CerpenPilihan Editor

Kesunyian Ini Anjing Sekali Rasanya

Kesunyian Ini Anjing Sekali Rasanya
Oleh: Hanifah

Aku menatap layar ponsel. Berkali-kali membaca berbagai postingan yang tengah hangat akhir-akhir ini. Instagram, facebook, twitter, semuanya, bergantian aku cek. Ya, bagai sebuah kesibukan yang tidak bisa dipisahkan dari keseharianku, membuka berbagai akun media sosial sudah menjadi kebiasaan yang tak dapat dienyahkan. Setelah lulus SMA, tidak banyak kegiatan. Aku sedang menunggu pengumuman hasil tes ke perguruan tinggi. Terlalu banyak waktu luang dan aku sudah terlalu bosan juga jalan-jalan bersama teman-teman. Menonton film di bioskop, memburu tempat wisata baru, tempat makan baru, dan banyak lagi. Benar-benar sudah bosan. Berbeda dengan media sosial, membukanya berjam-jam, aku tak pernah diterpa kejenuhan sama sekali.

Sudah pukul delapan pagi dan aku masih berbaring di tempat tidur. Berbalas komentar di salah satu status teman facebook, melihat-lihat postingan artis idolaku di instagram. Ah, betapa santai dan menyenangkan.

Jam segini, mama dan papa pasti sudah masuk ke kantor. Rumah sepi. Mungkin hanya Bi Ratmi dan Mang Ujang di dapur. Aku bisa leluasa bermalas-malasan di kamar.

[Wah, cantiknya ….]

Aku mengetik pujian di kolom komentar status facebook perempuan cantik. Tak berapa lama, ia membalas mengucapkan terima kasih. Kemudian, aku membaca komentar lainnya.

[Dasar pamer!] [Cantik!] [Oplas pasti!] [Efek kamera itu ….]

Aku tertawa membacanya. Ah, orang-orang memang suka sekali berkomentar. Bahkan di balasan komentar tersebut banyak yang berkata kasar. Kata-kata seperti anj*ng dan b*bi, banyak sekali. Seru sekali membacanya. Selain itu, berbagai ekspresi lewat emotikon juga mereka layangkan. Ada emot sedih, tertawa, bahkan marah.

Sebenarnya, sang pemilik postingan seakan tak peduli dengan hujatan-hujatan itu. Namun, dua pihak yang saling menghujat sama-sama orang yang berkomentar. Aih, lucunya.

Tak terasa, sekarang, sudah hampir pukul sepuluh. Perutku berbunyi. Tentu saja, aku belum makan apa pun dari tadi.

Aku beranjak, ponsel masih di tangan. Jangan sampai notifikasi penting terlewatkan.

Meja makan masih penuh, Bi Ratmi tentu sudah hapal kebiasanku. Jika hari libur, ia takkan buru-buru membereskan makanan di meja. Mama dan papa, mereka benar-benar sayang sekali padaku. Sampai-sampai, anaknya yang belum sarapan ini, tidak tega mereka usik, huh.

Aku melahap sepiring nasi goreng. Entah berapa lama ini akan habis, sebab setiap satu suapan, aku sibuk membaca dan membalas komentar. Di instagram banyak postingan artis terkenal. Ini menyenangkan!

Sepiring nasi goreng, selesai sudah. Saatnya kembali ke kamar. Tiduran sambil terus melihat setiap postingan.

Aku melonjak kaget ketika salah satu komentarku dibalas oleh artis.

“Wah!”

Semakin bersemangat aku melihat berbagai postingan dan bahkan, foto-foto yang diupload sang artis beberapa waktu lalu, aku lihat kembali berulang-ulang. Ah, senang sekali. Menyelam di setiap postingan artis terkenal, melihat-lihat barang baru di akun yang menjual berbagai macam barang hits, dan banyak hal lainnya yang bisa dilihat lewat benda mungil yang kugenggam saat ini.

Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang, aku benar-benar belum beranjak dari kamar. Mama dan papa belum pulang, bahkan aku berkali-kali melihat kontak WA mama, berharap ia menanyakan sesuatu, tapi tidak. Tidak sama sekali. Mereka terlalu sibuk, rupanya.

Aku menarik napas panjang, menatap ke langit-langit kamar. Suara bip pertanda baterai lemah berbunyi. Ah, sayang sekali. Aku beranjak, mencari charger.

“Eh, kok gak masuk?” berulang kali aku mencoba membenarkan colokannya.

Aku menepuk keningku sendiri, “Mati lampu pasti!”

Aku mencoba mengingat dimana letak power bank. Aduh, malas sekali mencarinya. Mungkin di ruang tamu?

Aku melangkah terburu-buru. Namun sesampainya di ruang tamu, papa dan mama membuka pintu. Mereka kemudian terlihat seperti sedang mencari sesuatu.

“Cari apa, Ma?” tanyaku datar.

“Power bank sayang,” ujarnya tanpa melihatku sama sekali.

“Kalo ketemu, papa dulu yang pake ya, ini papa ada kerjaan penting,” ucap papa kemudian.

Aku diam. Sepertinya, mereka lebih membutuhkan.

“Ini, Pa!” aku menemukan power bank dengan cepat dan menyodorkannya.

“Makasih,” ia mengucapkan itu tanpa melihatku sama sekali. Persis seperti mama tadi. Hei, mereka anggap aku apa?

Papa duduk santai di sofa. Aku juga. Mama melakukan hal yang sama sambil membuka kaus kakinya. Ia melihatku yang sedari tadi menatapnya, lalu tersenyum.

“Eh, kita jarang banget ya? Kumpul kayak gini?”

Pertanyaan mama, bagiku bagaikan Kapal Titanic yang menabrak gunung es. Esnya tidak pecah, tapi kapalnya yang karam. Tidak berhasil sama sekali.

Aku hanya tersenyum datar. Melihat papa, melihat mama, dan kembali masuk ke kamar.

Kembali tiduran dan menatap ponsel. Baterainya hampir habis. Aku menutupi kepala dengan bantal. Perlahan, aku menangis. Dalam hati, tak henti aku mengutuk keadaan ini. Mungkin, aku dan kamu menjadi dekat karena dunia maya. Namun, di sisi lain, itu telah menciptakan dinding besar yang bukan hanya sekadar kecanggungan dan pengabaian dari orang-orang yang kucinta. Lebih dari itu, semacam kesunyian yang tak dapat dijabarkan oleh kata-kata.

Tasikmalaya, 2019

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

1+
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close