CerpenTantangan Lokit 8

Tsun-doku

Tantangan Lokit 8 (Mimpi)

Tsun-doku
Oleh: Respati

Tantangan Lokit 8 (Mimpi)

Sayup terdengar denting piano dari dalam apartemen 1221. Setiap melintasi kamar itu—pada jam yang sama—Romada selalu mendengar seseorang memainkan batang-batang putih hitam itu dan menghasilkan sebuah harmoni.

Romada melambatkan langkahnya. Dentingan piano yang indah ini makin jelas terdengar. Dia berhenti untuk sekejap menikmati alunan piano itu lebih dekat. Wajah Romada didekatkan ke pintu. Denting piano makin lirih. Lalu hilang. Telinganya makin mendekat ke pintu. Tiba-tiba pintu terbuka, membuat tubuh Romada oleng ke depan.

Romada terperanjat, mulutnya menganga. Dia mundur selangkah sambil menatap lekat pria di depannya tanpa berkedip.

“Cari siapa?” seorang pria bertanya.

“Mm—maaf. Saya ….” Romada tergagap sekaligus malu karena kepergok.

Lelaki berkulit putih dengan mata sipitnya tersenyum memamerkan deretan giginya yang tak kalah putih. Romada masih menatap mata pria itu dengan gelagapan. Dia mengambil langkah meninggalkan pria itu dengan sedikit berlari.

Romada memilih kabur dari hadapannya, berharap ini bisa mengurangi debaran pada jantungnya. Buru-buru dia mencari kunci apartemennya. Begitu terbuka dia masuk dan seketika menutup pintu lalu berlari ke kamarnya. Melemparkan kantong berisi buku ke atas kasur. Napasnya masih memburu. Dia lantas duduk di atas petiduran, sambil mengatur napasnya. Setelah tenang dia beranjak menuju dapur dan menuangkan air putih hangat dari dispenser-nya. Kembali dia mengingat pertemuannya dengan seulas wajah dihiasi senyum yang … ah, kembali jantungnya berdebar kencang.

***

Rak buku di ruang tamu menyisakan sedikit ruangan lagi untuk buku koleksi milik Romada. Dua buku yang baru dibelinya sudah menghuni rak. Seminggu ini, sebuah novel dan kumpulan cerpen menambah koleksinya. Romada tersenyum melihat rak bukunya sudah mulai penuh.

“Sebentar lagi …,” bisik Romada.

Ponselnya berbunyi. Sebuah pesan dari Meyta buru-buru dibuka.

Aku tunggu di Sierra Café. Sekarang.

Romada mengernyitkan kening. Sahabatnya meminta ia ke kafe di daerah Dago. Dengan kondisi lalu lintas semacet ini, mustahil untuk tiba di sana dalam waktu singkat, mengingat jarak kafe dan apartemennya yang cukup jauh.

Macet. Ada apa di sana?

Romada membalas pesan Meyra. Dan tak butuh waktu lama, Romada mendapat balasan lagi.

Penting! Atau kamu akan kehilangan!

Kening Romada kembali berkerut. Romada makin bingung. Dia masih duduk di sofa. Menimbang-nimbang antara pergi atau tetap di tinggal. Akhirnya, Romada memilih bangkit dari duduknya dan meraih kunci mobil lalu keluar dari apartemen.

Di ujung jalan sebelum ke lift, Romada melambatkan kakinya. Tiba-tiba dadanya berdebar lagi. Sayup-sayup dentingan piano terdengar lagi. Kali ini, ia tak ingin mendekat apalagi menempelkan telinganya ke pintu. Tindakannya tadi sungguh memalukan. Rona merah terpancar di pipinya yang putih. Kontras dengan selendang tipis merah muda yang dipakainya menutupi kepala.

Romada bergegas dari depan apartemen pria bermata sipit yang mirip orang asing itu. Walaupun dari dialeknya tadi, jelas dia bukanlah pria asing yang tinggal satu gedung apartemen dengannya.

Mobil merah milik Romada sudah bergabung dengan kemacetan lalu lintas di Bandung siang ini. Kalau bukan karena pesan Meyra yang membuatnya penasaran, Romada tak ingin menghabiskan waktu dengan kepenatan juga kebisingan jalan raya seperti saat ini. Terlebih dia baru saja pulang dari toko buku. Ya, ia baru membeli dua buku dengan kover sangat menarik. Pintu terlarang-nya Sekar Ayu Asmara dan kumpulan cerpen Jeruk Kristal milik Maria Antonia.

