CerpenPilihan EditorTantangan Lokit 13

Leukotomi

Leukotomi

Oleh : Tata Zee

Cerpen Terbaik ke-2 Tantangan Lokit 13

Olla menggulir layar tabletnya. Di sana, lembaran-lembaran putih kekuningan bercetak huruf balok hitam memenuhi layar. Tangan kanan gadis berambut sepunggung itu memegang botol kapsul yang menganga. Sementara di meja, air dalam gelas berkaki ramping terus beriak karena getaran yang dihasilkan ketukan kaki Olla.

“Kuno sekali!” gumamnya tanpa ekspresi. Di layar komputer tablet kini muncul sebuah gambar seorang dokter tengah menemani pasien yang naik kursi roda. Keterangan di bawah gambar itu adalah “peraih nobel kedokteran sebab berhasil mengembangkan obat untuk penderita gangguan jiwa”.

Gadis yang sedikit rambut di bagian pelipisnya dikucir dua itu bangkit. Ia mengeluarkan beberapa kapsul hijau dari botol putih tadi lalu menenggak tanpa kesulitan. Setelah itu, air dalam gelas ditandaskan. Olla harus bergegas atau untuk kesekian kalinya, ia akan mendapat teguran akibat terlambat.

Setelan kemeja dan celana hitam ketat menempel presisi di tubuh Olla. Begitu turun di lantai bawah, sebuah “peluru peluncur” menghampiri. Gadis itu masuk, memasang sabuk pengaman, lalu bersiap meluncur. Seperti namanya, peluru peluncur adalah sebuah moda serupa peluru raksasa. Kendati raksasa, peluru peluncur hanya bisa dinaiki oleh maksimum dua orang. Kendaraan ini meluncur dalam tabung panjang yang disebut “tabung peluncur”. Memanfaatkan kekuatan magnet, peluru peluncur bisa bergerak hingga kecepatan 523km/jam tanpa membahayakan orang di dalamnya.

“Hari ini mempelajari buku yang ditinggalkan nenek moyangmu … lagi?” tanya Alejandro, teman perjalanan menuju kampus Olla saat ini.

“Oh, hari ini dapat tumpangan sama kamu, ya?” jawab Olla tidak tertarik.

“Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan, intelektual sekali!”

Olla menghela napas. “Hanya itu satu-satunya yang tersisa dari harga diri sebagai manusia soalnya.”

“Ha? Apa maksudmu?”

“Intelektual. Menurutmu apa lagi?”

Pemuda berambut terang itu memegangi pelipisnya sembari mengeluh. “Dengar, ya, Nona yang Tergila-gila sama Budaya Nenek Moyang. Di kampus, kita diajari juga untuk melakukan kebaikan, loh.”

Gadis langsing itu menutup mata, lalu menggeleng, kebiasaan unik ketika ia merasa ingin mengutarakan sesuatu untuk membantah. “Jadi, intelektual itu bukan kebaikan?”

“Ha? Haduh, bukan itu maksudku! Apa, ya, istilahmu? Oh, iya, ‘empati’! Aku heran, dari mana kamu dapat kata super arkais itu? Tapi, kita juga masih punya empati yang kamu bilang itu, bukan hanya intelektual.”

Belum sempat Olla membuka mulut, layar di jendela peluncur peluru menampilkan sebuah titik dengan gambar riakan hijau, tanda bahwa mereka sudah sampai tujuan. Alejandro menekan titik itu, lalu sinar biru memenuhi lis pintu peluru peluncur sebelum benda itu menganga. Mereka lalu keluar.

Tabung peluncur berbentuk serupa gorong-gorong, tetapi menggunakan material tembus pandang yang sangat tebal. Tabung ini terdiri dari dua lapisan. Tabung yang lebih kecil adalah lintasan peluru peluncur, sementara yang lebih besar, digunakan untuk melindungi aktivitas manusia dari air laut. Iya, teritorium ini memang terdapat di kedalaman laut.

Menurut sejarah, menuju perang dunia ketiga, pembuatan teknologi senjata meningkat tajam. Di mana-mana diadakan percobaan untuk menguji senjata dengan daya hancur tinggi, mulai dari senjata konservatif, hingga senjata dari inti nuklir. Sebuah percobaan dengan perhitungan meleset di dekat Everest mengakibatkan awal bencana serius. Ledakan dahsyat itu bahkan berhasil menstimulasi lakolit Everest hingga bergejolak dan melelehkan hampir tujuh puluh persen es di sana. Siapa yang menyangka kalau gunung beku itu ternyata memiliki cadangan magma yang amat sangat melimpah? Ya … semua orang, tetapi tidak ada yang cukup peduli karena perhitungan para ahli yang mengatakan aman-aman saja.

