CerpenPilihan EditorTantangan Lokit 13

Linggar dan Bibit dari Langit

Linggar dan Bibit dari Langit

Oleh: Lutfi Rose

Terbaik ke-9 #Tantangan_Lokit_13

Linggar berjingkat di antara becek tanah yang dipijaknya, berusaha keras agar kakinya tak menyentuh bagian kotor. Dia tahu bakal sia-sia, seluruh bagian bumi tak meninggalkan sejengkal berupa tanah. Semua bagian tertutup plastik bekas dari pembungkus makanan, botol minuman, serta barang-barang berbahan dasar plastik: mainan anak dan alat rumah tangga. Pepohonan tak lagi bisa tumbuh. Bermula dari pohon-pohon besar yang terlalu tua bertumbangan di sepanjang  jalan, diikuti jutaan pohon di halaman rumah-rumah. Sedangkan di lahan hutan yang seharusnya mampu menyediakan stok oksigen bagi manusia, kini hanya tinggal dongeng turun-temurun. Nyatanya tak ada hutan lagi, semua ditebang dijadikan perumahan. Ledakan populasi manusia menggeser kepentingan kelestarian alam. Toh manusia memang lebih berkepentingan pada eksistensi dirinya tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang perbuatannya. Oksigen makin menipis dan manusia berada di ujung kepunahan.

Pemandangan pantai dengan ombak putih menggulung di sepanjang tepian adalah kenangan indah yang kerap Linggar nikmati bersama mendiang ayahnya. Kini semua itu menjadi sejarah tanpa sisa-sisa peninggalan sama sekali. Ombak telah hilang; air laut tak mampu mengangkat berton-ton sampah yang telah homogen dengan air asin; pantai hanya menyisakan gelombang tenang tanpa riak. Air hitam kental penuh plastik menjadi suguhan satu-satunya bagi mata manusia. Biota-biota air bergelimpangan menjadi bangkai tak layak makan, melengkapi bau busuk sampah.

Tak ada air bersih membuat manusia harus menghunus pedang hanya demi seteguk air. Mereka tak segan menebas leher manusia lain yang hampir menyeruput seteguk air dari cawan tangannya. Air tanah mengering disebabkan tak ada lagi akar pohon yang menyerap air hujan. Air comberan jadi satu-satunya pelepas dahaga. Meski bau menyengat menguar bersama mendekatnya air ke mulut manusia, mereka tetap harus mengonsumsinya demi penyambung hidup.

Tak ada tumbuhan sama dengan tak ada bahan makanan. Binatang yang tersisa tinggal binatang buas pemakan daging yang raungannya pun tak lebih keras dari cicitan tikus. Manusia mulai menjadi kanibal. Yang kuat yang bertahan, membunuh dan memakan bangkai saudaranya. Mayat-mayat tergeletak tak utuh: matanya tercongkel, tangannya terpotong, bahkan ada yang hanya tinggal tengkorak yang terkuliti.

Orang-orang yang merasa terpelajar menolak memakan bangkai. Mereka mempertimbangkan seruan agama yang mengharamkannya, terlebih bangkai manusia. Kemudian merengkuh nasib yang tak jauh beda, meregang nyawa, selanjutnya menjadi bagian dari sate mentah tanpa kecap untuk santapan sesamanya.

Penyesalan adalah kata yang seakan dihapus dari kamus bahasa dunia. Jangankan menyesal, untuk sekadar berharap tetap hidup saja mereka butuh berpikir keras. Kekurangan gizi dan air membuat manusia bagaikan zombi-zombi yang berjalan gontai dengan gerak kaki seperti terantai dengan pemberat yang sangat besar. Pijakan yang penuh sampah melengkapi goresan-goresan luka penuh nanah di telapak kaki.

Meski sedemikian menyedihkan dan mengerikan manusia zaman modern ini, Tuhan masih menyisakan sebuah hati yang bersih, Linggar. Pemuda yang terus bersedih dengan kondisi dunia, terus memutar otak demi sebuah harapan kehidupan yang lebih baik. Koloni manusia terakhir yang tinggal beberapa puluh orang, coba dia kumpulkan. Berbekal keyakinan dan ilmu kehidupan yang ayahnya ajarkan, dia percaya akan selalu ada jalan keluar pada setiap masalah.

Linggar mulai menyusun rencana, mendatangi beberapa rumah yang masih berpenghuni. Meski kondisi kampungnya tak jauh berbeda dari tempat lain, setidaknya di sini masih ada dua orang waras yang mungkin mampu diajak berpikir.

***

“Mau kita apakan semua sampah ini, Linggar? Kau jangan gila!” seru pemuda keturunan terakhir kepala desa yang masih hidup.

“Kau pernah melihat alam yang memberimu napas tanpa sesak?” Linggar malah balik bertanya dengan tangan yang tetap mengais-ngais sampah di depannya.

“Aku sudah terlalu lupa untuk mengingatnya.”

“Jika kau pernah mengalami, setidaknya ada memori di sudut kepalamu.”

“Aaargh! Kepalaku tiba-tiba berdengung. Sakit.”

