CerpenTantangan Lokit 7

Kepingan yang Terbagi

Terbaik ke-4 Tantangan Lokit 7

Kepingan yang Terbagi
Oleh: Evamuzy

Terbaik ke-4 Tantangan Lokit 7

Jingga di ujung langit
Menuntun kita pada malam yang tak berbintang
Hingga kini terasa terhapus semua janji yang pernah terucapkan

Jingga, Fatin Shidqia_

Seperti inikah rasanya? Yang dulu sepenuh hati dibelai kasih, kini mulai tersisih, tak lagi menjadi pemenang hati.

Temaram lampu ruang keluarga menemani kesendirianku malam ini. Apa? Malam ini? Salah, bahkan puluhan purnama telah terlewati tanpa dirimu.

Aku duduk meringkuk di atas dipan bambu yang berderit saat sesekali kugeser posisi. Di tempat di mana biasanya kita menghabiskan waktu bersama, membahas tentang harapan dan cita-cita di masa depan.

Bercumbu dengan hawa dingin malam yang mulai bertamu. Suara nyanyian jangkrik dan sepinya malam menuntun ingatan pada masa-masa indah itu. Saat kau menggenggam erat tangan ini, meyakinkan bahwa akulah hidup dan matimu.

“Kau akan menjadi perempuan pertama dan cinta pertama dalam hidupku. Selamanya,” janjimu saat itu seraya mencium kening sebelum mata ini terpejam di tiap malam.

“Aku berjanji. Tak akan ada perempuan lain yang bisa merebut hatiku dan mengganti posisimu. Yakinlah kepadaku.” Kalimatmu lagi, saat aku ragu akan kasih sayang dan setiamu, yang mungkin saja bisa punah sejalan dengan keadaan dan waktu yang berubah.

Namun saat itu, apa yang keluar dari lisanmu sungguh menumbuhkan akar kepercayaan. Aku mengangguk yakin.

Hingga akhirnya kau bertemu dengannya, jatuh cinta pada gadis yang kau temukan di luar sana lalu ingin menikahinya.

Atas nama cinta dan kasih sayang, aku meridainya. Berjanji akan turut menyayangi dan membimbingnya, menjadi istri yang baik untukmu. Pernikahan khidmat itu aku saksikan dengan haru.

“Apa kau akan melupakanku serta janjimu?” tanyaku sore itu.

“Tidak akan. Kau tetap istimewa selamanya, meski telah ada dia di hidupku.”

Aku tersenyum menjawabnya, hati pun turut mengiyakan tutur lembutmu.

Namun ternyata salah, pelan namun pasti keadaan mulai berubah. Kau tak mengindahkan janjimu lagi.

Seminggu, dua minggu, sebulan dan tepat di bulan ketiga perempuanmu merengek, meminta rumah baru untuk kalian. Dan itu artinya kau akan meninggalkanku sendiri di rumah besar peninggalan orangtuaku. Rumah yang penuh dengan atmosfer kenangan manis bersamamu.

Saat itu, kulihat raut wajahmu cemas. Kau mondar-mandir dengan sedikit peluh di kening. Berkali-kali membuka dan menutup laci lemari kamar lalu berakhir dengan suara celengan tanah liat yang dipecah dari ruang tengah. Aku yang saat itu berada di dalam kamar, menjengit lalu menuju ke arah suara.

Celengan berbentuk ayam jago itu remuk dan mengeluarkan isinya. Puluhan lembar uang kertas yang dilipat rapi dan berkeping-keping uang logam tercecer di lantai tak berkeramik itu.

Aku terperangah. Kutanyakan mengapa kau melakukan itu, Sayang?

Jawabmu, kau akan mengontrak rumah bersama perempuanmu.

“Jadi, kau akan meninggalkanku?” tanyaku ragu dengan mata berkaca-kaca. Tak bisa lagi menahan lara dalam hati.

“Mau bagaimana lagi. Itu keinginannya. Jaga dirimu baik-baik di sini.”

Kau pergi mengontrak di satu daerah dengan jarak tempuh dua jam dari sini. Ya Allah, kenapa jauh sekali? Mungkinkah ini memang rencana perempuanmu menjauhkan kita?

Sepeninggalmu meninggalkan rumah, aku melewati puluhan malam seorang diri. Terkepung rindu. Bagai ada sembilu yang menusuk kalbu. Mencoba mencintai sepi, merengkuh hampa juga lara.

Sesekali kau datang namun kembali pergi sebelum petang.

***

Kala itu, badanku demam tinggi dan kau mendengarnya. Lalu bersedia bermalam di sini, menemaniku. Tentu saja bersama dia, perempuanmu.

Di tengah tidur separuh terjaga dalam sakitku, kudengar gaduh dari arah kamar kalian. Aku diam. Berusaha memusatkan telinga pada apa yang sedang terdengar.

