CerpenPilihan EditorTantangan Lokit 13

Bi, Ris, Hujan, dan Kiamat

Bi, Ris, Hujan, dan Kiamat

Oleh : Reza Agustin

Terbaik ke-7 #Tantangan_Lokit_13

“Aku mau membeli ini.” Pria itu menunjuk sebotol air kemasan dengan kemasan paling mahal. Harganya mungkin setara dua keping emas.

“Kamu sungguh mau beli?” Penjual menatapnya dengan kelopak mata saling melekat satu sama lain. Ia sangsi. Aku pun sama. Hanya satu setelan pakaian bau keringat dan tas kanvas lusuh. Ia tak punya sesuatu untuk membuat penjual terkesan. Ada setitik cahaya yang memantul dari balik lengan panjang itu. Pisau. Ah, dia memang tak punya emas dan bahkan sekeping uang untuk membeli.

“Iya,” Ia menyahut pelan, lalu detik berikutnya menodongkan pisau tepat pada muka kecut penjual, “kalau kau tak memberikannya, matamu akan kucongkel. Lalu kujual ke pasar gelap.”

Reaksi penjual itu sesuai dengan dugaanku. Ia menggebrak meja, lalu dua pria plontos setinggi dua meter muncul dari bawah meja. Masing-masing satu pukulan dan pria malang itu terlempar ke luar toko dengan muka bengkak. Lalu dengan lunglai, ia meninggalkan emperan toko sebelum dua tuyul raksasa itu membogem wajahnya lagi.

“Kau berani, tapi bodoh!” Aku menghadang jalannya.

Ia berkedip, mengembuskan napas, lalu melewatiku seperti angin dingin musim gugur. “Maaf, Nona. Aku tak mau bertambah bodoh. Aku hanya haus dan ingin membasahi tenggorokan ini.”

Ya, pria ceking dan jangkung itu memang kentara sekali. Ia mungkin tak mendapatkan apa pun untuk melumasi tenggorokan dan lambung selama berhari-hari. Tidak di sini dan tidak di mana pun. Sejak beberapa abad silam, air telah lenyap dari muka bumi. Tak lagi menggenangi danau, mengaliri sungai, bahkan mengeringkan laut. Tak ada air, tak ada kehidupan. Bahkan setelah seluruh negara membayar mahal peneliti dan laskar militer menelusuri seluruh bagian bumi, tak ada jejak-jejak air yang tersisa.

Pabrik-pabrik pengemasan air mineral memasang tarif meroket. Hingga satu botol mineral dihargai sebuah mobil keluaran Jerman. Para kapitalis babi haus uang, meraup uang-uang orang kehausan itu bak air. Dan hebatnya, mereka masih bisa menikmati air sendiri untuk minum sampai kembung, dan tentu saja, mandi.

Maka, hukum rimba kembali berlaku. Sistem pemerintahan tiap negara hancur bersamaan dengan orang-orang keharusan mengobrak-abrik gedung pemerintahan. Katanya negara tak becus mengatasi bencana. Pemimpin sekarang zalim hingga dunia kena imbasnya. Singkat cerita, runtuhlah semua pemerintahan. Ribuan eksperimen yang bertujuan menghasilkan air sintetis pun tak menuntaskan dahaga. Air artifisial itu memang benar-benar ada, tetapi sekali teguk menumbuhkan penyakit yang bahkan tak dapat diidentifikasi para ilmuwan, dokter, sampai dukun beranak. Maka orang-orang sial yang telah meminum air racikan entah apa itu, akhirnya mati perlahan.

Hanya ada satu harapan akan datangnya hujan yang datang tiap setahun sekali.

“Apa kau tak ingin memberiku seteguk air saja?” Ia memelas, matanya hampir kehilangan cahaya. Ia akan pingsan tanpa membutuhkan waktu lama.

Aku menggigit bibir, menimbang. Dengan mengambil pisau dan mungkin beberapa benda di tasnya untuk diloakkan, aku bisa mendapat beberapa botol air lagi di akhir bulan. Toh, jika dilihat, dia pasti mati sebentar lagi. Satu teguk air tak akan jadi perkara.

