CerpenPilihan EditorSastra

Seperti Burung yang Terbang Bebas

Seperti Burung yang Terbang Bebas

Oleh: Ning Kurniati

Linda kecewa. Hari ini adalah hari di mana ia mendapat sematan gelar strata satu, tetapi sahabat-sahabatnya tak satu pun yang hadir. Tadi, sebelum menjejakkan kaki ke ruang tempatnya ujian sidang, dia berpikir Asma, Anti, dan Dian akan datang membawa bunga, boneka, atau mungkin kolase foto mereka, atau apa saja bentuk hadiahnya … dan satu lagi momen yang akan tercipta, menambah kenangan dalam jalinan persahabatan mereka. Tidak! Dia tidak mengharapkan barag-barang itu. Kehadiran mereka sudah cukup. Benarkah?

Setelah teman-teman angkatannya—beberapa junior, senior—datang memberi selamat, lalu berselang menit bubar, senyumnya pun redup. Atau mungkin senyum itu tidak pernah benar-benar ada dan yang ditunjukkan tak lebih dari sebuah kepantasan di hari yang bahagia. Ya, hari bahagia. Meskipun beberapa teman dekatnya sedepartemen menemani, membantu mengumpulkan hadiah, menyusunnya dalam kantongan besar agar mudah dibawa pulang, semua itu tak mampu menggantikan semarak kehadiran orang yang telah bertahun-tahun dikenalnya, menyemangati di saat tak tahu arah.

“Tidakkah mereka paham, bahwa hari ini termasuk hari yang kunanti-nanti. Hari bahagiaku.”

***

“Ibu Anda harus menginap sampai kami bisa memastikan bahwa racun dalam tubuhnya menghilang.”

“Baik, terima kasih, Dokter.”

Perempuan muda dengan rambut yang kusut masai itu duduk sendiri di koridor rumah sakit. Hari ini hari yang benar-benar membuat dirinya seperti dikuras. Anti lupa membawa berkas pendukung untuk apa-apa yang tertera dalam CV-nya, padahal jarak rumah dengan kantor tempatnya wawancara cukuplah jauh. Baru saja beberapa menit dia sampai ke kantor—setelah dari rumah—dengan tubuh yang dibanjiri keringat, ponselnya berbunyi. Tetangga yang paling dekat menelepon, mengabarkan ibunya muntah-muntah dan harus segera dilarikan ke rumah sakit, atau paling tidak ke puskesmas, yang pasti pertolongan pertama harus segera dilakukan. Tetangga tersebut tidak tahu harus berbuat apa, kalut. Rumah mereka yang terletak di ujung lorong dan cukup jauh dari rumah warga yang lain menjadi pelengkap kekalutannya.

Anti menangis, tersedu-sedu sendiri. “Aku harus kuat, harus!” rapalnya sembari menghapus bekas air mata di pipi dengan selembar tisu. Setelahnya dia bergegas pulang. Harus menyiapkan pakaian pengganti dan barang-barang lain yang sewaktu-waktu bisa saja dibutuhkan oleh dirinya dan sang Ibu. Tidak ada kerabat terdekat dan dia terlampau terbiasa saling bergantung dengan ibunya, sehingga meminta tolong pada teman atau sekadar mengungkapkan curahan hati pun sangat jarang dilakukan.

***

Asma termenung di dalam kamar, merasa jalan di depannya sudah buntu. Mau tidak mau harus kembali dan mengambil arah yang lain, padahal sebelumnya dia begitu yakin semuanya akan baik-baik saja dan akan berhasil. Namun, kenyataan berkata lain. Dosen pembimbingnya mengatakan dia harus melakukan ulangan. Ada kesalahan, seharusnya hasilnya tidak begitu, akibatnya tidak bisa dilakukan uji lanjutan karena hasil akhir bisa ditebak, tidak ada pengaruh. Di sisi lain, ekstrak uji yang dimiliki sisanya tidak mencukupi untuk melakukan ulangan. Itu artinya, bila mengulang dia harus kembali memulai dari nol—bukan hanya bagian pengujian yang gagal—mengestrak sampel. Penyesalan dan marah berpadu, menimbulkan kecamuk tersendiri, yang siapa pun mengalaminya akan merasa tak ‘kan ada yang bisa memahami posisinya sekarang. Layaknya orang-orang ketika ditimpa masalah, mereka lebih sering berpikir bahwa dirinyalah yang paling mengenaskan. 

Perempuan yang kesehariannya selalu dengan hijab di kepala itu menyesal. Harusnya dia mengekstrak lebih banyak dari estimasi yang dibutuhkan. Jadi, Asma benar-benar merasa harus mengisolasikan diri dari siapa pun. Keadaannya tidak baik untuk bertemu dengan orang-orang, termasuk menghadiri ujian sidang sahabatnya—Linda. Bila ngotot, dia akan tampak seperti seseorang yang tidak bahagia atas apa yang diraih oleh sang sahabat. Bisa saja beberapa spekulasi muncul dan menimbulkan ketegangan tersendiri antarmereka. Dan, dia sangat tidak mau itu terjadi karena rasa sayang yang dimiliki untuk sahabat-sahabatnya, pun karena sangat menghargai jalinan di antara mereka sejak enam tahun yang lalu. Asma menghela napas dengan kaca-kaca air di pelupuk mata.

