Cerpen

Pernikahan Darah dan Air Mata

Pernikahan Darah dan Air mata

Oleh Rachmawati Ash

Dimas menghentikan motornya di depan rumah Pak Salman. Dilihatnya seorang pria tua duduk membaca koran di teras rumah bangunan Belanda. Dimas menyapa dan membungkukkan badannya untuk mencium tangan pria tua itu.

Pagi tadi, Dimas menerima pesan dari Flamboyan bahwa Ayahnya ingin menemuinya di rumah. Dimas duduk di samping pak Salman, seperti biasa mereka tidak banyak berbincang. Apalagi Dimas sebagai anak muda yang sopan, pantang baginya berbicara banyak di depan sahabat almarhum Ayahnya itu. Sesekali Dimas memperhatikan halaman rumah Pak Salman yang hijau terawat, matanya menyapu ke seluruh rerumputan dan bunga-bunga yang asri.

Flamboyan keluar dengan nampan di tangannya, mengulum senyum sambil meletakkan dua cangkir teh hangat di meja teras rumahnya. Pak Salman memintanya ikut duduk bersama dengan keduanya. Fla adalah gadis pendiam, selalu menurut apapun yang dikatakan oleh Ayahnya.

“Bapak ingin kamu sering berkunjung ke sini, nak, Dimas”. Mata orang tua itu nanar, meletakkan koran di pangkuannya. Fla menghela nafas panjang, mengeluarkannya pelan-pelan. Wajahnya yang merah jambu menahan senyum, kecantikan yang dipadukan dengan bibirnya yang tipis sempurna. Terlihat khawatir pada kondisi ayahnya yang semakin tua.

Sepekan sekali Dimas mengunjungi rumah Pak Salman. Dulu ayahnya sering mengajaknya datang, menemani mereka berbincang tentang masa muda mereka dan tentang pekerjaan. Dimas tidak banyak bicara, Ayahnya selalu membawa buku cerita bergambar untuk dibacanya saat menunggu kedua sahabat itu bercengkrama.

“Bapak senang kamu datang, Dim.” Suara pak Salman berat dan payah. Dimas tersenyum dan menyimak setiap perkataan Pak Salman dengan cermat. Tak sekalipun Dimas menyela, hanya menjawab saat ditanya atau menanggapi seperlunya. “Jadilah teman Fla,dia butuh teman saat Bapak sudah tidak ada nanti”. Kalimat Pak Salman membuat Dimas sedikit gusar, matanya memandang Gadis yang sedang memotong beberapa helai daun teh-tehan di halaman.

“Boleh kubantu merapikan bentuk daunnya?.” Dimas menunggu Fla menyerahkan gunting tanaman ke tangannya. Fla menoleh dengan lembut, “Boleh, aku kesulitan memotong bagian yang tinggi.” Dalam hitungan detik gunting sudah berpindah tangan, Dimas dengan cekatan memotong bagian-bagian ujung teh-tehan.

Seperti yang diinginkan Pak Salman, semakin hari pertemanan Fla dan Dimas semakin dekat. Tidak jarang Dimas membawa Fla untuk pergi menonton bioskop atau jalan-jalan ke luar untuk menikmati malam minggu. Dimas mengagumi Fla yang cantik dan cerdas, Ayahnya telah mengajarkan menjadi gadis yang sopan dan lembut. Dimas merasa nyaman saat berada di dekat Fla, apalagi sudah enam tahun dia hidup tanpa saudara dan Ayah Ibu.

Fla yang juga jatuh hati pada Dimas meminta kekasihnya untuk datang setiap sore. Ikut makan malam bersama dengan Ayah dan dirinya. Fla menyempatkandiri memasak setelah pulang bekerja di toko bunga dekat rumahnya. Wajahnya lebih bersinar setelah kedatangan Dimas dalam hari-harinya. Pak Salman terlihat lebih segar, tidak terlihat banyak beban dalam fikirannya.

“Aku senang waktu Ayah memintamu datang ke rumah sore itu.” Suara Fla yang lembut berderai di teras rumah. Bulan sabit tersenyum genit melihat kemesraan keduanya. Dimas tersenyum, memandang kekasihnya yang duduk menghitung bintang-bintang di langit luas angkasa. “Aku tidak tahu kalau Ayahmu memintaku datang untuk mendapatkanmu.” Dimas berbicara sambil tertawa kecil, menyeruput kopi di cangkir bermotif bunga-bunga krisan. “Aku juga tidak menyadari ada mutiara yang indah di rumah ini.” Kalimat Dimas menarik perhatian Fla untuk memandangnya dalam-dalam. Senyum keduanya melebur bersama angin malam yang sepoi-sepoi.