Ia mengekor. Gubukku penuh tumpukan sampah hasil mencopet di kanan dan kiri. Bahkan tumpukannya lebih tinggi dari cerobong yang sudah tak mengebulkan asap sejak masih ditempati nenekku dulu. Pria itu tak banyak komentar saat kusuruh duduk di atas tumpukan sampah. Matanya makin menyipit ketika aku membawa secawan air. Tangannya gemetar, sedikit membawa kekhawatiran ia akan menumpahkan air yang berharga itu. Agak terpaksa, kutempelkan cawan pada bibirnya. Ketika seluruh isinya tandas, ia mungkin sudah tak punya tenaga untuk bangun. Biarlah dia istirahat di sini sejenak, seraya kupilah barang-barangnya yang bisa kujual.

Namun, ia tak begitu. Ia langsung segar bugar. Bibirnya yang semula kering dan pecah-pecah kini menjadi halus, warna merah muda dan ketika jempolku tadi mengenainya, terasa kenyal. Secara ajaib, ia kembali sehat dengan wajah merona dan mata yang memancarkan sinar kehidupan.

“Kau menyelamatkan hidupku, Nona. Aku akan berterima kasih nantinya. Siapa namamu?”

“Bi, itu peninggalan terakhir ibuku.”

“Biseksual?”

“Bukan! Bi untuk hujan.” Buru-buru aku koreksi spekulasi liarnya.

“Baiklah, Nona. Namaku Ris, aku janji akan memberikanmu balas budi. Satu cawan untuk satu botol. Jika setiap harinya kau memberiku satu cawan, keesokan harinya akan kuberi satu botol air.”

Aku tertawa. Ia penipu!

“Daripada itu, kenapa tak kauberi pisau dan benda-benda di dalam tasmu?”

Ia tersenyum simpul, lantas membuka tas. Tak ada apa pun di dalamnya selain botol air kosong. Ia tak membawa pisau. Tak ada barang berharga yang tertinggal. Dan, sebuah fakta baru bahwa penglihatanku memburuk karena tak pernah melihat ia membuang pisau, tetapi benda itu tak ada. Sial! Satu cawan berhargaku.

***

Ia, tak bercanda. Ris benar-benar meninggalkan sebotol air di depan pintu gubukku pada subuh hari. Ia tak membawa air biasa. Air dalam botol itu memiliki rasa yang lebih segar dan bertahan lama menghidrasi tubuh. Air hebat yang membuatku tak lagi merasakan haus selama pagi hari mencopet. Juga air luar biasa yang membuatku tetap kenyang walau tak makan apa pun sampai siang. Lalu saat malamnya, kudapati ia di teras gubuk dengan pakaian masih sama lusuhnya seperti kemarin.

“Keberatan memberiku secawan air? Tolong jangan air yang kuberikan padamu. Kau pasti masih mempunyai air minum, bukan?”

Maka, seperti itulah. Setiap harinya ia akan meninggalkan satu botol air minum untukku. Stok air minum yang kupunya bertambah satu botol tiap harinya. Dan stok air yang kubeli di pasar akhirnya menjadi milik Ris. Karena ia memang tak akan pernah mau minum air yang ia bawakan padaku. Sebagai gantinya, ia justru menyuruhku menjual air itu. Air yang ia tinggalkan untukku tiap pagi. Kujual dengan harga lebih mahal karena air pemberian Ris benar-benar berbeda dari air biasa. Satu botol kujual seharga dua keping emas dan satu keping perak. Dalam satu minggu, ada lima botol yang kujual. Sisanya menjadi konsumsi pribadi. Selalu kusempatkan membeli air terbaik penjual pemilik dua tuyul itu untuk Ris. Pria inilah yang selalu memesan air pemberian Ris dengan hati berbunga-bunga. Katanya air itu bagus buat kulitnya.

Ketika kembali dari rutinitas seharian di pasar kota, aku akan mendapati Ris kembali duduk di emperan gubuk. Kami akan duduk, menyaksikan karpet bintang di langit tanpa mega. Dan, tanpa sadar aku akan berbagi cerita dengannya. Ia pun hanya duduk di sampingku dengan secangkir air di pangkuan.

“Ibuku selalu bilang bahwa bumi ini sudah tak bisa lagi ditinggali manusia, maka janganlah jadi manusia. Mungkin ia ingin jadi babi, maka pagi harinya setelah mengatakan itu padaku, ia berencana menukar anak semata wayangnya ini dengan segalon air. Tapi ia kalah cepat, karena aku lari duluan. Membawa semua stok airnya dan lari ke sini. Aku sudah tak tahu bagaimana kabarnya. Mungkin mati, atau mungkin sudah tak jadi manusia. Barangkali ia jadi babi atau anjing.”

