CerpenPendidikanSosial-Budaya

Ruwatan Rambut Gimbal

Naafisa

Ruwatan Rambut Gimbal
Oleh: Naafisa

Anis dan Andi adalah pasangan suami istri yang telah menikah lima belas tahun silam. Mereka merupakan pasangan yang berasal dari dua kota berbeda. Andi berasal dari daerah Dataran Tinggi Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah, sedangkan Anis berasal dari kota Serambi Makah, yaitu Aceh.

Setelah lima belas tahun menikah, mereka belum juga diberi momongan meskipun sudah melakukan berbagai cara. Mulai dari terapi sampai saran-saran lain yang pernah mereka dapatkan dari para tetangga. Hingga pada suatu hari, Anis mendadak sakit dan mual. Andi yang merasa khawatir langsung membawanya ke rumah sakit. Ternyata, Anis sakit karena sedang hamil dengan usia kandungan dua minggu. Mereka pun bahagia mendengar berita itu karena penantiannya selama ini akhirnya tercapai.

“Mulai sekarang jangan terlalu lelah, ya,” pesan Andi kepada istrinya. Lelaki itu tampak bahagia, tak henti-hentinya ia menyunggingkan senyum kala membayangkan dirinya menjadi seorang ayah.

“Iya, Mas. Jangan khawatir, aku pasti akan beristirahat dengan baik.”

“Ya, sudah. Kalau begitu Mas keluar sebentar. Jika butuh apa-apa, minta tolong saja sama Ibu,” balasnya, lalu menitipkan Anis pada Ibu yang sedang duduk sambil menonton televisi di ruang tengah. Sementara itu Anis masih sibuk melipat pakaian yang baru diangkatnya dari jemuran tadi.

“Sehat terus ya, Nak,” gumam wanita itu sambil mengelus perutnya.

Semenjak pulang dari rumah sakit, Anis sangat menjaga kandungannya. Ia tak ingin terjadi hal buruk apa pun kepada anak pertamanya itu. Hingga usia kandungan mencapai sembilan bulan dan proses persalinan pun terjadi.

***

Asih, anak sulung dari pasangan Anis dan Andi itu kini sudah berumur 7 tahun dan bersekolah di salah satu sekolah dasar di daerah Dieng Kulon, Banjarnegara. Pada suatu hari, Asih terkena demam dengan suhu yang sangat tinggi. Karena cuaca sedang hujan lebat, maka tidak memungkinkan untuk membawanya ke rumah sakit. Apalagi jaraknya yang sangat jauh dari rumah dan sulitnya mendapatkan angkutan umum di tengah malam seperti ini, membuat Andi tak bisa berbuat banyak. Ia juga tak memiliki kendaraan bermotor yang bisa membawanya sampai ke tempat tujuan. Oleh karena itu, Asih hanya dirawat di rumah dan dikompres menggunakan air dingin. Wajah Anis sangat cemas dan tak kuasa menahan tangis. Pasalnya, Asih adalah anak pertama yang dinantikan sejak pernikahannya.

“Sabar ya, Sayang. Jika nanti hujan sudah reda, Ayah dan Ibu akan membawamu ke rumah sakit.” Anis mengusap air matanya sambil memeluk tubuh Asih yang sedang terlelap di atas kasur.

Tak disangka, keesokan harinya demam Asih menurun dengan drastis. Namun, ada yang janggal dari dirinya. Ada rambut gimbal di sela-sela rambutnya. Padahal dia tak pernah memiliki rambut gimbal sebelumnya. Anis yang merasa heran lalu menceritakan kejadian itu kepada Andi. Tapi bukannya mendapat jawaban yang membuatnya tenang, Andi malah mengatakan bahwa Asih adalah titisan dari nenek moyang rambut gimbal. Ia harus diruwat dalam acara ruwatan rambut gimbal nanti.

Ndak!! Aku ndak setuju. Di daerahku tidak ada kepercayaan seperti itu, Mas. Aku ndak mau anak kita mengikuti acara ruwatan tersebut.” Anis tidak menyetujui keputusan Andi yang mengharuskan Asih mengikuti acara ruwatan rambut gimbal. Menurutnya, itu tidak masuk akal. Terlebih di zaman yang sudah modern seperti sekarang.

“Tapi, tradisi yang ada di daerah ini sudah seperti itu. Anak yang berambut gimbal harus dipotong rambutnya dengan ritual tertentu.”

