KesehatanPendidikanRubrik UmumSains dan Psikologi

Mekanisme Pertahanan Ego: Suatu “Perlindungan” atau “Pelarian”?

Mekanisme Pertahanan Ego: Sebuah “Perlindungan” atau “Pelarian”?

Oleh: Devin Elysia Dhywinanda

 

Pernahkah kamu merasa pada suatu kondisi tertekan dan akhirnya melakukan hal-hal secara tidak sadar? Sebagai contoh, kamu kalah dalam salah satu perlombaan, kemudian kamu mulai mencari-cari dan menyalahkan panitia perlombaan. Atau, ketika kamu sedang kesal dan akhirnya melampiaskan kekesalanmu kepada orang lain. Respons ini tentu saja wajar dalam konteks batiniah seseorang, yang mana dalam ilmu psikologi hal-hal semacam ini disebut dengan mekanisme pertahanan ego atau ego defense mechanism.

Sebelum mendefinisikan apa itu mekanisme pertahanan ego, kita mesti berkenalan dengan struktur kepribadian menurut Sigmund Freud, yang terbagi menjadi id, ego, dan superego. Id dapat diasosiasikan sebagai “keinginan”, sedangkan superego serupa dengan pembatas logis atas suatu keinginan. Kedua kepribadian ini terkadang berkonflik untuk membuat suatu keputusan, dan, dalam hal ini, ego berperan sebagai penengah antara id serta superego untuk memberikan kenyamanan pada diri kita, yang kemudian hal ini disebut dengan mekanisme pertahanan ego. Dari hal tersebut, dapat didefinisikan bahwa mekanisme pertahanan ego adalah suatu sikap atau respons diri kita dalam suatu keadaan yang tertekan. Lebih lanjut, sebagai respons alamiah diri kita untuk beradaptasi dalam kondisi tertekan, mekanisme pertahanan ego juga dapat membantu manusia untuk hidup lebih baik dan sehat.

Akan tetapi dewasa ini, masyarakat kerap memberikan pandangan negatif atas mekanisme pertahanan ego yang dilakukan oleh seseorang. Semisal, ketika kita menjadi kekanakan, emosional, temperamen tinggi, atau bahkan melakukan tindakan-tindakan ekstrem seperti self-harm, masyarakat serta merta menjustifikasi tindakan kita sebagai “upaya melarikan diri” alias “pengecut”, bahkan menganggap remeh hal tersebut dengan komentar “Ah, kalian terlalu berlebihan menanggapi masalah semacam itu”. Meninjau keadaan ini, tentu saja kita bertanya-tanya: Apakah mekanisme pertahanan ego benar-benar dapat menjadi “tempat berlindung” kita alih-alih menjadi “sarana melarikan diri” atau, lebih kasarnya, menjadikan kita pengecut?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus mengingat kembali bahwa mekanisme pertahanan ego terjadi disebabkan oleh adanya suatu ketegangan atau konflik antara id dan superego. Konflik tersebut mencakup kecemasan, rasa bersalah, atau rasa malu. Setiap orang memiliki permasalahan dan pengalaman yang berbeda, karena itu sikap atau tindakan yang mereka ambil untuk mengatasinya pun akan berbeda. Artinya, mekanisme pertahanan ego yang terjadi tentu berbeda tergantung kondisi seseorang.

Mekanisme pertahanan ego sendiri oleh seorang psikiater Amerika, Prof. George Eman Vaillant, diklasifikasikan menjadi empat jenis berdasarkan kondisi mental manusia, yaitu:

Level 1: Tidak Wajar, yaitu perilaku pertahanan yang dilakukan secara irasional dan cenderung ditemukan pada masa kanak-kanak. Pada level ini, respons yang dilakukan akan berdampak buruk karena menjauhkan seseorang kepada kepekaan dan penerimaan akan permasalahan dari luar. Contoh bentuk perilaku yang dilakukan antara lain:

1. Denial (Penyangkalan), yaitu sikap menolak fakta yang ada karena hal tersebut terlalu sulit untuk diterima. Contohnya, seorang pengusaha yang jatuh bangkrut dan bersikap seolah-olah ia masih seseorang yang kaya.

2. Cognitive-distorsion (Distorsi-kognitif), yaitu sikap menolak kenyataan dengan membelokkan fakta yang ada agar sesuai dengan apa yang ia inginkan. Semisal, seseorang yang kalah dalam perlombaan dan menyimpulkan bahwa terjadi kecurangan dalam perlombaan tersebut.

Level 2: Tidak Dewasa, yaitu mekanisme pertahanan ego yang dilakukan untuk mengurangi kegelisahan lewat cara-cara yang kerap dianggap kekanakan, yang apabila dibiarkan dapat berakibat buruk di masa depan. Contoh bentuk perilaku di level ini antara lain:

1. Passive-aggresive (Pasif-agresif), yaitu pengekspresian kekecewaan atau kemarahan secara tidak langsung. Contohnya, seseorang yang tidak setuju atau memiliki masalah dengan orang lain kemudian memilih diam atau menghindari orang tersebut.