Ris menyeruput air di cangkirnya perlahan sebelum membalas, “Babi karena rakus dengan harta dan anjing karena menjilat kaki-kaki majikannya.”

“Nah! Itulah ibuku! Binatang.”

“Kau juga sama. Kau kucing,” imbuhnya.

“Karena mencopet diam-diam?”

Ia menggeleng pelan. “Karena kau hidup sendiri dan tak ingin merepotkan siapa pun.”

Cangkir gelasnya diturunkan, matanya teralih menatapku. Ada sejuta cerita yang tersembunyi dari sorot matanya. Namun, kembali ia pendam dengan kedipan mata yang lama.

“Seperti kau juga?”

“Aku membutuhkanmu. Itu berarti aku merepotkan orang lain. Aku tak bisa hidup sendiri.”

Ada ruang bagi kami saling menatap. Baru kusadari bahwa matanya seperti lautan yang luas, biru, gelap, dan menyimpan banyak rahasia seperti dongeng Nenek tentang laut zaman dahulu kala yang katanya banyak menyimpan cerita dan misteri.

“Itu berarti kau manusia. Dan aku hanya, kucing pencuri,” pungkasku seraya mengalihkan pandangan.

“Tidak, aku bukan manusia. Tapi bukan sepertimu.”

Mata kami kembali berpandangan. “Lantas apa?”

“Ris, hanya Ris.”

Nyatanya, obrolan ngalor-ngidul kami tiap malam membuat hawa panas itu semakin mengusik. Sesekali aku akan menendang selimut saat tidur, menetralisir debaran di dada, lalu membekap kepala dengan bantal kecut. Ada kalanya aku akan menanti subuh tiba. Mendengar decitan kayu tua saat kaki Ris menginjak lantai beranda. Namun, tiada keberanian yang membuatku menyongsong dirinya. Napasku akan satu-satu saat mendengar ia mendekat dan jantungku akan hilang kendalinya saat ia meninggalkan gubuk.

Satu harapan dan doa yang terpanjat tiap pagi adalah agar malam segera datang, dengan begitu aku dapat melihatnya lagi. Dengan begitu dapat kuselami matanya yang dalam, kuresapi suara beratnya yang menegangkan bulu roma, dan menikmati bagaimana dentuman di dada itu membuat pipi merona. Ia pernah berjanji akan mengajakku melihat hujan. Tanggal telah ditetapkan. Tinggal menghitung hari dan mungkin aku akan mengatakan itu padanya. Sebuah kesediaan bahwa aku akan menerima kehadirannya di seluruh hidupku, bahkan walau ia hanya akan merepotkanku seumur hidup. Semoga, saat itu tiba. Di bawah guyuran hujan yang pertama dan terakhir di tahun ini.

***

“Hei, copet!”

Sialan! Wanita berperut seperti babi itu larinya kencang juga. Ia benar-benar sensitif dengan tatapanku saat melihat betapa bulat dirinya. Mungkin karena terlalu sensitfnya ia hingga tahu bahwa aku telah mengambil dompet mahal miliknya. Pasar yang penuh sesak dengan orang dan bau keringat itu terbelah, tak ada yang berbaik hati membantu ibu berbadan tambun itu menghentikanku. Dengan gesit, aku menyelinap di antara tiap celah, sesekali melompati orang yang tengah wara-wiri, lalu aku memanjat sebuah gedung yang paling tinggi. Dan, wanita itu tak lagi mengejar.

Seraya menetralkan napas yang tak beraturan, kuteguk lagi air yang tersisa dari botol. Kepalaku mendongak, mendapati mega mendung abu-abu berarakan di langit. Lebih tebal dan dalam daripada tahun-tahun yang lalu. Ada gerakan-gerakan yang aneh di balik lebatnya awan-awan itu. Seakan ada sesuatu yang berenang di dalamnya. Sangat besar, mungkin seukuran gedung tinggi tempat kakiku berpijak. Geletar takut itu tiba-tiba saja mengusik. Selama bertahun-tahun hidup, tak pernah kudapati langit kelam seperti ini.