Klakson panjang bersahutan dari mobil di belakangnya. Suara klakson memaksa telinga Romada menerima suara cukup nyaring itu. Dalam sebuah antrean kemacetan, sering kali kondisi ini membakar emosi pengendara terutama mereka yang sedang diburu waktu. Pun demikian dengan Romada. Ia berharap Meyra masih bisa tersenyum menyambutnya nanti.

Benar saja, hampir satu jam Romada baru sampai di lokasi Meyra menunggu. Bergegas ia ke lantai atas. Sebelum menemui Meyra, Romada terlebih dulu mencari toilet. Setelah mendapatkan petunjuk arah, Romada berjalan melewati beberapa kursi yang terisi. Sebuah kursi terisi seorang pria sedang membaca buku dan menceritakannya kepada seorang gadis yang bersandar mesra di lengan sang pria. Sedetik berikutnya, Romada seperti sedang bercermin.

Ia dan Ryota. Pemuda Jepang yang dijumpainya pertama kali di toko buku. Yang mengenalkannya pada buku. Dan mengajarkannya tentang kehidupan dari sebuah buku. Ia dan Ryota, juga buku. Menjadi trilogi  kehidupannya.

“Ryota-Tan..anata no yakusoku wa mata kuru yo?” [1]

Pemuda bermata sipit yang hendak berpamitan ini memandangi Romada dengan lekat. Punggung tangannya menyentuh pipi Romada yang mendadak merona merah.

“Mata kuru ne.  Anata ga hon o yonda ni tsuite hanashite kikimasu,”[2] janjinya.

Kuru toki, koko de sugoshimashita. Kono Chiisai toshokan no mae desu.[3]

Romada menghela napas dan segera berlalu dari sisi kursi yang mendadak mengingatkannya pada Ryota. Tas merah bertali panjang diselempangkan ke bahunya lalu bergegas ke kamar kecil. Berusaha menepis ingatannya, tentang sebuah janji.

***

“Mada! Kamu dari mana aja, sih? Lama bener!” gerutu Meyra menyambut Romada.

“Dari toilet. Ada apa, sih?”

“Toilet? Toilet mana?”

“Di sana.” Romada menunjuk toilet dengan telunjuknya. Lalu gadis itu duduk berseberangan dengan Meyra. Romada merapikan letak selendang merahnya sambil bertanya, ”Sebenarnya apa yang mau kamu bicarakan?”

“Mada … ka—kamu gak lihat—”

“Lihat siapa?”

“Ryota ….”

Romada sontak mengangkat kepalanya, dan memandang Meyra dengan mata membulat.

“Gak mungkinlah. Kalau dia datang pasti kabari aku. Kamu salah lihat, Ra!”

Mata gadis berhijab biru navy dengan kemeja kotak-kotak warna senada itu hanya bergeming. Bibirnya bergetar, matanya terlihat berkaca-kaca. Pandangan Meyra bukan ke arah Romada melainkan ke arah pria yang menggandeng mesra seorang wanita. Mereka sedang beranjak meninggalkan kursinya, dan berjalan ke arah mereka.

“Ra? Kenapa jadi kamu yang sedih? Sudahlah aku yakin kamu pasti salah lihat!” bantah Romada. Matanya berkeliling mencari pelayan kafe, sebelum akhirnya pandangannya terhenti. Ia berdiri perlahan. Mata Romada membulat, bibirnya bergetar membisikkan sebuah nama.

Ryota-tan ….” [4]

Ryota terkejut dan berhenti dengan kikuk. Ia menoleh ke arah Romada yang sudah berdiri tegak dengan mata tak berkedip melihat dirinya. Pria Jepang itu sudah berdiri lagi di depan Romada. Memenuhi janjinya untuk kembali. Tapi ….

Ekor mata Romada melirik perempuan—yang juga bermata sipit—di sampingnya. Mengenakan celana pendek warna hitam dipadu kemeja kasual. Cantik. Romada tak ingin membuat kesimpulan yang terburu-buru tentang wanita ini.

