CerpenSastra

Ada Nyiur di Pantai

Ada Nyiur di Pantai

Oleh    : Ning Kurniati

Kau mungkin pernah memiliki sekumpulan teman, lalu tibalah suatu hari hubungan itu tiba-tiba merenggang, lalu kalian benar-benar serupa orang asing. Sebenarnya tidak betul-betul tiba-tiba, tapi itulah kata yang pas untuk mengatakan betapa ada ketidaksiapan untuk menerima. Aku tidak menginginkan keadaan seperti itu, dengan siapa pun dan di mana pun. Tetapi begitu waktu bergulir, ia juga membawa kisah-kisah kami pergi kemudian semuanya berlalu, sehingga pada akhirnya semua orang sepakat menyebutnya sebagai kenangan.

Di umurku yang dua puluh tujuh tahun, aku sudah banyak bertemu orang-orang, lalu berpisah dan sebagiannya lagi bertemu kembali. Bila dirunut ke belakang mungkin akan menghabiskan waktu yang berjam-jam dan bila ada bagian yang terlupakan mungkin aku akan memaksa diri untuk mengingatnya. Tidak boleh ada bagian yang terlupakan. Tetapi, aku tidak pernah melakukan itu. Tidak apa-apa jika yang teringat adalah kekonyolan, tetapi bila yang menyedihkan, sama saja menyakiti diri sendiri. Jadi, aku mencoba melupakan semuanya dan hanya mengingat-ingat yang membuat bahagia saja.

***

Hari ini aku akan mendatangi salah satu teman lamaku. Rumahnya terletak di pantai di daerah kami. Kami terakhir bertemu saat hari terakhir sekolah, untuk libur akhir semester selama dua minggu, pada saat duduk di kelas dua sekolah menengah atas. Setelahnya, kami tidak pernah lagi bertemu meski sekolah sudah terbuka dan semua orang kembali belajar. Pada hari-hari pertama semua anak sibuk menanyakan ketidakhadirannya, hingga sebuah kabar mengejutkan kami terima: Ia akan menikah dengan kekasihnya.

Berbeda dengan yang lain yang sibuk berspekulasi, aku hanya diam menanggapi. Bukannya tidak peduli, hanya saja ia bukan lagi anak kecil. Ia sudah tahu apa yang diperbuat, sehingga aku hanya ber-oh saja. Kemudian, teringat apa yang pernah disampaikannya, ketika beberapa dari kami duduk di bawah pohon bunga bugenvil di samping kelas. Aku tidak tahu kenapa seolah-olah hanya aku yang mengetahui hal itu—setelah mengonfirmasi pada teman-teman—padahal kami berjumlah enam sampai delapan orang, aku tidak mengingatnya dengan jelas. Semester depan mungkin aku tidak bisa lagi duduk seperti ini bersama kalian. Yang kuingat tanggapanku adalah “kenapa?”dan jawabannya adalah “tidak apa-apa”.

“Enak ya, tinggal di pinggir pantai seperti ini, tidak pernah kepanasan. Ada banyak angin ‘kan?”

“Apa maksudmu aku semakin hitam, padahal dulunya kulitku putih?” Aku tertawa.

“Secara tidak sadar mungkin itu memang maksudku, tetapi sungguh aku kira tidak akan kepanasan,” ucapku sambil mengibas-ngibas keringat yang, baru kurasakan bercucuran setelah mengambil posisi duduk.

“Jadi, bagaimana kabarmu?”

“Seperti yang kau lihat, aku baik.”

“Kau tidak bertanya balik tentang kabarku?”

“Untuk apa? Aku sudah melihatmu baik-baik saja. Kau terlihat sehat, tubuhmu bugar, wajahmu sama sekali tidak mengindikasikan kau sakit atau tertimpa masalah.”

“Bagaimana kalau semuanya memang tidak terlihat?”

“Kau bukan tipe orang yang seperti itu.”

“Bagaimana kalau sudah berubah?”

“Waktu tidak sedemikian itu untuk merubah orang yang suka blak-blakan tiba-tiba menjadi tertutup.”

Ande mengajakku duduk di balai-balai yang tanpa atap dan dinding itu, sehingga mata bebas diedarkan ke arah mana saja. Aku mencapai tempat tersebut setelah menyusuri sepanjang garis pantai, berjalan di antara deretan pohon-pohon kelapa, yang sengaja ditanam untuk diambil niranya diolah menjadi gula merah. Saat mataku menangkap sosoknya, Ande sedang bersama istrinya duduk di bawah pohon kelapa dengan daun yang melambai-lambai. Sebelumnya ia tidak menyebutkan di mana kami akan bertemu dan hanya memberiku alamat rumahnya, tetapi kemudian aku malah muncul di belakang rumah mereka. Saat yang tepat, menurutku.