Ketika orang-orang di bawah sana saling berharap mereka dapat menampung air sebanyak-banyaknya, aku justru ingin kabur. Ke mana pun itu, bersembunyi. Takut akan sesuatu yang mungkin saja menghujani kepala. Dan, itu bukan hanya air. Mungkin seperti binatang. Yang selama ini hanya kuketahui lewat buku-buku usang di tumpukan sampah. Ikan, bukan, lebih besar lagi. Paus? Hiu? Naga? Sekelebat pergerakan dalam awan itu menepis spekulasi. Panjang, besar, meliuk-liuk dengan kecepatan luar biasa. Bukan ular. Nenek pernah bercerita tentang ular sebelum kematiannya, mereka lambat. Namun, Nenek pernah menyebut tentang iblis. Leviathan.

“Jadi kau melihatnya, Bi?” suara Ris memecah konsentrasi. Nyaris saja aku terjatuh dari ketinggian belasan meter kalau bukan karena ia menahanku dalam dekapan dan membawaku ke tengah rooftop.

“Kiamat akan datang, Bi. Ikutlah denganku. Kita bersembunyi. Aku tahu tempat bersembunyi dengan aman.” Ia berbisik di telinga, kembali membuat bulu kuduk meremang.

Tanganku mendorongnya menjauh, menciptakan jarak. Mata biru yang dalam itu lagi-lagi menyiratkan rahasia.

“Kenapa? Kenapa kau ingin aku ikut denganmu? Dan, lagi. Kau siapa?”

Alih-alih menjawab. Ia justru membuka lapisan pakaiannya. Kulit tubuhnya dihiasi dengan banyak barcode, angka-angka rumit, dan saat ia berbalik, aku terduduk lemas. Lukisan ular besar paling menyeramkan dan realistis yang pernah kulihat. Ia benar, makhluk yang berenang di dalam awan itu adalah Leviathan.

“Aku lahir di laboratorium. Kau ingat eksperimen air palsu itu? Aku adalah anak yang terlahir dari rahim wanita tikus percobaan. Ibuku meninggal karena air itu, tapi aku justru terlahir dengan kemampuan buatan itu. Aku bisa menghasilkan air dengan vitamin dan mineral yang tinggi, itulah mengapa air itu rasanya enak, bukan? Hanya saja, aku tak bisa meminumnya sendiri. Aku butuh air dari luar tubuhku untuk menggantikan air yang keluar dari pori-pori tubuhku. Aku bahkan bisa membentuk es dari tanganku, pisau yang lihat waktu itu. Sekarang satu pertanyaan terjawab, bukan?”

Mata kami berkelana menatap langit. Petir besar menarik atensi kami.

“Menurut para ilmuwan tempatku hidup, air sebenarnya tak menghilang dari bumi. Mereka hanya berpindah, dengan segala makhluk di dalamnya ke luar angkasa karena sebuah anomali yang tak dapat dijelaskan. Lalu, sekarang mereka akan kembali. Seluruh air itu. Dan, kau bisa tebak sendiri apa saja makhluk di dalamnya. Leviathan, paus, hiu, kraken. Mereka akan datang besok, membawa banjir bah besar. Kiamat.”

“Lalu kenapa kau mengajakku?”

“Untuk kelangsungan umat manusia. Kami juga butuh wanita untuk menciptakan manusia baru. Kau harus ikut, jadilah pasanganku. Kita akan aman di tempat persembunyian itu, yang mana Leviathan tak akan dapat menembusnya.” Tangannya terulur, menarikku bangkit.

“Kita akan hidup dalam inti bumi, sampai saatnya banjir bah itu berakhir, marilah kita bersembunyi,” imbuhnya.

Titik-titik air yang berjatuhan bagai tirai itu membuatku tak memiliki banyak alasan menolak. Ia menggenggam tanganku kencang dan kami menembus hujan. Sebelum kiamat itu benar-benar datang.

Wonogiri, 24 November 2019 

Reza Agustin, pecinta kucing dan fiksi. Wonogiri 20/08/1997

 

Komentar juri:

Meski ada keganjalan tentang habisnya air di bumi, tetapi tak bisa dimungkiri kalau cerpen ini memiliki imajinasi yang liar dan menarik untuk dinikmati. Pun begitu Reza juga menyuguhkan ending yang tak kalah mencengangkan: tentang fakta ke mana perginya seluruh air selama ini. Memberikan kesan tersendiri pada benak pembaca, terutama saya. <3

-Halimah Banani

Tantangan Lokit adalah perlombaan menulis cerpen yang diselenggarakn di grup KCLK.

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

2+
Tags

Leave a Reply

Close