**
Fla mengaduk-aduk teh dalam cangkir putih polos. Wajahnya sendu, tidak ada kalimat yang di ucapkan dari bibirnya yang merah tomat. Dimas memandangi wajahnya dengan kekalutan yang tidak kalah sendunya. Fla menjatuhkan tubuhnya kepangkuan Dimas, menyusupkan kepalanya di dada yang kukuh. Tangisnya memecah tanpa suara, Dimas mengusap air mata Fla dengan tangan yang bergetar. “Aku akan menjadi saudaramu, jangan khawatir, setelah kamu menikah dengan Doni aku akan tetap mengunjungi ayahmu, aku janji.”

“Aku bisa menuruti semua keinginan Ayahku, tapi kali ini aku harus bisa menolaknya, aku tidak mengenal laki-laki itu, apalagi mencintainya.” Kalimat terputus-putus diantara tangisnya yang terisak-isak.

“Ayahmu akan kecewa, aku tahu ayahmu adalah orang yang memegang prinsip, menghormati orang lain dengan baik, apalagi ayahmu pernah mendapat banyak pertolongan dari orang itu.” Dimas mencoba memberikan kekuatan untuk kekasihnya, meski hatinya sendiri hancur berkeping-keping.

Pernikahan Fla dengan laki-laki kaya dilakukan dengan cepat. Pak Salman dengan berat menerima pinangan pak Darma, atasannya dulu saat masih bekerja di perusahaan. Pak Darma sangat menginginkan putranya menikah dengan Flamboyan-putri Pak Salman. Sedang Pak Salman merasa berhutang budi dengan atasannya yang baik itu. Pak Darma selalu memberi pertolongan jasa maupun materi saat Pak Salman menjadi karyawan baru hingga menduduki jabatan yang menguntungkan.

*
Fla telah menikah dengan laki-laki yang tidak dikenalnya. Dua hari setelah pernikahan, suaminya memboyong Fla ke istana yang besar. Memisahkan Fla dengan Ayahnya yang sudah sangat tua. Kehidupan Fla berlimpah harta kekayaan namun tidak dengan kasih sayang. suaminya arogan dan mementingkan urusan pribadinya. Fla hidup di Istana yang penuh duri dan luka.

*
Dimas sudah berusaha melupakan Fla, Mengiklaskan kekasihnya menjadi penebus kebaikan orang kepada Ayahnya. Dua hari sekali Dimas mengunjungi Pak Salman di rumahnya. Laki-laki tua itu semakin kurus, tiga bulan dipisahkan dengan putrinya telah membuatnya lemah. Tidak ada yang mengurus rumah dan makanannya, membuat Dimas iba melihat calon mertua gagalnya itu. “Bapak makan dulu dengan Saya.” Dimas menuntun Pak Salman ke ruang tengah. Menyiapkan makan malam dan keperluan lainnya. Pak Salman memandangi putra sahabatnya itu dengan penuh penyesalan. “Kebaikanmu, mengingatkanku pada Bapakmu.” Suara Pak Salman tebatuk-batuk. Dimas mengulurkan segelas air putih kepada Pak Salman. Tersenyum dan melanjutkan makan,”Bapak sudah saya anggap sebagai Bapak saya sendiri.”

*
Dimas duduk termenung di kamarnya, memandang bulan sabit dan bintang-bintang dari jendela. Senyumnya kecut, mengingat pertemuan-pertemuan manis dengan Fla saat langit malam jernih dan angkasa memutih di malam hari. Aku bisa memberikan ragamu pada orang lain, tapi hatimu masih kugenggam, aku masih menyayangimu Fla. Dimas membatin dalam kepiluan yang dalam.

*
Dimas tergopoh-gopoh memasuki rumah Pak Salman, mendapat kabar bahwa orang tua itu sakit. Dimas menghampiri Pak Salman di kamarnya, selimut hijau daun menutupi kaki hingga dadanya. Dimas berjongkok, “Kita ke Dokter saja,pak, biar Dimas yang membawa Bapak.” Dimas memegang tangan Pak Salman yang dingin. “Aku sudah tua, nak, aku lelah, dokter akan sia-sia saja mengobatiku.” Suara Pak Salman berat, disertai batuk-batuk. “Tinggalkan aku di sini, hiburlah putriku di kamarnya.” Sekejap wajah Dimas pasi, kepalanya berbalik ke samping ruangan, matanya memandang ke kamar Fla.

Dengan ragu-ragu Dimas membuka pintu kamar, didapatinya Fla menangis memeluk bantal di atas kasur. Tangisnya terisak-isak, membuat Dimas tidak tega melihatnya. “Fla, ini aku.” Tangan Dimas mengambil bantal yang menutupi Wajah Fla. Dengan gemetar Fla berhambur ke pelukan Dimas. Dengan sungguh-sungguh Dimas memperhatikan tubuh Fla yang berubah kurus, tetapi perutnya buncit. Dimas dapat menebak bahwa Fla tengah mengandung seorang bayi. “Fla, jangan menangis, ceritakan padaku ada apa? Kita teman kan, kita saudara.” Dimas merapikan rambut Fla yang berantakan, menuntunnya duduk di kursi rias. Dengan tangis yang terisak-isak Fla menceritakan penderitaannya sebagai seorang istri. Doni, suaminya yang kaya raya telah mengkhianati kesetiannya. Doni memiliki wanita lain yang telah dinikahinya tanpa sepengatahuan Fla. Doni bukan laki-laki yang baik seperti Ayahnya, watak dan sikapnya bertolak belakang dengan Ayah kandungnya.

