CerpenCerpen AnakMotivasiSastra

Burung, Pohon Kurma dan Manusia Pemaaf

Burung, Pohon Kurma dan Manusia Pemaaf
Oleh: Evamuzy

“Jahat! Mereka semua jahat. Bukan aku yang menghabiskan persediaan makan, tapi mereka marah dan mendiamkanku.” Aku menggerutu saat teman-teman menuduhku telah menghabiskan persediaan makanan di lumbung tempat kami menyimpan cadangan makanan untuk beberapa hari ke depan.

Kami mencarinya bersama-sama sebulan lalu dan menyimpannya rapi, mengingat sebentar lagi musim hujan tiba.

“Aku tak terima!” cercaku yang memilih duduk sendirian di salah satu tempat persembunyian kami, lalu bangkit “Baik kalau begitu, akan aku tinggalkan mereka sekarang. Kita lihat saja, apakah mereka bisa bertahan hidup tanpaku?”

Dengan sayap warna-warni, bulu tebal yang cukup memberi kehangatan dan sebongkah hitam bernama amarah yang kini menetap pada diri, aku putuskan meninggalkan mereka sore ini.

Tujuan? Entah. Yang paling penting adalah pergi jauh meninggalkan tuduhan teman-teman. Kehidupan bebas mungkin.

Makanan? Aku bisa menemukannya di mana saja sepanjang perjalanan nanti.

Ibu dan Ayah? Mereka menemukanku saat warnaku masih merah, ringkih tak berbulu di atas tumpukan jerami. Kudengar Ibu dan Ayah gugur melawan buruknya cuaca musim lalu sebelum sempat membesarkanku. Teman-teman adalah satu-satunya keluarga yang kumiliki di dunia ini.

***

Malam ini sangat dingin, tubuhku menggigil, angin seperti jarum yang menusuk-nusuk, menembus bulu dan kulit tipisku. Malam pertama perjalanan panjang menjauh dari kelompokku. Untungnya perut ini sudah terisi oleh runtukan roti yang jatuh ke tanah, sisa yang dimakan oleh mereka, makhluk berhati bernama manusia.

Lelah akhirnya mengalahkanku, tertidur pulas di atas sebuah pohon yang entah apa namanya.

Esok pagi, kulanjutkan perjalanan kembali. Dari posisi atas dengan kepakan sayap pelan, kuperhatikan sebuah keramaian, lebih ramai dari tempat lainnya. Terlihat banyak makhluk yang tak serupa denganku, tapi mereka terlihat mirip, bertangan dan berkaki. Pertama kali kudengar dari Abas, teman terdekatku dan Pak Hasan pemimpin kelompok kami, bahwa mereka bernama manusia. Makhluk yang sisa rotinya menjadi makananku sore kemarin.

“Kain, Tuan, kainnya silakan dipilih, ini kain terbaik buatan negeri seberang, baju yang sudah jadi juga ada, Tuan,” suara salah satu dari mereka dengan lantang.

“Daging, ikan juga ada, Tuan. Silakan dipilih. Kualitas di sini terbaik. Kami beri potongan harga hari ini.” Yang lain tak kalah ramai.

“Gandum, jagung, gandum, jagung. Kami menjual kualitas terbaik.” Terdengar yang lainnya, dan masih banyak manusia lain yang sibuk dengan segala kesibukan mereka.

Ya, aku ingat, tempat ini bernama pasar. Pak Hasan pernah menceritakannya. Kata beliau, di sini akan banyak sekali sisa makan setelah sepi, ditinggalkan manusia di sore hari.

***

“Muhammad seorang penipu, Muhammad seorang pendusta, apa pun yang dia keluarkan dari mulutnya tak lain adalah dusta. Dia juga seorang penyihir. Jadi jika kau bertemu dengannya dan mendengar ajakannya jangan sekali-sekali pun kau mau menerimanya,” oceh seorang kakek di ujung pasar. Matanya tertutup rapat, jelas terlihat bahwa ia buta. Di depan ia, ada sebuah karung bekas yang sengaja digulung mulut karungnya. Sedikit uang koin dan gandum mentah ada di dalamnya. Ya, ia seorang kakek pengemis buta.

Omelan itu ia keluarkan pada siapa pun yang lewat di depannya.Tak mau berhenti.

Aku menatapnya dari sebuah pohon kurma, tepat di atas pengemis tua duduk. Angin sepoi-sepoi sesekali menggoyangkan pohon kurma yang kusinggahi, ke kanan dan ke kiri. Asyiknya … seperti main ayunan saja. Ah, jadi ingat Abas dan teman-teman. Aku rindu, tapi amarah untuk kalian masih menahanku.

***

Langkahnya tenang dan pasti. Di setiap langkah itu, serasa sekitar serempak diam, menyaksikan. Tak terkecuali angin dan rerumputan. Dia berbeda dari manusia lainnya. Ada cahaya dan entah apa namanya dari dirinya meski baru pertama kali melihat.

Di tangannya sebuah kuali berbahan tembaga berisi makanan, dia bawa pelan-pelan.

Masih dari sebatang pohon kurma ini, berpayung pelapah di atasku, aku masih setia menyaksikan.

Dia hampiri kakek pengemis buta dengan santun. “Selamat pagi, Kek.” Dijawab ocehan yang sama oleh si pengemis.

