CerpenPilihan EditorSastra

Cinta yang Sulit

Cinta yang Sulit
Oleh: Imas Hanifah N

Jika kamu pernah mendengar atau mengetahui cerita tentang kutukan-kutukan yang menjadi hal lumrah pada zaman dahulu, hari ini aku akan bertemu langsung dengan seseorang yang mengaku adalah saksi dari dikutuknya seorang wanita cantik yang melawan seorang ratu pada saat itu. Tak tanggung-tanggung, bahkan ia mengaku telah berusia seribu tahun! Patung itu tepat berada di dalam rumahnya sendiri. Entah bagaimana awalnya, tapi Dimas menantangku untuk menuliskan kembali kisah saksi tersebut. Aku sempat tertawa geli mendengar temanku bertutur tentangnya. Tapi, bagaimanapun juga, untuk menghargai dan sekaligus menerima tantangannya aku siap mengorek tuntas cerita yang masih kuragukan itu.

Aku dengan sengaja memberhentikan motor tepat di depan warung dan menitipkan pada pemiliknya. Rumah saksi tersebut hanya berjarak beberapa meter saja dari warung. Aku hanya ingin berjalan kaki, menikmati indahnya suasana pedesaan.

Namun sebelum itu, sang pemilik warung mengatakan hal yang sedikit aneh.

“Lho, buat apa Anak Muda mau temuin Pak Kusmadi? Mending jangan.”

“Hehe, iya, Bu. Ini saya memang ada pekerjaan untuk menulis artikel.”

“Nulis tentang Pak Kusmadi?”

Aku mengangguk.

“Kayak gak ada kerjaan saja, hehe.”

Aku hanya tersenyum tipis. Sudah kuduga, ini akan jadi sedikit membingungkan. Awas saja, kalau Dimas mengerjaiku.

“Permisi, ya, Bu. Rumahnya yang cat ijo, kan?”

“Iya, hati-hati, ya.”

“Iya, nitip motor ya, Bu.”

“Iya.”

Langkahku terus menuju rumah bercat hijau. Rumah yang cukup sederhana di sebuah kampung yang lumayan asri ini. Suasananya amat sejuk.

Tepat di depan pintu rumah, belum sempat aku mengetuk, pintunya sudah lebih dulu terbuka dari dalam.

“Silakan masuk,” ucap seorang kakek tua yang kuyakini adalah Pak Kusmadi. Ah, mungkin saja, Dimas memang sudah memberitahu perihal rencana kedatanganku kepada Pak Kusmadi.

“Silakan,” ucapnya sekali lagi. Aku langsung masuk. Takut ia merasa tidak enak.

“Silakan duduk.”

Aku lekas duduk. Sementara Pak Kusmadi ke belakang. Dari tempatku duduk, dapat kulihat dengan jelas patung yang diceritakan oleh Dimas. Patung itu memang persis seperti manusia. Benar-benar mirip. Patung perempuan dengan kebaya berwarna hijau. Rambutnya digelung dan wajahnya muram. Matanya tertutup, seakan menyiratkan kesedihan yang mendalam. Aku terbius pemandangan luar biasa ini. Sampai tak menyadari, kalau Pak Kusmadi sudah menyajikan kue dan secangkir teh.

“Begini, Pak saya datang untuk mengajukan beberapa pertanyaan mengenai patung yang ada di sana.”

Aku menunjuk patung tersebut. Pak Kusmadi mengangguk dan langsung menanggapi, “Tidak perlu. Kamu diam saja, biar saya ceritakan semuanya. Kalau mau mencatat, silakan dicatat.”

Mendengar itu, tentu saja aku sangat bersemangat. Pak Kusmadi juga rupanya sangat berniat untuk membagikan kisahnya. Ini akan jadi lebih mudah.

Pak Kusmadi menarik napas panjang sebelum memulai.

“Seribu tahun lalu, saya adalah seorang prajurit. Prajurit kelas rendah, bernama Wira. Berada di bawah pimpinan pasukan yang tegas. Setiap dari kami, hanyalah bertugas untuk perang dan perang. Untuk menghabisi musuh.”

Beberapa kali Pak Kusmadi menceritakannya dengan suara bergetar. Seakan apa yang ia katakan memang bukan terjadi seribu tahun lalu, melainkan hari kemarin.

“Kamu tahu, Anak Muda, apa yang lebih menyedihkan dibandingkan itu semua?”

Aku menggeleng.

“Mencintai seseorang.”