“Berhentilah berpikir, lakukan apa yang kukatakan!” perintah Linggar disertai isyarat pada satu orang pemuda yang lain.

Sampah-sampah mulai disisihkan. Linggar memilah dan membedakan sampah kertas dan plastik. Keringat mulai menyusuri dahi-dahi mereka, panas matahari yang seakan hanya sepenggalah di atas kepala manusia turut menguji kesungguhan tiga pemuda itu.

“Semalam Ayah menemuiku dalam mimpi. Ayah menyampaikan berita langit: inti bumi sudah lelah berputar. Beban sampah membuat gerak bumi makin berat. Pelumas yang terus-menerus disedot manusia modern membuat gas bumi aus dan hampir mogok. Kita harus biarkan hujan meresap ke dalam inti bumi melalui tanah,” Linggar terus mengoceh seperti khotbah para pemuka agama di zaman kuno.

Entah dari mana kekuatan ucapan pemuda beramput cokelat ikal yang tak pernah terkena air itu. Ujung rambutnya saling lengket satu sama lain membentuk gumpalan-gumpalan menyedihkan. Segala yang dikatakan dituruti kedua temannya. Mereka sama-sama telah putus asa, setidaknya pemuda yang suka berdiplomasi itu menjanjikan harapan dunia yang lebih baik.

Linggar mengumpulkan sampah botol bekas. Mengikatnya satu sama lain secara terus-menerus membentuk jalinan panjang yang makin panjang. Beberapa orang yang mengetahui tingkah ketiga pemuda itu keluar rumah, melihat dengan tatapan yang entah apa maksudnya. Linggar tak peduli, dia tetap saja merangkai botol-botol yang terus diangsurkan dua temannya.

“Sampai kapan kita lakukan hal konyol ini, Ling?” tanya pemuda yang bertubuh paling pendek di antara mereka. Matanya cekung dengan lingkaran hitam pekat di mata, tubuhnya ringkih dengan hanya bagian perut yang buncit, lebih berdaging dari bagian lain.

“Sampai kita bisa membuat sebuah tanggul.”

Pemuda yang lebih banyak protes dari awal aktivitas mereka, tertawa sangat keras. Membuat para manusia yang berlaku seolah penonton pertunjukan saling berpandangan tak mengerti. “Air minum saja kita tak punya, aku menyerah, rupanya kau sudah terlalu tidak waras.”

“Bantu aku! Beri aku waktu beberapa hari ini. Jika benar buku kalender peninggalan Ayah, ini adalah bulan Desember. Biasanya akan ada musim hujan yang membawa bibit langit ke bumi.”

“Baiklah, asal kau sediakan seteguk air untuk kami, akan kubantu misi mustahilmu.”

Linggar beranjak menuju rumahnya. Ditengoknya sumur di bagian belakang rumah yang sesekali mengeluarkan air bersih. Tak banyak, namun mampu memberi kehidupan padanya selama ini. Satu tarikan tampar membawa sekaleng kecil air. Senyum tersungging di bibir hitam Linggar. Sambil mengendap-endap dua gelas dalam dua genggaman dia bawa keluar rumah. Dipastikan tak seorang pun mengetahui aksinya kecuali dua orang itu. Dia tak mau ambil risiko didatangi orang-orang kesetanan sebab nyawa sudah di ujung kerongkongan karena haus. Melihat kedatangan Linggar, kedua pemuda itu menyambut dengan berseri di wajah kelamnya.

***

Hari kedua mereka masih melakukan hal yang sama. Tiga gelas air bersih sebagai imbalan kerja seharian. Hati Linggar tak putus berharap, air sumur yang tak setiap hari keluar, semoga akan bersahabat beberapa saat ini. Rangkaian botol bekas telah mengular panjang. Linggar mulai mengambil cangkul kecil, meratakan tanah yang hendak dibuat tanggul. Empat rangkaian lagi, kolam akan cukup besar menampung air. Tanah hitam yang liat akan memudahkan menutup bagian-bagian plastik yang berlubang. Ditambah panas matahari yang sangat menyengat membantu tanah cepat mengering dan mengikat.

Hari ketiga, orang-orang mulai mendekat. Tangan-tangan kurus penuh kudis, kaki-kaki penuh luka terseok melangkah.

“Bolehkan aku mendapatkan air bersihmu, Linggar?” salah satu dari mereka mewakili tanya yang lain.

“Boleh, asal kalian mau membantu kami,” jawab Linggar.

Sebenarnya Linggar tak yakin dengan jawabannya. Bagaimana jika air tak keluar di saat mereka telah bekerja. Tapi Linggar ingat ucapan ayahnya tentang Zat Maha Pengabul Doa. Ucapkan harapanmu dengan sungguh-sungguh, Dia akan menjadikannya nyata. Linggar mulai berkomat-kamit mengucapkan harapan,  melanjutkan langkah menuju sumur, mengayunkan timba dengan tepat sambil terus melafalkan harapan. Secara ajaib timbanya terisi penuh air. Keajaiban itu memang ada, batinnya.