Kochira wa okusan desu.”[5]

Wanita itu mengulurkan tangan. Ada keraguan Romada menyambut tangannya. Namun, mata indahnya lebih dulu memanas. Perih di dada lebih menguasai jiwanya ketimbang berbasa-basi dengan wanita yang telah merebut posisinya. Mengganti kedudukan Romada di hati Ryota, sekaligus mengaburkan semua mimpinya. Lenyap tanpa berbekas lagi. Romada berlari meninggalkan Ryota yang masih mematung.

“Mada … tunggu!” cegah Meyra dengan sorot mata tak kalah tajam memandang pria pengumbar janji itu.

Dengan mata yang mulai basah, isakan Romada tak terbendung lagi. Kunci mobil yang dicarinya tak kunjung ia temukan. Usahanya berhenti saat suara yang dirindukan itu berada tepat di belakangnya.

Mada-tan. [6] Maafkan saya.”

Romada tak sanggup membalikkan badannya. Dia hanya menunduk sambil terisak. “Ry-san.. uso da.”[7]

Uso janai. Mou kimashita ne.”[8]

Atashi ni ja nai  desuga.”[9]seru Romada. Tangisnya pecah. Ia benar-benar kecewa.

“Maafkan saya.”

Romada masuk ke mobil dan melaju kencang meninggalkan Ryota yang masih berdiri. Isakannya makin keras tak peduli lagi dengan kelajuan mobil yang dikendarainya.

***

Seminggu terakhir Bandung diguyur hujan. Seperti sore ini, bumi Parahiyangan dipayungi awan hitam. Akibatnya cuaca di luar cukup dingin. Romada memilih duduk di sofa menghadap jendela di apartemennya. Di belakang sofa ada rak buku menyerupai perpustakaan mini miliknya. Di sinilah seharusnya sebait mimpinya terwujud bersama Ryota Yamagata. Menghabiskan waktu bersama dengan membaca banyak buku. Sekarang, buku-buku itu hanya menjadi bagian dari koleksinya tanpa satu pun pernah ia baca.

Sudah seminggu ini, Romada mengurung diri di apartemennya. Mendadak ia ingat sesuatu. Ia pun bangkit dari duduknya dan berencana ke toko buku. Sudah seminggu koleksi bukunya belum bertambah.

Romada membuka pintu. Seorang pria bermata sipit sedang berdiri di depan pintu apartemennya sambil tersenyum. Di tangannya ada dua cangkir cokelat hangat. Romada membuka pintunya lebar-lebar.

“Kamu mau pergi?” tanyanya.

Romada mengangguk.

“Yah …,” suaranya menahan kecewa.

“Kamu mau mampir?”

“Kamu keberatan gak kalau kita berdua minum cokelat hangat ini?”

Romada menggeleng, ia menyilahkan tamunya masuk.

Setelah meletakkan kedua cangkirnya di meja depan TV, pria sipit yang memakai kaos dilapisi kemeja itu berhenti di depan rak buku.

“Wow, banyak sekali koleksi buku kamu.”

Romada yang mengikutinya dari belakang hanya tersenyum sinis. Ia mendahului duduk di sofa ruang TV.

“Kamu sudah baca semuanya?”

Romada melirik pria itu dan menggeleng.

Tsun-doku.”[10]

 

Airmolek, 21 Oktober 2018

Respati, mencoba menyusun kata mengikat cerita. Aktif di IG: susi_respati dan Wattpad: respatisetyorini

 

Catatan :

[1] Ryota-Tan. Kamu janji akan datang lagi

[2] Aku akan datang lagi dan mendengarkanmu bercerita tentang buku-buku yang kamu baca

[3] Saat kamu datang, kita akan menghabiskan waktu di sini. Di depan perpustakaan kecil ini.

[4] Ryota sayang

[5] Kenalkan, ini istriku. Kimiko

[6] Mada sayang

[7] Kamu bohong, Ry. Kamu bilang—

[8] Aku tidak bohong. Kamu lihat aku datang lagi

[9] Tapi tidak untukku!

[10] pengoleksi buku tanpa pernah membaca setelah membelinya

Tantangan Lokit adalah lomba menulis yang diadakan di Grup KCLK

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

0
Tags

Tulisan terkait

Close