Bencana itu benar-benar memengaruhi pergerakan lempeng tektonik di seluruh bagian bumi. Beberapa benua tenggelam, hanya menyisakan cembungan sempit yang terus-terusan erupsi. Beberapa daratan aman untuk beberapa puluh tahun. Daratan ini disebut “daratan rentan”. Sekarang, hanya sebuah kawasan di Asia Tenggara yang dipercaya masih memiliki daratan yang lebih tinggi daripada air laut. Itu pun entah benar atau tidak. Sistem informasi internasional banyak lumpuh.

Selama waktu 167 tahun itu, negara-negara yang berbagi daratan rentan, mulai merencanakan pembangunan tempat-tempat tinggal dalam laut. Tempat tinggal ini lalu dinamai “teritorium”. Selain karena daratan aman sudah hampir tidak ada lagi, pilihan melakukan pembangunan dalam air laut juga digunakan untuk menghalau suhu panas bumi yang meningkat hingga 1ºC. Air laut digunakan sebagai tameng dari suhu yang begitu tinggi tersebut. Untunglah, segala macam teknologi yang berkembang, membantu pembangunan itu selesai tepat waktu sebelum daratan rentan akhirnya benar-benar tenggelam juga akibat bergesernya lempeng penopang terakhir di litosfer bumi dengan gerakan lumayan cepat, hanya tujuh kali gempa bumi.

Olla lalu berjalan menuju lift yang akan membawa mereka menuju ruang kelas. Bangunan-bangunan di teritorium ini, terhubung melalui tabung peluncur. Setiap pemberhentian, ada sebuah ruang tonjolan yang menghubungkan penumpang tabung peluncur menuju bagian utama gedung yang disebut “halte”. Olla dan Alejandro menaiki lift di halte untuk menuju bangunan kampus.

“Ngomong-ngomong tentang intelektual,” ujar Alejandro ketika keduanya memasuki aula utama kampus.

Olla menghentikan langkah. Matanya memandang gelembung air dari jendela dengan tidak berminat. “Ada apa lagi dengan intelektual?”

“Nenek moyangmu apakah mencatat tentang bakteri pemakan plastik?”

Gadis itu mengarahkan pandangan ke atas sejenak, baru menjawab, “Tidak tahu. Aku belum selesai membaca. Kenapa memangnya?”

“Oh. Eng … saat mendapat tugas mengamati tabung peluncur di Kantor Pemeliharaan Ujung menggunakan mikroskop saku, aku melihat adanya jazad renik yang mengisi retakan halus di luar tabung, seolah mereka memakan bagian luar gorong-gorong sedikit demi sedikit.”

***

Di bawah tekanan lingkungan yang tidak begitu dinamis tetapi sangat berbahaya, manusia tidak bisa seenaknya lagi makan, minum, apalagi bereproduksi. Makanan digantikan pil-pil nutrisi, sehingga mengurangi hasil sekresi tubuh. Minuman dikemas dalam bola-bola gelatin. Satu orang hanya boleh mengkonsumsi maksimal delapan bola berkapasitas sekitar 250 mililiter. Semakin sedikit yang dikonsumsi, artinya semakin sedikit limbah. Minimumnya limbah akan meningkatkan angka harapan hidup sebab penyakit dan infeksi menular tidak berkembang lagi.

Reproduksi juga dibatasi. Manusia dilahirkan hanya apabila dibutuhkan saja. Ahli hitung-hitungan yang dimiliki setiap teritorium, pandai mengkalkulasikan berapa jumlah manusia paling idela setiap lima tahunan. Sementara dokter-dokter andal, dipercaya untuk mengembangkan sistem penurunan genetik yang sempurna agar anak-anak yang lahir, siap menjalani kehidupan sesuai kebutuhan teritorium.

Segala kehidupan damai yang dibangun dan dihitung-hitung secara hati-hati selama hampir tiga abad itu, hari ini sedang menuju kehancuran. Sebuah kebocoran yang lambat ditangani mengakibatkan banjir di area dalam teritorium. Banjir ini terjadi akibat dosen yang mengampu mata kuliah “peralatan inti”, mengabaikan teori Alejandro tentang bakteri pemakan plastik. Bakteri itu berkembang biak dengan sangat cepat dan memakan lapisan luar tabung peluncur sedikit demi sedikit. Tabung peluncur memang dibuat dari serat fiber yang diekstraksi hingga bening, ditambah butiran-butiran plastik. Jadi, apabila bakteri itu benar-benar ada, maka kehidupan mereka benar-benar sedang terancam.

