Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/lokerkata/public_html/wp-content/plugins/jaw-customposts/jawcustomposts_templater.php on line 249
Masa Emas - Loker Kata - Cerpen Juara Tantangan Lokit 13
CerpenPilihan EditorTantangan Lokit 13

Masa Emas

Masa Emas

Oleh : Ning Kurniati

Cerpen Juara Tantangan Lokit 13

Semuanya telah berubah. Tak ada lagi yang benar-benar sama. Apa yang tersisa saat ini hanyalah kenangan. Begitulah dahulu orang-orang menyebutnya. Tetapi sekarang, bahkan mereka memaksa kami melupakan, tidak, yang benar adalah menghapus apa yang disebut sebagai kenangan itu. Apa yang ada dan boleh terpikirkan adalah masa depan. Masa depan yang cerah, katanya.

Para Elit mengatakan kehidupan yang benar adalah adanya sistem yang mengatur dan mencakup semua lini dengan satu pusat. Bukan sistem seperti yang diterapkan oleh orang-orang lampau dengan adanya tingkatan-tingkatan dalam sistem yang dibentuknya. Itu kesalahan besar, menyebabkan merebaknya tindakan kriminal. Orang-orang akan berlomba-lomba mencapai suatu posisi yang dianggap terhormat. Sebuah sumber persaingan merupakan masalah. Kemudian siapa yang untung dalam hal itu adalah orang-orang yang bekerja di bidang telekomunikasi, pengadilan, kepolisian, dan antek-antek pemerintah yang lain, katanya. Oleh karena itu, mereka menyebut dirinya para elit bukan pemerintah. Mereka adalah kami. Kami adalah mereka. Kami satu. Padahal kalau dipikir-pikir substansinya tetap sama. Masih sama seperti dulu. Mereka tetap memerintah—pemerintah, kami yang diperintah—rakyat. Kenyataannya mereka hanya memelintir kalimat, memengaruhi semua orang, membuat segala yang berlalu harus disebut hal buruk dan hal baik itu sendiri adalah mereka dan saat ini.

“Semua lini kehidupan mesti tertata dengan baik dan akan tertata dengan baik jika dan hanya jika kita semua bekerja sama.” Salah satu kalimat Sang Komandan yang tidak pernah alpa ia ucapkan di setiap pidatonya. Pidatonya akan tayang setiap hari senin di kompubok—komputer yang tertanam di tembok—kami, jam tujuh di pagi hari secara otomatis kecuali bila benda itu dimatikan. Tetapi tak akan ada yang berani melakukan itu karena menonton pidato Sang Komandan adalah kewajiban dan tidak melakukannya adalah sebuah kesalahan. Tentu saja, hukuman menanti di depan mata bila melanggarnya. Hanya ada dua kategori dalam hukuman itu. Pertama, kesalahan ringan, maka orang tersebut akan dikirim ke barak produsen, tempat segala kebutuhan di produksi dan tidak ada yang tahu sampai kapan orang-orang akan berada di sana. Kedua, kesalahan berat, hukumannya adalah kematian. Tidak sampai di situ saja karena mayat-mayat akan dipajang di batas-batas wilayah selama sepekan dengan kepala yang terkulai penuh darah, bahkan, kadang-kadang ada yang lepas dari leher.

***

Ibu raib. Hal yang tak kami sangka-sangka. Kata Ayah, Ibu berubah seperti perubahan dunia saat ini, berevolusi menjadi ekstrim. “Jangan lagi mengingatntya.” Aku berpikir Ayah berucap seperti itu lantaran kekecewaannya pada Ibu. Ibu tiada, sehari sebelum kami memutuskan ke kampung nenek. Kami tidak bermaksud mengunjunginya karena memang tak ada yang bisa dikunjungi saat itu. Nenek sudah lama meninggal dan tak ada lagi kerabat. Kami ke sana bermaksud untuk menetap yang menurut Ayah penjagaannya tidak terlalu ketat. Kami masih bisa beribadah sembunyi-sembunyi.

Jadi ke sanalah kami, ke kampung terpencil. Penyebutan oleh orang-orang lampau. Tetapi karena berkat Sang Komandan—Para Elit menyebutnya begitu—sekarang tidak ada lagi penyebutan kampung apalagi disebut terpencil. Semua wilayah setara dan dibagi menjadi wilayah 1, 2, 3, 4, 5, 6 dan seterusnya. Aku menempati wilayah 3251.

Setiap hari aku akan bangun pada jam lima untuk melakukan ritual ibadah seperti yang orangtuaku ajarkan ketika masa-masa peralihan dari masa yang kami sebut lampau ke masa emas. Aku harus pelan-pelan mengalirkan air ke bagian tubuh tertentu tanpa menimbulkan keributan sedikit pun yang bisa memancing drone-drone pengawas itu mendekat ke rumah kami, mencari informasi layaknya manusia yang kepo.

