CerpenPilihan EditorTantangan Lokit 13

Dilarang Menanam

Dilarang Menanam

Oleh: Eda Erfauzan

Terbaik ke-10 #Tantangan_Lokit_13

Laki-laki berkumis tebal itu mendesah. Kedua lengannya terlipat rapi di atas meja, sementara kedua matanya lurus menatap perempuan yang tengah menunduk dengan wajah mengandung tangis.Rasanya minggu ini ia sudah berdoa berulangkali agar tak bertemu lagi dengan masalah yang sama. Ia menggaruk pipi.

“Ibu tahu, apa yang Ibu lakukan ini melanggar hukum?”

Perempuan itu menggeleng.

“Berjualan bahan-bahan makanan atau minuman yang akan membuat orang tidak mudah sakit itu ilegal. Ibu tau kenapa?”

Perempuan itu kembali menggeleng dengan wajah semakin tertunduk.

“Itu hanya jamu dengan bahan-bahan yang saya tanam sendiri,” lirih suara itu terdengar.

Laki-laki itu menegakkan tubuh. Tangannya masih terlipat di atas meja.

“Nah, itu lagi! Ibu bisa kena pasal berlapis. Bertani dan berdagang secara ilegal.”

Perempuan itu terhenyak, pelupuk matanya bergetar.

“Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya adalah milik negara. Dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk kemakmuran rakyatnya. Ibu tahu sejak tahun 2027 setiap warga negara Argapurna dilarang untuk menanam apapun yang bisa memenuhi kebutuhannya. Semua tanaman terutama yang menjadi bahan produksi dikuasai pemerintah.”

Air mata yang sejak tadi ditahan pun luruh.

“Bayangkan, jika tiap orang bisa memenuhi kebutuhannya sendiri karena mereka menanam sayur -sayuran, tanaman obat, cabai, dan bumbu lainnya. Bayangkan jika semua orang sehat karena terjaga kondisinya dengan minuman atau jamu yang dibuat sendiri. Tidak akan ada jual beli. Hasil produksi perusahaan tidak ada yang beli, tidak ada yang sakit. Selanjutnya, perusahaan dan rumah sakit bangkrut, lalu negara akan bangkrut. Ibu mau dicap melawan negara? Musuh yang menyebabkan negara Ibu bangkrut?

Perempuan itu menggelengkan kepala, air matanya makin deras. Berulang kali ia menyeka dengan ujung selendang yang kini mulai terlihat basah.

“Dulu diperbolehkan,malah kami dianjurkan untuk memanfaatkan setiap lahan kosong di sekitar rumah.”

“Ya, tetapi sejak 2027 itu dilarang dan sudah ada undang-undang beserta sanksi hukumnya. Saat ini Ibu sudah melanggar dua pasal tentang perdagangan dan pertanian ilegal. Hukumannya dua belas hingga delapan belas bulan.”

Lelaki itu kembali menatap perempuan di depannya dan kantong plastik di atas meja sebagai alat bukti. Kata-katanya membuat perempuan itu nyaris pingsan. Terbayang empat orang anak yang tengah menunggunya di rumah.

Sesungguhnya, nurani laki-laki itu masih terusik. Ia berharap setelah seorang anak muda yang banyak bertanya, terkena pasal penghasutan, ia tak akan bertemu lagi dengan masalah seperti ini.Pertama dia menangani laki-laki tua yang mengebor tanahnya untuk memasang pompa air. Air dan tanah milik negara dan laki-laki itu pun ditangkap. Tidak boleh warga mengambil air meski di tanahnya sendiri. Pemerintah sudah bekerja sama dengan perusahaan swasta untuk memasok kebutuhan air warganya.

Ada anak muda yang banyak bertanya itu, ia mempertanyakan kenapa taman yang dibangun sebuah perumahan di lingkungan mereka tak boleh lagi digunakan warga sekitar, tetapi untuk foto-foto yang akan diunggah ke media sosial malah difasilitasi.Anak muda bodoh sok kritis, ia tidak paham jika foto-foto yang diunggah di medsos lebih banyak untuk memuaskan diri bukan untuk menikmati keindahan danau buatan, pohon-pohon pinus yang memagarinya, dan bunga-bunga aneka warna yang ditata bergerombol. Kepuasan sesaat yang akan menguntungkan banyak pihak. Orang ber-selfie ria cenderung tidak peduli dengan lingkungan. Mereka hanya fokus pada diri sendiri. Itu tidak berbahaya.

Para selfier itu tidak akan terikat secara emosional dengan taman, ikatan yang akan melahirkan rasa kepemilikan yang berujung pada pertanyaan kenapa segelintir orang boleh memiliki tanah yang begitu luas? Bukankah bumi ini diciptakan untuk dinikmati bersama? Pertanyaan yang mengundang rasa tidak puas, memancing perlawanan dan pemberontakan. Sangat berbahaya.

Ya, para selfier yang datang itu malah menguntungkan bagi bisnis handphone, media sosial, operator, kecantikan, fashion, pariwisata, dan bagi perumahan yang membangun taman. Siapa tak butuh handphone dengan fitur canggih yang akan membuat diri berkelas. Produk-produk kecantikan yang membuat pemakainya terlihat glowing dan awet muda. Namun, bagi penduduk sekitar atau orang-orang yang memang sengaja datang untuk menikmati keindahan taman akan menghadirkan rasa memiliki. Terlebih jika warga sekitar yang telah bergenerasi tinggal di sekitar perumahan. Kenikmatan yang akan melahirkan rasa memiliki itu tidak boleh terjadi.

Suara tangis yang terdengar mengembalikan perhatian laki-laki berbaju krem pada perempuan di hadapannya. Ah, tiba-tiba saja ia merasa kelu dan memilih ke luar ruangan. Tak sanggup ia untuk menyelesaikan masalah ini. Ia akan meminta tolong kepada bawahannya lagi.
Sementara, perempuan itu makin deras air matanya meski tak ada lagi disertai isak. Teringat para tetangga yang menghilang dan tanah-tanah subur di halaman mereka berganti paving block setelah tanaman mereka dibongkar. Entah siapa yang melakukan.

Hatinya perih mengingat anak-anaknya. Apa yang bisa ia wariskan untuk mereka jika keterampilan meracik obat yang ia miliki dan diwariskan turun temurun dianggap pelanggaran? Bahkan, memanfaatkan lahan kosong dengan menanam tanaman yang dibutuhkan di sekitar rumah dikenai hukuman. Apa yang bisa dimiliki anak-anaknya? Bagaimana kehidupan mereka? Jangan-jangan di masa mereka nanti, pemerintah mengatur saat-saat untuk berbahagia atau alarm untuk tertawa.

Ciputat, 24 November 2019

Biodata: Eda Erfauzan, perempuan yang tersesat di rimba aksara dan enggan pulang.

 

Komentar juri:

Segelintir orang boleh memiliki tanah yang begitu luas? Bukankah bumi ini diciptakan untuk dinikmati bersama? Pertanyaan yang mengundang rasa tidak puas, memancing perlawanan dan pemberontakan. Sangat berbahaya.

Banyak pesan di sana dan perenungan bagaimana jika kehidupannya juga diatur oleh pemerintah beberapa tahun ke depan. Kalau boleh berprasangka, cerpen ini berisi semacam satir yang kental. Tapi enak dinikmati dan disampaikan dengan sangat sederhana.

-Respati

Tantangan Lokit adalah perlombaan menulis cerpen yang diselenggarakn di grup KCLK.

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

0
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close