“Kau pasti sudah tiba di dermaga sejak tadi ‘kan?”

“Hmm.”

“Jadi, kau berkeliling selama berapa menit atau berapa jam?”

“Setengah jam.”

“Kau masih suka diam-diam mengambil gambar orang ‘kan? Pasti.”

Aku lantas menoleh dengan tatapan, memangnya itu dosa. “Itu tindakan pencurian.”

“Apa itu caramu meminta untuk difoto?”

“Aku tidak akan meminta karena kau pasti akan melakukannya.” Kami sama-sama tergelak.

Tak lama kemudian, istrinya kembali bersama empat orang anak—dua perempuan, dua laki-laki, yang bila dijejer akan seperti tangga yang bersusun-susun—dengan penganan, minuman dan gelas-gelas di tangan mereka. Aku yakin mereka anak-anak Ande karena ke semuanya nyaris menyerupai pasangan suami-istri itu.

“Kau mengumpulkan semua anak-anakmu hari ini?”

“Kami memang sering berkumpul.”

“Apa barusan kau menyindirku?”

“Sebenarnya tidak bermaksud, tetapi kalau kau merasa seperti itu. Itu lebih baik.”

***

Aku tidak tahu bahwa kami bisa menjadi akrab, bisa seperti ini, dan untuk alasan tertentu sampai-sampai aku rela datang jauh-jauh untuk menemui ia dan keluarganya. Istrinya—adik kelas kami itu, masih seperti dulu, pendiam. Ia hanya sesekali menimpali pembicaraan kemudian ketika bersambung ke hal yang lain, ia kembali mengatupkan mulutnya. Di sisi bale-bale yang kami tempati duduk, anak-anak asyik bermain angklek. Hamparan pasir dipeta-petakan dan mereka berjalan dengan satu kaki dengan membawa potongan batok kelapa. Permainan yang sangat lama tidak kumainkan, sehingga aku ikut bermain sementara Ande dan istrinya kembali ke rumah untuk menyiapkan makan siang kami. Katanya, kami akan memakan tempe tumis yang sudah dilumuri gula merah sebagai pengganti kecap dan ikan bakar yang fresh dari pembakaran. Semua orang harus ikut membakar, termasuk anak-anak secara bergantian.

Mereka terlihat begitu bahagia, saling bercanda dengan lirikan mata dan senyum yang penuh kehangatan. Siapa pun yang bersama kami—bila ada—akan merasakan hal itu. Ande memang termasuk orang yang tidak mudah tersulut emosinya, ditambah istrinya yang seperti itu membuat anak-anaknya juga jarang besingunggan dan nyaris tanpa pertengkaran selama satu hari satu malam—kurang lebih—aku berada di sana.

Kami—aku, Ande, dan istrinya—berjalan bersama-sama ke dermaga keesokan harinya. Anak-anak ke sekolah, sehingga tidak satu pun yang mengantarku. Keduanya serentak melambai, tersenyum dengan mata yang memerah ketika bunyi mesin kapal mulai menderu.  Di dalam kapal, kenangan kami di masa lalu mulai terpampang, seperti layar telah dibentangkan di hadapanku dan aku seolah dipaksa untuk menyaksikan tanpa sekali pun diberi kesempatan menoleh ke laut lepas. Semua kejadian itu, kejadian yang baik aku maupun Ande tidak ingin lagi mengingatnya, membuatku kembali menginjakkan kaki  di Kampung Bukit setelah bertahun-tahun. Sudah lama aku tidak mendatangi tempat ini, semenjak kematian Ayah dan Ibu. Kematian ibu Ande juga, tentunya.

***

September 2012, di tengah hiruk-pikuknya kabar ramalan kiamat Desember 2012 kampung kami digegerkan dengan ditemukannya sepasang mayat yang, ternyata setelah diperhatikan adalah pasangan suami-istri pemilik kebun kapas terluas di daerah kami. Bukannya menelepon polisi, orang-orang sibuk bergunjing tentang bagaimana mayat itu mati? Siapa yang membunuhnya? Apa masalahnya? Kenapa berada di sana? Semuanya masih melekat di ingatan meski berkali-kali aku ingin menghempasnya jauh-jauh.