“Berhentilah berbicara sebentar, ini waktunya Kakek untuk sarapan,” ucap santun sang laki-laki. Kakek pengemis buta lantas terdiam.

Mengerti bahwa gigi si Kakek sudah tak ada, makanan—yang ternyata adalah bubur beras—yang dibawanya, dia kunyah dahulu sebelum disuapkan. Dengan santun, penuh kehati-hatian serta lengan yang digenggam dengan pelan, sang pengemis buta mendapatkan suapan makanan.

“Makanan yang kau bawa selalu terasa lezat wahai seseorang yang selalu datang di pagi hari, bahkan aku tak pernah makan makanan selezat ini sebelumnya. Sebenarnya siapa dirimu? Siapa namamu?”

“Habiskanlah dulu, Kek. Jika Allah menghendaki, saya akan datang setiap hari.”

Sang laki-laki lantas pergi setelah memastikan bubur beras yang disuapkannya habis.

***

Sore ini hujan deras. Kuputuskan untuk tinggal di sini saja malam ini. Sementara kakek pengemis buta itu terlihat pulang sebelum matahari tenggelam.

Keesokan harinya kudapati pemandangan yang sama. Karena penasaran, aku putuskan untuk tinggal. Akan kubuat sarang yang aman dan nyaman. Mari mengumpulkan jerami ….

***

Beberapa hari tinggal di pohon kurma ini membuatku semakin penasaran. Siapakah orang yang lembut hati dan perangainya ini? Sungguh baru kali ini aku melihat yang begitu indah akhlaknya, dari kelompok mereka.

Akhirnya jawaban kutemukan. Aku dengar dari mereka bahwa dia adalah manusia mulia, manusia pilihan. Manusia yang Tuhan pilihkan sebagai contoh dan tauladan manusia yang lain. Diam-diam aku memendam kekaguman padanya.

***

Sudah seminggu ini sang laki-laki tak kelihatan. Ya, laki-laki yang disebut-sebut manusia pilihan.

Kemudian seseorang yang berbeda mendatangi si pengemis buta. Melakukan hal sama seperti yang laki-laki itu lakukan. Tapi, tunggu! Ada yang berbeda, Ya, makanan yang dibawa tak dikunyahnya dahulu dan tak disuapkan selembut yang biasa aku saksikan.

“Tunggu! Siapa dirimu ? Kau pasti bukan orang yang biasanya menemui dan menyuapiku makanan. Ini tak selezat yang biasa kumakan,” ucap si kakek pengemis buta.

Laki-laki itu hanya terdiam.

“Kau masih di sana?” tanya pengemis buta kembali.

“Benar, aku bukan dia, Kek.” Ada gurat kesedihan di wajah si laki-laki.

“Lalu, siapa dirimu? Dan siapa dirinya? Di mana dia yang setiap pagi datang kemari, yang lezat makanannya, yang lembut ucapan dan perangainnya? Aku sudah menunggu kedatangannya tujuh pagi ini.”

Tak sanggup lagi menahan sedih dan tangisnya. Laki-laki berbadan tegap itu menjawab, “Dia adalah Nabi Muhammad. Orang yang selalu kau caci maki selama ini. Dan aku adalah Abu Bakar Shidiq, salah satu sahabat yang ingin mendapat rida Allah dengan melakukan apa yang pernah Nabi-ku lakukan semasa hidupnya.”

“Apa maksudmu? Laki-laki yang selalu datang kepadaku adalah Muhammad. Orang yang selama ini kutaburkan keburukan-keburukan di atas namanya. Yang sebenarnya tak pernah kuketauhi sekali pun wajahnya. Tapi justru dialah satu-satunya orang yang tulus dan lembut memberiku makanan. Dan apa maksudmu semasa hidupnya?”

“Iya, benar. Dia adalah Nabi Muhammad dan kini beliau telah tiada. Kekasih pilihan Allah ini telah dipanggil sang pemiliknya.”

“Betapa malu dan hinanya diriku, wahai Abu Bakar. Ampuni aku. Sebutkan kepadaku, bagaimana caraku untuk menebus salah pada Nabi Muhammad? Sungguh aku telah jatuh cinta pada kebaikan dan akhlaknya.” Bening menetes di pipi si Kakek buta. Tak kalah deras dari tumpahan air di wajah pria sahabat Nabi itu.

“Mohon ampunlah kepada Allah SWT, Kek, dan ikutilah ajakan dan ajarannya untuk hidupmu.”

“Saya bersedia wahai, Sahabat, ajari aku untuk mengikuti ajarannya.”

“Baik. Akan kubantu kau melafalkan kalimat syahadat, Kek. Mari, ikuti saya.”

Aku malu dengan apa yang mata ini lihat beberapa hari terakhir. Manusia pilihan Tuhan saja tak marah ketika dituduh seburuk itu. Justru dia membalasnya dengan kebaikan. Lalu bagaimana denganku? Bodoh, amarah telah mengalahkan diriku. Abas, aku rindu padamu dan teman-teman. Pak Hasan, pasti sekarang sedang bingung mencari anak bandel ini. Maafkan aku.

Baiklah, siang ini aku putuskan untuk pulang. Abas, teman-teman dan Pak Hasan, aku menyayangi kalian.

Aku kepakan sayap warna-warniku. Pulang… Ya, aku harus berani pulang. (*)

 

Evamuzy, gadis dari sebuah kota kecil yang ingin punya manfaat besar.

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

Tags

Tulisan terkait

Close