CerpenPilihan EditorSastra

The Only Exception*

The Only Exception*

Oleh: Fitri Fatimah

When I was younger
I saw my daddy cry
And curse at the wind
He broke his own heart
And I watched
As he tried to reassemble it

And my momma swore
That she would never let herself forget
And that was the day that I promised
I’d never sing of love
If it does not exist, but darlin’

Saya pernah bilang padamu bahwa saya sering melihat orangtua saya bertengkar, melontarkan makian dan serapah yang sekotor-kotornya, lebih kotor dari daki di tubuh pemulung, lebih kotor dari limbah. Tangan mereka saling menuding menyalahkan, dan terakhir, biasanya yang kalah argumen tapi malu untuk mengakui, akan membanting pintu dan pergi. Saya yang sedari kecil hidup dengan dua orang semacam itu, menarik kesimpulan, bahwa meski katanya mereka memulai hubungan ini dengan cinta, rupanya tak ada yang cukup istimewa dengan “cinta” sampai bisa membuatnya bertahan lama.

Cinta itu membusuk, entah pada paruh waktu yang mana. Dan sekarang mereka berdua hanya dua orang yang saling terjebak dalam hubungan suami-istri, yang tinggal di rumah yang sama tapi muak untuk bahkan menatap satu sama lain. Saya heran kenapa mereka tidak kunjung pergi ke pengadilan dan meminta hakim merobek surat nikah mereka saja.

Katanya demi saya, buah cinta mereka. Satu-satunya yang tersisa dari cinta yang pernah diagung-agungkan mereka.

Sungguh, tolong, saya berharap mereka tak usah begitu penuh pertimbangan, saya berharap mereka lebih egois—lebih berpikiran jernih sebenarnya—karena pada akhirnya, ketika mereka bilang alasan mereka bertahan adalah demi saya, saya malah yang terjebak di antara mereka. Sungguh, kalau ini cara kalian untuk menunjukkan cinta pada saya, lebih baik saya tidak usah dicintai.

Dan, ya, ini juga berlaku padamu. Saya tidak mau menerima cincin yang sekarang kau julurkan di hadapan saya sambil menekuk satu lutut dan senyum penuh pengharapan. Jangan tatap saya dengan mata penuh binar konyol itu. Kau pasti belum pengalaman soal cinta. Mangkanya kau sampai tolol ingin mengukuhkan perasaan dalam sebuah ikatan. Sungguh, begini saja, mari kita nikmati apa yang kita miliki saat ini. Kau mencintai … jangan, jangan bilang cinta. Kau menyukai … nah, lebih pas begitu. Kau menyukai saya, saya menyukaimu, mari bersenang-senang. Bersenang-senang hingga kita bosan, hingga kita kehilangan bahan cerita untuk diperbincangkan, hingga tak ada lagi hal menarik yang bisa kita temukan di satu sama lain, hingga ketika kita tertawa atas lelucon yang dilempar, semata karena terpaksa. Mari bersennag-senang hingga saat itu tiba. Lalu berpisah.

Tak usah bahkan menyebutnya sebagai “putus”, karena putus hanya bagi mereka yang memilih  “pacaran”. Sementara kita kan tidak—anggapan saya, sih, begitu.

Ketika saat itu tiba, kau boleh bebas pergi. Semudah itu.

Lihat, betapa mudahnya sebuah hubungan ketika kita tak harus memberinya sebuah nama. Bukankah selama ini hubungan kita yang semacam itu cukup menyenangkan? Jadi kenapa kau mau merusaknya dengan menjulurkan cincin sambil menekuk satu lutut, senyum penuh pengharapan, dan mata yang berbinar konyol. Kau rupanya benar-benar tak pengalaman soal cinta.

Sial.

Saya kira selama ini kau mengerti mau saya apa.

Saya tergelak.  Apa ucapmu barusan? Bahwa kau berjanji akan mencintai selamanya, bahwa cinta kita nantinya tak akan seperti milik orangtua saya, bahwa cintamu akan berumur sepanjang hayat dan tak kenal kata layu.

Saya tergelak, bahkan kemudian tertawa hingga harus memegang perut. Ini sungguh kocak.

Siapa dirimu sampai bisa tahu masa depan. Siapa dirimu sampai bisa menjanjikan saya janji semuluk itu.

“Kau hanya perlu percaya dan memberi saya kesempatan, maka saya akan membuktikan bahwa yang saya katakan barusan memang benar. Tak ada yang muluk jika saya mencintaimu sebegini besar.”

“Orangtua saya dulu juga sesesumbar itu. Semua orang yang menikah awalnya pasti sesumbar. Tapi lihat, kemudian cinta mereka habis, dan mereka harus makan kata-kata mereka sendiri. Kenapa kau mau repot-repot melakukan sesuatu yang sudah terbukti gagalnya.”

Akhirnya kau bangkit berdiri, mengembuskan napas—seakan sangat lelah. “Apakah ketika saya bilang ‘saya mencintaimu sebegini besar’, hatimu sama sekali tak tergerak?” Kau menaikkan alis. Lalu melanjutkan, “Tapi terserah. Saya tetap akan bersikeras mengajakmu mencoba. Apa salahnya mencoba. Saya akan membuktikan, dan kau akan mendapat jawaban, apa ruginya dengan itu? Kalau memang pada akhirnya hubungan kita gagal, kau bisa bertepuk tangan dan menyumpah-nyumpahi saya, mengatai saya bebal karena dari awal tak mau mendengar apa yang kau bilang. Tapi kalau kita bisa bertahan hingga akhir, bukankah … ya, bukankah … ehem, paling tidak kau mengalami pengalaman baru. Dan kita bisa sama-sama bersama mendapat happily ever after.”

Dia berlutut lagi. “Jadi mari, mari kita coba. Maukah kau?”

Saya melengos. (*)

*Judul dan isi terinspirasi dari lagu “The Only Exception”, Paramore.

Sumenep, 17 Agustus 2019

Fitri Fatimah, suka membaca dan mencoba menulis. Mempunyai kucing bernama Mus. FB: Fitri Pei.

 

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

0
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close