“Aku tak suka jika kau terlalu perhatian dan membagi kasih untuknya. Dan aku lebih-lebih tak rela jika harus berbagi uang dengannya. Kau milikku, Mas,” suara perempuan itu.

Bisa kubayangkan. Kini wajahnya lebih menyala dari saat menatapku sore tadi—saat kalian baru saja datang—atau hari-hari saat kita masih satu rumah. Dan kau kupastikan hanya tertunduk lesu seperti biasa.

Aku merasakannya. Saat masih satu rumah bersama. Dia terlihat tidak suka jika kau terlalu baik dan perhatian kepadaku. Tapi aku bisa apa, dia perempuanmu dan kau mencintainya.

“Aku mau kita pulang besok. Jangan lama-lama di sini,” ucapnya ketus.

Hatiku terluka. Bukan karena dia yang kurang bersahabat denganku tapi karena kutemukan sikapnya yang tak hormat pada sang suami.

Aku mengalah. Tak mungkin mengingkari takdir-Nya. Lalu seperti biasa, akan mencintaimu lewat doa. Akan selalu menyayangimu juga dirinya. Meski aku tak mendapatkan perlakuan yang sama.

***

Sudah beberapa hari aku merasakan perih di ulu hati. Rasa yang semakin menjadi-jadi saat badan ini dibawa menyapu, memasak, mencuci baju atau aktivitas yang lainnya.

Saat itu aku sedang menimba air, mengisi bak mandi. Rasa sesak dan perih itu kurasa sedang pada masa puncak rasa sakitnya, membuatku tak lagi sanggup menopang badan. Semakin sesak, perih, lalu gelap datang.

Saat membuka mata pelan, aku telah berada di atas ranjang ruang rawat rumah sakit dengan selang infus di pergelangan tangan, masih dengan rasa sesak dan perih di ulu hati, namun tak sesakit sebelumnya.

“Bibi sudah bangun?” Suara seorang gadis dari arah samping. Syabia, putri sulung kakak tertuaku.

“Bagaimana Bibi bisa di sini, Sya?” suaraku parau.

“Waktu Syabia antarkan makanan titipan Ibu, Syabia menemukan Bibi pingsan di samping sumur. Syabia langsung panggil Ayah lalu Bibi dibawa kemari.”

“Sudah berapa lama Bibi pingsan, Sya?”

“Satu jam lebih, Bi. Bibi istirahatlah dulu.”

Kusunggingkan senyum kepada gadis manis berusia 23 tahun itu. “Terima kasih, Sya.”

***

“Saya kenapa, Dok?” tanyaku kepada dokter muda yang baru saja datang, menanyakan keadaanku. Kutebak usianya tak jauh berbeda dengan dia, priaku.

“Ada peradangan pada lambung Ibu. Istirahat dan minum obat yang saya berikan. Insya Allah, keadaan Ibu akan membaik.”

“Oh, pantas saja rasa perihnya sampai ke ulu hati,” jawabku dengan tatapan kosong. “Tapi saya makan dengan teratur, Dok,” lanjutku.

“Masalah pada lambung bukan hanya disebabkan oleh pola makan, Bu. Justru penyebab yang paling utama adalah ketenangan pikiran. Coba diingat-ingat, apakah ada hal yang selama ini mengganggu pikiran Ibu?”

Pertanyaan sang dokter mengingatkanku pada rasa yang begitu gemuruh dalam hati selama ini. Memendam rasa rindu padanya, pria yang berjanji akan setia padaku. Rasa yang semakin hari semakin menyiksa pikiran dan kalbu, menggangu jiwa dan raga.

Sudah tiga purnama kau tak mengunjungiku sejak terakhir kali melangkahkan kaki. Bahkan air mata karena rindu sudah membeku. Kini, saat sedang tak berdaya, sungguh kehadiranmu aku pinta.

Kau datang menjenguk setelah Syabia memberi kabar. Namun tak ada waktu yang cukup bagiku menumpahkan samudera rindu. Dia mengapit lenganmu erat lalu meminta agar kalian segera berlalu. Kelopak bunga kembali layu sebelum sempat mekar dan ayu.

Lelaki kebanggaanku. Harusnya kau bisa berlaku adil kepadaku. Sebab, saat hanya ada sekeping kue di tanganmu pun kau harus membaginya menjadi dua, sama rata. Sebagian diberikan kepada istrimu dan sebagian lagi untukku, ibu kandungmu.

“Aku akan menggantikan Ayah. Mencari nafkah setelah aku dewasa dan menyayangi Ibu selamanya. Sampai akhir hidupku,” janjimu saat itu, sesaat setelah aku menyelesaikan kisah kecelakaan yang merenggut nyawa ayahmu sebelum dirimu lahir ke dunia.(*)

Brebes, 04 Oktober 2018

Evamuzy, gadis bungsunya Ibu. Gadis yang ingin bisa melucu meski gagal selalu.

Tantangan Lokit adalah lomba menulis yang diadakan di Grup KCLK

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

Tags

Tulisan terkait

Close