CerpenPilihan EditorSastra

Ketika Duniaku Kehilangan Suara

Ketika Duniaku Kehilangan Suara

Oleh: Erlyna

Malam itu hujan jatuh cinta pada bumi. Rinainya menderas, seolah-olah ingin menumpahkan semua air yang telah dibendungnya selama enam bulan terakhir. Butiran- butiran itu jatuh ke tanah tanpa bisa dicegah. Mengguyur ranah kerontang dan menjadikannya basah. Basah sebasah-basahnya. Namun, sepertinya waktu lupa diri. Genangan perlahan meluap dan kalap.

Aku terbangun dari mimpi, saat tanpa sengaja tangan kiri menjuntai ke sisi ranjang. Air, bagaimana bisa itu air? Tanganku masih pendek, lalu dari mana datangnya semua air ini? Sepasang mataku mengerjap berkali-kali. Masih berusaha mencerna apa yang sedang terjadi.

Belum sempat kutemukan jawaban, sepasang tangan keriput mendekap tubuhku dari belakang. Hangat dan bau tembakau. Jelas ini bukan Ayah atau Ibu. Ayah tidak merokok, Ibu apalagi. Selain itu, seingatku keduanya sedang pergi ke luar kota. Aku belum sempat menoleh untuk memastikan saat suasana berubah gelap. Gelap yang pekat.

Sosok itu menggendong tubuhku di bahunya. Keras. Ia berjalan pelan sambil meraba-raba, mencari pegangan. Di antara kecipak air dan aroma busuk sampah yang menyelimuti hingga pinggang, aku tersadar. Air ini semakin meninggi, dan aku baru saja berutang budi. Samar-samar terlihat cahaya. Itu cahaya senter, seseorang baru saja lewat dan mengarahkannya ke kontrakan kecil yang kutinggali. Orang yang menggendongku berteriak, meminta pemilik senter itu menunggu. Cahaya itu semakin dekat, di antara derasnya hujan, aku bahkan bisa melihat pemilik senter, meski samar.

Tiba-tiba sebuah gelombang cukup besar menghantam, orang yang menggendongku oleng lalu tubuhnya limbung. Sepertinya salah satu kakinya terperosok ke lubang got yang mengelilingi kawasan kontrakan kumuh yang kutinggali. Tubuhku terpental dengan kepala membentur tiang listrik. Aku ingat, hari itu adalah tanggal 8 Juli 2002, usiaku tepat tujuh tahun. Itulah malam yang menenggelamkan semua impianku.

Sejak saat itu duniaku menjadi sunyi. Tidak ada lagi suara piring pecah dari kontrakan sebelah. Tidak ada lagi suara tangisan Mia saat kepangnya ditarik. Begitu juga lagu khas penjual kue putu dengan aroma pandannya. Malam itu, sejak darah mengalir dari telingaku tiada henti, suara-suara itu enggan kembali lagi.

Drama pun dimulai. Berbagai ejekan dan hinaan silih berganti tanpa bisa kupahami. Lalu satu per satu teman menjauh, semakin jauh dan tidak tersentuh. Aku tumbuh di dalam sangkar kumuh, terasing dan diabaikan.

Suatu siang Kakek mendatangiku yang termenung di bawah tangga. Kuperhatikan langkahnya, terasa ada yang berbeda. Sejak kapan tubuhnya yang tegap berjalan terpincang-pincang? Kaki kanannya meninggalkan bekas luka jahitan dari betis hingga mata kaki. Aku belum sempat bertanya, beliau lebih dulu menyodorkan sebuah buku dan pena.

Kamu harus mencari teman. Jika kamu tidak bisa bicara dengan mereka, kamu bisa menuliskannya.

Kuperhatikan baris pertama buku yang kugenggam. Lalu kupandangi wajah Kakek yang tersenyum. Di mataku, buku itu seperti cahaya yang menyinari dunia kecilku yang gelap.

Aku tidak sendirian. Seperti petunjuk Kakek, jika aku ingin berbagi cerita dengan teman-teman yang lain, aku bisa menuliskannya.

***

Malam ini langit cerah. Kulihat senyum Kakek terselip di antara jajaran bintang. Terima kasih, Kek, telah mengajariku mulai menulis, terima kasih telah menjadi salah satu pahlawan di masa kecilku.

“Keluarlah, Er. Temukan teman-temanmu. Kamu tidak diciptakan untuk sendirian. Jika kamu tidak bisa berbicara langsung dengan mereka, kamu bisa menuliskannya.” (*)

 

Purworejo, 31 Agustus 2019

Erlyna, perempuan sederhana yang mencintai dunia anak-anak. Hobi menulis dan menyaksikan anak-anak menciptakan keajaiban.

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

 

0
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close