2. Projection (Proyeksi), yaitu penyangkalan keinginan pribadi dengan melemparkannya kepada orang lain. Semisal, seseorang yang menyangkal perubahan yang terjadi dalam dirinya dengan menyebut orang terdekatnya yang berubah.

3. Hipokondriasis, yaitu pengalihan perasaan negatif kepada orang lain menjadi perasaan negatif kepada diri sendiri. Contoh, seseorang yang mual saat melihat film thriller.

4. Identifikasi, yaitu usaha untuk menyamakan dirinya dengan orang lain. Semisal, seseorang yang gagal dalam percintaan akan berusaha menyamakan dirinya dengan orang lain yang berhasil dalam urusan percintaan.

5. Introjection (Introyeksi), yaitu mengalihkan dorongan perasaan negatif kepada dirinya sendiri. Semisal, seorang anak yang marah kepada orangtuanya dan memilih untuk melampiaskan dengan memukuli dirinya sendiri.

6. Regretion (Regresi), yaitu pengulangan kembali ke tingkat yang lebih awal sebagai bentuk pertahanan diri atas suatu keadaan tertekan. Contoh, seorang anak broken home yang menjadi kekanakan karena ingin mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtuanya.

Level 3: Neurotik, yaitu bentuk pertahanan yang umumnya terjadi kepada orang dewasa yang dapat berdampak positif dalam waktu pendek, tetapi akan berakibat buruk apabila terus dibiarkan dalam waktu yang lama. Contoh bentuk sikapnya antara lain:

1. Displacement, yaitu pemindahan objek perasaan negatif ke objek lain yang dirasa tidak terlalu berbahaya. Semisal, seorang pegawai kantor yang dimarahi oleh atasannya dan balik mengalihkan kemarahannya kepada istri atau anaknya.

2. Intellectualization (Intelektualisasi), yaitu pengalihan kejadian traumatis dengan mengambil sisi positif dari kejadian tersebut. Semisal, istri korban KDRT yang berusaha mencari informasi tentang kasus sejenis dan belajar untuk menghadapinya.

3. Reaksi formasi, yaitu suatu pengambilan sikap kontras dibandingkan dengan perasaan sesungguhnya. Semisal, seorang pegawai yang tidak suka dengan atasannya dan justru bersikap hormat kepada atasannya tersebut.

4. Repretion (Represi), yaitu penghapusan secara tidak sadar hal-hal negatif atau traumatis dari pikirannya. Contoh, seseorang yang melupakan kecelakaan yang dialaminya.

5. Rasionalisasi, yaitu pembenaran pemikiran, sikap, atau peristiwa yang kurang sesuai lewat penjelasan rasional. Misalnya, seseorang yang tidak menyetujui suatu kebijakan dan berusaha mencari argumentasi untuk membenarkan kebijakan tersebut.

6. Controlling (Pengendalian), yaitu upaya yang dilakukan untuk meminimalkan konflik lewat upaya berlebihan dalam mengendalikan perasaan. Contoh, seseorang yang mati-matian menahan diri untuk tidak terlibat dalam suatu perdebatan.

Level 4: Dewasa, yaitu bentuk pertahanan yang ditemukan oleh orang dewasa yang sehat batiniah. Bentuk ini dapat terjadi sebagai hasil pengalaman serta adaptasi selama bertahun-tahun dan dianggap paling dewasa karena mampu mengatur emosi dalam rangka menyelesaikan suatu keadaan depresif. Contoh bentuk sikapnya antara lain:

1. Altruisme, yaitu sikap yang lebih mengutamakan orang lain daripada diri sendiri. Semisal, seseorang yang mendengarkan dan memberikan saran kepada temannya yang bermasalah padahal ia sendiri juga memiliki masalah.

2. Antisipasi, yaitu suatu perencanaan realistis apabila berhadapan dengan kondisi terburuk. Contoh, seorang murid yang menitipkan tugas sekolah kepada temannya sebagai bentuk antisipasi apabila ia sakit esok hari.

3. Sublimasi, yaitu penyaluran perasaan negatif menjadi kegiatan yang positif. Contoh, seorang korban bencana yang menjadi pegiat kemanusiaan.

4. Supresi, yaitu keputusan yang diambil untuk menyelesaikan suatu permasalahan dengan mengesampingkan suatu pikiran atau permasalahan tertentu. Contoh, seorang siswa yang memilih melupakan sejenak permasalahan rumahnya untuk fokus belajar di sekolah.