Mereka pun memperdebatkan hal tersebut setiap harinya. Hingga rambut gimbal milik Asih semakin banyak dan membuatnya tidak percaya diri saat keluar rumah. Hal ini membuat Anis merasa kasihan, maka ia berinisiatif membawa Asih ke salon untuk memotong rambut gimbalnya. Namun, tak ada satu salon pun yang mau melakukan pemotongan pada rambut Asih. Mereka bilang bahwa rambut gimbal hanya dipotong pada acara ruwatan yang dilakukan pada bulan Agustus. Lagi-lagi seperti ini, Anis pun berinisiatif memotongnya sendiri. Saat akan dipotong, Andi mencegah perbuatan itu. Mereka bertengkar di depan Asih dan membuatnya menangis tersedu-sedu.

“Sudah, Mas. Pokoknya aku ndak mau melakukan tradisi itu,” bentak Anis dengan wajah serius.

“Jadi kamu mau anak kita sakit terus? Apa kamu ndak kasihan sama dia?”

“Kenapa tidak?”

“Aku akan tetap membawa Asih pada acara ruwatan itu. Jadi berhentilah berdebat denganku,” sela Andi. Tak lama kemudian ia melangkah keluar, namun tiba-tiba dikejutkan oleh kehadiran seseorang.

“Maaf, ada apa ini? Sepertinya Pak Andi sedang menghadapi masalah serius,” sapa Pak RT yang tanpa sengaja mendengar pertengkaran antara Andi dan Anis. Saat itu Pak RT memang sedang melintas di depan rumah mereka. Karena dianggap bisa membantu memecahkan permasalahannya, maka Andi menceritakan apa yang sudah terjadi. Setelah mendengar nasihat dari Pak RT, maka keduanya tak lagi bertengkar dan Anis menyetujui untuk mengikuti ruwatan rambut gimbal.

***

Dua minggu berlalu, acara ruwatan rambut gimbal pun telah tiba. Acara tersebut dilakukan pada puncak event Dieng Culture Festival. Sejumlah delapan anak berambut gimbal diikutsertakan, termasuk Asih. Sebelum acara dimulai, semua permintaan anak berambut gimbal harus dipenuhi. Saat itu Asih meminta untuk menyaksikan Tari Geol, yaitu tarian khas Banjarnegara yang hampir punah. Setelah permintaan Asih dan anak-anak yang lain terpenuhi, acara ruwatan segera dilaksanakan.

“Nanti aku naik itu ya, Bu?” tanya Asih dengan antusias. Mengarahkan pandangan pada delman hias yang ada di depannya.

“Ya. Kamu senang?” Asih mengganggukkan kepala. Setengah jam kemudian, ia diajak untuk naik ke atas delman dengan kuda cokelat yang mengibas-ngibaskan ekornya.

Acara pun berlangsung dengan sakral dan diawali dengan kirab dokar. Perjalanan dimulai dari rumah pemangku adat Dieng menuju kompleks Candi Arjuna. Asih dan anak berambut gimbal lainnya memakai pakaian adat dan ikat kepala putih di yang menghiasi rambutnya. Setelah sampai di Candi Arjuna, pejabat pemerintah memotong rambut gimbal secara bergantian. Lalu rambut gimbal itu dilarung di Telaga Balekambang.

***

“Ibu, boleh aku bermain dengan teman-teman?” pinta Asih. Menunjuk ke arah anak-anak yang sedang asyik bermain di halaman depan rumah.

“Iya, Sayang. Tapi jangan lama-lama, ya. ”

“Siap, Bu. ”

Anis tersenyum. Ia bersyukur karena sang buah hati tampak ceria dan tak sedih lagi, Asih juga tak malu lagi jika ingin bermain di luar karena rambutnya yang gimbal sudah tak selebat dulu. Anis juga tak pernah lagi memperdebatkan kondisi Asih kepada suaminya. Bahkan setelah pulang dari prosesi adat beberapa hari yang lalu, ia meminta maaf kepada Andi. Anis menyesal karena tak seharusnya ia berperilaku seperti itu. Lagi pula Andi tidak sepenuhnya bersalah. Ia hanyalah orang yang lahir dan dibesarkan di daerah dengan tradisi semacam itu. Ruwatan gimbal baginya bukan hanya tradisi, tapi juga budaya yang patut dilestarikan.(*)

 

Naafisa, nama pena dari Nilna Kaesan Nafis. Seorang pelajar yang bersekolah di SMKN 2 Bawang, jurusan Teknik Audio Video. Meski mengambil jurusan elektronika tapi ia sangat suka menulis. Belum memiliki cita-cita tetap, tapi ingin menghasilkan karya yang bisa dikenang oleh banyak orang.
Email: Nilnakaesan2001@gmail.com
FB: Nilna Kaesan Nafis
IG: Nilna_Kaesan

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

Tags

Tulisan terkait

Close