“Itu bukan kesalahan.” Aku mencoba menanggapi.

“Tapi saat itu, tentu saja adalah kesalahan besar. Karena yang saya cintai adalah seorang putri raja.”

Aku mulai mengerti. Tentu saja, seorang prajurit rendah dan putri raja? Ini seperti dalam dongeng saja. Mustahil berhasil di dalam kenyataan.

“Dan yang lebih meyakitkan dari itu, putri juga memiliki perasaan yang sama. Bukankah, akan lebih mudah jika ia menolak?”

Pak Kusmadi menatap cangkir tehnya. Aku bahkan belum menyentuh cangkir teh sama sekali. Terlalu hanyut dalam ceritanya. Apalagi, suasana sepi di rumah ini seakan menjadi latar yang pas untuk mengiringi kisah cinta penuh haru dari Pak Kusmadi.

“Semuanya berlanjut. Saya sering bertemu dengannya diam-diam. Jujur saja, saya lupa bagaimana awalnya kami dapat terhubung satu sama lain. Kebahagiaan saling mencintai kami ini, terasa berlangsung cepat.”

Aku mulai meminum tehnya. Sepertinya, ini akan berlangsung lumayan lama.

Pak Kusmadi terus bercerita tentang kebahagiaannya yang hanya sesaat. Karena setelah raja mengetahui hal tersebut, raja mulai membatasi semua kegiatan sang putri. Mereka jadi jarang bertemu.

Pak Kusmadi sendiri, berusaha melupakan keinginannya. Saat itu, ia terus fokus melawan musuh dan tak pernah melewatkan pertempuran demi pertempuran. Hingga akhirnya, suatu hari, ia mendapat kabar yang mengejutkan. Sang putri telah dikutuk.

Pimpinan prajurit yang dari awal mengetahui perihal kisah cinta antara Pak Kusmadi dan sang putri, merasa iba dan menyuruh agar Pak Kusmadi lari ke tempat yang sangat jauh.

Namun, Pak Kusmadi alias Wira, tidak langsung pergi. Ia berniat menyaksikan sendiri sang putri untuk yang terakhir kali dan lebih dari itu, ia ingin tahu kenapa sang putri sampai dikutuk.

Sampai di situ, aku merasa waktu cepat berlalu. Hari kini sudah mulai beranjak petang. Sudah dua jam setengah, sejak aku tiba di sini dan jujur saja, aku tidak menuliskan apa-apa. Seakan tersihir dengan cerita yang dituturkan oleh Pak Kusmadi.

“Saya menemukannya. Ia dibuang oleh raja dan ratu. Patungnya dibuang. Bayangkan, ibunya mengutuk putrinya. Tentu saja, sampai saat ini, saya tak pernah benar-benar bisa merasakan kesedihan yang dialami oleh perempuan yang paling saya cintai.”

Aku mengangguk. Mengalihkan pandangan ke arah patung sang putri. Mata patung itu menatap tajam ke arahku. Aku mulai merinding. Saat aku kembali menyeruput teh, aku baru ingat. Saat pertama kali melihat patung itu, matanya terpejam. Sambil menelan teh yang terasa tak keruan, sekali lagi, aku memandang patung itu. Namun kali ini, patung itu sudah tak ada di tempatnya.

“Pak, saya ….”

Pak Kusmadi menahanku tepat ketika aku hendak berdiri. Matanya seakan menusuk ke dalam jantung. Membuatku semakin ketakutan.

“Kisah cinta kami, dapat terulang kembali, jika seorang pemuda dikorbankan.”

Sungguh, aku benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi. Aku tak pernah menduga hal semacam ini bisa kualami.

“Pak, saya ….”

Aku berusaha melepaskan cengkeraman tangannya yang amat kuat. Namun, tak bisa. Malam itu, aku menyaksikan bagaimana patung sang putri kembali hidup. Bagaimana Pak Kusmadi alias Wira, kembali memadu kasih dengan perempuan yang amat dicintainya. Sedangkan aku, tak akan pernah bisa menyelesaikan tantangan Dimas.

Tasikmalaya, 2019

Imas Hanifah N. 24 Desember 1996 adalah tanggal ia lahir sebagai anak kedua dari tiga bersaudara. Saat ini, ia memiliki kesibukan sebagai salah satu pelayan di sebuah toko. Ia bisa dihubungi lewat akun facebooknya: Imas Hanifah N, akun Ig: @hanifah_bidam atau lewat e-mail: hanifah24halimtuti@gmail.com.

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

0
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close