Berdasarkan klasifikasi ini, dapat kita ketahui bahwa mekanisme pertahanan ego punya bentuk yang beragam, yang mana memberikan dampak beragam pula bagi seseorang. Jadi, anggapan bahwa mekanisme pertahanan ego sebagai bentuk “pelarian diri” tentu saja kurang tepat, kita ketahui bahwa ada bentuk mekanisme pertahanan ego yang condong memberikan dampak positif, ada yang condong memberikan dampak negatif. Akan tetapi, apakah itu berarti seseorang yang melakukan mekanisme pasif-agresif dan denial adalah seseorang yang pengecut? Tentu tidak. Psikologis manusia adalah sesuatu yang rumit dipelajari bahkan hingga sekarang. Hal ini disebabkan hakikat manusia sebagai makhluk kompleks yang memiliki keberagaman latar belakang dan memilih sesuatu atas dasar apa yang mereka alami. Jadi, justifikasi dan generalisasi macam itu tentu kurang tepat dilakukan karena kita tidak tahu persis apa yang telah dialami orang lain.

Selanjutnya, berkaitan dengan mekanisme pertahanan ego sebagai sarana membuat kehidupan seseorang lebih baik, hal ini tidak terlepas dari perannya dalam merespons faktor stres, baik dari dalam maupun luar. Orang yang dapat mengatur mekanisme pertahanan egonya dengan baik memiliki kemampuan untuk merencanakan tujuan jangka panjang, pulih dari bahaya lebih cepat, dan, saat menghadapi mereka, menjadi kurang cemas dan frustrasi. Block and Block (Mohammad Ali Besharat, 2018) menyatakan bahwa kontrol ego dan ketahanan ego menunjukkan kematangan, kemampuan, dan kemampuan penyesuaian dampak terhadap tuntutan lingkungan dan pribadi. Lebih lanjut, sebagai salah satu bagian dari kontrol psikis, mekanisme pertahanan ego yang baik juga berdampak positif bagi kesehatan seseorang, sebab kesehatan psikologis dan fisik seseorang saling berkaitan, sebagaimana pernyataan Collingwood (2010) bahwa “seseorang yang depresi sering kali memiliki kesehatan fisik yang lebih buruk dibandingkan mereka yang tidak mengalami depresi”. Hasil serupa juga ditunjukkan oleh penelitian Mohammad Ali Besharat, Somayeh Ramesh, dan Elham Moghimi pada tahun 2018 yang menyatakan bahwa kontrol ego serta kesehatan spiritual yang baik berbanding lurus dengan penyesuaian pasien penyakit jantung.

Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa mekanisme pertahanan ego adalah tindakan yang dilakukan diri kita untuk beradaptasi dengan kondisi tertekan. Sama halnya dengan fase penyembuhan: kita perlu “rehat” apabila batin kita sudah memberikan peringatan “sakit”, dengan memilih dan mengonsumsi “obat” paling tepat untuk dapat kembali “sehat”. Dalam hal ini, diperlukan pengalaman, kedewasaan, dan kebijaksanaan untuk dapat memilah serta menggunakan obat yang dimaksud sesuai dengan kebutuhan kita. Dengan demikian, alih-alih menjadi bentuk pelarian, mekanisme pertahanan ego dapat menjadi bentuk perlindungan terbaik bagi psikologis kita untuk, lebih lanjut, mencapai hidup yang lebih baik dan sehat. (*)

 

Anonim. 2018. The Relationship between Physical Health and Psychology. https://www.bartleby.com/essay/The-Relationship-Between-Physical-Health-and-Psychology-P3SCJC6FMY6PA. Diakses pada Sabtu, 28 September 2019, pukul 01.55 WIB.

Besharat, Mohammad Ali, dkk. 2018. Spiritual Health Mediates the Relationship between Ego-strength and Adjustment to Heart Disease. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6024287/#!po=0.632911. Diakses pada Kamis, 26 September 2019, pukul 22.55 WIB.

Cahyo, Rudi. 2014. Mekanisme Pertahanan Ego dalam Psikoanalisa Freud. https://www.google.com/amp/s/rudicahyo.com/psikologi-artikel/mekanisme-pertahanan-ego-dalam-psikoanalisa-freud/amp/. Diakses pada Jumat, 27 September 2019, pukul 18.56 WIB.

Nurhayati, Dede. 2013. Mekanisme Pertahanan Mental dalam Psikoanalisis. https://www.google.com/amp/s/personalitydedenurhayati.wordpress.com/2013/12/23/16/amp/. Diakses pada Sabtu, 28 September 2019, pukul 03.20 WIB.

Pontoh, Edgar. 2019. Mekanisme Pertahanan Ego, Cara Manusia Mengatasi Kegelisahan secara Tidak Sadar. https://www.kompasiana.com/edgarjeremy/5d6b59b1097f3618d748f3c2/mekanisme-pertahanan-ego-cara-manusia-mengatasi-kegelisahan-secara-tak-sadar?page=all. Diakses pada Sabtu, 28 September 2019, pukul 01.00 WIB.

 

Devin Elysia Dhywinanda lahir di Ponorogo, 10 Agustus 2001, dan kini berstatus sebagai pelajar kelas XII di SMA Negeri 1 Ponorogo.

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

0
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close