Linggar tergopoh mengambil cerek besar di sudut dapur. Benda yang sudah lama sekali tak digunakan.

***

Ada sekitar sepuluh orang termasuk Linggar yang bekerja sama membangun tanggul. Tepat hari kelima, bayangan Linggar menjadi kenyataan. Mereka melanjutkan dengan menyisihkan sampah-sampah di sekitar kolam di sekitar rumah mereka.

“Bisakah kalian membuat saluran air dari genting-genting rumah kalian ke arah kolam? Aku ingin ketika hujan datang kolam akan segera terisi penuh,” ucap Linggar dan mereka menurut.

Sudah hari kesepuluh tapi hujan tak kunjung datang. Orang-orang mulai menuduh Linggar pembual. Linggar menyanggupi jika dalam lima belas hari hujan tak turun juga, maka sumur miliknya boleh mereka pakai bersama. Ucapannya cukup mampu meredam emosi orang-orang.

Linggar kembali ingat pesan sang ayah, harapan. Dia harus kembali merapalkan harapannya. Kali ini dia minta semua orang turut membuat harapan.

Tepat di hari kelima belas, ketika Linggar telah bersiap membuka pintu rumahnya lebar-lebar, rintik pertama jatuh tepat di dahinya, merembes turun ke arah puncak hidung dan berhenti di atas bibir keringnya. Lidah Linggar menjulur memastikan itu adalah air hujan. Manis, gumamnya. Spontan dia berteriak, mengalahkan gemuruh guntur pertanda musim kemarau telah diakhiri.

Semua orang keluar demi mendengar teriakan Linggar. “Bibit langit telah disemai. Kita akan hidup.”

Semua orang turut bersorak-sorai. Para wanita yang tak pernah keluar rumah pun ikut bergembira meski dengan langkah yang tak mungkin digambarkan saking susahnya.

“Banjir! Banjir! Hujan akan mendatangkan banjir.” Seorang lelaki menyeruak di antara kerumunan dengan histeris.

“Tidak, Pak. Kita sudah membuat lubang-lubang di tanah. Air akan meresap tanpa meninggalkan genangan kotor lagi,” Linggar menimpali.

“Kau pembual!” hardik lelaki lainnya.

“Percayalah! Sejauh ini belum kalian temui kebohonganku, bukan?”

Mereka mengangguk, meski keraguan masih jelas di sorot mata mereka namun tak hendak membantah. Tak ada lagi yang bisa diharapkan, jika mereka tak sampai memakan bangkai saudaranya, itu semata karena masih tersisa rasa sayang di hati mereka.

Hujan pertama tak terlalu deras, tanggul hanya terisi bagian dasar saja, Linggar terus merapalkan harapan, semoga besok masih ada hujan lagi.

Benar saja, hujan berlangsung setiap siang selama tiga hari. Air dalam tanggul mulai terisi, hampir penuh. Linggar mulai memutar otak, apa yang harus dilakukan setelah ini. Dia terus menyusun rencana: mencangkul tanah, membuat saluran irigasi, menyiapkan petak-petak sambil menunggu bibit langit mulai bersemai.

Namun sering kali Tuhan masih menguji kesungguhan harapan manusia, sampah-sampah plastik yang mereka kumpulkan kembali menyebar dibawa arus air hujan. Masalah kembali terjadi. Orang-orang kembali menyalahkan Linggar. Secara tiba-tiba pula tanggul jebol, sebuah lubang kecil tak terdeteksi mengawali kebocoran. Tangan-tangan kumal menuding wajah Linggar, tak luput dua kawannya juga turut menyalahkan. Dengungan demi dengungan cacian, sumpah serapah, silih berganti menghujani Linggar seiring bertambah deras hujan dari langit. Linggar seperti beku, tubuhnya tak bergerak sedikit pun menyaksikan segala usahanya hancur dalam sekejap. Kali ini dia tak ingin lagi berharap! (*)

Malang, 24 November 2019

Lutfi Rose, menulis adalah ungkapan kejenuhan hidup. Bagi ibu empat orang anak ini, menulis bisa membawa ke dunia tanpa batas yang tak mungkin diraih di dunia nyata. Dia adalah salah satu penulis di web Lokerkata.com dan aktif di sosmed dengan nama FB @Lutfi Rosidah, IG @Arifa Style dan Wattpad @Lutfi Rose.

 

Komentar juri:

Membaca cerpen ini kita serasa disodori slogan “buanglah sampah pada tempatnya”, dan kerennya, kita dibuat sadar tidak dengan cara yang menggurui. Bahasanya yang puitis menambah “nyess” tiap deskripsi bumi yang sudah di ambang kehancuran.

Dan mari, kenalan dengan Linggar, si tokoh yang penuh harapan, bahkan meski dipandang sebelah mata gara-gara idenya tentang “bibit dari langit”. Bagaimana perjuangannya meyakinkan orang-orang. Cerita ini patut dibaca!

-Fitri

Tantangan Lokit adalah perlombaan menulis cerpen yang diselenggarakn di grup KCLK.

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

1+
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close