Kepo, kata itu aku dapatkan dari Kakak. Tiba-tiba saja aku merinduinya. Ia kerap memberitahuku tentang istilah-istilah asing dari masa lampau. Kadang-kadang kurasa ia memamerkan pengetahuannya lantaran profesinya sebagai petugas di perpustakaan, yang menyalin semua tulisan lampau dalam bentuk buku cetak ke dalam bentuk digital kemudian mengarsipkannya. Tetapi tidak, ia sungguh-sungguh ingin memberitahuku tentang dunia di masa lampau. Aku baru menyadarinya saat ini. Saat ketakutannya menjadi kenyataan.

Kakak lebih tua enam tahun dariku. Kata Ayah, saat itu umurku sembilan tahun dan Kakak sudah mulai bekerja di sana. Para Elit sudah mulai menginvasi setiap belahan dunia dengan teknologinya yang amat canggih dan perlahan mengubah dunia seideal menurutnya. Senjata-senjata biologis dan kimia mereka gunakan berbarengan untuk menghabisi seluruh pemerintah di bulan yang sama. Tujuannya agar mereka tidak bisa bekerja sama untuk melawan. Masing-masing menyelamatkan diri. Demi nusa dan bangsa, semua tinggal omong kosong. Virus, bakteri, dan zat-zat berbahaya itu bertebaran bagai serangga di tempat kerja pemerintah dan rumah-rumah mereka. Mereka menggelepar-gelepar menemui ajalnya. Itu yang diwartakan kepada kami lewat pengumuman di kompubok.

Januari, seingatku nama bulan kematian itu, Kakak menyebutnya ketika kami telentang di pembaringan. Kebiasaan kami setiap sebelum tidur. Ia selalu pulang dengan segudang informasi tentang Para Elit dan cerita-cerita dunia lampau. Dunia yang asing bagiku. Katanya, ia kasihan karena aku tak sempat menikmati permainan yang sering dilakukan anak-anak di masa lampau. Bermain di layar ponsel. Lebih lampau lagi bermain di alam.

***

Han, begitu ia mengenalkan diri. Kami berkenalan ketika berada satu mobil menuju tempat ujian. Kami ujian setiap setahun sekali dan dilakukan di bulan Desember. Tujuannya untuk mengetahui sejauh mana perubahan yang kami miliki. Sebenarnya hal terlarang untuk berkenalan apalagi sampai menjalin hubungan semacam pertemanan. Begitu Kakak menyebutnya. Bila dua orang berkenalan, saling menemani, orang itu bisa disebut teman.

Ia mengulurkan tangan dari baju kurungnya yang berwarna merah di atas pahaku ketika kebetulan di dalam mobil itu isinya hanya kami berdua. Aku bisa melihatnya, samar-samar karena minimnya cahaya di dalam mobil yang menjemput kami. Aku tidak mengerti. Awalnya kupikir ia mengalami masalah dengan tangan yang dijulurkan tersebut. Sehingga kujulurkan juga tanganku memegang ibu jarinya, dan dengan tangan yang satunya lagi ia memperbaiki tanganku. Mendesis ia berucap, kita sedang berkenalan.

Sejenak aku terpaku. Tak bereaksi apa pun sampai ia melepaskan tangannya. Menggenggan tangan hanya boleh sebentar, katanya lagi. Lalu kami kembali fokus ke jalan. Aku tahu ia khawatir dengan sopir yang membawa kami. Khawatir bila sopir itu menaruh curiga, sehingga kami akan berakhir di kantor Pengakuan. Kantor yang mencolok dengan tembok kuningnya yang seolah mampu menelan kami. Memang sengaja dibuat seperti itu, kuning dengan gradasi menjadi semakin gelap tepat di tengah-tengah tembok gedung seolah mengimformasikan kematian menanti. Jarang ada yang kembali ke rumah setelah masuk ke kantor itu.

“Ini ujian keberapamu?” tulisnya di telapak tanganku menggunakan jari telunjuknya.

“kelima. Kau sendiri?” Aku membalas.

“Sama. Apa kau mendengar kabar?”

“Kabar? Itu semacam apa.”

“Informasi tentang ujian. Ujian yang kelima ini.”

“Tidak.”

“Bila kau gagal kau tidak akan pernah kembali ke rumahmu.”

“Kenapa begitu?”

“Mereka akan mengirimmu ke barak produsen.”

“Itu untuk orang-orang yang memiliki kesalahan. Kesalahan ringan. Aku tidak pernah melakukannya.” Aku berbohong. Percaya terhadap Tuhan adalah sebuah kesalahan ringan. Tergolong kategori ringan karena ia hanyalah sebatas keyakinan dan belum ada aksi. Sedang Ibadah sudah termasuk kesalahan besar karena sudah ada aksi.