Matahari masih malu-malu menampakkan diri pada hari itu. Aku bahkan belum beranjak dari pembaringan, meski aku sudah bangun sejak subuh. Aku ingat ketika mataku tidak berpindah-pindah mengamati burung yang hinggap di salah satu dahan pohon gofasa, lalu tiba-tiba riuh orang-orang berteriak, dengan bahasa daerah kami, bahwa ada mayat yang ditemukan. Samar-samar terdengar nama Ayah dan Ibu. Tak berselang lama semua orang berlarian ke tempat kejadian, termasuk aku. Tanganku tiba-tiba menjadi dingin, dan jantungku berdenyut lebih cepat bukan karena berlarian, melainkan kenyataan di depan sana yang harus kutelan, mau tidak mau, siap tidak siap. Tanpa terasa air mataku sudah meleleh.

Orang-orang berkerumun membentuk barisan dengan tangan pada mulut-mulut mereka. Kulihat paman dan bibi di samping mayat itu. Bibi menangis meronta-ronta, sedang paman berjongkok di sampingnya dengan muka memerah. Aku tidak berani mendekat ke mayat, dari jarak beberapa depa sudah bisa kupastikan, itu mereka, orangtuaku. Masih dengan suasana yang diliputi ketegangan tiba-tiba seseorang berseru mengatakan ada mayat yang lain di sisi sebelah. Mayat seorang perempuan yang sebaya dengan Ibu.

Desas-desus telah lama beredar di kampung kami, bahwa Ayah memiliki hubungan khusus dengan perempuan itu. Perempuan yang merupakan salah satu pekerja kami untuk memetik kapas. Sudah banyak yang melapor kepada Ibu, tapi Ibu tak lantas percaya dan bisa dibilang bersikap biasa-biasa saja seolah tak mendengar apa-apa. Perempuan itu, sehari setelah mayatnya diketemukan, kuketahui ia adalah ibu Ande.

Seminggu setelah kejadian, aku menerima sebuah pesan yang berisi permintaan maaf, dari orang yang telah lama tak kudengar kabarnya, semenjak keputusan yang diambilnya untuk menikah. Ande menyatakan ia sudah lama mengetahui hubungan ayahku dan si ibu. Namun, ia tidak sampai hati menyampaikan lewat media sosial. Media sosial adalah satu-satunya kemungkinan untuk kami berkomunikasi saat itu, karena jarak yang cukup berjauhan untuk bisa saling mengunjungi. Terlebih kemungkinan-kemungkinan lain yang ia pikirkan, yaitu kemarahan ibunya atau ayahku. Bagaimanapun sebelumnya ia telah berjanji untuk ikut merahasiakan hubungan gelap tersebut dengan imbalan pesta pernikahan dan seserahan kepada mempelai perempuan, ketika ia dan istrinya menikah beberapa tahun sebelumnya. Yang artinya hubungan gelap itu sudah betahun-tahun. Bahkan, beberapa orang meyakini Ayah dan ibu Ande telah menikah siri.

Aku tidak bisa menerima semua kenyataan dan begitu malu, sehingga kuputuskan untuk menjual semuanya meski paman dan bibi melarang. Aku sudah tamat kuliah, sudah bisa mencari pekerjaan. Jadi, tak ada gunanya mempertahankan semua yang ditinggalkan orangtuaku. Baik Ayah dan Ibu, aku tidak bisa memastikan apa aku marah atau kasihan pada mereka. Yang kutahu, aku ingin melepas semuanya, semua yang terkait dengan Ibu, Ayah, termasuk kematian mereka. Tetapi sepertinya mereka tidak menyetujui keputusan itu, karena kenyataannya hari ini aku kembali ke kampung kami, dan berjongkok di sisi makan mereka. Malah kemarin, aku mendatangi anak perusak keluarga kami, teman lamaku. Dan, tak perlu sampai melakukan tes DNA untuk memastikan Ande adalah saudaraku. Aku tidak tahu kenapa rupa Ande baru kusadari mirip Ayah setelah mengunjuginya. Gurat-gurat pada wajahnya, cara berjalannya dan bahkan anak ketiganya persis dengan Ayah. Maka benarlah semua desas-desus yang menjilat-jilati telingaku selama ini. Sebelum menikah dengan Ibu, Ayah telah menghamili perempuan lain, tanpa bertanggung jawab. Kemudian mereka membangkitkan dan mengulang kembali kisah masa muda yang terkubur, ketika lelaki yang dipanggil ayah oleh Ande meninggal, diam-diam di belakang Ibu.

Aku harus berkata apa? (*)

6 Oktober 2019

Ning Kurniati, seorang perempuan dengan mimpi yang terus bertambah-tambah. Dapat dihubungi melalui  link bit.ly/AkunNing

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

0
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close