***

Dian terus-menerus memelototi ponselnya. Dia sudah ingin berangkat sejak satu jam yang lalu, tetapi keraguan mulai merasuk dan semakin tambah ketika Linda memberitahu tentang hari ini. Bahkan, ragu itu sekarang bercampur dengan malu, rikuh. Rendah diri. Terlebih ketika membayangkan berada di antara teman-teman Linda. Entah seperti apa. Mungkin dirinya akan terlihat kikuk, bagaimanapun juga pernah ada mimpi untuk menempuh pendidikan sampai bangku kuliah seperti Linda. Membayangkan mengerti hukum, membuatnya merasa mendidih. Dia akan bisa menegakkan keadilan sehingga mengurangi jumlah situasi istilah “runcing ke bawah tumpul ke atas”. Terdengar mustahil, tapi kalau sudah bertekad apa pun itu bisa terwujud. Tentunya dengan doa dan usaha. Namun, apa mau dikata, kondisi Ayah yang berpulang ke pangkuan Ilahi mau tidak mau membuatnya untuk ikut menopang keuangan keluarga bersama Ibu. Adik-adik butuh makan juga sekolah, setidaknya sampai bangku putih abu-abu.

Dian sekali lagi menatap dirinya di hadapan cermin. Bingung harus berbuat apa, pilihan itu selalu ada: memilih untuk bepergian hanya membawa diri tanpa buah tangan—karena keuangannya benar-benar menipis, setelah mengirim uang dan membelikan buku untuk adik-adik—atau dia bisa pura-pura sibuk dan hanya mengirim pesan. Tetapi, dia kan sudah minta izin untuk tidak masuk hari ini. Rela memohon-mohon, sedikit berlaku berlebihan pada atasan dengan perhatian yang tidak biasanya dilakukan, seperti menanyakan kabar atau mengucap salam setiap bertemu, atau apa saja. Basa-basi. Semua itu terlihat aneh oleh yang lain. Kelakuannya bisa ditebak. Atasannya tidak bodoh, tetapi bukannya marah, malah geli dan geleng-geleng kepala. Ujung-ujungnya dia diberi izin dengan alasan selama ini dia rajin masuk, jarang terlambat, dan hampir tidak pernah mendapat teguran.

***

Kabar duka menyelimuti mereka—Linda, Anti, Asma, Dian—pagi itu. Seorang dari mereka telah kehilangan ibunya. Satu-satunya tempat berpulang yang dimiliki setelah seharian mengejar impian-impian. Linda, Asma, dan Dian datang tergopoh-gopoh setelah mendapat kabar. Ketiga orang itu kaget bukan main, selama ini tidak ada yang pernah mendapat keluhan dari Anti, sekadar curahan hati. Asma yang bisa dikatakan paling dekat pun merasa disisihkan—tak dianggap karena hal ini. Namun, semua perasaan itu sirna tatkala mereka berada di rumah duka dan tahu bahwa penyebab kematian karena keracunan. Sangat mendadak.

“Dokter itu ternyata seorang aktris juga, ya! Bisa-bisanya dia tidak mengatakan dengan jelas bahwa keadaan ibuku parah.”

“Dia kan bilang ‘harus memastikan racunnya hilang’, tidak menjanjikan kesembuhan. Jadi, tak usah menyalahkan dokter! Tidak ada yang tahu apa yang dialaminya sebelum menangani ibumu,” ucap Linda.

“Ya, kita tidak tahu apa-apa. Banyak kemungkinan yang bisa saja terjadi sebelum dia merawat ibumu,” Asma mengamini perkataan Linda.

Menceletuk, Dian angkat suara. “Tidak ada juga gunanya menyalahkan, tidak akan membuat perasaan jadi membaik. Justru kau akan jadi pembenci nantinya. Itu tidak baik untuk siapa pun, tidak kau ataupun dia.”

Mereka berempat tengah berkumpul di rumah Anti. Sebulan setelah kehilangan, rupa-rupanya kesedihan itu masih menyelubungi, seolah enggan pergi dan betah untuk bersemayam. Tidak! Hal ini tidak boleh berlanjut, pikir Linda, Asma dan Dian, setelah saling menghubungi. Sebagai orang terdekat, mereka harus menciptakan suasana yang dapat menghibur dan menguatkan. Anti tidak sendiri, dia punya sahabat. Meskipun kadang ada hari tidak cerah di antara mereka, yang mendung lalu menimbulkan ketegangan, ketakutan, tetapi ia tetaplah hari, belum kiamat. Dan, burung-burung tetap terbang bebas ke segala arah mencari makan, tidak peduli hari sedang mendung. Burung-burung itu akan menempuh banyak arah, tidak hanya satu, kadang tiba-tiba menukik, berbelok, berputar, berhenti sejenak, lalu kembali terbang. 

“Seperti burung yang terbang bebas,” ucap Linda yang segera mendapat tanggapan tanya dari sahabat-sahabatnya. (*)

 

Bulukumba, 19 Agustus 2019

Ning Kurniati, perempuan dengan mimpi yang terus bertambah-tambah setiap harinya. Dapat dihubungi melalui link bit.ly/AkunNing

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

 

0
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close