“Bukan karena kita melakukan kesalahan, tetapi karena kita tidak ada harapan.”

“Harapan itu seperti apa?”

“Kau dianggap gagal untuk menentukan jalan hidupmu. Kau dianggap bodoh, sehingga tempatmu adalah di sana. Menjadi pesuruh. Tenang saja, kita akan ditempatkan di tempat yang berbeda dengan orang-orang bersalah itu. Katanya mereka akan mendapat pekerjaan yang berat. Kadang juga disiksa dengan tambahan pekerjaan di luar jadwal yang seharusnya.”

“Kita tidak akan berakhir di tempat seperti itu.”

“Ya, kita tidak akan berakhir seperti itu. Semoga.”

***

“Dunia sudah rusak dan harus diperbaiki.” Salam pembuka yang digunakan untuk mengawali ujian. Kalimat semangat begitu penjelasan yang diberikan pengawas. Agar kami punya tujuan memperbaiki dunia lampau—dunia yang rusak. Orang-orang di masa lampau sering saling menyakiti sampai melakukan pembunuhan. Penyebabnya ada macam-macam, intinya karena perbedaan. Berbeda agama, suku, ras, kepemilikan harta, wilayah yang disebut perkotaan dan pedesaan. Satu materi pokok di awal materi autosekolah. Autosekolah adalah sekolah di mana masing-masing dari kami belajar sendiri-sendiri dari kompubok di rumah masing-masing. Ini sangat berbeda dengan masa-masa sekolah Ayah. Kata Ayah, ia berangkat ke suatu tempat untuk belajar dan itulah sekolah.

Berangkat dari alasan kata perbedaan Para Elit menghapus semuanya. Semuanya akan dijadikan setara, sehingga persaingan tidak ada lagi. Persaingan bertujuan untuk mencapai kebutuhan sedang kebutuhan itu sendiri akan terpenuhi melalui pesanan aplikasi dan mereka akan mengantarkannya selain dari bahan-bahan pokok yang wajib setiap dua pekan ada di depan pintu-pintu kami.

Pertama-tama semua orang dilarang beragama. Tidak ada Tuhan. Tuhan adalah dirimu sendiri. Kedua, tidak ada suku dan ras dengan mengontrol perkawinan menjadi musiman, hanya pada bulan juni sampai agustus. Mobil-mobil akan menjemput membawa ke sebuah kamar-kamar dan siapa pun pasangan yang ada di sana, suka tidak suka persetubuhan harus terjadi. Ketiga, ilmu yang diberikan harus dibatasi sesuai dengan kebutuhan. Tidak boleh ada kecerdasan yang melebihi dari standar. Isi kepala setiap orang harus diketahui kadarnya. Dengan begitu dunia menjadi aman, katanya.

***

Lenyapnya Kakak tanpa jejak membuat kami bungkam dari dunia luar. Ibu yang masih bersama kami memenjarakan diri di dalam kamar sepanjang hari. Aku bertanya pada Ayah, apa yang seharusnya dilakukan agar Kakak bisa kembali bersama kami? Tak ada jawaban, Ayah berlalu seolah anaknya tak mengucapkan apa-apa.

Tetapi beberapa hari kemudian, seorang laki-laki dengan baju yang sewarna kuning pisang dengan gambar daun kelapa dipadu celana kain hitam selutut mengunjungi kami dan aku diam-diam mencuri dengar percakapannya dengan Ayah. Laki-laki itu mengatakan untuk berhenti memikirkan Kakak. Satu kalimat yang pendek, tetapi mampu mengguncang Ayah. Untuk pertama kali kulihat punggungnya bergetar dengan wajah tertunduk. Laki-laki itu menepuk bahu Ayah sebentar lalu pergi. Setelah itu, tak pernah lagi ada pembahasan terkait Kakak di rumah kami sampai raibnya Ibu. Aku tak bisa menyebutnya pergi karena aku tak percaya ia rela meninggalkanku.

Para Elit sampai saat ini terus meminta untuk memikirkan masa depan dan melupakan masa lampau, tetapi tidak memberikan cara-cara untuk melupakan. Jangan hanya meminta ini-itu tetapi tak memberi petunjuk untuk memperolehnya. Bagamana mungkin masa lalu bisa dilupakan sedang kami berangkat dari hal itu. Sama seperti masa emas ini, kami berangkat dari masa lampau. Para Elit itu adalah para bangsat. Itu cacian di masa lampau.