“Bercerailah, aku akan menikahimu.” Suara Dimas dengan tegas mengambil keputusan. Tangannya mengepal, seperti tidak tahan ingin menghabisi seseorang. Fla tertunduk di lantai, tubuhnya semakin gemetar, “Masa depanmu masih panjang, sayang, jangan berkorban lagi untukku.” Air matanya berderai membanjiri pipinya yang pucat. “Aku masih mencintaimu Fla, aku tidak berbohong.” Dimas memang laki-laki yang baik. Meskipun sudah dikecewakan namun hatinya seperti tanah ladang, berapakalipun orang melakukan kekerasan di atasnya, dia akan melupakan dan tidak mempermasalahkannya.

Suara batuk terdengar lagi dari kamar Pak Salman. Dimas dan Fla segera melihat kedaaan Pak Salman di kamarnya. Laki-laki tua itu sedang kritis, Dimas ingin membawanya ke Rumah sakit. Pak Salman mencegahnya, baginya dokter dan obat-obatan hanya akan membuatnya bertahan lebih lama untuk melihat penderitaan putrinya. “Bapak sudah lelah, bapak harus beristirahat, jagalah Fla sebagai saudaramu, seperti bapakmu menjadi saudaraku, nak.” Suaranya semakin lemah, Fla menangis tersedu-sedu di samping ayahnya yang tidak berdaya. Ayahnya menghembuskan nafas dengan tenang tepat setelah mengucapkan permintaan maaf kepada Fla.

Fla tidak pulang lagi ke rumah suaminya yang kaya raya. Meskipun sudah sepekan dia tidak pulang karena kematian ayahnya, tak sekalipun suaminya datang menengok maupun melayat. Mertuanya datang melayat, membujuk Fla untuk pulang dan kembali kepada suaminya. Namun dengan halus Fla menolak, memohon agar diberi kebebasan untuk menentukan masa depannya.
*
Dengan sabar Dimas membimbing Fla kembali menjadi wanita yang kuat. Menghiburnya, memberinya hadiah-hadiah kecil yang membuat Fla tersenyum kembali. Berapakalipun Fla meminta pergi untuk mencari gadis yang baik untuknya, tetapi Dimas tidak menghiraukannya. Baginya Fla adalah cinta sejatinya, meski dia harus mendapatkan Fla dengan cara yang menyakitkan. Dimas tidak pernah menyesal dengan semua yang terjadi. Bahkan dia telah menyiapkan perlengkapan bayi yang akan dilahirkan Fla beberapa hari yang akan datang.

Wajah Dimas terlihat khawatir, menunggu Fla berjuang melahirkan bayinya di ruang bersalin. Laki-laki bertubuh tinggi itu mondar-mandir di teras rumah sakit, sesekali mencuri dengar lewat jendela ruang bersalin. Wajahnya makin gelisah, sudah satu jam lebih dia menunggu tetapi belum mendapatkan kabar yang baik dari dokter maupun perawat.

*
Air mata laki-laki itu tak dapat ditahan lagi, teman dan kerabatnya sudah mencoba menenangkannya. Dimas masih menunduk pilu di atas tiga pusara sekaligus. Fla meninggal dunia bersama bayi yang dilahirkannya. Bayinya sungsang dan terlilit usus ibunya, sedangkan Fla telah kehabisan banyak darah. Dimas telah menyiapkan pernikahannya dengan Fla setelah habis masa idah dengan mantan suaminya. Dimas telah banyak berangan-angan membangun rumah tangga bahagia bersama Fla. Namun di kuburan ini, di mana Pak Salman, Fla dan bayinya dikuburkan, disitu pula Dimas mengubur semua keinginannya, angan-angan bahagia dan cinta sejatinya.

Brebes, 24 Juni 2019/ Pkl.00.35 WIB

Rachmawati, penyuka warna hitam dan biru

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

41+

Tulisan terkait

2 thoughts on “Pernikahan Darah dan Air Mata”

  1. Ceritanya romantis pas Flamboyan dan Dimas selalu berdua
    Ceritanya sedih pas Flamboyan di nikah kan oleh lelaki yang tak di kenal dan ayah Flamboyan meninggal Flamboyan melahirkan dan meninggal pula beserta anaknya

    2+

Leave a Reply

Close