PuisiSastra

Aku dan Hantu-Hantu; Kumpulan Puisi Porteka

Aku dan Hantu-Hantu; Kumpulan Puisi Porteka

 

Datang

 

Kali ini, bulan lebih hitam dari dendam. Malam yang datang, menelan kesedihan, lalu memuntahkannya pada kenangan.

 

Kau, terluka.

Kau, perempuan rapuh melebihi waktu.

Kau, bisu yang riuh di sajak kelam. Menatap nanar kehidupan, yang datang seperti hujan.

 

Kali ini, sajak terpotong-potong di atas meja dapur.

Kata-kata dicincang lalu kau masukkan dalam panci serupa kolam.

Kau, lapar yang gemetar.

Kau, perempuan pengantar sunyi, yang menangis menatap bulan hitam.

 

Cahaya karam di penghujung malam, mengantarmu lewat celah-celah bintang.

 

Yang sesaat redup, menyala lemah, terkena kerudung hitam rambutmu.

Ganjil mengintip, tersenyum sipit memaki dirimu yang sakit.

 

“Redupnya bintang, melemahkan semangat siang.”

 

Kau, riang tangis.

Kau, perempuan sedih penuh dusta. Terkurung, meronta tak ada beda.

 

Kemudian, kau mendarat di tanah yang beterbangan. Menatap mayat yang kaku karena bulan hitam. Tubuhmu semakin bergetar, luluh mengendus teguhnya tulang.

 

“Cahaya karam, di penghujung siang. Mengusir bintang dan bulan hitam.”

 

Mayat yang kau lihat, perlahan bangkit.

Kau, lari menembus kesetiaan.

Kau, lari dari senyum sakit tubuh yang baru bangkit. Kemudian terjatuh di mulut peradaban lain.

 

Kau, selamat datang di hari yang akan ramai dengan tangis.

 

Jakarta, 06 Mei 2019

 

Aku dan Hantu-Hantu

 

Aku bermimpi, sepasang singa terikat pada pohon yang berbuah monyet dan orang utan.

Singa jantan mengerang tajam mengiris daun-daun, membuat pohon yang mengikatnya serupa kering. Sedang singa betina berpuisi. Larik kata dan bahasanya menyayat buah pohon, kemudian menjadi instrumen kesedihan.

“Adakah yang mampu diterjemahkan bahasa dari leher yang binasa?”

Aku melihat, sepasang singa itu menari dengan hantunya. Bulu keemasan dan ekor singa jantan membentuk abjad. Barangkali dia tak bisa berkata-kata. Mulutnya terus menganga meruntuhkan segala usia.

“Bila ungkapan harus disampaikan dengan bahasa, biarlah air mata mewakilinya.”

Ketika malam gelap, sepasang singa itu terduduk serupa penyembah pohon. Empat pasang matanya memberi komando bahwa mereka belum menyerah. Pada rantai yang ego, pada pohon dan buahnya yang tuli.

Pada akhirnya, mimpi itu terhapuskan di kedalaman cahaya yang karam.

 

Jakarta, 8 Mei 2019

 

Menjadi Darah

 

Yang kutarik terik matahari, agar mau menetap dan menerangi jalan menuju gua kenestapaan.

Namun, yang tersangkut di jemari si baju merah berlumur darah. Jejak langkah menjadi terbaca dan aku tak bisa sembunyi.

Ingin kuhapus dengan air mata.

Tak cukup untuk sekadar satu jejaknya.

Kemudian, aku menjadi darah. Berharap jejak bukan sekadar peninggalan yang tak disengaja.

 

Jakarta, 8 Mei 2019

 

Pemurnian Diri dari Dosa Janji-Janji

 

Adalah panjang ceritanya. Adalah berciuman di bawah lampu taman. Adalah dosa yang disimpan di setiap kantong, yang kala sempat untuk mengganti kata lapar.

Adalah anak kecil menadah tangan. Adalah mata tajam menatap mata. Adalah memberi untuk sekadar tak disebut pengubur hati. Adalah anak kecil yang setiap saat mengadu pada kuburan ibunya,

bahwa lapar baru saja memaksanya luka sana-sini.

Adalah kesaksian yang bisa diporak-porandakan dengan angka. Adalah perempuan hilang di pinggir got dan kali-kali perkotaan. Adalah sungai yang menyimpan memori penghambaan,

keserakahan yang terus menular di mulut-mulut persimpangan.

Adalah siang temaram bagi penjajah di merahnya jalan. Adalah seorang ayah mengirim WA ke istrinya, bahwa dia tak sanggup sendiri di perantauan.

Adalah pemuda yang tak punya rumah. Adalah peratap pengamat jalan di setiap selesai petang.

Adalah hilang antara cita-cita di bawah undang-undang 1945. Adalah berjemur demi kamera dan kulit sebagai bukti kedewasaan dan

patut untuk diperkosa kekuasaan. Adalah siap jika lupa. Adalah satu kepala yang bisa ditukar dengan rumah beserta kolamnya.

 

Adalah aku yang ingin hilang dari peradaban, tentang napas yang tentu kau tahu tersengal-sengal di bawah perintah sebagai kutukan bernama rakyat.

 

Jakarta, 8 Mei 2019

Porteka, gadis kecil serupa Lily yang berusaha menjadi gadis labil dan … itu sulit.

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

0
Tags

Tulisan terkait

Close