***

Rumah Han tepat di sebelah rumahku dengan kode *3251*15*Han*3. 3251 adalah nama wilayah, 15 adalah nomor rumah, Han adalah nama pemimpin dalam rumah yaitu Ayah sekaligus tanda pengenal bagi semua anggota keluarga itu, 3 adalah jumlah orang yang tinggal dalam rumah tersebut. Tidak ada penanda dari rumah-rumah kami selain kode rumah karena semuanya dengan bentuk dan warna yang sama, putih.

Aku memandangi rumahnya dari jendela kamarku. Han di sana sedang melakukan sesuatu. Siluetnya tidak bergerak. Ia sedang duduk. Sepintas terlihat hanya sekadar duduk dengan memangku bantal. Tidak istimewa. Tetapi bila diperhatikan dengan baik tampak ia sedang membaca. Buku itu ia tenggelamkan ke tengah bantal.

Membaca salah satu hal terlarang dan termasuk kesalahan berat sebab membaca merupakan akar dari masalah perbedaan. Ia akan dicap radikal. Han harus diperingatkan. Bila ada orang lain yang mengetahui, ia bisa dilaporkan dan pemadam kebakaran Para Elit akan datang melalap Han, rumah dan keluarganya dengan api biru itu yang sekali menyala semua benda yang disentuhnya seketika hangus.

Setelah mengamatinya beberapa lama Han masih dengan posisi yang sama justru mungkin semakin larut. Aku tidak mungkin meneriakinya karena drone pasti akan mendekat dan merekam semua. Jadi, terpaksa aku harus menghampirinya.

Aku mengendap-endap, melintasi pekarangan rumah menuju rumah Han. Seperti biasa bila ingin aman aku tidak boleh menimbulkan bunyi suara sedikit pun untuk menghindari drone dan juga harus memastikan bukan waktunya drone melintasi rumah kami. Han masih menunduk membaca buku tersebut ketika kuketuk jendelanya.

“Han? … Han?” Terdengar bunyi barang yang dilemparkan. Han pasti tersentak menyadari ada orang yang mengetuk kamarnya.

“Ini aku.”

“Siapa?”

“Buka jendelanya.”

“Tapi kau—“

“Aku tetangga sebelah.”

Han membuka jendelanya. “Ada apa?”

“Aku melihatmu membaca buku.”

“Haah,”

“Itu kitab kan?”

“….”

“Tenang saja Han, aku tidak akan melaporkanmu.”

“Kau juga melakukannya!”

“Kenapa kau—“

“Kau mungkin lupa menutup jendela hari itu. Aku melihatmu menenteng. Itu pasti kitab kan?”

“Kita sama.”

“Yah. Sebaiknya lekas kembali sebelum drone itu melintas lagi. Satu lagi, rajinlah membaca kitabmu sebelum mereka menemukan. Ah, salah. Jangan membuatmu ditemukan.”

“Kau juga. Jalankan perintah Tuhanmu sebelum anggota badanmu benar-benar tidak bisa melakukannya.”

“Ketika semuanya sudah terlambat dan menjadi sia-sia. Selamat malam.”

“Selamat malam Han … maaf, agamamu apa?”

“Nasrani. Kau?”

“Muslim.”

Aku ke pembaringan tepat jam delapan. Sesuai jadwal aturan tidur kami. Lampu-lampu otomatis sudah mati dan malam ini aku akan menemui Kakak dan Ibu di sana di tempatnya. (*)

24 November 2019

Ning Kurniati, perempuan dengan mimpi yang terus bertambah-tambah.

 

Komentar juri:

Alih-alih mencari sebab dari luar, penulis menempatkan manusialah sebagai sumber kekacauan yang menciptakan distopia. Mengambil poin-poin pada kehidupan sekarang, ia menariknya ke titik ekstrem, sehingga kondisi kekacauan di cerpen ini terasa dekat dengan pembaca. Bahwa kondisi ini bisa saja terjadi di masa depan. Posisi agama dan persabatan yang tidak lagi berarti, ternyata diam-diam masih dipegang teguh oleh beberapa orang—padahal mereka tidak betul-betul hidup pada saat konsep itu lazim di masyarakat. Meski begitu, dunia telah berubah dan manusia harus beradaptasi dengan bentuknya yang baru. Selayaknya distopia, bahwa ia telah, sedang, dan akan terus berlangsung seolah tak akan kembali ke zaman yang lalu—yang lebih baik.

Selain itu, tokoh utama betul-betul menjadi “tokoh utama”, bahwa pikiran, perasaan, dan apa yang ia alami menjadi fokus hingga cerita selesai. Terakhir, judulnya yang sederhana itu justru memberi makna yang kuat. Tokoh tidak tahu bagaimana masa emas itu, kecuali masa kini. Tidak ada masa emas di zaman distopia, ia hanya fatamorgana. 😀

-Berry Budiman

Tantangan Lokit adalah perlombaan menulis cerpen yang diselenggarakn di grup KCLK.

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

2+
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close