CerpenCerpen Anak

Awal dari Akhir

Awal dari Akhir
Oleh: JMaulana

Musim hujan belum ada tanda-tanda kehadirannya, panas matahari masih menjadi pengiring hari, dengan warna langit biru tanpa awan mendung yang menemaninya. Sebagian tubuhku sudah menguning, rapuh, hanya tinggal menghitung waktu embusan angin akan menerbangkanku, atau membuatku jatuh ke tanah kemudian membusuk. Beberapa daunku sudah terjatuh ke tanah atau ikut bergoyang ketika angin bertiup kencang kemudian membawa beberapa daunku ikut terbang.

Kemarin aku sudah bertanya pada pipit yang biasa hinggap pada dahanku. Apakah hujan akan segera hadir? Namun pipit itu menggeleng, mengatakan bahwa langit masih biru, matahari masih terik, udara masih kering, belum ada tanda bahwa hujan akan segera turun. Aku kecewa, hanya menunggu waktu aku akan gugur dan berakhir.

Aku tumbuh di tepi jalan di daerah tropis, dengan daun kecil namun berbunga indah. Bungaku kecil berwarna kuning. Yang membuatku bersedih, aku hanya akan dipandang indah jika bungaku sedang mekar, juga daunku sedang lebat, namun ketika bungaku belum mekar atau daunku mulai berguguran aku hanya akan dilewati orang begitu saja, atau dianggap membuat lingkungan kotor karena guguran daun serta bungaku. Untuk berteduh pun aku kurang rimbun, orang lebih memilih berteduh pada beringin atau pohon lainnya yang lebih teduh.

Terkadang aku menginginkan menjadi seperti jati, memiliki kayu yang kuat, juga daunnya yang lebar dan tebal biasa digunakan menjadi pembungkus makanan; atau menjadi tanaman pace, meskipun rasanya pahit namun banyak dicari orang karena segudang manfaatnya; juga pisang, tanaman yang banyak sekali kegunaannya; atau si kecil kemangi, walaupun kecil dan ringkih namun banyak dicari untuk mengharumkan masakan atau menjadi lalapan. Bukan aku, hanya dipandang ketika indah namun dilewati ketika gugur. Oh Tuhan, bukan berarti aku tak bersyukur karena mengatakan ini.

Siang ini pipit kembali menghinggapi dahanku, bersiul ramai mengundang perhatian bagi yang melihatnya. Siang ini matahari terik, daunku semakin menguning. Aku harap-harap cemas menyaksikan ujung daunku yang semakin rapuh, sebentar lagi akan terjatuh.
“Apa hujan masih lama?” ini kesekian kalinya aku bertanya pada pipit.
“Aku masih melihat langit berwarna biru, awan mendung belum menghiasinya,” jawab pipit kemudian, itu pertanda musim hujan belum ada tanda kehadirannya.
“Aku takut keindahanku akan segera berakhir,” kataku kemudian. Pipit tak menjawabnya, dia kembali berkicau menyanyikan lagu untuk alam, mungkin karena terlalu sering aku mengatakan ini.

Sebuah mobil berhenti di depanku. Seorang laki-laki dan gadis kecil keluar dari dalamnya. Sepertinya mobil tersebut mengalami masalah, laki-laki itu membuka kap mobil kemudian mengotak-atiknya. Sementara gadis kecil itu berteduh di bawahku sambil memperhatikan daunku yang menguning.

Anak itu mengambil satu daunku yang telah terjatuh di tanah kemudian membolak-balikkannya.

“Ada apa, Sayang?” tanya laki-laki itu memperhatikan gadis kecil. Sepertinya setelah berusaha mengotak-atik mobilnya namun tidak berhasil juga, laki-laki itu menyerah, menunggu teknisi datang kemudian ikut berteduh di samping gadis kecil.
“Ini namanya apa, Ayah?”
“Itu namanya pohon tabebuya. Kenapa, Sayang?”
“Kasian daunnya gugur.” Gadis kecil itu menatap daun-daunku yang berserak di tanah.
“Tapi itu bukan akhir, Sayang, itu awal yang baru.”
“Kenapa?”
“Setiap daun dan bunga yang gugur di tanah, lama-kelamaan daun itu akan membusuk, dan tanahnya akan menjadi tanah humus, tanah itu akan menyuburkan tanaman ini juga tanaman lain, jadi gugurnya daun dan bunga itu bukan akhir, tapi awal sebuah periode yang baru.” Laki-laki itu mengusap kepala anaknya, sabar menjelaskan. Gadis kecil itu mengangguk-angguk mendengarkan.
Aku mendengarkan percakapan mereka hingga laki-laki dan gadis kecil itu pergi. Pipit sedang tidak menghinggapi dahanku, jika ada dia, ingin kuceritakan bahwa aku menyesal karena tidak bersyukur. Karena sesungguhnya setiap skenario alam, skenario yang diciptakan oleh-Nya akan selalu terbaik.


***
18-10-2019

JMaulana, Ig : jihanalmasm

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

 

1+
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close