kamu?” tanyaku benar-benar tak percaya. Wajah rupawanmu, mata sipit, hidung mancung, serta senyumanmu. Ah, aku sangat merindukannya.
“Ya, ini aku. Bukankah sudah kukatakan. Kita pasti akan bertemu lagi, dan inilah yang disebut takdir. Takdir telah mempersatukan kita kembali dengan alasan berjodoh. Dan aku telah mendatangimu. Apakah kamu masih ingin menyuruhku pergi, Aisyah?” tanyamu. Air mataku saat ini juga langsung tumpah tak dapat terbendung lagi. Kamu yang mungkin juga merasakan keharuan ini langsung membawaku ke dalam dekapanmu. Memelukku dengan erat, dan membiarkan pakaianmu dibasahi oleh air mataku. Aku membalas pelukanmu, seakan tak ingin melepasmu lagi. Sekarang kerinduan itu telah menemukan titik temunya. Menyatukan dua insan yang saling merindui.
“Aku punya banyak cerita yang mungkin membutuhkan banyak waktu untuk menyelesaikannya. Ceritanya panjang,” katamu kemudian setelah melepaskan pelukanmu.
“Dan aku tak punya banyak kesibukan selain menunggumu selama ini. Kurasa, aku punya cukup waktu untuk mendengarnya,” balasku. Kamu hanya tersenyum menatapku. Sungguh, inilah momen terbaik dalam hidupku. Kembalinya seseorang yang pernah pergi dari kehidupanku, penceritaku.
End.
Aisyahir. Gadis kelahiran 2001 yang sangat gemar memelihara kucing. Sekarang hanya menghabiskan waktunya dengan membaca, menulis, aktif di media sosial, dan rebahan. Ig: Aisyahir_25.

0
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close