Waktu itu, Alejandro bahkan sampai berdebat. Katanya, “Saya memiliki sebuah rujukan tentang kebiasaan dan pola generasi manusia sebelum generasi kita tentang penggunaan plastik. Mereka menggunakan terlalu banyak, sehingga membuang terlalu banyak juga.”

Semua orang tertawa, termasuk sang dosen.

“Lalu, itu mengilhami nenek moyang Nona Olla untuk mengembangbiakkan bakteri pemakan plastik?” tantang sang dosen. “Aku tahu Nona Olla adalah orang yang inovatif dalam urusan desain, tetapi, catatan nenek moyangnya itu ibarat daratan rentan, sudah tidak relevan lagi. Lagi pula, bukankah semua orang sudah setuju kalau catatan itu hanya delusi?”

Olla yang diolok-olok diam saja. Gadis itu masih saja berekspresi datar, mungkin menyesal menceritakan tentang catatan nenek moyangnya kepada Alejandro perihal itu. Sementara Alejandro menggeram dan meninggalkan ruang kuliah padahal belum usai.

7×24 jam setelah perdebatan itu, bakteri pemakan plastik benar-benar menyerang. Mereka membocorkan dinding di Kantor Pemeliharaan Ujung, kantor pemeliharaan yang mendapat pancaran sinar matahari paling minimum. Akibat tekanan air laut, retakan kecil itu cepat sekali membesar. Kepanikan melanda. Sementara Olla dan Alejandro berhasil melakukan tindakan preventif. Mereka memperbaiki kapal selam tua di garasi kediaman Olla, tiga hari sebelum bencana itu datang.

Setelah air benar-benar meluluhlantakkan teritorium yang mereka huni, kini mereka mengarungi lautan, mencari teritorium lain untuk tinggal.

Setelah memastikan inti nuklir di ekor kapal selam baik-baik saja, Olla berjalan menuju jendela bulat berbaut banyak. Matanya mengawasi gerakan air.

“Kapal ini terbuat dari logam, jendelanya dari kaca, jadi, menurutku, akan aman dari ancaman bakteri itu. Yah, setidaknya mungkin satu dekade sebelum akhirnya melapuk.” Alejandro memegang bola gelatin sebelum menggigitnya.

Olla hendak menjawab, tetapi didahului oleh suara sirene peringatan. Alejandro bergegas menuju ruang kemudi. Di layar yang menampilkan peta, sebuah titik ditandai dengan riak hijau.

“Kita menemukan sebuah teritorium! Akhirnya, setelah tujuh bulan!” Alejandro girang. Gadis seperjalannya hanya tersenyum kecil.

Mereka buru-buru mengarahkan kapal selam menuju lintasan serupa tabung peluncur yang di samping kirinya terdapat bangunan seperti kubah. Alejandro tidak dapat menahan senyum semringahnya hingga kemudian, mereka sadar, bahwa tabung peluncur teritorium itu, di sebelah utaranya, sebuah bekas retakan yang dihantam tekanan air laut menganga. Teritorium itu sudah habis disusupi air.

Senyum di wajah Alejandro memudar. Untuk sesaat, ia ingin sekali menangis, tetapi di saat bersamaan, ia juga ingin tertawa. Ia lupa fakta bahwa tabung peluncur di teritorium itu juga menggunakan bahan yang sama dengan teritorium asal mereka, dan air adalah media penyebaran bakteri paling efektif.

“Sepertinya, kita seharusnya tidak mencari teritorium,” ucap Olla tiba-tiba. Ia mendekat, lalu mencium pipi Alejandro. Tangannya mengenggam pelan tangan pemuda itu yang tengah bersandar di atas tuas kemudi. “Ayo, kita cari daratan saja. Daratan Asia Tenggara.”

Di Bibir Pantai Berombak Tenang, 24 November 2019

Tata Zee, ingin menjadi penulis produktif.

 

Komentar juri:

Untuk sebuah genre sci-fi, Tata sepertinya paham betul dengan apa yang ia tulis sehingga cerita ini tersaji dengan sangat baik. Detail cerita, distopia, serta ending yang menarik menjadi sajian yang mungkin membuat pembaca berpikir, “Loh, kok udah selesai aja, sih?” <3 <3

-Halimah Banani

Tantangan Lokit adalah perlombaan menulis cerpen yang diselenggarakn di grup KCLK.

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

0
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close